
Author's Note :
Cerita kali ini tidak ada hubungan nya dengan cerita utama. Cerita utama nya, akan saya lanjut saat sudah selesai Lebaran.
Mungkin ini kecepatan, tapi nggak apa-apa.
Selamat Hari Raya Idul Fitri !🎉🎉🎉🎉🎉🎉
Selamat membaca. Jika ada kesalahan ketik, atau kata yang hilang. Segera beritahu, akan saya perbaiki secepat nya.
-------------------------------------------
Di istana kerajaan Fantasia, di kamar Mira.
Saat ini di kamar ku ada Natasha, Arisa dan Jack. Anggota biasa yang biasa berada di kamar ku.
Kami semua mengadakan kegiatan biasa, yaitu makan cemilan beserta minum teh atau susu Coklat.
Keadaan saat ini sangat tenang, hingga dari jendela kamar ku masuk seekor burung merpati.
Merpati itu terbang dan hinggap di pundak Natasha.
"Ini burung pengantar pesan." Kata Natasha.
Merpati itu terbang ke langit-langit kamar, lalu merpati itu berbuah menjadi kertas.
Perlahan-lahan kertas turun dari langit-langit kamar. Itu mengarah kepada ku, aku mengarahkan tangan ku ke kertas yang jatuh, lalu aku menangkap nya.
Aku membaca kertas yang ku tangkap.
"Kepada Putri Mira.
Setelah anda menerima surat ini, akan banyak Dokumen yang terbang kepada anda.
Saya tidak bisa mengurus dokumen itu sendirian, jadi tolong bantu saya untuk menyelesaikan nya. Jika sudah selesai, Dokumen itu akan terbang sendiri dan kembali kepada saya.
Salam Hormat.
Leonardo."
"Dari siapa Mira?" Tanya Natasha.
"Dari Leonardo."
"Apa kata nya?"
"Dia bilang akan ada Dokumen yang terbang ke arah ku."
"Apa itu? Apakah dia mencoba bercanda." Kata Jack.
Saat Jack berkata seperti itu, banyak burung merpati yang terbang masuk ke kamar ku. Burung-burung itu hinggap di kasur ku, setelah hinggap mereka berubah menjadi kertas.
Dalam sekejap, kasur ku penuh dengan kertas.
Semua orang terdiam melihat hal itu, kemudian Natasha mendekati kasur ku, lalu ia mengambil selembar kertas.
"Ini laporan keuangan kota, Mira." Natasha menaruh lembaran di kasur, kemudian ia mengambil lembaran yang lain. "Kalau ini laporan perkebunan coklat." Natasha melihat semua kertas yang ada di kasur. "ini semua dokumen penting, dan ini belum selesai sama sekali. Kurasa Leonardo ingin kau menyelesaikan ini."
"Segera kirim kembali semua itu!"
"Itu tidak bisa!" Natasha langsung menjawab.
"Apa maksud mu tidak bisa?"
"Aku tidak bisa karena aku kasihan dengan Leonardo. Biasanya dia kan yang mengurus berbagai jenis laporan, dokumen dan lain-lain mengenai kota Cocoa."
"Memang nya kenapa dengan itu?"
"Yang di tes itu kau kan? Kenapa kau tidak mengurus berbagai masalah itu sendiri?"
"Apa yang kau bicarakan Natasha? Bangsawan di kota Cocoa ada untuk membantu ku kan? Jadi wajar jika Leonardo yang mengurus berbagai hal yang merepotkan seperti itu."
Anak ini.... Jika masalah seperti ini dia sangat pintar! Kenapa dia tidak pakai kepintaran nya itu untuk melakukan hal berguna. Pikir Natasha jengkel.
Kemudian pintu kamar di ketuk. Aku berkata "Masuk." Lalu orang yang mengetuk pintu masuk kedalam kamar. Orang itu adalah ayah ku, Raja kerajaan Fantasia, Raja Charles.
Saat ayah masuk, ayah terkejut melihat banyak kertas di atas kasur ku.
"Kenapa ini?!"
"Aah, ini dokumen dari kota Cocoa. Leonardo bilang dia tidak bisa mengurus nya sendiri, jadi dia memberikan ku sebagian."
"Kalau begitu cepat selesaikan!"
"Lupakan dokumen-dokumen ini. Ngomong-ngomong kenapa ayah kesini?"
Ayah mendekati ku, kemudian ia memberikan ku kertas.
"Ini laporan! Kau harus menulis apa saja yang kau lakukan selama kau memimpin kota Cocoa."
"Haaaah?! Kenapa ayah tidak kirim ke Leonardo saja?!"
"Itu kota yang kau pimpin kan? Kau harus tanggung jawab atas kota yang kau pimpin."
"Kenapa di berikan padaku?! Semua jenis laporan sudah ku serahkan pada Leonardo, aku di sana hanya sebagai peresmi bila ada sesuatu saja. Mana mungkin aku bisa mengurus hal yang merepotkan seperti ini!! Aku ini masih anak kecil. Umur ku 10 tahun!! Tidak mungkin aku bisa melakukan hal yang begitu rumit."
Baru sekarang dia ngaku sebagai anak kecil ! Natasha, Charles, Arisa dan Jack berfikir jengkel ke Mira.
Charles melihat ke arah Natasha, Arisa dan Jack. "Kalian bertiga tinggal kan Mira sendirian, jangan ada yang memasuki kamar ini sebelum Mira menyelesaikan pekerjaan nya!"
"Baik yang mulia." Jawab Natasha, Arisa dan Jack bersama-sama.
Aku melihat ke arah Natasha. Dia tersenyum sinis padaku.
Kemudian Natasha pergi keluar kamar bersama dengan Ayah, Arisa dan Jack.
"Sialan kalian!! Dasar pengkhianat!"
Dengan perasaan kesal, aku mengerjakan semua dokumen yang di berikan padaku.
Tentu saja aku mengerjakan nya dengan serius. Jika ada kesalahan sedikit saja, kesalahan itu akan menjadi besar di kemudian hari, jadi aku sebisa mungkin untuk tidak melakukan kesalahan.
Â
\\*
Â
Sehari setelah mengurus Dokumen.
Setelah kemarin aku mengurus Dokumen. Dokumen-dokumen itu berubah menjadi burung merpati dan terbang lagi entah kemana, dan laporan yang di berikan ayah sudah ku kembalikan ke ayah.
Saat ini aku sangat kelelahan, aku berbaring di kasur dari pagi hingga sekarang. Saat ini hari sudah siang.
Seperti biasa, di kamar ku ada Natasha, Arisa dan Jack yang sedang makan cemilan dan minum teh.
Perasaan ku kegiatan mereka itu saja, tidak ada yang lain.
"Kalian tidak memiliki kegiatan lain? Perasaan ku setiap kalian kesini selalu minum teh dan makan cemilan."
"Kami kesini hanya pada saat sarapan pagi, dan isitirahat makan siang. Jadi wajar kami minum teh dan makan cemilan." Arisa menjawab.
"Begitu ya."
"Begitulah."
Suasana hening sejenak, kemudian aku berbicara.
"Kalian bosan tidak?"
"Tidak!" Natasha menjawab.
"Begitu ya."
"Begitulah."
Suasana hening kembali.
"Mau pergi ke pantai?" Aku memecahkan keheningan itu dengan bertanya.
Aku bangkit, kemudian aku duduk di kasur.
Semua orang melihat ku. Kemudian Arisa berbicara. "Jika Kak Mira ingin ke pantai, berarti Kak Mira ingin pergi ke kota Yugmish. Kota itu kan dekat dengan laut, jadi sudah jelas kota itu memiliki pantai."
"Memang nya kenapa kalau aku ingin pergi kesana?"
"Apakah Kak Mira yakin?" kali ini Jack yang berbicara. "Kota itu kan sekarang di pimpin Putri Nina. Bisa saja Putri Nina memboikot pintu masuk kota, agar kita tidak bisa masuk."
"Tenang saja. Kak Nina tidak akan melakukan hal seperti itu. Lagipula kita kesana hanya untuk liburan kan?"
"Terserah apa mau mu Mira," Natasha berkata seakan-akan menyerah dengan tingkah ku. "Sebelum pergi kesana, kau minta izin dulu dari yang Mulia."
Saat Natasha selesai berbicara, Mira sudah menghilang dari atas kasur.
"Kemana Mira?"
"Kak Mira pergi menggunakan teleportasi ke ruang tahta."
Sedetik kemudian Mira datang. Tentu saja dengan sihir teleportasi.
"Aku mendapatkan izin. Besok kita akan berangkat!"
Â
\\*
Â
"Kalian di larang masuk!"
"Hah?!"
Saat ini kami di depan gerbang masuk kota Yugmish. Saat kami datang, penjaga langsung menghalangi kami masuk.
"Kenapa bisa kami di larang?"
"Putri Nina yang melarang anda masuk Putri Mira. Beliau bilang bisa saja anda memata-matai kota ini.
"Untuk apa aku memata-matai kota ini? Tidak ada gunanya!"
"Maafkan saya Putri Mira. Pekerjaan saya di pertaruhkan di sini, jika saya tidak bisa menghentikan anda, saya akan di pecat. Jika saya di pecat, anak dan istri saya mau makan apa?"
"Masa bodoh dengan masalah keluarga mu. Sudah cepat kau menyingkir dari situ dan biarkan kami masuk."
Natasha dan Arisa menarik tangan ku, aku ditarik menjauh sedikit dari gerbang kota.
"Apa yang kau katakan?! Kau tidak memiliki hati nurani?!" Natasha memprotes perkataan ku sebelum nya."
"Kalian ini bicara apa? Aku belum selesai bicara. Jika orang itu di pecat disini, aku bisa membawanya ke kota Cocoa dan mempekerjakan nya disana kan?"
O. Iya, aku lupa. Sifat Mira kan memang seperti itu. Pikir Natasha.
"Aku rasa kita harus pergi dari sini Kak Mira," Arisa membuka mulut. "Penjaga itu sudah salah faham dengan apa yang Kak Mira katakan."
Aku melihat ke penjaga, ia meneriaki Jack sambil menangis.
"Kenapa semua keluarga kerajaan begitu kejam?! Kalian tidak memikirkan nasib orang kecil seperti kami?! Kalian dengan mudah nya berkata memecat kami dan tidak akan memberikan kami gaji. Kenapa kalian semua begitu kejam, aku memiliki keluarga yang perlu hidup di sini. Kenapa kalian begitu kejam.... Kenapa?!....."
Dia mulai menghina semua keluarga kerajaan.
"Ini salah kalian berdua kan."
"Lupakan masalah itu, aku mulai kasihan pada Jack." Kata Natasha.
"Kak Natasha benar, dia tidak salah apa-apa. Tapi malah dia yang dijadikan sasaran pelepas emosi penjaga itu.
Kami semua pun pergi dari Kota Yugmish, kami berteleportasi ke kamar ku.
Â
\\*
Â
Satu jam setelah kami pulang dari kota Yugmish, hari masih pagi. Dan kami masih bisa pergi kepantai sekarang.
"Haaaaaah."
"Kau kenapa Mira?" Natasha bertanya setelah aku menghela nafas panjang.
"Aku ingin pergi ke pantai."
"Tapi tadi kita tidak di perbolehkan masuk kan?"
Aku bangkit, lalu duduk. "Ayo kita pergi ke kerajaan Eurasia."
Â
\\*
Â
Kami sampai di kerajaan Eurasia. Saat kami datang, Alex menyambut kami lalu mengantar kami kerumah ku yang di berikan Joshua.
Saat ini kami berada di ruang tengah, seperti biasa. Jika kami melakukan diskusi, kami selalu makan cemilan dan minum teh.
"Jadi Nona Mira kenapa anda kesini?"
"Apakah di negara ini ada pantai? Aku ingin liburan."
"Pantai ya...."
Alex berfikir, lalu ia meminta izin untuk kembali ke istana sebentar, beberapa menit kemudian Alex datang sambil membawa gulungan di tangan nya.
Alex menaruh gulungan itu di atas meja, lalu ia membuka gulungan itu.
Gulungan itu adalah peta kerajaan Eurasia.
Ia menunjuk sebuah titik di dekat tanda laut, tanda titik itu berarti kota.
"Di selatan kerajaan Eurasia ada kota bernama Sannakji. Kota ini terkenal dengan makanan laut nya. Yang paling terkenal adalah makanan gurit hidup nya, jika ingin liburan, kota ini adalah kota yang bagus. Tapi sebaiknya Nona Mira jangan pergi sekarang, dikarenakan masyarakat yang senang memakan Gurita hidup. Kini di laut kota itu ada monster gurita raksasa, monster itu ingin membalas dendam atas kawan sebangsa nya yang tersiksa karena di makan hidup-hidup."
Alex melihat sekeliling. Di ruangan sudah tidak ada orang, hanya ada dia seorang diri.
"Kemana pergi nya Nona Mira?" Kata Alex bingung.
Â
\\*
Â
Alex memberitahu ku ada kota bernama Sannakji di selatan kerajaan Eurasia.
Dengan semangat aku pergi kesana, aku terbang dengan kecepatan tinggi di ikuti Natasha, Arisa dan Jack.
"Cepat Semuanya. Laut menunggu kita!"
Aku semakin menambah kecepatan terbang ku.
Setelah beberapa menit kami terbang, aku melihat hamparan air berwarna biru di depan ku. Itu adalah laut!
Laut sudah ada di depan mataku.
Aku menyuruh Natasha dan yang lain nya turun di dekat kota, kami pun turun 200 meter dari gerbang kota.
Aku berjalan dengan penuh semangat ke arah gerbang kota, saat gerbang kota di depan mata, aku semakin menambah kecepatan berjalan.
Kami sampai di depan gerbang, di sana ada penjaga yang menunggu.
"Apakah kalian turis?"
"Benar kami turis."
"Kalian yakin ingin masuk kedalam kota?" Penjaga itu bertanya dengan khawatir.
"Tentu saja kami yakin, laut dan pantai sudah menunggu kami."
Penjaga gerbang menghela nafas. "Apapun yang terjadi, jangan bilang aku tidak memperingatkan..... Biaya masuk nya 2 koin Silver.
Aku membayar 8 koin Silver. Itu biaya masuk untuk 4 orang.
Setelah menerima uang, kami di biarkan masuk.
Saat kami masuk kota, kami di sambut oleh para penduduk.
"Anda turis? Kalau anda memang benar turis, silahkan coba gurita mentah ini."
"Silahkan coba ikan ini. Di bakar, di rebus, di kukus, di goreng, dan di makan mentah pun bisa."
"Coba makanan ini!"
"Silahkan beli sorvenir ini, ini populer di kalangan anak-anak bagaimana adik kecil."
Berbagai macam tawaran datang dari penduduk yang datang mendekati kami.
Aku mengabaikan mereka, dan hanya terus pergi ke arah pantai.
Natasha, Arisa dan Jack berusaha menahan para penduduk.
Maaf saja! Aku sudah lama menunggu waktu ini, jadi tidak ada gunanya menghentikan ku. Aku memprotes salah satu penduduk di pikiran ku.
Saat kami dekat dengan pantai, para penduduk berhenti mendekati kami.
Mereka semua kembali kerumah masing-masing.
"Kenapa ada satu penduduk yang melarang kita ke pantai?!" Jack berkata heran sambil melihat ke arah rumah penduduk.
"Sudahlah. Abaikan mereka! Kita cepat pergi ke pantai."
Aku berlari menuju pantai di ikuti dengan Natasha dan Arisa. Sementara Jack masih berdiam diri menatap ke kota.
"Entah kenapa aku punya firasat buruk dengan pantai ini." Jack bergumam saat melihat keadaan kota yang sepi. Setelah itu Jack berlari menyusul Mira.
Â
\\*
Â
Di depan ku membentang laut luas bewarna biru yang indah, pasir terasa dingin di telapak kaki ku. Aku berjalan mendekati ombak yang menyisir tepi pantai. Ombak itu menghantam kaki ku, gaun ku pun menjadi sedikit basah. Ngomong-ngomong saat ini aku masih memakai Gaun. Karena itulah aku menggunakan sihir (Creation) untuk mengganti gaun ku menjadi baju renang, itu bukan bikini, hanya baju renang!
Setelah mengganti gaun ku dengan baju renang, aku mendekati Natasha yang berdiri agak jauh di belakang ku.
"Kau tidak ikut main? Natasha."
"Tidak, aku akan mengawasi-"
Sebelum Natasha selesai berbicara, aku memegang tangan nya, mengaktifkan sihir (Creation) dan mengganti baju pelayan Natasha menjadi bikini.
Karena body Natasha memang bagus, bikini terlihat sangat seksi di pakai Natasha. Dan kejadian langka terjadi, wajah Natasha memerah karena malu. Dia terlihat sangat lucu di saat dia malu-malu. Aku mengabaikan wajah merah Natasha sekarang, aku menarik nya ke laut.
Saat ombak laut, terkena kaki Natasha. Ia menjerit. "Kyaaa!"
"Kenapa kau tiba-tiba menjerit?"
"Air laut ini dingin!" Natasha menjawab. Wajah nya masih memerah karena malu.
Kemudian dari arah pantai, datang Jack yang menerjang laut dan menyeburkan diri nya di bagian paling dalam.
"Ternyata memang tidak ada apa-apa disini. Ke khawatiran ku ternyata salah!"
Aku bisa mendengar Jack bergumam seperti itu.
Arisa.yang sudah lama memperhatikan, juga ikut masuk ke laut.
"Dingin!" Arisa sedikit melompat saat telapak kaki nya terkena ombak.
Setelah itu, kami menikmati pantai dan laut dengan bahagia.
Tidak ada siapapun selain kami berempat di pantai ini. Pantai ini seperti pantai pribadi milik kami.
Hari sudah mulai siang, matahari sudah sedikit naik ke langit. Aku membuat pondokan kecil menggunakan (Earrh Magic) itu di pakai untuk kami istirahat.
Di pondokan ini ada. Aku, Natasha dan Arisa. Hanya Jack yang tidak ada, hal itu membuat ku bertanya-tanya. Kemana pergi nya Jack? Aku lalu menanyakan itu ke Arisa.
"Benar juga. Kemana pergi nya anak itu?" Arisa menjawab sambil melihat sekeliling pantai.
"Kau juga tidak tahu Arisa?"
Arisa melihat ke arah ku, lalu ia menggelengkan kepala nya. "Tidak! Aku juga baru sadar kalau dia menghilang."
"Aku rasa tidak apa-apa, lagipula yang kita bicarakan ini Jack." Natasha yang ada di samping ku angkat bicara.
"Kak Natasha benar. Jack pasti bisa menghadapi masalah nya sendiri."
Aku beranjak dari tempat duduk ku. "Kalau begitu, kita lanjut bermain?" Natasha dan Arisa mengangguk tanda setuju dengan ku.
Â
\\*
Â
Jack sungguh bersemangat. Ia sudah dari pagi berenang di lautan yang luas.
Ia berenang, untuk melatih kekuatan fisik dan stamina nya.
Saat ia berenang, Jack melihat tanang kosong. Ia memutuskan untuk beristirahat di sana.
Tanah itu berbentuk aneh, itu seperti batu yang menonjol dari lautan.
Tanah yang seperti batu itu, berwarna ungu dengan bentuk setengah bulat.
Jack menaiki tanah yang seperti batu itu.
"Ternyata berenang melelahkan juga."
Jack duduk di atas tanah yang seperti batu, sekitar 1 menit Jack duduk. Tanah itu bergetar, kemudian itu semakin tinggi dan tinggi, menjauh dari lautan.
"Apa? Apa? Apa? Apa ini?!"
Jack melihat dari atas tanah seperti batu itu. Di bawah nya ada tentakel yang menggeliat kesana kemari ingin menangkap Jack.
Jack melompat, menceburkan diri ke laut. Jack melompat jauh dari jangkauan tentakel yang menggeliat yang barusan di lihat nya.
Saat Jack jatuh ke air, ada sesuatu yang menangkap kaki nya. Ia di tarik semakin mendekat ke arah tentakel yang baru saja di lihat nya.
Saat sudah dekat, Jack di tarik ke atas, keluar dari laut.
"Gu-gurita?!" Jack terkejut. Di depan nya ada gurita yang sangat besar. Dan tempat yang di gunakan nya untuk beristirahat bukan lah tanah. Melainkan kepala Gurita.
Kaki Jack di jerat erat tentakel gurita raksasa. Jack saat ini berada di posisi menggantung secara terbalik, kaki di atas dan kepala di bawah.
"Ternyata firasat buruk ku tidak salah! Sialan di saat seperti ini, aku malah meninggalkan pedang ku di Inventori Arisa."
Â
\\*
Â
"Ah, benar juga. Kak Mira.... Jack meninggalkan pedang nya padaku. Jika terjadi sesuatu tidak mungkin dia untuk membela diri."
Saat ini kami sedang membuat istana pasir, dan tentu saja tidak memakai sihir. Kami memakai tangan kami sendiri, yang kami buat adalah replika istana kerajaan Fantasia.
Di saat sudah di bagian penting, Arisa berhenti bergerak dan memberitahu ku sesuatu tentang Jack.
"Arisa tenang saja, di pantai ini tidak ada monster. Walaupun Jack tidak membawa pedang nya, dia pasti baik-baik saja."
Arisa tidak menjawab, ia kemudian berdiri. "Aku ingin melihat-lihat dari langit sebentar." Katanya dengan khawatir.
Kemudian Arisa mengaktifkan sihir (Fly) lalu ia perlahan-lahan melayang tinggi ke langit.
3 menit kemudian ia turun.
"Kak Mira, di sana ada sesuatu yang menggeliat keluar dari lautan!" Arisa menunjuk ke arah laut.
Aku berdiri, kemudian melihat ke arah laut, setelah itu aku mengaktifkan (Clairvoyance). Aku melihat sesuatu seperti cacing menggeliat dari lautan, dan itu sedang melilit seseorang. Apakah yang di lilit itu Jack?
"Kalian berdua, ayo cepat kita ke sana." Aku menunjuk lautan yang arah nya tepat ke sesuatu yang menggeliat itu.
Natasha dan Arisa mengangguk. Natasha menumbuhkan sayap kelelawar lalu mulai mengepakkan nya. Aku dan Arisa mengaktifkan sihir (Fly).
Setelah itu, kami bertiga terbang ke arah sesuatu yang menggeliat.
Â
\\*
Â
Kami semakin mendekati sesuatu yang menggeliat itu, karena aku masih mengaktifkan (Clairvoyance), aku bisa tahu apa itu sesuatu yang menggeliat.
Itu adalah tentakel, dan tentakel itu melilit tubuh Jack dengan kuat. Aku bisa melihat Jack bersusah payah melepaskan diri, tapi ia tidak bisa.
"Natasha. Arisa. Kita harus cepat!"
Mereka berdua mengangguk.
Kami menambah kecepatan terbang kami.
Kami berada sekitar 100 meter dari permukaan laut, di depan kami ada seekor gurita raksasa. Gurita itu memelilit seorang Pria. Dia adalah Jack.
"Jack kau tidak apa-apa?" Arisa bertanya khawatir. Ia secara cepat terbang ke arah Jack untuk menyelamatkan nya.
"Jangan mendekat Arisa!" Jack berteriak.
Setelah itu, muncul dari dalam lautan seekor gurita besar lain nya, ukuran nya agak sedikit kecil dari gurita yang melilit Jack.
Gurita yang muncul dari lautan itu, dengan cepat menangkap tangan dan Kaki Arisa.
"Sialan kau!" Kata Arisa dengan kesal. Arisa mengaktifkan sihir (Wind Cutter) untuk memotong tentakel yang menangkap nya. Tapi sihir itu tidak aktif. "Apa?! Kenapa sihir ku tidak aktif?!"
"Gurita ini menghisap energi sihir dan stamina orang yang di lilit nya. Karena itu aku menyuruh mu jangan mendekat." Jack berteriak memberitahu Arisa.
"Kau terlambat! Coba kau beritahu lebih cepat!"
Aku dan Natasha memperhatikan dengan seksama apa yang terjadi pada kedua Saudara yang sudah lama bersama kami.
Saat melihat mereka bisa tertangkap dengan mudah, perasaan kami menjadi kesal. Itu dikarenakan pelajaran yang kami berikan saat latihan tidak di pakai sama sekali.
Natasha menghela nafas panjang. "Untuk saat ini, biar aku yang menyelamatkan mereka."
Aku mengangguk.
Natasha melukai telapak tangan nya dengan kuku tangan kiri nya.
"Jangan gunakan Cursed Blood Control Kak Natasha!" Jack berteriak.
Kemudian di belakang kami ada 2 gurita raksasa muncul dari lautan.
Tentakel nya mengarah ke arah ku dengan cepat. Sebelum tentakel itu menangkap ku, aku secara Reflek mengaktifkan sihir (Teleportation) untuk berpindah ke pantai Kota Sannakji.
Saat sampai di pantai, aku menghela nafas lega sekaligus menjadi kesal.
Aku secara reflek menggunakan (Teleportation) padahal aku bisa langsung menggunakan (Barrier). Dan juga bisa-bisa nya aku lengah tadi.
Setelah mengkritik diri ku sendiri. Aku mengaktifkan sihir (Barrier) dan terbang kembali ke arah ke empat gurita tadi muncul.
Â
\\*
Â
Aku sampai di tempat gurita tadi. Natasha juga tertangkap. Aku menghela nafas melihat hal itu. Tentakel para Gurita berusaha mencoba menangkap ku, tapi aku menggunakan sihir (Barrier). Selama energi sihir ku masih ada, (Barrier) ini tidak akan pecah.
"Jack!" Aku berteriak.
Jack melihat ke arah ku. Bukan hanya Jack yang melihat, Natasha dan Arisa juga melihat ke arah ku.
"Kau seperti nya tahu banyak tentang gurita-gurita ini. Bisa kau berikan semua informasi itu pada ku?"
"Ba-baik. Pertama Gurita ini bisa mendeteksi melalui cairan yang ada di tubuh. Aku tertangkap karena air laut yang menempel di tubuh ku. Awal nya aku melompat menjauh dari jangkauan tentakel ini, tapi tiba-tiba aku ditarik mendekat ke arah Gurita ini. Dan di situ aku sadar, kalau gurita ini lebih dari satu.
Lalu saat aku tertangkap energi sihir dan Stamina ku berkurang, Gurita ini memiliki kemampuan menghisap energi sihir dam stamina seseorang."
"Apakah ada lagi?"
"Eh?!"
"Seperti itu bisa bergenerasi, menyemprotkan tinta, atau mungkin yang lain?"
Jack menggelengkan kepala nya.
Aku melihat ke kiri, lalu mengayunkan tangan ku dari atas ke bawah. Gurita yang selama ini berusaha untuk menangkap ku terbelah menjadi 2.
"Bagus!" Jack berteriak.
Gurita itu menyatu kembali, setelah menyatu, gurita itu menyemprotkan cairan bewarna hitam.
Aku terbang semakin ke atas untuk menghindari semprotan tinta.
Tinta itu meleset dan jatuh ke laut, yang membuat lautan berubah sedikit menjadi warna hitam.
"Gu-gurita itu bisa bergenerasi dan menyemprotkan tinta." Kata Jack terkejut.
"Sudah ku duga monster ini Kraken!"
"Apa yang kau bicarakan Mira?!" Natasha berteriak di lilitan Gurita. "Kraken itu cumi-cumi bukan Gurita, dan juga Kraken sudah punah. Kami yang menangkap nya saat perang besar beberapa ratus tahun yang lalu.
Ini monster yang berbeda."
"Apa beda nya Gurita dan Cumi-cumi?! Mereka sama saja." Aku berteriak membalas Natasha. "Dan juga kalau kau ada tenaga untuk berteriak sekencang itu, gunakan tenaga itu untuk melepaskan diri. Jangan cuma pasrah akan keadaan."
"Haaaah?! Kau bilang mereka sama?! Dengar ini gadis kaya. Gurita itu-"
Natasha mulai mengoceh menjelaskan tentang perbedaan Gurita dan Cumi-cumi. Karena itu tidak penting, aku mengabaikan ocehan Natasha.
Aku terus menahan serangan beruntun dari Gurita Raksasa, jumlah tentakel yang menyerang terlalu banyak. Ada 4 Gurita di sini, dan setiap Gurita memiliki 8 tentakel. Berarti 8 dikali 4 jumlah nya 32, lalu 1 tentakel di pakai untuk melilit Jack, 4 untuk menahan kedua tangan dan kaki Arisa, dan 2 tentakel untuk menahan Natasha. Jadi jumlah keseluruhan tentakel yang menyerang ku adalah 25.
Jadi sekarang ada 25 tentakel yang menyerang ku.
Tunggu dulu......
Ini bukan waktu nya menghitung!
Ini waktu nya membuat rencana untuk menyelamatkan mereka bertiga!
Sialan!! Otak ku masih susah untuk berfikir karena kelelahan mengurus Dokumen-dokumen itu. Ini terlalu berat untuk anak berusia 10 tahun seperti ku!
Jangan menyerah Mira! Gunakan setiap sel di dalam otak mu untuk berfikir.
Pertama. Aku bisa menghabisi Gurita-gurita ini dengan Super Magic, tapi karena jangkauan sihir yang luas dan kekuatan nya yang maha dahsyat sihir ini bisa merusak ekosistem laut. Jadi cara ini tidak bisa ku pakai.
Kedua. Aku bisa memotong dengan (Wind Cutter) tapi kecepatan regenerasi nya sangat luar biasa. Sihir (Wind Cutter) tidak bisa menyamai kecepatan Regenerasi nya. Jadi cara ini juga tidak bisa ku pakai.
Selanjutnya......
Aku berusaha untuk berfikir lagi.
Akhhh!!!! Aku sudah kehabisan cara!
Sementara aku berfikir, tentakel-tentakel dari ke 4 gurita terus menyerang ku.
Sialan!! Coba tentakel ini bisa berhenti, aku pusing mendengar suara benturan nya.
Tungu dulu.... Bisa berhenti?
Aku melupakan sihir Time Control.
"Aaaahn." Tiba-tiba Natasha mendesah.
'Ke-kenapa Kak Natasha tiiba-tiba mendesah?!" Arisa dan Jack berteriak.
"Te-tentakel ini tiba-tiba menyentuh daerah sensitif ku.... Aaahn!" Wajah Natasha memerah.
"Aaahn!" Arisa juga ikut mendesah.
"Mi-Mira..... Cepat kau kalahkan mereka..... Ka-kalau begini terus..... A-aku bisa kehilangan ke........ Perawanan....... Ku..... Karena tentakel ini." Natasha berkata dengan nafas tersengal-sengal dan wajah memerah.
"Kak Mira....." Arisa juga sama kondisi nya seperti Natasha.
Apa yang kau ajarkan pada anak 10 tahun!!
Tetapi.... Jika aku masih laki-laki, pasti akan ada yang berdiri jika aku melihat adegan ini. Untung saja semua nafsu ku menghilang sewaktu aku jadi Mira. Entah kenapa bisa seperti itu. Itu masih menjadi misteri.
"Mi-Mira cepat!! Dia mulai membuka pakaian ku, kalau terus seperti ini aku akan...."
Dan satu hal yang ku pelajari dari kejadian ini, ternyata Natasha masih perawan. Aku kira dia sudah berpengalaman.
Aku menghela nafas. "Super Magic Activated. Time Control : Time Stop!"
Â
\\*
Â
Kami terbaring di sofa yang ada di ruang tengah rumah ku yang ada di Kerajaan Eurasia.
Alex membawakan teh kepada kami.
"I-ini teh nya....." Ia berkata dengan suara pelan.
"A-anu.... Aku sudah memberitahu Nona Mira mengenai monster Gurita itu. Tapi Nona Mira sudah pergi duluan.... Dan berkat Nona Mira, kami dapat informasi baru tentang Monster itu, Terima kasih banyak." Alex membungkuk.
"Apakah kalian membunuh monster itu?" Alex bertanya.
Arisa mengangkat tangan nya, lalu ia memberikan kode "Kami belum mengalahkan gurita-gurita itu."
"Be-begitu ya.... La-lalu apa yang terjadi saat kalian bertemu para monster itu?"
"Jangan Tanya!" Kami semua membalas perkataan Alex.
Semenjak hari itu aku memutuskan, jika aku mendapatkan libur, lebih baik ku gunakan untuk tiduran di kamar saja.