From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 134 Burung Pengantar pesan.



Lima hari setelah Mira sadar, ke empat Putri lain nya bersiap-siap untuk pulang ke kota nya masing-masing. Mereka berpamitan kepada ibu mereka.


Saat kepergian mereka, para warga kota berkumpul di depan gerbang istana dan di jalan utama untuk mengantar kepergian mereka.


Mereka di antar dengan suara sorakan, teriakan, dan doa dari para penduduk kerajaan.


"Berjuanglah!"


"Semoga Putri Nina yang mewarisi tahta!"


"Putri Blanc kami mendukung mu!"


"Nona Rosa semangat!"


"Putri Yuri semoga beruntung!"


Teriakan demi teriakan terdengar, itu semua di tujukan untuk putri Favorit para warga kota.


Kereta para putri terus berjalan di jalan kota sambil di iringi sorakan dan teriakan. Saat kereta itu keluar dari gerbang kota, suara sorakan dan teriakan makin nyaring terdengar, seolah-olah para warga tidak ingin berpisah dari para putri kerajaan. Saat kereta ke empat putri sudah tidak nampak lagi di mata, suara sorakan menghilang.


Para warga pun memulai aktivitas mereka kembali.


Kenapa para putri pergi dengan kereta? Kenapa tidak menggunakan Cristal sihir?


Itu hanya sekedar formalitas saja.


Saat para putri tidak nampak di mata lagi, mereka akan menggunakan Cristal sihir (Teleportation) untuk langsung pergi ke kota mereka masing-masing.


Di istana, tepat nya di kamar Mira.


Aku terbaring di kasur, Natasha, Arisa dan Jack sedang membersihkan kamar ku.


Aku baring di kasur untuk menunggu mereka selesai membersihkan kamar ku. Beberapa menit berlalu, kamar ku sudah bersih! Sebenarnya kamar ku dari awal tidak terlalu kotor, tapi ibu ku bilang kalau kamar ku sudah sangat kotor karena sudah lama tidak di bersihkan. Jadi Natasha bersama Arisa dan Jack dengan nurut membersihkan kamar ku.


"Terima kasih telah membersihkan kamar ku!"


Natasha, Arisa dan Jack mengangguk.


Mereka bertiga istirahat, dengan meminum teh dan memakan cemilan. Sedangkan aku terbaring di kasur.


Rasa nya hari ini aku malas melakukan kegiatan apapun.


"Tok, Tok, Tok!" Suara pintu di ketuk.


Natasha berdiri dari tempat duduk nya, kemudian ia membuka pintu. Saat pintu di buka orang yang mengetuk pintu masuk kedalam kamar. Itu adalah ayah ku!


"Kenapa ayah kesini!" aku bangkit mengambil posisi duduk di kasur.


"Aku kesini ingin memberi mu burung pengantar pesan."


"Aaah, benar juga. Ayah ada menjajikan untuk memberikan itu pada ku." aku melompat dari kasur kemudian aku berjalan mendekati ayah.


"Bisa aku pinjam meja nya sebentar?" Ayah bertanya pada ku.


Aku melihat ke arah Arisa dan Jack yang sedang makan cemilan.


Saat ku lihat, mereka langsung menelan cemilan mereka lalu Arisa memasukkan semua barang kecuali meja kedalam (Inventori).


Saat meja sudah kosong, ayah berjalan mendekati meja.


Saat di dekat meja, ayah mengambil kapur dari saku baju nya, menggambar sesuatu di atas meja, setelah itu ayah berjalan ke jendela, kemudian menutup nya, lalu menarik tirai untuk menghalangi sinar matahari masuk kedalam kamar.


Ruangan pun menjadi gelap.


"Kenapa ayah menutup jendela nya? Jadi gelap kan sekarang."


Ayah tidak menjawab, ia hanya berjalan mendekati meja yang sudah di gambar tadi.


"Lalu mana burung pengantar pesan nya?"


"Sekarang kau yang akan memanggil mereka?"


Aku memeringkan kepala ku, menatap ayah dengan bingung. Kemudian ayah menyuruhku untuk mendekati nya, aku menuruti ayah.


Saat di dekat ayah, aku melihat ke atas meja. Di situ tergambar lingkaran sihir, telapak tangan ku di raih oleh ayah, lalu ayah menaruh tangan ku di atas meja atau lebih tepat nya di tengah-tengah lingkaran sihir.


"Sekarang Mira, ikuti perkataan ku."


Aku mengangguk.


"Wahai burung merpati kertas."


"Wahai burung merpati kertas."


"Dengan nama ku, aku memanggil mu, untuk menjadi peliharaan ku."


"Dengan nama ku, aku-"


"Ah, disana kau harus menyebutkan nama mu!"


Aku mengangguk.


"Nama panjang mu!"


"Eh, tapi di sini ada Natasha dan yang lain nya."


"Tenang saja Nona, kami akan keluar." Natasha memberitahu ku. Natasha menyuruh Arisa dan Jack keluar, mereka berdua pun nurut, setelah Arisa dan Jack keluar, Natasha juga keluar kamar.


"Sekarang lanjutkan!"


"Ba-baik!.... Wahai burung merpati kertas. Dengan nama ku, Mira Graham Carlania Charlesius Fantasia. Aku memanggil mu untuk menjadi peliharaan ku!"


Aku sangat berjuang keras untuk mengingat nama lengkap ku. Nama ku terlalu panjang untuk di ingat, tapi dengan perjuangan keras ku, aku berhasil mengingat nama ku.


Setelah mengucapkan mantra, lingkaran sihir bercahaya, cahaya itu dapat menerangi kamar ku yang gelap. Saat lingkaran sihir itu bercahaya, aku juga merasakan kekuatan sihir ku tersedot keluar dari dalam tubuh ku. Kekuatan sihir yang tersedot tidak banyak, hanya saja saat tersedot, tubuh ku rasanya seperti tersetrum sedikit.


Cahaya yang menerangi lingkaran sihir semakin redup, kemudian cahaya itu berangsur-angsur membentuk seekor burung, hingga akhir nya cahaya itu menghilang dan berubah menjadi seekor burung seutuh nya.


Itu adalah burung yang cantik, dengan bulu putih bersih yang menghiasi tubuh nya. Burung itu terbang kemudian bertengger di atas kepala ku. Aku menangkap burung itu, burung itu tidak melakukan perlawanan saat ku tangkap.


Saat ku pegang, bulu burung itu sangat lembut, itu adalah bulu terlembut yang pernah ku pegang.


"Itu adalah burung pengantar pesan, batas pemakaian nya adalah dua kali, jika lewat dari dua kali burung itu akan mati dengan sendiri nya."


"Eh, burung imut ini akan mati jika aku gunakan!? Aaaah, jadi sayang untuk di pakai."


"Jika mati, panggil saja lagi. Lingkaran sihir yang ku gambar bisa di gunakan berkali-kali."


Ayah pergi mendekati jendela, ia membuka tirai yang menutupi jendela, kemudian ia membuka jendela dengan lebar, hingga angin sepoi-sepoi dapat memasuki kamar.


"Baiklah Mira... gunakan burung itu untuk menaikkan nilai mu Mira. Dan buat posisi mu semakin absolut dalam perebutan tahta nanti."


"Sudah ku bilang kan, bisa saja nanti posisi ku tergeser. Mungkin Kak Yuri yang menggeser posisi ku nanti."


"Kalau itu tidak mungkin!"


"Apa nya yang tidak mungkin?"


"Yuri untuk menggeser posisi mu. Itu tidak mungkin."


"Sebelum nya ayah anak yang ingin menjadi tunangan ku juga bilang seperti itu. Dia bilang Putri Yuri tidak mungkin untuk memenangkan tes. Kenapa kalian memikirkan hal itu. Asal ayah tahu ya, di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin... Dan juga Kak Yuri tidak bodoh! Dia mungkin bisa saja kan untuk menggeser posisi ku."


Setelah mendengar perkataan ku, ayah menghela nafas panjang. "Di dunia ini ada yang nama nya tidak mungkin ya..." Ayah bergumam.


Ayah melihat ke arah ku.


"Mira ayah bilang seperti ini, bukan karena aku tidak mempercayai kemampuan Yuri.. Aku berharap dia juga bisa menang, tapi itu tidak mungkin untuk di lakukan."


"Kenapa itu tidak mungkin di lakukan?"


"Karena jika Yuri berhasil menjadikan kota Banitza menjadi kota kaya.... Yuri akan mati!"


"Eh!? Apa maksud nya itu?"


"Jadi begini Mira. Di dekat kota Banitza, ada sarang Wyvern, ini sudah di konfirmasi oleh Guild petualang. Wyvern itu masih tertidur, jika mengikuti sejarah kerajaan Fantasia, Wyvern itu akan bangun jika kota Banitza menjadi kota kaya."


Sarang Wyvern?


"Dan Guild petualang juga melaporkan ada Ras Dragon yang tidur bersama para Wyvern."


Setelah mengatakan itu, ayah keluar kamar. Saat ayah keluar kamar, Natasha, Arisa dan Jack masuk kedalam kamar.


Jadi maksud ayah tadi, Kak Yuri bisa saja di bunuh oleh Wyvern jika kota Banitza menjadi kota kaya?


"Tadi itu lumayan lama." Kata Jack.


Sekarang rencana ku sudah berantakan, karena sarang Wyvern itu.


Apakah aku harus membantai Wyvern itu?


"Kenapa Mira?" Tanya Natasha.


"Natasha seberapa kuat seekor naga? Apakah kau bisa mengalahkan nya?"


"Aku bisa mengalahkan Dragon king seorang diri."


"Dragon king?"


"Ras Dragon memiliki beberapa kepala suku, kalau tidak salah ada sepuluh kepala suku, dan kepala suku itu di sebut Dragon Leader. Dan sepuluh Dragon Leader itu memiliki satu batalion pasukan. Dan sepuluh Dragon Leader itu di pimpin satu Dragon King."


"Hmmmm. Berarti kau bisa mengalahkan naga sendirian kan?"


"Iya aku bisa."


"Kalau begitu, aku ingin kau membunuh satu naga. Arisa, Jack dan aku akan membunuh satu pasukan Wyvern."