
Di saat Mira, Natasha dan Arisa sedang berbicara satu sama lain. Terjadi pembicaraan lain di dalam istana, di salah satu kamar tamu. Itu adalah kamar untuk tiga orang, dan yang menempati kamar itu adalah ketiga pangeran dari kerajaan kecil. Abisia, Persia, dan Chartreux.
"Urusan kita di sini sudah selesai." Kata Pangeran dari kerajaan Abisia, Martinez. Suami dari Nina dan ayah dari Mariana. Dia adalah pria berwajah tampan dengan rambut berwarna hijau muda, dan memiliki penampilan yang nampak seperti seorang kutu buku, dengan tubuh yang sedikit kurus dari rata-rata pria dewasa.
"Sial.. Berani sekali para Demi Human itu menjadikan kita sebagai pengantar pesan." Kata seorang Pria tampan dengan rambut berwarna biru laut, dia memiliki wajah tampan sekilas nampak polos dan lugu, tetapi dari gaya bicara nya menunjukkan sebalik nya, dia memiliki badan yang proporsional antara lemak dan otot-otot nya. Dia adalah pangeran kerajaan Persia, namanya adalah Taylor. Suami dari Blanc dan ayah dari Liliana.
"Mau bagaimana lagi. Jika kita tidak menuruti mereka, semua teknologi perang yang membuat kita unggul, akan sepenuh nya di ambil oleh mereka. Kita bisa menang perang karena teknologi mereka." Kata Pangeran dari Kerajaan Chartreux, nama nya adalah Davis. Dia adalah ayah Tristan dan Suami dari Rosa. Dia memiliki tubuh yang kekar, dengan pandangan tajam seperti elang. Jelas sekali kalau dia adalah seorang prajurit dari tubuh nya. Nyata nya dia juga menjabat sebagai komandan militer di kerajaan nya sendiri. Dia memiliki aura yang menyeramkan di sekitar nya, di tambah dengan rambut hitam, yang membuat nya lebih menakutkan.
"Davis benar. Kita tidak bisa menyinggung perasaan kerajaan Animalia. Itu akan berdampak pada kondisi militer negara kita." Kata Martinez membenarkan Davis, mencoba menenangkan Taylor yang sudah berada di ujung titik didih nya.
"....Maaf. Aku kehilangan kendali barusan." Taylor menghela nafas, menenagkan diri sebelum akhir nya meminta maaf pada kedua teman nya.
Davis dan Martinez mengangkat tangan nya, kemudian mengibas-ngibaskan ke kiri dan ke kanan, memberikan kode kepada Taylor 'Bukan apa-apa.' Taylor tersenyum melihat kedua teman nya itu, kemudian dia berbicara lagi mengalihkan pembicaraan dari kerajaan Animalia. "Tetapi... Aku tidak menyangka Kerajaan Fantasia memiliki Putri kelima. Hebat juga mereka berhasil menyembunyikan nya selama tujuh tahun ini."
"Aku memang mendengar kalau kerajaan Fantasia memiliki lima Putri, tetapi dulu ku pikir itu bohong setelah mengunjungi istana ini beberapa kali.... Dan sekarang, kita benar-benar melihat nya." Balas Martinez menatap ke arah Taylor. Dia sudah tahu kalau kerajaan Fantasia memiliki Putri kelima, tetapi setelah mengunjungi istana beberapa kali, dan tidak pernah melihat nya, Martinez pun berpikir itu hanyalah berita bohong. Hingga ia melihat Putri kelima itu hari ini.
"Dan juga dia adalah Tipe ku, kalau dia memiliki tubuh sedikit dewasa. Gahahaha!" Sambung Davis, dia tertawa terbahak-bahak setelah berbicara pendapat nya tentang Putri kelima kerajaan Fantasia.
"Kau benar," Taylor membalas dengan senyum masam. "Jika dia lebih sedikit dewasa aku akan memikirkan untuk mengirim surat lamaran pada nya."
"Gahahahaha!"
"Ahahahahaha!"
Kemudian Taylor dan Davis tertawa terbahak-bahak. Martinez yang melihat hal itu menghela nafas, kemudian berbicara. "Kalian terlalu nafsu. Seperti tidak pernah melihat gadis cantik saja."
"Kau juga selalu menatap nya kan!? Dasar munafik!" Taylor berkata pada Martinez dengan sedikit marah.
"A-Aku menatap nya hanya karena penasaran!! Bu-Bukan tergoda karena kecantikan nya atau apapun!" Martinez Membalas Taylor dengan sedikit panik, menghindari tatapan kedua teman nya yang nyengir melihat nya.
Saat itu ketiga anak mereka masuk kamar. Mereka bertiga mengajak ke taman istana, karena tidak bisa menolak, ketiga pangeran itu pergi menemani anak mereka pergi ke taman.
Sesampai nya di taman, mereka melihat Putri kelima kerajaan Fantasia sedang makan manisan di sebuah pondokan. Ketiga anak mereka berlari mendatangi nya, yang membuat ketiga pangeran itu mengikuti anak mereka dari belakang.
\*\*\*
Aku melihat ketiga pangeran datang mendekat bersama dengan anak-anak mereka yang berlari ke pondokan tempat aku beristirahat. Ketiga anak kecil itu, berlari dengan seyum lebar di wajah mereka. Mereka berteriak "Kak Peri!"
Mereka masih memanggil ku seperti itu!? Padahal aku sudah memperkenalkan diri ku.
"Kak Peri. Halo!"
"Halo!"
"Ha-Hai Kak Peri!".
Saat ketiga anak itu sampai duluan dari ayah mereka, mereka menyapa ku. Mulai dari Tristan dan Mariana yang menyapa ku dengan penuh semangat, dan Liliana yang menyapa ku dengan gugup. Aku hanya balas mengangguk sambil tersenyum kepada mereka.
"Jadi anda yang mereka maksud Kak Peri ya... Oh. Maafkan aku, karena terlambat memperkenalkan diri. Nama ku Martinez, suami dari Kakak mu Putri Nina, dan ayah dari Mariana. Salam kenal." Ayah dari Mariana memperkenalkan diri nya dengan sopan, membungkuk sedikit sambil menaruh tangan kanan di dada nya.
"Nama ku Davis. Suami Putri Rosa, dan ayah dari Tristan. Salam kenal." Seperti ayah dari Mariana, ayah dari Tristan memperkenalkan diri dengan sopan.
"Taylor. Suami dari Putri Blanc dan ayah dari Liliana. Salam kenal." Seperti kedua ayah lain nya, ayah dari Liliana memperkenalkan diri dengan sopan, hanya saja gaya bicara sedikit angkuh.
"Mira. Salam kenal." Aku menunduk sedikit, dan memperkenalkan diri dengan singkat, lalu mengambil manisan lagi yang ada di atas meja. Tidak perlu memperkenalkan diri dengan sopan dan kaku, selama itu bukan acara formal. Jadi aku memperkenalkan diri dengan gaya kasual, tetapi seperti nya itu membuat wajah ketiga pangeran itu mengernyit sedikit seakan-akan tidak senang dengan jawaban ku.
"Anak yang tidak sopan."
"Ya-Yah. Lagi pula dia masih anak-anak. Dia pasti belum di ajari etikat."
"Tidak seperti penampilan nya, dia sudah sepenuh nya dewasa! Jangan tertipu kalian berdua!"
Seharus nya kalian tidak membicarakan orang di depan mereka! Itu membuat ku sedikit marah. Walaupun kalian berbisik, aku masih bisa mendegar kalian, sialan!! Baiklah, tenang. Mereka tidak tahu kalau aku bisa mendengar mereka, jadi untuk saat ini aku akan pura-pura tidak tahu.
"Untuk apa kalian bertiga kesini?"
"Kami melihat Putri di sini dan mereka bertiga langsung berlari ke sini." Kata Martinez sambil melihat ke arah ketiga anak-anak.
Aku melihat ke tiga anak itu, mata mereka terpaku pada manisan yang ada di atas meja. Aku membawa tempat manisan, lalu menyodorkan nya ke depan wajah mereka. "Kalian mau?" Tanya ku.
"Ka-Kami mau. Tetapi...." Kata Liliana dengan wajah cemberut, dia melihat ke arah perut nya, lalu menggosok-gosok nya, setelah itu ia melihat ku. "Kami masih kenyang sehabis makan tadi."
"Begitu ya......"
Kalau begitu, baguslah. Sebenarnya aku tidak ingin membagikan manisan ku.
Aku menaruh manisan di atas meja lagi, lalu mengambil nya, kemudian memakan nya.
Setelah aku menelan manisan ku, aku berdiri. Natasha mendekat memberikan ku sapu tangan, aku membersihkan tangan ku dari remah-remah manisan yang baru saja ku makan. Setelah itu mengangkat sedikit ujung rok ku, lalu membungkuk sedikit ke arah tamu yang datang.
"Kalau begitu. Semua nya, saya pamit undur diri. Jika ada kesempatan, mari bertemu lagi di masa depan... Natasha, Arisa ayo pergi."
"Baik Nona Mira." Mereka berdua menjawab, Arisa langsung mendekati meja, mengangkat keranjang tempat manisan. Kami bertiga pun pergi meninggalkan pondokan, hingga.....
"Kak Peri ingin pergi!?" Mariana tiba-tiba menghentikan ku dengan memeluk ku dari belakang.
"Iya. Aku ingin memeriksa kamar ku."
"Jangan pergi! Bermainlah bersama kami."
".....Maaf. Lain kali saja."
Aku melepaskan pelukan Mariana, kemudian menolak permintaan nya sambil tersenyum. Dia hanya cemberut tidak menjawab ku, kemudian ayah Mariana datang dan membujuk nya untuk membiarkan ku pergi. Mariana pun mengangguk dengan ekspresi kesal di wajah nya.
Aku pun berjalan meninggalkan mereka, menuju ke arah istana. Saat itu Natasha angkat bicara.
"Kenapa kau tiba-tiba pergi Mira?"
"Firasat ku tidak enak saat di dekat para pangeran itu."
"Hm? Kenapa begitu?" Natasha memeringkan kepala nya, bertanya dengan kebingungan.
".....Kau tidak sadar? Dari tadi aku terus di tatap. Bahkan semenjak aku masih di ruangan tempat aku sadar sebelum nya." Aku diam sebentar, menajamkan indera ku sedikit. Dan merasakan tatapan dari arah belakang, aku pun memberitahu Natasha kalau aku sudah di tatap semenjak lama.
Natasha dan Arisa kemudian berbalik, Melihat ke arah tiga pangeran dan ketiga anak nya. Setelah itu, ia melihat ke arah Mira kembali. "Kau benar. Kau terus di tatap mereka."
"Baguslah kalau kau sadar. Karena tatapan mereka, aku merasakan firasat yang tidak enak."
Dengan begitu. Aku, Natasha, dan Arisa sampai di depan pintu masuk istana. Kami pun masuk dan pergi ke kamar ku yang dulu.