From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 144 Ke esokan harinya.



Saat ini aku berada dunia yang tidak memiliki warna kecual warna putih.


Aku ingat pemandangan ini, ini adalah alam bawah sadar ku.


Aku melihat sekeliling.


Jika aku berada di sini, berarti diri ku yang lain juga ada di sini.


Dan ternyata benar, di samping kiri ku. Aku melihat diri ku yang lain.


"Bagaimana kekuatan yang ku berikan? Itu kekuatan asli ku, kau tahu. Walaupun tidak sekuat kekuatan Class Mage mu sih." Kata diri ku yang lain.


Aku menghadap ke arah nya, "Jika harus ku komentari kekuatan itu lumayan kuat. Tapi kenapa kau memberikan kekuatan ini padaku?"


"Jawaban nya simpel. Karena kau adalah aku. Kita memang hidup di dunia yang berbeda, tapi sebenarnya kau adalah aku! Dan aku adalah kau!"


Aku tertawa kecil. "Jawaban yang sangat Absurd."


Diri ku yang lain balas tertawa kecil. "Apakah begitu?" dia tersenyum kemudian memasang wajah serius. "Aku harap kekuatan ku bisa membantu mu menyelesaikan Quest yang di berikan."


"Quest?"


Apa maksud nya dengan Quest.....


Ingatan ku samar-samar, aku berusaha mengingat nya, tapi saat aku berusaha, kepala ku menjadi sakit. Aku memegangi kepala ku karena reflek.


"Belum saat nya kau tahu. Baiklah saat nya kau sadar, ingatan mu saat di sini pasti akan di hapus. Tapi kekuatan yang ku berikan pada mu tidak akan di hapus. Selamanya, tidak akan pernah terhapus. Jadi ku mohon gunakan kekuatan ku sebaik mungkin." Dia melambaikan tangan.


Saat dia melambai, cahaya putih menutupi penglihatan ku, sesaat kemudian aku merasa seperti jatuh dari tempat yang tinggi.


\*\*\*


Aku terbangun.


Aku bangkit, lalu duduk. Saat ini aku berada di kasur kamar ku di istana kerajaan.


Tidak ada orang di sini.


Tiba-tiba kepala ku pusing, aku reflek memegangi kepala ku. Rasanya seperti aku memimpikan sesuatu yang penting, aku berusaha mengingat nya, tapi tidak bisa.


Aku pun menyerah untuk mengingat nya.


Aku masih memiliki rencana yang harus ku selesaikan dari pada harus mengingat mimpi yang tidak jelas.


Rencana ku adalah untuk membuat Kak Yuri menempati posisi pertama dalam tes perebutan tahta kerajaan. Kalau aku mendapat posisi pertama, aku pasti akan menjadi ratu di masa depan.


Tapi jika Kak Yuri mendapatkan posisi pertama, ayah pasti akan berfikir dua kali untuk menjadikan ku ratu.


Tahap pertama rencana selesai. Tahap ini sebenarmya kedengaran simpel, aku hanya harus menyingkirkan pengganggu ekonomi kota yang di pimpin Kak Yuri.


Sangat simpel, tapi ini tidak sesimpel kedengaran nya. Karena pengganggu ekonomi kota adalah Dragon Leader dan pasukan Wyvern nya, tapi pengganggu itu kini sudah di singkirkan Natasha dan yang lain nya. Jadi saat nya untuk pergi ke tahap berikut nya.


Aku melompat dari kasur, kemudian aku berjalan mendekati pintu kamar, lalu aku membuka nya.


Aku ingin pergi mandi.


Di depan kamar ku ada Prajurit yang berjaga.


Jadi aku memerintahkan Prajurit untuk menyuruh pelayan perempuan membawakan pakaian ku ke kamar mandi.


"Hei." Aku memanggil Prajurit. Prajurit menengok ke arah ku lalu dia berlutut. "Bisa kau suruh pelayan perempuan untuk membawa pakaian ku ke kamar mandi?"


"Ba-baik!" prajurit menenengok ke atas melihat wajah ku. Sesaat ia melihat wajah ku, prajurit terkejut.


"No-nona Mira?!" Dia berteriak kaget.


"Ke-kenapa tiba-tiba." Aku lebih terkejut mendengar teriakan nya.


Dia berdiri. "Mohon maaf Nona Mira." Dia membungkuk. "Saya tidak bisa menjalankan perintah anda."


"Eh!? ke-kenapa?"


"Saya memiliki alasan khusus untuk ini. Dan juga saya memiliki permintaan. Ini permintaan seumur hidup saya kepada anda."


"Sudah ku bilang kau kenapa?"


"Saya mohon anda tunggu di kamar, saya akan memanggil Yang Mulia Raja dan Ratu."


"Ke-kenapa?"


"Saya mohon!" dia mendesak ku.


"Ba-baiklah.... Akan ku tunggu ayah dan ibu di kamar."


Kenapa sih dia tiba-tiba seperti itu, aku masuk lagi ke kamar, berjalan ke kasur, lalu aku melompat ke atas kasur.


"Ngomong-ngomong. Kemana Natasha dan yang lain nya? Biasanya mereka ada di kamar menunggu ku bangun." Aku bertanya pada diri ku sendiri. Aku melihat ke arah langit-langit kamar ku. Menguap sedikit karena bosan menunggu, aku pun memejamkan mata.


Sesaat aku memejamkan mata, pintu kamar ku di buka dengan keras. Hingga bunyi nya mengejutkan ku. Aku bangkit, duduk di kasur dan melihat ke arah pintu.


Di sana ada Ibu dan Ayah yang nafas nya tersengal-sengal, lalu di belakang mereka berdua ada Natasha dan Arisa.


Tanpa berkata-kata Ibu mendekati ku, memegangi kedua pipi ku, lalu Ibu menatap mata ku dengan tatapan tajam.


"Ternyata benar Charles." Ibu menengok ke arah Ayah dengan cepat setelah menatap ku.


"Benarkah!? Minggir sebentar." Ayah menyenggol Ibu ke samping kiri, lalu ayah memegang kedua pipi ku lalu menatap ku dengan tajam. Sama seperti yang di lakukan Ibu sebelum nya.


Setelah itu, ayah menghembuskan nafas, merangkul ibu, lalu ayah membelakangi ku bersama Ibu.


Aku mendengar mereka berbisik, tapi aku tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan. Setelah selesai berdiskusi dengan Ibu, ayah berbalik melihat ke arah ku.


"Mira apakah kau ingin mewarisi tahta?"


"Tes nya belum selesai kan? Aku ingin melihat hasil akhir nya dulu."


"Sebenarnya tanpa tes, aku sudah memutuskan untuk memilih mu."


Aku melihat ke arah Ibu.


"Ji-jika kau tidak mau.. Kami tidak akan memaksa mu, lagipula kau masih memiliki saudara kan? Jadi aku pikir kau tidak perlu untuk mewarisi tahta."


"Carla!" Ayah menegur Ibu atas perkataan nya barusan.


Setelah itu, aku mendengar suara gaduh di depan pintu.


"Minggir kalian pelayan rendahan!"


Aku melihat Natasha dan Arisa di dorong oleh 2 orang wanita, mereka berdua masuk, di belakang mereka ada 2 wanita lagi.


Ke empat wanita yang masuk kamar adalah para Istri raja, atau para Selir kerajaan.


Selir Lina dan Selir White menatap ku sebentar, mereka terkejut. Setelah itu mereka keluar.


Selir Lavender dan Selir Shina tampak terkejut juga saat mereka menatap ku.


Sebenarnya ada apa di wajah ku? Kenapa semua orang nampak terkejut saat menatap wajah ku?


Aku melihat ibu, Ibu melirik ke sekeliling, kemudian tatapan ibu berhenti pada suatu benda, Ibu berjalan mendekati benda itu, lalu Ibu membawa benda itu ke hadapan ku.


Benda itu adalah cermin besar yang ada di sudut kamar ku. Cermin itu memiliki roda, jadi itu sangat mudah untuk di bawa.


Aku menatap pantulan diri ku di cermin, sesuatu berbeda. Itu adalah warna mata ku! Warna mata ku berubah menjadi emas. Aku melihat ke mata ayah. Warna matanya sama seperti warna mata ku saat ini.


"kenapa bisa?"


"Walaupun kau bertanya, aku juga tidak tahu." Ayah menjawab. "Tapi yang pasti.... Setiap pemegang tahta kerajaan memiliki warna mata emas seperti milik ku dan milik mu."


Jadi itu sebab nya dia mengatakan, 'Sebenarnya tanpa tes, aku sudah memutuskan untuk memilih mu.' itu karena warna mata ku berubah menjadi emas ya....


Tapi kenapa bisa warna mata ku berubah menjadi emas? Apakah ini ada hubungan nya dengan kekuatan yang ku dapat tadi malam dari diri ku yang satu nya?


"Jadi, apakah ada yang special jika aku memiliki mata emas ini?" Aku bertanya pada semua orang yang hadir.


"Biasanya kekuatan sihir akan meningkat pesat. Semua keluarga kerajaan Fantasia memiliki mantra khusus untuk meningkatkan energi sihir mereka." Jawab ayah.


"Mantra khusus?" Aku bergumam.


"Seperti nya kau sudah tahu mantra khusus itu." Kata Ibu saat melihat wajah ku.


"Eh!?" Aku terkejut saat mendengar ibu.


Selir Shina menunjuk mata nya sendiri. "Mata mu barusan bersinar. Itu tanda kalau kau sedang bersemangat dan memikirkan sesuatu. Kau pasti memikirkan tentang mantra khusus yang barusan di maksud kan.


"Benarkah mata ku bersinar barusan!?" semua orang mengangguk.


Ini gawat!! Jika aku memikirkan rencana, pasti itu akan cepat ketahuan karena mata ku. Aku biasanya menyembunyikan kalau aku sedang berfikir.


"Mira mata mu bersinar lagi." Kata Ibu.


"Aaakh, apakah tidak ada cara untuk mengatur sinar mata ku?"


"Tenang saja, kau akan secara alami dapat mengendalikan sinar mata mu." Ayah menjawab pertanyaan ku.


Itu jawaban yang sangat tidak meyakinkan.