From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 163 Mira Sadar. Perspektif Natasha.



Cahaya terang terus keluar dari tubuh Thinkie dan lingkaran sihir yang ada di halaman Vila juga mengeluarkan cahaya terang.


Saat ini hari sudah malam, tapi karena cahaya terang yang di hasilkan Thinkie dan lingkaran sihir, malam sama sekali tidak gelap, malahan cahaya itu membuat malam terasa seperti siang.


"Spirit Magic : Drain!" Thinkie berteriak dengan lantang.


Sedetik kemudian, tubuh Thinkie yang bercahaya masuk kedalam tubuh Mira, begitu juga cahaya yang berada di lingkaran sihir. Semua nya masuk kedalam tubuh Mira, seakan-akan cahaya itu terhisap kedalam tubuh Mira.


Malam pun menjadi gelap kembali.


"Apa yang terjadi?" Jack bertanya.


"Mungkin sekarang, Thinkie sedang masuk kedalam tubuh Mira dan menghisap energi sihir yang kelebihan di dalam tubuh Mira." Aku menjawab Jack.


Sedetik kemudian cahaya terang muncul lagi, kali ini bukan dari tubuh Thinkie atau dari lingkaran sihir.


Kali ini tubuh Mira yang bercahaya, cahaya itu memiliki warna emas cerah seperti mata Mira.


Saat tubuh Mira bercahaya, tubuh Mira juga mulai melayang ke udara sedikit demi sedikit.


Tubuh nya terus melayang hingga mencapai 10 meter dari permukaan tanah, saat itu tubuh nya makin bersinar terang, sampai kami semua menutup mata kami.


"Apa yang sebenarnya terjadi!?" Amanda bertanya sambil menutup matanya.


Aku membuka mata ku secara perlahan untuk memeriksa kondisi. Tidak mungkin untuk melihat! Cahaya masih terlalu terang! Aku menyipitkan mata ku, aku bisa melihat walaupun sedikit.


Di saat itu, aku melihat dengan samar-samar sesuatu mendekat ke wajah ku.


"Gawat!! Cepat pergi dari sini!"


Aku melihat Thinkie. Ia berkata dengan panik.


"Memang nya kenapa?"


"Tidak ada waktu untuk menjelaskan, intinya cepat pergi dari sini!"


Sesaat setelah Thinkie memberi peringatan kepada ku, aku merasakan angin kencang. Itu seperti sebuah badai, aku beserta semua orang yang berdiri di depan pintu Vila terhempas hingga masuk kembali kedalam Vila.


Aku terhempas ke dinding hingga kepala ku terbentur, akibat nya kepala ku pusing dan pandangan ku menjadi kabur. Saat pandangan ku kembali normal, aku melihat pintu Vila terbang ke arah ku.


Aku dengan cepat melompat ke samping kanan untuk menghindari pintu Vila.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Aku bicara sendiri.


Kemudian cahaya kecil mendekati ku, saat cahaya itu sudah dekat, aku dapat melihat gadis kecil seukuran genggaman tangan.


"Thinkie, apa yang terjadi?"


"Saat kami memasuki tubuh Mira. Kami menemukan energi yang kelebihan tersebut. Saat kami menghisap nya, para Roh kelas bawah langsung mati karena kelebihan kekuatan sihir. Bahkan para Roh tingkat atas tidak kuat untuk menghisap semua energi itu, jadi aku memutuskan untuk menarik energi itu keluar. Tapi pada saat aku menarik nya, energi itu mengamuk!"


"Jadi angin kencang barusan adalah energi sihir Mira yang mengamuk?"


Thinkie mengangguk. "Bahkan sampai sekarang angin kencang itu masih terus berhembus."


"Thinkie kau naik ke atas kepala ku, dan pegang rambut ku kuat-kuat."


Thinkie mengangguk.


Aku berdiri, kaki ku bergetar sedikit saat berdiri.


Aku melihat sekeliling, semua orang pingsan. Mereka terbaring lemah di lantai.


"Hanya dengan energi sihir nya, sudah dapat membuat Ras Vampir pingsan!" Thinkie terkejut. "Ternyata yang di katakan Sieg benar, dia sangat kuat."


Aku pernah mendengar cerita kalau Mira, Sieg, dan Raja Elf dahulu yang bernama Javelin adalah kenalan. Aku tidak tahu bagaimana bisa mereka saling kenal, padahal umur mereka berjauhan. Aku mencoba bertanya pada Mira, dia hanya menjawab "Suatu saat kau akan tahu!" Setelah Mira menjawab seperti itu, aku tahu kalau terjadi sesuatu yang buruk di masa lalu. Jadi aku tidak bertanya lebih lanjut. Tapi tetap saja aku penasaran, untuk saat ini aku akan mengikuti perkataan Mira dan menunggu sampai saat aku mengetahui semua tentang Mira.


"Thinkie ayo kita pergi kedepan Vila!"


"Ba-baik!"


"Maaf."


"Kenapa?" Tanya Thinkie.


"Akibat menghisap energi sihir Mira, kawan-kawan mu ada yang menjadi korban."


"Masalah itu tenang saja. Walaupun mereka mati, kawan-kawan ku akan di hidupkan kembali di hutan Roh, jadi jangan merasa bersalah. Dan juga ini bukan salah mu."


"Terima kasih."


Aku berjalan menerobos angin kencang yang di sebabkan energi sihir Mira, aku tidak tahu seberapa besar energi sihir Mira saat ini. Tapi aku tahu ini bukanlah kekuatan penuh nya.


Hal ini membuat ku bertanya-tanya, apakah tidak apa-apa Mira mengeluarkan energi sihir sebesar ini? Aku pun memutuskan untuk bertanya kepada Thinkie tentang hal itu, dia pun menjawab :


"Tenang saja. Energi sihir yang kau rasakan saat ini adalah energi sihir yang di buang dari tubuh Mira, jadi secara teknis energi ini tidak akan melukai tubuh nya."


Aku terus berjalan menerobos angin kencang, saat aku semakin dekat dengan pintu Vila yang sekarang tidak memiliki pintu lagi, angin semakin kencang.


Angin itu terus berhembus, agar tidak tertiup, aku berpegangan pada tiang penopang Vila, aku terus berjalan hingga akhir nya aku sampai di depan pintu, aku berdiri di ambang pintu, sambil memegangi kedua sisi ambang pintu.


Aku bisa melihat keluar halaman.


Tubuh Mira masih melayang di udara sambil mengeluarkan Cahaya, angin kencang yang berhembus itu mengelilingi Mira seperti sebuah topan. Aku terus berpegangan pada sisi ambang pintu, beberapa menit kemudian angin yang awal nya kencang, perlahan-lahan mulai mereda, cahaya yang menutupi tubuh Mira juga mulai meredup.


Tubuh Mira mulai bergerak, menyesuaikan posisi melayang nya. Awal nya Mira melayang dengan posisi terbaring, tapi sekarang ia mengatur posisi seperti orang yang sedang berdiri.


Detik demi detik berlalu, angin kencang perlahan-lahan mereda, di ikuti dengan cahaya yang semakin lama semakin meredup.


Di saat angin kencang sepenuh nya mereda, cahaya yang menutupi tubuh Mira juga menghilang.


Tubuh Mira perlahan-lahan turun ke tanah, aku hendak mendekati Mira, tapi Thinkie menghentikan ku.


"Tunggu! Ini masih belum selesai." Kata thinkie dari atas kepala ku.


Aku menuruti Thinkie dan berhenti mendekati Mira, tubuh Mira saat ini sudah berada di tanah. Mira menundukkan kepala nya, aku tidak bisa melihat wajah nya. Secara lembut aku memanggil nama nya.


"Mira."


Dia tidak menjawab, dia juga tidak bergerak.


Beberapa detik kemudian Mira mulai menggerakkan kepala nya, dan menatap kearah depan, walaupun aku bilang menatap, ia tidak benar-benar menatap. Matanya masih tertutup hanya saja sekarang dia tidak menunduk lagi, wajah nya sudah terlihat.


"Kenapa dengan Mira? Apakah dia masih tidak sadarkan diri?" Aku bertanya pada Thinkie.


"Aku juga tidak tahu. Sebelum nya saat aku mengobati Elf yang terkena penyakit seperti ini, tidak ada kejadian seperti ini."


Setelah peecakapan itu, aku melihat ke arah Mira, saat itu ia dengan tiba-tiba membuka matanya.


Mata emas nya bersinar terang, menatap tajam ke arah ku.


"Tunggu apa itu!? Matanya berwarna emas!? Rasanya dulu tidak berwarna seperti itu!? Dan juga matanya bercahaya!" Kata Thinkie terkejut.


"Mata Mira sekarang berwarna seperti itu dan kadang-kadang mengeluarkan cahaya terang, aku tidak tahu apa penyebab nya."


"Apakah ini mungkin ada hubungan nya dengan leluhur mu dan leluhur anak itu?"


"Haaah!? Kenapa jadi membahas leluhur ku!?"


"Tidak apa-apa, lupakan saja kalau kau memang tidak tahu."


"Tunggu dulu! Beritahu apa hubungan nya leluhur ku dengan leluhur Mira!?"


"Lihat ke Mira sekarang! Dia sempoyongan!"


Aku melihat ke Mira, badan nya terhuyung ke kiri ke kanan, seakan-akan dia hendak jatuh ke tanah. Lalu setelah itu, ia betul-betul jatuh ke arah kanan.


Aku dengan cepat berlari ke arah Mira, lalu menangkap nya sebelum ia betul-betul terjatuh.


"Mira!" Kataku sambil menangkap nya.


Saat ku tangkap, Mira melihat ke arah ku.


"..... Natasha?"


"Syukurlah kau sadar." Aku menghela nafas lega. "Bagaimana? Apakah kau bisa berdiri?"


Dia mengangguk perlahan, kemudian ia mendorong pelan tubuh ku dan berusaha untuk berdiri sendiri.


Mira memang mampu berdiri, tapi aku melihat kaki nya masih bergetar, dan nafas nya masih berat.


"Uuugh." Mira merintih kesakitan sambil memegangi kepala nya.


"Kau tidak apa Mira!?" Aku mendekati Mira, lalu aku menyentuh kening nya. Dia sudah tidak demam.


Mira mendorong pelan tubuh ku lagi, lalu ia menjawab :


"Aku tidak apa-apa hanya sedikit pusing."


"Begitu ya."


"Ngomong-ngomong Natasha, aku memiliki banyak pertanyaan sekarang. Tapi aku akan bertanya tentang hal yang paling mengganggu ku dari tadi, kenapa Vila ku sekarang setengah hancur?"


"Akan ku ceritakan kenapa bisa seperti itu, tapi sekarang kita masuk dulu kedalam!"


Mira mengangguk.


Aku dan Mira pun berjalan memasuki Vila.