
Aku terbangun dari tidur ku, cahaya matahari menyinari mataku. Karena reflek aku menutup mata ku lagi, mataku mulai terbiasa dengan cahaya nya. Aku membuka mataku secara perlahan, setelah itu aku bangkit dari tempat tidur.
Rasa kantuk ku masih ada sedikit, aku pun menguap. Setelah itu aku menggosok-gosok mata ku.
Aku berjalan keluar kamar, saat di luar aku tidak melihat siapa pun, karena itu aku memutuskan untuk pergi ke lantai satu.
Aku berjalan menuju tangga yang menyambungkan lantai dua dan lantai satu. Aku menuruni tangga secara perlahan, hingga pada akhir nya aku sampai di lantai satu.
Saat di lantai satu, para pelayan berbaris membungkuk sambil menyapa ku.
"Selamat siang Nona Mira!" Kata seluruh pelayan.
Aku mengangkat tangan ku. "Selamat siang."
Aku menyadari sesuatu yang aneh, mereka bilang selamat siang! Bukan selamat pagi! Apakah ini menandakan kalau aku bangun kesiangan?
"Tunggu dulu, siang? Bukan kah ini masih pagi?"
Datang seorang pelayan tua mendekati ku.
"Ini sudah siang Nona Mira!"
"Leonardo... Bagaimana keadaan mu? Apakah kau baik-baik saja?"
Leonardo tersenyum. "Terima kasih atas perhatian nya Nona... Saya baik-baik saja, ini semua berkat Arisa. Dengan sihir nya, dia menyembuhkan semua pelayan, jadi saat ini saya dan para pelayan baik-baik saja."
"Begitu ya... Senang aku mendengarnya."
Dari arah dapur, datang Natasha, Arisa dan Jack. Mereka berjalan mendekati ku.
"Mira," Kata Natasha. "Cepat kau sarapan!... Atau lebih tepat nya makan siang."
Aku mengangguk, aku berjalan ke dapur. Saat di dapur, di sana terdapat meja makan yang di atas nya terdapat satu keranjang penuh roti yang sudah di olesi dengan selai, lalu di samping keranjang ada sebuah cangkir yang berisi dengan teh.
Aku berjalan mendekati meja, di depan meja terdapat sebuah kursi yang di rapatkan dengan meja. Aku menarik kursi itu, lalu aku duduk di kursi itu.
Aku memakan habis semua roti yang ada di keranjang, setelah itu aku meminum teh.
Natasha datang dari ruang tengah, ia berjalan mendelati ku. Lalu ia berdiri di samping ku.
"Bagaimana Mira? Apakah enak?" Kata Natasha sambil tersenyum.
Aku mengangguk. "Seperti biasa rasa nya enak. Tapi aku bosan makan roti rasa buah terus."
"Lalu kau ingin makan apa?"
"Ada satu rasa yang tidak membuatku bosan, walaupun ku makan tiap hari."
"Apa itu?" Kata Natasha heran.
"Chocolate!"
Beberapa menit kemudian aku sudah selesai makan dan mandi dan juga sudah selesai berpakaian, aku pergi keruang tengah lantai satu, yang di sana sudah ada Natasha, Arisa dan Jack yang sudah menunggu.
Aku sampai di lantai satu, aku mengajak mereka keluar Vila, saat sudah sampai di depan pintu. Leonardo memanggil ku dari lantai dua.
Aku, Natasha, Arisa dan Jack menengok ke arah Leonardo. Dari lantai dua Leonardo berlari turun ke lantai satu melalui tangga. Saat sampai di depan ku, nafas nya sudah tersengal-sengal. Padahal jarak ku dan Leonardo sangat dekat, tapi nafas nya sudah tersengal-sengal.
"Nona... Mira... Saya... Lupa... Memberikan ini." Kata Leonardo dengan tersengal-sengal. Leonardo menyodorkan sebuah amplop yang memiliki lambang kerajaan Fantasia.
"Surat dari ayah?"
Leonardo mengangguk.
Aku mengambil surat yang ada di tangan Leonardo, aku membuka amplop yang sudah ku pegang. Aku mengambil selembar kertas yang ada di dalam amplop. Aku pun membaca tulisan yang ada di kertas. Selama aku membaca Leonardo berbicara sesuatu.
"Ma-maafkan saya Nona Mira. Saya melupakan surat sepenting ini... Sebagai hukuman, saya rela melakukan apapun untuk Nona Mira.." Leonardo terus mengoceh menyalahkan diri nya sendiri. Selama dia mengoceh, aku sudah selesai membaca.
"Kau tidak perlu minta maaf, isi surat nya tidak penting."
Surat yang di tangan ku terbakar, aku pun melepaskan surat itu. Saat kulepaskan surat itu langsung terbakar menjadi abu.
"Jika surat itu tidak penting. Kenapa surat itu langsung terbakar?" Kata Leonardo dengan ketakutan.
"Sudah ku bilang, itu tidak penting.... Sudahlah aku mau keluar, tolong jaga Vila nya selama aku pergi."
"Serahkan pada saya!" Kata Leonardo dengan keras.
Aku berbalik menghadap pintu, kemudian Natasha yang ada di samping ku, menarik gagang pintu. Pintu pun terbuka.
"Mau kemana kita?" Tanya Arisa.
"Kita datangi, para Penduduk... Ada yang ingin ku bicarakan dengan mereka."
Aku berjalan di ikuti dengan Natasha, Arisa dan Jack, kami berempat menuju daerah pembuangan, Para Penduduk ada di sana, mereka masih meratapi ternak dan tempat tinggal mereka yang habis terbakar. Karena itulah aku ingin membicarakan sesuatu ke para penduduk.
Aku sampai di daerah pembuangan, saat aku sampai ternyata benar para penduduk masih meratapi ternak dan rumah mereka. Bahkan mereka tidak sadar dengan kedatangan ku.
Lalu ada seorang laki-laki berbadan besar, dengan kepala botak, dan memiliki banyak luka di tubuh nya. Ia menyadari keberadaan ku, ia pun berteriak sehingga para penduduk juga menyadari keberadaan ku.
"Semua nya!! Tuan Putri sudah datang!"
Semua penduduk mendekati ku, lalu mereka bersujud di depan ku.
"Kami mohon tuan Putri tolong kami!" Kata salah satu penduduk laki-laki.
"Kami sudah kehilangan tempat tinggal, dan ternak kami... Kami tidak tahu lagi harus berbuat apa!?" kata salah satu penduduk perempuan.
"Baiklah kalian ku tolong... Tapi ada satu hal yang ingin ku bicarakan." Semua penduduk mengangkat kepala nya, kemudian mereka melihat ke arah ku.
"Ini tentang tempat tinggal kalian. Kalian bisa menempati semua Rumah para bangsawan, jika di hitung dari jumlah nya. Semua penduduk yang ada di sini, mendapatkan setidak nya satu Vila."
Para penduduk tersenyum. Lalu pria botak berdiri.
"Tuan Putri!!" Kata pria botak berteriak.
Aku mengenali orang itu, saat aku baru datang ke kota ini. Pria botak itulah yang pertama kali ku ajak bicara... Nama pria botak itu adalah Raisa. Atau lebih tepat nya ia bukan pria, tapi ia adalah seorang wanita yang terlihat seperti seorang pria.
"Nona Raisa! Ada apa?"
Raisa menarik nafas nya. "Kami sangat senang menerima semua Rumah yang ada di daerah bangsawan itu... Tapi tetap saja, kami sudah kehilangan ternak kami, yang merupakan satu-satu nya mata pencaharian kami... Jadi saya ingin bertanya. Apakah anda bisa membantu kami mengenai masalah itu?"
"Masalah biaya hidup kalian akan ku tanggung selama sebulan, menggunakan uang pajak. Untuk masalah mata pencaharian kalian akan kupikirkan dalam waktu dekat. Daerah pembuangan ini rencana nya akan ku buat sebuah peternakan besar, yang mampu membuat semua orang di kota Ini mendapatkan pekerjaan nya kembali."
Semua penduduk tersenyum mendengarkan perkataan ku. Lalu Raisa berjalan mendekati ku, saat berada di hadapan ku ia berlutut.
"Saya Raisa, akan mengabdikan hidup saya untuk anda!"
Melihat hal itu, para penduduk menempelkan kepala nya lagi di tanah. "Terima kasih banyak Nona Mira." Kata semua penduduk.
"Kalau begitu.... Kalian sudah bisa pergi ke daerah bangsawan, untuk pemilihan Vila nya, akan ku atur. Untuk seseorang yang hidup sendiri, tolong ambil Rumah yang berukuran kecil. Dan untuk yang sudah berkeluarga ambil rumah yang berukuran besar, besar rumah nya tergantung dari banyak nya keluarga yang ia miliki... Dengan begini masalah tempat tinggal sudah teratasi!"
Semua penduduk pergi ke daerah bangsawan kecuali Raisa. Aku melihat ke Raisa yang masih berlutut.
"Kau tidak pergi?"
Raisa melihat ke arah ku. "Izinkan Saya untuk berada di samping anda!" Kata Raisa dengan lantang.
"Maaf, itu tidak bisa."
"Kenapa tidak bisa? Apakah kecantikan saya masih kurang untuk bersama dengan anda?" Kata Raisa dengan wajah serius.
"E-enggak.... Bukan itu masalah nya."
"Lalu kenapa?"
"Aku sudah memiliki banyak pelayan, jadi aku tidak perlu lagi tambahan."
Raisa berdiri, saat berdiri ia menundukkan kepala nya. "Jadi begitu ya." Kata Raisa dengan nada sedih.
Aku berjalan mendekati Raisa kemudian aku menyuruh Raisa untuk berlutut hingga pandangan kami sejajar. Raisa pun menuruti suruhan ku.
Aku menepuk pundak Raisa. "Walaupun kau tidak berada di samping ku, aku masih memiliki tugas untuk mu... Tugas ini sebagai tanda kau sudah menjadi pelayan ku."
Raisa melihat ku dengan senyum di wajah nya. "Serahkan tugas itu pada saya."
"Aku ingin kau mencatat semua masalah yang menimpa Kota Cocoa untuk kedepan nya. Aku tidak ingin masalah kecil akan menjadi besar, seperti penyakit menular, yang ternyata hanyalah penyakit buatan untuk memperkaya para bangsawan. Dan aku ingin kau mencatat semua prilaku para penduduk, masalah, dan lain-lain. Setelah selesai kau mencatat nya, berikan catatan itu padaku. Dan aku ingin kau tidak ketahuan selama mencatat nya. Tenang saja kau tidak sendiri dalam mengerjakan nya. Kau juga akan di bantu para bawahan ku nanti."
"Jadi inti nya anda ingin saya memata-matai semua penduduk?"
"Secara kasar nya seperti itu.... Bagaimana kau mau?"
"Saya akan menjalan kan perintah Nona Mira!" Kata Raisa dengan lantang.
Aku menepuk-nepuk pundak Raisa. "Kalau begitu aku serahkan pada mu."