
"Mau bergabung dengan ku?"
Putri kerajaan Animalia, Catulus. Menatap ku dengan senyum ramah, menawari ku kursi kosong di hadapan nya. Aku awal nya pergi ke Cafe untuk menenangkan diri, karena suasana hati ku di rusak dengan Arisa, tetapi siapa menyangka aku akan bertemu dengan nya di sini.
"Kenapa diam? Kau tidak ingin bergabung?" Dia mungkin menyadari ku terdiam menatap nya, jadi dia mengundang ku sekali lagi.
Jika bangsawan lain mengajak ku, aku mungkin tidak akan ragu untuk duduk bersama mereka. Tetapi entah kenapa, aku tidak ingin bersama dengan orang ini. Firasat ku mengatakan, untuk tidak terlibat jauh dengan nya.
"Ku teraktir. Kau boleh memesan sepuas nya di sini."
"Baiklah kalau begitu."
Karena tidak sopan menolak ajakan seorang Royalty negara asing, aku pun memutuskan untuk bergabung dengan nya. Saat aku duduk, pelayan toko datang, menanyakan pesanan. Karena aku di teraktir, aku memesan semua manisan yang ada di cafe ini.
"Ah. Dia yang akan bayar. Minta tagihan pada nya nanti."
Aku memberitahu pelayan, kalau semua biaya makan ku di bayar oleh Demi Human kucing perak yang duduk di sebrang meja ku. Itu semua agar tagihan tidak mengarah pada ku. Pelayan toko Demi Human rubah berbulu oranye menatap ke arah Demi Human kucing perak itu untuk konfirmasi, dia mengangguk, membenarkan perkataan ku. Pelayan segera pergi membawakan makanan yang ku pesan.
"Itu benar. Siapa nama mu?"
"Mira."
"Mira ya... Kau mungkin sudah tahu, aku Catulus. Salam kenal, Mira."
"Salam kenal."
Putri Catulus bertanya dengan ceria, aku membalas singkat dengan wajah datar. Walaupun aku memutuskan untuk duduk bersama dengan nya, bukan berarti kehati-hatian ku pada nya menghilang begitu saja.
"...."
"...."
Keheningan terjadi di antara kami, yang membuat suasana menjadi canggung. Walaupun begitu, suasana ini tidak mengganggu ku. Malahan suasana ini mengganggu Putri Catulus, dia segera membuka mulut nya, mengajak ku berbicara.
"Ngomong-ngomong, kenapa Mira ke cafe ini?"
"....Apakah aku perlu menjawab nya?"
Aku diam sejenak, sebelum akhir nya menjawab Putri Catulus dengan pertanyaan lagi.
"....Tidak. Kau tidak perlu menjawab nya."
Putri Catulus terkejut dengan jawaban ku, dia menjawab pertanyaan ku dengan suara bergetar di penuhi dengan kejutan.
"Kalau begitu, aku tidak akan menjawab nya."
Aku menjawab dengan setengah hati, sebelum akhir nya mengalihkan pandangan ku ke arah pelayan.
Para pelayan masih belum datang membawakan makanan ku.
Suasana hening lagi canggung memenuhi sekitar kami sekali lagi, itu semakin membuat Putri Catulus tidak nyaman. Akhir nya dia berbicara lagi.
"Ngomong Class Mira apa?"
"...."
Untuk apa dia membicarakan Class ku? Apakah hal itu sangat penting?
"Apakah aku perlu menjawab hal itu?"
"Perlu! Aku menanyakan hal itu! Jadi tentu saja kau perlu menjawab nya!"
"Begitu ya... Class ku-"
"Mohon maaf sudah menunggu lama, kami membawa pesanan kamu, semua manisan kebanggan cafe kami. Silahkan di nikmati."
Sebelum aku menjawab, pelayan datang membawakan troli berisi banyak manisan di atas nya. Dia kemudian menaruh semua manisan itu di atas meja, kemudian ia membungkuk, lalu pergi lagi ke pos nya.
Aku mengambil satu manisan di meja, lalu memakan nya, setelah makan sesuap. Aku mulai bicara.
"Sebelum aku menjawab, boleh aku menanyakan hal yang sama. Apa Class Putri Catulus?"
"Oh. Tentu. Class ku Princess, aku belum menjalankan tes bakat jadi Class ku masih belum di tentukan."
"Kalau begitu sama dengan milik ku."
Aku melanjutkan makan manisan lagi, sedangkan Putri catulus melanjutkan meminum minuman nya. Dia lalu berbicara setelah menghabiskan semua minuman nya.
"Sayang sekali kau memiliki Class Princess. Padahal jika Class mu Mage aku bisa memberi mu informasi penting."
"...."
Kenapa dia tiba-tiba berasumsi Class ku adalah Mage? Dan juga kenapa dia ingin memberikan informasi penting pada ku?
Semua yang dia lakukan sangat mencurigakan.
Tetapi....
Sebaik nya aku mendengarkan informasi nya, tetapi aku harus tidak sepenuh nya percaya informasi nya. Firasat ku masih mengatakan kalau aku harus berhati-hati dengan nya.
"Oh? Sangat menarik... Mari kita dengarkan informasi itu." Kata ku, menyuruh Putri Catulus untuk melanjutkan.
"Kalau begitu, pertama-tama apakah Mira tahu kalau kemampuan Mage bisa meningkat jika mereka memiliki tongkat sihir?" Tanya Putri Catulus dengan senyum di wajah nya.
"....Iya. aku tahu itu."
Aku memang memiliki Class Princess tetapi entah kenapa aku tahu semua tehnik, kemampuan, dan hal penting untuk Class Mage. Seperti kasus tentang kendaraan mobil sebelum nya, ingatan ini sudah ada di kepala ku. Hanya saja ini seperti aku melupakan nya.
"Kalau begitu baguslah. Sebenarnya di istana kerajaan Dwarvania ada tongkat sihir yang memiliki kesadaran, karena itu para Dwarf bisa berbicara dengan tongkat itu. Seperti nya tongkat itu tidak mau di pakai jika orang itu tidak memiliki kekuatan sihir yang besar."
Aku mengernyit sedikit, melanjutkan memakan manisan ku. Kenapa dia memberikan informasi tentang tongkat sihir seperti itu pada ku? Dan juga dari posisi tongkat itu, seharus nya itu menjadi rahasia kan? Tidak memperhatikan kebingungan ku, putri Catulus melanjutkan berbicara.
"Tongkat itu berwarna emas indah, dengan bentuk seperti sebuah menara dengan Cristal sihir berwarna Ruby di puncak nya. Tongkat itu menyebut diri nya. Glory Rod."
.....Apa?
Itu pertama kali nya aku mendengar nama itu, tetapi itu terdengar sangat familiar.