
Dragon Leader tumbang, ia mati karena di tusuk banyak duri darah Natasha.
Sebelum mati, dia mengatakan sesuatu.
"Seperti nya ramalan itu benar, kematian si perak emas akan menyebabkan kepunahan semua Ras."
Kalau tidak salah, itulah yang dia katakan.
Yang jadi pertanyaan di sini adalah. Siapa si perak emas yang di maksud?
Setelah Dragon Leader tumbang, Natasha berlutut, ia tersengal-sengal. Cursed Blood Control sebelum nya, pasti banyak menguras HP nya. Karena itu Natasha kelelahan.
Natasha memperbaiki nafas nya yang tersengal-sengal, setelah nafas nya tenang, ia berdiri lalu berbalik menatap ku.
"Kau tidak apa-apa Mira?" Natasha bertanya dengan cemas.
"Aku tidak apa-apa. Bagaimana dengan....."
Pandangan ku menjadi kabur, lama kelamaan pandangan ku makin gelap, kepala ku pusing. Lalu seluruh tubuh ku lemas.
Kesadaran ku pun menghilang.
Perspektif Natasha.
Setelah mengeluarkan potensi penuh Cursed Blood Control, aku menjadi kelelahan.
Yang lebih parah, aku bermandikan cairan menjijikan yang keluar dari tubuh Dragon Leader.
Seharus nya aku bersyukur dengan cairan menjijikan ini, karena cairan ini adalah darah.
Tapi karena kejadian terakhir, aku menjadi kesal dengan darah Dragon Leader ini.
Aku berlutut untuk beristirahat sebentar, sekalian memperbaiki pernafasan.
Setelah melakukan semua itu, aku berdiri kemudian berbalik melihat Mira.
"Kau tidak apa-apa Mira?"
Mata emas Mira bersinar di kegelapan malam, itu sangat indah. Membuat ku ingin terus melihat keindahan itu.
Ke imutan Mira semakin bertambah dengan mata emas itu, saking imut nya, aku ingin menghisap darah nya.
Aku tidak bisa menahan nafsu ku, itu karena aku mengeluarkan potensi penuh Cursed Blood Control. Jadi tidak ada salah nya aku menghisap darah Mira sedikit......
Tidak ada salah nya kan?
"Aku tidak apa-apa," Mira menjawab. "Bagaimana......"Wajah Mira cemas.
Kemudian wajah cemas itu menghilang.
Tubuh Mira jatuh ke depan, aku dengan cepat menangkap Mira.
Ternyata dia pingsan. Aku memegang dahi nya, itu tidak panas.
Aku menghela nafas lega, aku kira dia tidak sadarkan diri karena demam.
Demam Mira biasanya di sebabkan karena dia berlebihan menggunakan sihir, tapi kali ini dia tidak berlebihan menggunakan sihir.
Mungkin dia lelah, karena banyak kejadian yang menegangkan terjadi pada malam hari ini.
Aku membaringkan Mira di tangan ku, lalu aku menggendong nya.
Badan nya sangat ringan, bahkan aku tidak perlu memakai kekuatan ku.
Hal ini membuat ku khawatir, apakah dia makan dengan teratur?
Aku berfikir lagi...... Dia makan sangat teratur....
Banyak manisan yang di habiskan nya dalam sehari, malahan aku sekarang heran. Kenapa dia tidak menjadi gendut? Mengingat banyak nya manisan yang dia makan.
"Kemana dua anak itu? Aku menyuruh mereka datang dengan cepat kan? Lalu kenapa mereka belum datang sampai sekarang!?" Aku bergumam dengan kesal. Mengingat Arisa dan Jack yang masih belum datang.
"Kak Natasha!!"
Dari atas langit aku mendengar suara teriakan yang akrab.
Itu adalah suara Arisa, ia terbang dengan sangat lambat ke arah ku. Di belakang nya ada Jack yang mengikuti dengan kecepatan yang sama.
Arisa dan Jack turun beberapa meter di depan ku. Seperti nya mereka takut untuk turun di dekat ku.
"Kenapa kalian sangat lama?" Aku bertanya dengan suara berat.
"Ma-maafkan kami!!!" Arisa dan Jack berteriak panik. "To-tolong jangan hisap darah ku, hisap darah Jack saja!" Arisa berkata sambil bersembunyi di belakang Jack.
Jack mengangguk beberapa kali, kemudian ia melihat ke arah saudari nya yang bersembunyi di belakang nya. "Arisa!" Jack berteriak kesal. "Ke-kenapa kau menjadikan ku tumbal?!"
"Kalian berdua cukup bercanda nya..." Aku membentak mereka.
mereka berdua langsung berdiri tegak, lalu berjalan mendekati ku.
"Kau masih bisa mengeluarkan sihir Arisa?"
"Jika hanya sihir ringan aku bisa. Energi sihir ku sekarang hanya tinggal buat ke kota Cocoa saja lagi."
"Kalau begitu, gunakan sihir air mu untuk membersihkan kami berdua."
"Apakah Kak Mira tidak apa-apa?" Tanya Jack.
"Dia hanya kelelahan."
Arisa dan Jack menghela nafas lega.
Arisa mengeluarkan tongkat sihir nya, kemudian ia mengeluarkan sihir air. Air buatan Arisa mengguyur tubuh ku dan tubuh Mira yang ada di dada ku.
Badan kami menjadi basah kuyup, tapi berkat itu darah yang menutupi tubuh kami menghilang.
"Kalau begitu, kita pergi ke kota Cocoa untuk meminta beberapa Cristal sihir untuk pulang ke istana."
Jack mengangguk, Arisa tidak mengangguk ia menatap mayat Dragon Leader.
"Kak Natasha, kita apakan mayat Dragon Leader ini?" Tanya Arisa. "Jika Kak Mira bangun, dia pasti menyuruh kita untuk menghilangkan mayat ini."
"Kau benar juga. Bagaimana dengan mayat pasukan Wyvern?" aku balik bertanya.
"Aku menggunakan sihir Black Hole, jadi tidak ada satu pun mayat yang tersisa. Hanya mayat Dragon Leader ini saja."
"Lalu apakah kau bisa menggunakan sihir itu lagi?"
Seperti nya aku harus memikirkan cara lain.
Bagaimana ini? Aku tidak terlalu ahli dalam hal rumit seperti ini...... Kalau Mira, pasti dia langsung menemukan malasah tentang mayat ini. Hmmm..... Apa yang harus aku lakukan?......
"Kak Natasha?"
Jack mengejutkan ku, dia secara tiba-tiba memanggil nama ku yang tengah berfikir keras.
"Ke-kenapa?"
"Tidak... Hanya memanggil saja, wajah Kak Natasha terlihat bermasalah."
Semua yang aku fikirkan tergambar jelas di wajah ku!! Serius..... Apa yang harus ku lakukan dengan mayat ini. Aaaaakh, kenapa kau pingsan di saat seperti ini Mira!?
"Sihir apa yang bisa kau gunakan Arisa?" untuk saat ini aku bertanya.
"Fly, dan sihir ringan." Arisa menjawab.
"Apakah kau bisa memasukkan Mayat ini kedalam Inventori mu?"
"Hmm...." Arisa memegangi dagu nya. Ia berfikir. Setelah berfikir, ia menurunkan tangan nya. "Mungkin bisa. Sebentar biar ku coba."
"Jika bisa di percepat, malam ini sangat dingin. Aku takut Mira kena demam karena tubuh nya yang basah kuyup."
Arisa mendekati Dragon Leader, kemudian ia menyentuh kepala Dragon Leader.
Tubuh Dragon Leader menghilang, Arisa menghembuskan nafas panjang setelah itu.
"Kalau begitu, kita pergi sekarang."
Setelah menghilangkan mayat Dragon Leader, aku menyuruh Arisa dan Jack untuk pergi.
Aku menumbuhkan sayap kelelawar di punggung ku, lalu aku terbang ke kota Cocoa di ikuti Arisa dan Jack.
\*\*\*
Kami sampai di depan Vila yang ada di kota Cocoa, aku berjalan mendekati pintu. Karena hari masih malam, kondisi kota sangat sepi.
Aku mendorong pintu dengan sisi kanan tubuh ku, aku tidak bisa menggunakan tangan ku. Karena tangan ku gunakan untuk menggendong Mira.
Saat pintu terbuka, aku memasuki Vila.
Di dalam sangat gelap, mungkin karena semua orang sedang tidur.
Arisa dan Jack perlahan masuk kedalam Vila setelah aku masuk.
"Kalian bangunkan Leonardo, dan minta Cristal sihir teleportasi. Aku akan ke kamar Mira untuk mengganti pakaian nya." Kata ku dengan berbisik.
Arisa dan Jack mengangguk.
"Kak Natasha," Sebelum menuju tujuan masing-masing, Arisa memanggil ku. Tentu saja dia juga berbisik.
"Kenapa?"
"Jangan hisap darah Kak Mira."
Aku mengabaikan Arisa, dan terus berjalan ke kamar Mira yang ada di ujung lantai 2. Aku berjalan perlahan, agar tidak membangunkan orang tidur.
Dengan perlahan tapi pasti aku berjalan. Dengan penuh perjuangan, aku sampai di depan kamar Mira.
Aku membuka dengan tubuh sisi kanan ku.
Untung nya kamar tidak terkunci, jadi pintu terbuka dengan sempurna.
Aku membaringkan Mira di kasur, menutup pintu lalu mengunci nya. Setelah itu aku mengecek lemari untuk mencari pakaian ganti.
Di lemari ada gaun mewah, dengan perpaduan warna pink dan merah. Aku mencari pakaian yang lain, kemudian aku menemukan piyama berwarna biru laut.
Aku mengambil piyama itu, menutup pintu lemari, kemudian berjalan mendekati Mira.
Aku melepaskan gaun mewah Mira, lalu memakaikan nya dengan piyama yang baru ku ambil dari dalam lemari.
Setelah mengganti pakaian nya, aku membuka pintu untuk membiarkan Arisa dan Jack masuk.
Setelah semenit aku menunggu, Arisa dan Jack datang, mereka datang dengan Leonardo.
"Ke-kenapa dengan Nona Mira!?" Leonardo bertanya dengan panik.
"I-itu....." aku mengalihkan pandangan ku.
Bagaimana ini? Aku tidak menyiapkan alasan!!
"Begini Leonardo," Arisa angkat bicara. "Kordinat Cristal sihir yang kami pakai itu ternyata mengarah ke perbatasan kota Cocoa dan kota Banitza."
"Arisa!" Aku berteriak membentak Arisa.
Arisa mengabaikan ku.
"A-apa!? Ba-bagaimana bisa!?"
"Kami bahkan tidak tahu hal itu.... Mungkin Nona Mira memang sudah merencakan hal ini, karena dia tahu kalau para Wyvern itu akan merugikan kota."
Mendengar perkataan Arisa. Leonardo terduduk lemas di lantai. "I-ini semua salah ku... Jika saja, aku tidak memberitahu kondisi kota Cocoa, Nona Mira pasti tidak akan pergi kesana."
"Kenapa kau begitu tertekan Leonardo? Aku dan saudara ku sudah mengalahkan semua Wyvern itu. Nona Mira hanya kelelahan karena dia harus menyusun strategi yang jitu untuk mengalahkan semua Wyvern itu."
"Apa!?" Leonardo kaget dengan perkataan Arisa.
"Aku tahu ini terdengar gila, tapi yang ku katakan ini adalah kebenaran. Kalau tidak percaya, cek saja sendiri nanti. Gua yang ada di perbatasan sudah hancur berkeping-keping."
Mendengar perkataan Arisa yang tanpa ragu. Membuat Leonardo yakin, ia berdiri lalu memberikan Cristal sihir pada Arisa.
"Saya percaya yang anda katakan."
"Leonardo bisa kau rahasiakan kejadian ini?" Aku bertanya pada Leonardo.
Tanpa bertanya maksud pertanyaan ku, Leonardo menjawab : "Baiklah. Akan saya rahasiakan. Lagipula mungkin Nona Mira akan meminta hal itu pada saya. Beliau tidak ingin membuat yang mulia Raja dan Ratu khawatir, karena itu beliau melakukan ini secara rahasia. Saya benar kan?"
"Ternyata kau faham dengan pemikiran Nona Mira."
Aku berjalan mendekati Leonardo, lalu aku menjabat tangan nya.
Setelah itu, aku mengambil 2 Cristal dari Arisa, berjalan mendekati Mira, menggendong Mira dengan tangan kanan ku, lalu aku membanting Cristal dengan tangan kiri ku.
Aku pun berpindah ke depan istana. Dengan cepat aku terbang ke kamar Mira, sebelum ada prajurit yang melihat ku.