
Beberapa menit sebelum penusukan Carla, di tempat lain, tepat nya di danau Denizi.
Natasha berada di dalam kamar Mira, mengawasi kondisi nya. Natasha tidak sendiri, dia di temani oleh Arisa yang sudah sadarkan diri lima bulan yang lalu. Energi sihir Arisa cukup besar, oleh karena itu memerlukan waktu yang cukup lama untuk energi sihir di dalam tubuh nya terisi penuh, untuk kasus Arisa, ia memerlukan waktu satu bulan untuk energi sihir nya benar-benar terisi penuh. Bukan hanya ada Natasha dan Arisa saja yang ada di sana, ada juga Jack yang saat ini berdiri di pojokan ruangan, dan ada Thinkie yang setiap seminggu sekali akan pergi ke danau Denizi untuk memeriksa kondisi Mira dan ia juga ikut mencari cara bersama dengan Natasha untuk membuat Mira sadarkan diri lebih cepat.
Saat ini Thinkie memeriksa kondisi Mira untuk yang sekesekian kali nya. Hanya saja selama beberapa menit ia memeriksa kondisi Mira, Thinkie menghela nafas dengan wajah suram lalu ia menggelengkan kepala nya, menandakan kalau tidak ada perubahan dalam kondisi Mira saat ini. Natasha yang menyaksikan itu, hanya bisa menundukkan kepala nya dengan ekspresi murung, Arisa juga berkespresi sama seperti Natasha sedangkan Jack hanya bisa menyaksikan mereka berdua dengan wajah sedih dan frustasi, menyadari ke tidak bergunaan nya ia dalam keadaan seperti ini.
"Tidak ada yang bisa kita lakukan saat ini. Yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu sampai ia sadarkan diri dengan sendiri nya." Kata Thinkie.
"Kau pikir aku akan tahan menunggu seratus tahun!?" Setelah mendengar perkataan Thinkie, Natasha berteriak dengan suara tinggi, ekspresi wajah nya menunjukkan kekesalan dan ketakutan. Ia kesal, karena ia tidak bisa melakukan apapun, ia takut, kalau Mira tidak sadarkan diri sama sekali. Menunggu Mira sadarkan diri selama tujuh tahun saja sudah membuat nya putus asa, cemas, khawatir, dan takut. Dan sekarang Thinkie menyuruh nya untuk menunggu selama seratus tahun... Hal itu tidak bisa terbayangkan oleh Natasha.
"... Walaupun kau berkata seperti itu... Tidak ada yang bisa kita lakukan. Kondisi Mira tidak normal. Seharus nya kau bersyukur dia masih dalam kondisi utuh, untuk kasus normal dia pasti sudah hancur berkeping-keping tanpa sisa." Jawab Thinkie atas perkataan Natasha dengan tenang.
Setelah mendengar respon Thinkie, Natasha hanya bisa mendecikkan lidah nya dengan wajah kesal, ia kemudian menggigit bibir dengan sekuat tenaga. Thinkie kemudian melanjutkan perkataan nya setelah menghela nafas panjang saat melihat ketidak sabaran Natasha. "Yah... Sesuatu yang bisa menyadarkan nya saat ini, hanyalah keajaiban."
Sesaat setelah Thinkie berkata seperti itu, mereka berempat merasakan energi sihir besar dari luar bangunan. Aneh nya energi sihir itu terasa familiar setidak nya untuk Natasha, Arisa dan Jack, yang membuat mereka langsung melesat keluar dari bangunan itu lalu pergi menuju ke tempat energi sihir itu muncul. Saat mereka sampai, sudah ada pasukan elit Vampir yang di pimpin oleh Amanda bersiap siaga di sana.
"Syukurlah kalian datang. Kami tidak yakin bisa menghadapi pemilik energi sihir ini sendirian." Kata Amanda saat menyaksikan Natasha dan rombongan datang ke lokasi.
"Tenang Amanda, yang datang kali ini bukan musuh." Kata Natasha menenangkan Amanda.
"Tetapi, apakah energi sihir nya sebesar ini sebelum nya?" Kata Arisa merespon perkataan Natasha.
Energi sihir itu berangsur-angsur melemah di sertai dengan timbul nya kobaran api berwarna biru yang semakin membesar bersamaan dengan melemah nya energi sihir itu. Kemudian di saat energi sihir besar itu hilang sepenuh nya, api biru itu menyebar keseluruh danau Denizi, menciptakan cahaya terang. Semua orang yang ada di situ tidak bisa melakukan apapun kecuali menutup mata mereka dari silau nya cahaya yang tercipta dari api biru itu. Di saat cahaya itu menghilang sepenuh nya, semua orang membuka mata, lalu menyaksikan seorang wanita berambut perak melayang sejauh lima meter dari atas tanah. Mata wanita itu tertutup, tetapi perlahan-lahan ia mengerjapkan mata nya, dengan perlahan juga ia membuka mata nya. Cahaya yang di tunjukkan dari mata wanita itu, menunjukkan kalau saat ini penglihatan nya sedang tidak fokus, penglihatan nya masih kabur, saat cahaya dari mata wanita itu kembali, dan sampai pada titik penuh fokus nya, seketika mata wanita itu menjadi terbelalak kaget.
"Eh..? Eh...?" Dengan bingung wanita itu melihat sekeliling, kemudian ia melihat ke bawah, dan akhir nya ia menyadari kalau ia melayang sejauh lima meter dari atas tanah. Kemudian... "Aaaaaaaaah!!!!!" mengikuti hukum alam, wanita itu tertarik oleh gravitasi dan jatuh ketanah, ia tidak bisa melakukan apa-apa selain berteriak sembari menutup mata nya dengan ekspresi wajah ketakutan.
"(Levitation!)" Arisa dengan sigap mengaktifkan sihir nya yang membuat kecepatan jatuh wanita itu berkurang secara signifikan. Sesaat kaki wanita itu hendak menyentuh tanah, Natasha dengan cepat melesat lalu menangkap wanita itu di pelukan nya.
"Eh? Eh? Y-Ya... Aku tidak apa-apa."
Wanita itu, atau lebih tepat nya Carla, menjawab pertanyaan Natasha sembari tersenyum canggung. Walaupun masih kebingungan dengan situasi saat ini, setidak nya ia bisa menjawab pertanyaan sederhana Natasha.
"Ka-Kamu bawahan Mira, Natasha bukan?"
"Ya. Saya bawahan sekaligus pengawal Nona Mira, Natasha."
Walaupun masih kebingungan, dan ingin tahu situasi dan bagaimana ia berada di tempat yang sangat asing bagi nya, Carla tidak menanyakan hal itu. Ia justru ingin tahu bagaimana bisa Natasha, yang merupakan bawahan Mira bisa berada di tempat ini. Melihat kemungkinan yang ada, bisa saja Mira ada di tempat ini bersama dengan bawahan nya juga. Dan juga Carla sekilas melihat seorang Elf yang juga merupakan bawahan Mira.
"Ka-Kalau kau ada di sini, apakah itu arti nya Mira juga ada di sini?" Tanya Carla dengan wajah penuh harap.
Mendengar Carla yang tiba-tiba bertanya mengenai Mira, Natasha tidak tahu harus menjawab bagaimana... Sebenarnya Natasha sama bingung nya seperti Carla, ia tidak tahu kenapa Carla tiba-tiba ada di sini, dan bagaimana cara nya ia bisa sampai ke sini. Yang jelas Natasha bisa menebak kalau Carla di teleportasikan ke sini, tapi yang jadi masalah adalah siapa yang bisa menteleportasikan ia ke sini, yang di mana tempat ini hanya di ketahui oleh para Vampir dan bawahan terpercaya Mira saja, bahkan ia tidak memberitahu keluarga nya sama sekali mengenai tempat ini... Kalau Mira sadarkan diri, semua hal bisa terjelaskan tapi saat ini Mira tidak sadarkan diri. Yang membuat Natasha bertanya-tanya, siapa yang bisa membawa Carla ke sini?"
"Jawab aku! Ku mohon! Aku ingin tahu bagaimana kabar anak ku!"
Karena terlalu lama berpikir, membuat Natasha tidak langsung menjawab pertanyaan Carla, membuat nya khawatir, mendesak Natasha untuk menjawab pertanyaan nya.
Melihat Carla yang hendak menangis saat mendesak nya, Natasha hanya bisa menghela nafas lalu dengan perasaan berat hati, ia membuka mulut nya, memberitahukan kondisi Mira pada Carla.
".... Ya... Anda benar. Mira ada di sini, bersama kami...." mendengar perkataan Natasha, yang mengkonfirmasi mengenai keberadaan anak nya yang telah menghilang selama enam bulan membawa senyum bahagia di wajah Carla, tapi seketika senyum nya menghilang saat Natasha memberitahu kan kondisi Mira lebih lanjut kepada nya. "... Hanya saja... Saat ini, Mira sedang tidak sadarkan diri. Sudah enam bulan ia mengalami nya, dan kondisi nya saat ini tidak membaik sama sekali."
"... Apa!? Bo-Bolehkah aku melihat nya!?"
Natasha tidak bisa menolak permintaan Carla, ia pun membawa nya ke tempat Mira berada.