
Kerajaan Dwarvania, salah satu negara penguasan Benua Yuro. Dari ibu kota kerajaan Animalia, perlu waktu satu hari untuk sampai ke ibu kota kerajaan Dwarvania. Kerajaan Dwarvania sendiri berada di sebelah barat kerajaan Animalia, dengan populasi 200.000 penduduk yang semua nya adalah Ras Dwarf.
Ibu kota kerajaan Dwarvania bernama Linguini. Sebuah kota mesin, yang ke semua bangunan nya terdiri dari mesin dan lampu-lampu terang. Apalagi saat malam seperti ini, kota Linguini sangat indah jika di lihat dari atas langit.
Aku, Natasha, dan Arisa terbang di atas langit sambil menatap ke arah kota yang nampak indah di kala malam. Seperti yang ku katakan pada Natasha sebelum nya, kami akan menyusup ke istana kerajaan Dwarvania untuk mengambil tongkat sihir bernama Glory Rod. Hanya saja, istana kerajaan Dwarvania sangat besar, akan sangat sulit mencari tongkat itu hanya dalam waktu satu malam saja. Karena itu kami berdiam diri sebentar di langit, sambil mengamati istana. Yah, walaupun hanya aku yang mengamati istana, Arisa dan Natasha menunggu hasil dari pengamatan ku.
Eeeh... Sudah ku duga dari istana Ras Dwarf, yang terkenal dengan teknologi nya... Ada cukup banyak jebakan di sana. Akan sedikit sulit menyusup ke sana.
Dengan mata emas ku, aku mengamati istana. Saat aku melihat ke dalam, aku dapat melihat struktur mesin rumit yang dapat mengaktifkan jebakan dengan mudah. Jika orang yang tidak tahu struktur istana dengan baik, aku yakin dia akan terkena jebakan begitu dia melangkah dari pintu masuk.
Aku memberitahu temuan ku ini pada Natasha, setelah itu bertanya pada nya.
"Ada banyak jebakan di sana, salah langkah sedikit saja kita pasti akan mengaktifkan jebakan. Bagaimana, apakah kau bisa menyusup?"
"Kau bertanya pada siapa Mira?" Natasha menanggapi pertanyaan ku dengan kesal.
Mendengar hal itu dari mulut nya, membuat ku tersenyum. Aku melihat ke arah Arisa lalu menyuruh nya untuk menyiapkan sihir (Sleep) untuk menidurkan semua penjaga di istana.
Arisa menuruti perintah ku, ia langsung terbang ke atas istana, lalu mengaktifkan sihir nya. Lingkaran sihir berwarna hitam muncul di langit malam, tepat di atas istana. Karena warna lingkaran sihir itu sama dengan langit malam, itu tidak di sadari oleh orang lain selain aku dan Natasha.
Beberapa detik kemudian, lingkaran sihir hitam itu berubah warna menjadi putih pucat dan mengeluarkan cahaya yang sangat terang selama satu detik. Aku kemudian mengarahkan pandangan ke arah istana, dengan mata emas ku melihat ke dalam.
Sihir Arisa berhasil, semua orang yang ada di istana tertidur. Arisa kemudian terbang mendekat, melayang di samping ku.
"Selesai!" Kata nya dengan gembira.
"Tidak bisa kah kau membuat nya tidak mencolok seperti itu?"
Cahaya terakhir itu sangat mencolok pasti nya, setahu ku sihir (Sleep) tidak harus nya mengeluarkan cahaya seperti itu, cahaya itu adalah murni keinginan Arisa.
Sihir sangat bergantung pada imajinasi dan keinginan perapal, jika perapal ingin menambahkan efek khusus dalam sihir nya, dia hanya harus membayangkan efek yang dia ingin kan. Untuk kasus Arisa, dia menambahkan efek yang tidak perlu.
"A-Akan ku usahakan ke depan nya." Kata Arisa menjawab pertanyaan ku dengan bahu terkulai.
"Kalau begitu Natasha, kita pergi ke sana sekarang!"
"Sebelum itu, kau tahu di mana posisi tongkat sihir itu?" Tanya Natasha.
"Di ruang tahta, di belakang singgassana ada ruang rahasia. Aku melihat banyak harta di simpan di sana, jadi itu mungkin ruang harta? Entahlah, intinya aku sudah tahu di mana posisi tongkat itu."
Dengan begitu, aku dan Natasha pergi ke istana lalu mendarat di ruangan yang paling dekat dengan ruang tahta.
Arisa bertugas di sekitar istana, mengawasi keadaan sekitar.
***
Aku mendarat di balkon suatu kamar, kemudian Natasha turun dengan anggun di samping ku. Aku melihat sekeliling memeriksa jebakan, dan mengetahui kalau kamar di depan kami aman, tidak ada jebakan.
Alasan aku mendarat di kamar ini sangat simple, itu karena kamar ini yang paling dekat dengan ruang tahta istana.
"Ikuti langkah kaki ku." Kata ku dengan pelan kepada Natasha.
Memang benar tidak ada jebakan di kamar, tetapi di luar kamar sudah ada banyak jebakan. Salah langkah saja akan mengaktifkan jebakan, karena itu aku meminta Natasha untuk mengikuti langkah ku, karena aku tahu semua pemicu jebakan yang ada di lantai. Jadi aku bisa dengan mudah menghindari itu.
Aku mulai berjalan perlahan di ikuti oleh Natasha yang setiap langkah nya sama dengan milik ku.
Selama hampir dua menit kami berjalan dengan kecepatan yang sangat lambat, mungkin karena itu Natasha mulai berbicara pada ku dengan jengkel.
"Apakah kita harus berjalan seperti ini?" Tanya nya dengan suara lelah sekaligus jengkel.
Aku berhenti berjalan, berbalik lalu melihat ke arah nya. "Apa maksd mu dengan pertanyaan itu? Kalau kita tidak berjalan dengan hati-hati seperti ini, jebakan nya akan di aktifkan. Kau tahu itu!?"
"Aku tahu itu, tapi..."
"Tapi!?"
"....Bukankah lebih mudah jika kita terbang saja? Kita tidak perlu menginjak tanah kan?"
"....."
"....."
Aku menatap Natasha dengan tatapan kosong, mengerjap beberapa kali, mulut ternganga, tidak bisa berkata-kata. Natasha memperhatikan ekspresi ku, dan hanya menatap ku dengan tatapan tidak percaya dengan ekspresi kelelahan di wajah nya.
"...Kau betul-betul lupa....?"
"Haaah," Aku menghela nafas. "Aku punya satu pertanyaan. Saat kau menumbuhkan sayap mu, apakah itu memerlukan energi sihir untuk melakukan nya?"
"Mengalihkan pembicaraan..."
"Sudahlah jawab saja."
"Tidak. Itu tidak memerlukan energi sihir. Kecuali jika aku mengeluarkan Cursed Blood Control baru aku memerlukan energi sihir."
"Kalau begitu, gendong aku ke ruang tahta. Aku takut jika aku mengeluarkan energi sihir di sini, bisa memicu jebakan."
"Aaah... Jadi karena itu kau lupa tentang terbang?"
"Begitulah..."
Maaf. Itu semua bohong. Jebakan tidak akan terpicu, walaupun aku mengeluarkan energi sihir di sini. Aku mengatakan itu, untuk melindungi harga diri ku yang melupakan hal sepele seperti itu. Jujur saja, aku sangat malu sekarang, aku terlihat seperti orang bodoh karena berjalan sangat pelan sambil berhati-hati barusan.
Tidak mengetahui rasa malu ku, Natasha mulai menumbuhkan sayap nya. Setelah itu ia mengepakkan sayap nya perlahan-lahan, melayang satu sentimeter di atas lantai. Dia mengambil ku kedalam pelukan nya, menggendong ku gaya pengantin. Aku merangkul leher nya, berjaga-jaga agar tidak jatuh. Setelah memperhatikan aku aman, Natasha mulai terbang lurus kedepan dengan kecepatan orang berlari, menuju arah ruang tahta.
"Lurus saja kedepan, nanti ada jalan bercabang tiga arah, ambil jalan ke kiri!"
Natasha mengangguk, menanggapi arahan ku.
Natasha terus terbang lurus ke arah depan, hingga akhir nya menemukan jalan bercabang tiga yang ku maksud. Satu mengarah ke depan, satu mengarah ke kiri, satu mengarah ke kanan. Karena sudah ku arah kan sebelum nya, Natasha tanpa ragu mengambil jalan ke arah kiri. Ia terbang lurus lagi hingga beberapa menit, hingga akhir nya melambat karena dari jarak pandang kami dapat terlihat sebuah pintu besar.
Natasha berhenti beberapa senti dari pintu itu, dia tidak bisa berhenti tepat di depan pintu karena ada penjaga berbadan besar yang tergeletak tepat di lantai depan pintu.
Natasha melayang ke depan pintu, menghindari penjaga yang tergeletak. Sambil melayang beberapa senti dari lantai, Natasha dengan satu tangan nya mendorong pintu.
Seperti pintu ruang tahta lain nya, pintu ini sangat besar hingga memerlukan lima orang untuk mendorong nya. Tetapi penjaga yang ada di depan pintu hanya ada 3 orang. Itu karena mereka adalah Dwarf. Dwarf di katakan memiliki kekuatan fisik yang jauh lebih kuat dari Ras Human, oleh sebab itu pintu yang hanya bisa di dorong oleh 5 orang Human bisa di dorong oleh 3 orang Dwarf. Tetapi Natasha hanya mendorong nya sendiri dan dengan satu tangan, itu menandakan kalau Ras Vampir nya yang di katakan Ras terkuat bukan lah omong kosong belaka.
Pintu perlahan-lahan terbuka, saat celah sudah cukup untuk kami masuki, Natasha berhenti mendorong pintu, masuk ke ruang tahta melalui celah yang ia buat. Tidak perlu membuka pintu secara penuh, karena kami tidak akan menggunakan pintu ini lagi saat kembali. Setelah masuk ke dalam, Natasha menutup pintu kembali.
Kami pun berada di dalam ruang tahta Kerajaan Dwarvania.