From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 310 Sementara itu...



Amanda merasakan sesuatu terjadi di luar penjara, posisi pasti nya di tengah-tengah daerah penduduk, atau lebih tepat nya balai kota tempat yang biasa di gunakan para Vampir untuk melakukan pertemuan. Dengan perasaan khawatir akan masuk nya penyusup ke danau Denizi, Amanda bergegas keluar dari penjara, berlari ke satu-satu nya bangunan yang ada di balai kota.


Setelah sampai di luar penjara, Amanda langsung menumbuhkan sayap kelelawar di punggung nya lalu dengan kecepatan tinggi terbang ke balai kota. Hanya dalam beberapa detik saja, ia sampai di sana. Sesampai nya di sana, Amanda melihat para Vampir berkerumun di depan bangunan yang ada di balai kota, bangunan yang di sebut oleh para Vampir dengan sebutan 'Istana.' Walaupun para Vampir menyebut nya dengan istana, bangunan yang berdiri di balai kota sebenarnya hanyalah sebuah Mansion mewah.


"Apa yang terjadi!?" Tanya Amanda ke salah satu Vampir yang ada di barisan paling belakang kerumunan.


"Arisa tiba-tiba muncul di depan istana." Jawab Vampir yang di tanya oleh Amanda.


Oh... Ternyata hanya Arisa, pikir Amanda di dalam kepala nya sembari bernafas lega. Walaupun begitu, ia kebingungan mengapa para Vampir harus berkumpul karena hanya Arisa yang datang, jika itu Mira atau Natasha adalah hal yang wajar mereka akan berkumpul karena sangat antusias dengan kedatangan mereka berdua, tapi Amanda tidak menemukan alasan mengapa para Vampir harus seantusias ini hanya karena Arisa yang muncul. Apakah ada alasan lain mengapa mereka sampai berkumpul seperti ini? Saat Amanda berpikiran seperti itu, Vampir lain yang menyadari kedatangan Amanda berkata dengan nada khawatir. "Dia muncul di depan istana dengan keadaan di penuhi dengan luka, saat ini dia sudah di bawa masuk ke dalam istana."


"Apa!?" Mendengar perkataan Vampir itu, Amanda berteriak kaget, kemudian ia dengan tergesa-gesa menerobos kerumunan para Vampir hingga akhir nya ia berhasil mencapai barisan paling depan kerumunan. Saat berada di barisan paling depan, ia melihat dua orang Vampir mengangkat Arisa kedalam istana, tanpa pikir panjang Amanda pun mengikuti mereka.


Saat di dalam istana, Arisa di baringkan di sofa yang ada di ruang tamu, para Vampir yang membawa nya sangat khawatir dengan keadaan Arisa yang di penuhi dengan luka, mereka takut nyawa Arisa tidak terselamatkan jika mereka berlama-lama mengobati nya, karena itu mereka berinisiatif untuk melakukan perawatan minimal di ruang tamu terlebih dahulu sebelum akhir nya mereka akan memindahkan nya ke kamar tidur yang ada di lantai dua istana setelah kondisi Arisa sedikit membaik.


"Bagaimana keadaan Arisa? Apa yang terjadi padanya?" Tanya Amanda saat mendekati kedua Vampir yang membawa Arisa masuk ke dalam istana.


"Kami hendak memeriksa nya sekarang, tetapi saat melihat kondisi nya mungkin saja dia menerima luka akibat melakukan pertarungan hebat." Salah satu Vampir menjawab, sementara Vampir yang satu nya merawat luka Arisa dengan sihir penyembuhan.


"... Begitu ya..."


"Tetapi, aku tidak berpikir kalau Arisa itu akan menerima luka separah ini, melihat kondisi nya sekarang aku yakin seseorang yang di lawan nya sangatlah kuat hingga bisa membuat nya dalam kondisi seperti ini." Jawab Vampir yang merawat Arisa sembari terus merapalkan mantra sihir nya.


Mendengar jawaban itu, seketika wajah Amanda berubah, ekspresi nya menunjukkan ketidakpercayaan di sertai dengan keterkejutan. Ia tidak bisa membayangkan seseorang akan setara melawan Arisa, hanya ada beberapa orang yang dapat membuat Arisa terluka parah, salah satu nya adalah saudara kembar Arisa, Jack, lalu Natasha, kemudian Mira setelah mereka bertiga ada diri nya sendiri yang sekarang. Amanda bukan nya menyombongkan diri nya, tapi selama beberapa tahun ini ia berlatih sangat keras hingga kekuatan nya bisa di bilang sudah setara dengan Mira dan ketiga bawahan nya, yang setahu Amanda adalah mahluk terkuat di dunia. Tidak ada lagi yang bisa menyamai kekuatan mereka. Jika memang benar ada seseorang atau suatu mahluk yang kekuatan nya setara dengan mereka, sudah bisa di pastikan mahluk itu akan merusak keseimbangan dunia dan akan menyebabkan kekacauan di masa yang akan datang. Saat memikirkan itu, Amanda tidak bisa tidak khawatir mengenai masa depan.


"Uuuh..." Saat Amanda di tengah pemikiran nya, suara erangan pelan terdengar dari mulut Arisa, yang seketika membuat Amanda tersentak yang kemudian dia dengan cepat bergerak ke sisi Arisa dengan wajah khawatir. "Arisa! Kau tidak apa-apa!?" Tanya nya.


Mata Arisa perlahan mengerjap, sebelum akhir nya terbuka sepenuh nya, perlahan fokus mata Arisa tertuju pada wajah Amanda yang membuat ekspresi wajah Arisa segera berubah menjadi panik. "Gawat!" Arisa bangun dari tempat nya berbaring mengambil posisi duduk.


"Apakah kau tidak merasakan nya!? Energi sihir besar dari arah Benua Aziliya!?"


"Maaf aku tidak merasakan nya, indera ku tidak sekuat milik mu Arisa."


Arisa sepertinya tidak mendengar jawaban Amanda, ia hanya terus bergumam dengan ekspresi wajah serius. "... Ada orang lain seperti Catulus... Dan juga energi sihir ini... Kak Natasha dan Jack!? Mereka sudah sampai di Benua Aziliya... Ini gawat! Gawat! GAWAT!!! Seberapa keras mereka melawan, tidak mungkin mereka bisa menang, aku harus memberitahu rahasia Catulus kepada Kak Natasha dan Jack!" Setelah selesai bergumam, Arisa langsung berdiri, seketika ia berlari keluar ruangan tapi sebelum ia melakukan itu, Arisa terjatuh berlutut di lantai sambil merintih kesakitan.


"Jangan memaksakan diri! Tubuh mu masih di penuhi luka!" Kata Amanda yang seketika menopang tubuh Arisa yang terjatuh, kemudian memperingatkan mengenai kondisi tubuh nya.


"Tapi Amanda... Aku harus pergi... Aku harus pergi! Aku harus bergegas ke tempat Kak Natasha dan Jack berada... Kalau terus begini, hal buruk akan terjadi pada mereka berdua, atau yang lebih parah nya Kak Mira juga akan dalam bahaya..."


Mendengar jawaban Arisa, Amanda hanya bisa terdiam. Tapi pada akhir nya ia berhasil membuka mulut nya, berbicara kepada Arisa. "Walaupun kau berkata 'Harus segera pergi' tubuh mu berkata lain! Untuk bergerak saja, kau sudah tidak kuat!"


"Walaupun begitu... Aku harus pergi..."


Melihat Arisa yang terus bersikeras ingin pergi, Amanda hanya bisa terdiam, khawatir. 'Untuk Arisa begitu bersikeras berkata ingin pergi, apakah sesuatu yang gawat telah terjadi... Kalau begitu...' Setelah memikirkan itu, akhir nya Amanda berbicara kepada Arisa. "Baiklah... Kau boleh pergi, tetapi aku harus ikut dengan mu! Dan juga kau harus melakukan perawatan minimal terhadap luka-luka mu. Kau mengerti?"


"Baiklah... Terima kasih, Amanda." Kata Arisa setelah mendapatkan izin dari Amanda.


Setelah mendapatkan jawaban yang ia inginkan, Amanda langsung memerintahkan salah satu Vampir yang membawa Arisa ke dalam istana untuk merawat luka-luka Arisa. Setelah hampir sepuluh menit perawatan luka Arisa di lakukan, Arisa akhir nya meminta untuk Vampir yang merawat luka nya untuk berhenti, ia merasa kalau luka nya sudah cukup di rawat, dan juga Arisa khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk jika ia menghabiskan waktu terlalu lama di danau Denizi ini. Setelah menerima perawatan minimal, akhir nya Arisa mempunyai tenaga cukup untuk melakukan aktifitas biasa, hanya saja ia masih tidak bisa jika harus bertarung nanti, mengetahui hal ini Amanda pun menyarankan Arisa untuk melakukan perawatan lebih lanjut, tetapi Arisa hanya menjawab. "Tidak apa-apa... Kita kesana tidak untuk membantu Kak Natasha bertarung tapi untuk menghentikan pertarungan itu." setelah mendengar jawaban itu, Amanda pun hanya bisa menjawab. "Begitu ya..."


Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, akhir nya Amanda dan Arisa pun pergi dari danau Denizi ke Benua Aziliya dengan cara berteleportasi kesana, tetapi karena ada penghalang yang mencegah seseorang untuk berteleportasi ke Benua Aziliya, Arisa pun berteleportasi ke daerah yang paling dekat dengan Benua Aziliya, setelah itu ia dan Amanda akan melanjutkan perjalanan dengan terbang di udara.


Sesaat mereka melakukan teleportasi ke daerah paling dekat dengan Benua Aziliya, tubuh Arisa dan Amanda seketika jatuh berlutut di tanah.