From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 136 Surat dari Kota Cocoa



"Sarang Wyvern!?" Rouge dan Cecil terkejut dengan perkataan ku.


"U-untuk apa..... A-anda-"


Pertanyaan Rouge langsung ku potong dengan jawaban ku.


"Sarang Wyvern itu ada di perbatasan kota Cocoa dan Banitza kan?"


Rouge mengangguk.


"Aku khawatir jika mereka menyerang kota ku. Jadi aku ingin menyewa tentara bayaran untuk menghabisi mereka. Jadi aku ingin kau memberi ku semua yang kau tahu tentang sarang Wyvern itu."


"Wa-walaupun anda menyewa tentara bayaran, saya tidak yakin mereka bisa menghabisi para Wyvern itu."


"Mereka hanya Wyvern kan? Seharus nya tidak ada masalah."


"Saya tahu hal itu. Tapi jumlah mereka ada ratusan, belum lagi ada Dragon Leader yang memimpin mereka, jadi saya kurang yakin tentara bayaran bisa menghabisi mereka semua."


Ratusan Wyvern dan Dragon Leader ya.... Aku yakin Natasha, Arisa dan Jack bisa menghabisi mereka. Untuk saat ini, aku akan bertanya di mana lokasi pasti sarang Wyvern itu.


Setelah aku bertanya, Cecil pergi kebelakang, beberapa saat kemudian dia kembali sambil membawa sebuah gulungan.


Cecil meletakkan gulungan itu di atas meja, kemudian ia membuka gulungan itu.


Ternyata gulungan itu adalah peta lengkap kerajaan Fantasia.


"Di sini kota Cocoa," Kata Rouge sambil menunjuk sebuah titik hitam yang di simbolkan sebagai sebuah kota. "Lalu di sini kota Banitza." Rouge menunjuk titik hitam di sebrang titik hitam yang di tunjuk sebelum nya. "Lalu sarang nya ada....." Rouge menggeser tangan nya tepat di tengah-tengah kedua titik hitam. "Di sekitar sini, menurut laporan, sarang nya berupa sebuah gua besar. Gua itu sangat besar, sehingga dapat di ketahui hanya dengan melihat nya saja."


Aku mengangguk. "Lalu bagaimana kau bisa tahu kalau Wyvern itu berjumlah ratusan dan ada seekor Dragon Leader yang memimpin mereka."


"Ada sekelompok petualang yang nekat masuk kedalam gua itu, mereka mengatakan ada ratusan Wyvern dan seekor Dragon yang sedang tertidur pulas di dalam gua itu. Jika mengikuti sejarah kerjaan Fantasia, ada sekelompok Wyvern yang di pimpin Dragon Leader yang menyerang kota Banitza, jadi aku menarik kesimpulan kalau ratusan Wyvern itu adalah pasukan Dragon Leader yang sama yang menyerang kota Banitza di jaman dulu."


"Begitu ya.... Petualang itu sangat beruntung menemukan pasukan Wyvern dan naga itu sedang tertidur pulas."


"Anda benar, jika pasukan Wyvern dan Dragon Leader itu bangun, mereka mungkin akan langsung di musnahkan."


"Terima kasih untuk informasi nya."


Aku menyodorkan tangan ku, kemudian Rouge menyalami tangan ku.


"Sama-sama!"


Setelah bersalaman aku berdiri dari tempat duduk ku.


"O iya sebelum aku pergi. Aku ingin bertanya."


"Anda ingin bertanya apa?"


"Apakah sejarah Kota banitza di serang sekelompok Wyvern itu terkenal di kerajaan ini?"


"Itu sangat terkenal, cerita itu di ceritakan secara turun temurun oleh orang tua yang ada di kerajaan ini."


"Begitu ya... Sekali lagi. Aku ucapkan terima kasih."


Setelah mengucapkan terima kasih aku pergi keluar bangunan Guild petualang.


Saat di luar, aku meregangkan tubuh ku.


"Aaaaakh. Aku kira kita akan berurusan dengan para petualang yang sombong."


"Aaah, jadi itu maksud mu, apapun yang mereka lakukan hukum mereka dengan ringan?" Kata Natasha menanggapi perkataan ku.


"Kau benar, itu lah yang kumaksud. Baiklah... Sekarang saat nya kembali ke istana."


\*\*\*


Aku sampai di istana tanpa masalah, saat sampai di istana aku langsung pergi ke kamar dan menerjukan diri ku di kasur yang empuk lagi nyaman.


Saat terbaring di kasur, rasa kantuk yang hebat terus menyerang ku.


Aku menguap, perlahan-lahan memejamkan mata, lalu aku tertidur dengan pulas.......


"Jadi kapan kau akan menyerang sarang Wyvern itu."


Dan... Tidur ku di ganggu dengan pertanyaan yang datang dari Natasha.


Aku bangkit, duduk di kasur kemudian aku menguap sekali lagi.


"Kita akan menyerang sarang Wyvern itu tunggu aku niat untuk menyerang nya. Untuk saat ini biarkan aku tidur."


Aku merebahkan diri di kasur lagi.


"Eh, tapi hari masih siang. Dan kau sudah ingin tidur!?" Natasha mengomentari perilaku ku dengan teriakan keras.


Aku menggerakkan tangan ku, seperti mengatakan "Huss!! Huss!" kepada Natasha, Arisa dan Jack.


"Iya, iya. Kami akan keluar."


Natasha membuka pintu, kemudian aku menutup mata ku lagi.


"Ah, burung pengantar pesan." Kata Arisa.


Aku bangkit, kemudian duduk kembali. Burung itu dengan cepat terbang ke langit-langit kamar, saat di langit-langit burung itu berubah menjadi selembar kertas.


Kertas itu perlahan-lahan turun ke arah ku.


Aku menangkap kertas dengan tangan kiri ku, kemudian aku membaca nya.


"Kepada : Nona Mira.


Surat ini datang dari kota Cocoa. Saya hanya ingin melaporkan laporan para warga kota kepada anda. Warga kota melaporkan belakangan ini sering ada Wyvern yang terbang mengambil binatang ternak warga, mereka takut sekaligus panik.


Jika ini terus terjadi, peternakan akan mengalami kerugian besar dan itu akan mempengaruhi ekonomi kota, dan para warga juga takut jika para Wyvern itu menyerang mereka.


Itu saja yang bisa dapat saya sampai kan.


Dari : Leonardo Da Vinchi."


Setelah aku membaca nya, kertas itu langsung terbakar. Bahkan abu dari kertas itu juga ikut terbakar, jadi tidak ada bekas-bekas dari kertas yang tadi ku baca.


Ini mungkin maksud ayah kalau burung pengantar pesan akan mati setelah dua kali pemakaian.


Tapi burung tadi baru di pakai sekali kan? Lalu kenapa burung tadi langsung mati? Apakah karena yang memanggil nya bangsawan, jadi batas pemakaian nya bekurang?


Mungkin saja kan.


"Dari siapa?" Tanya Jack.


"Dari Leonardo, dia bilang ada beberapa Wyvern yang menyerang ternak warga."


"Lalu apa yang harus kita lakukan? Menyerang sarang nya nanti malam?" Tanya Arisa.


Aku ingin menjawab, tapi tiba-tiba aku merasakan energi sihir mahluk hidup selain Natasha, Arisa, Jack dan aku.


Aku merasakan nya di sekitar kamar ku, tapi aku tidak bisa melihat wujud mahluk itu, jadi aku menjawab pertanyaan Arisa dengan jawaban yang berbeda.


"Biarkan saja, kita tidak bisa menyerang sarang Wyvern itu... Ini adalah kerugian besar untuk kota ku."


"Eh!?" Arisa dan Jack terkejut mendengar jawaban ku.


"Nona Mira benar, kita tidak bisa melakukan apa-apa sekarang. Kita hanya bisa berdoa para Wyvern itu berhenti menyerang ternak warga." Sambung Natasha.


Natasha mengerti kondisi saat ini, dia tahu kalau ada penguping di sekitar kamar ku, jadi dia menjawab seperti itu.


"Sudahlah. Aku ingin tidur jangan ganggu aku."


Aku merebahkan diri ku di kasur lagi. Melihat aku berbaring, Natasha, Arisa dan Jack keluar kamar.


\*\*\*


Lina, White dan Lavender sedang berada di kamar Lina. Mereka sedang melakukan sihir pemanggilan bersama, kali ini bukan burung pengantar pesan yang di panggil, tapi mereka memanggil seekor serangga kecil, serangga itu seukuran nyamuk dan bentuk nya mirip seperti lalat, itu tidak dapat di lihat dari kejauhan.


Mereka memanggil serangga kecil itu untuk di gunakan sebagai mata-mata, untuk memata-matai putri kelima kerajaan Fantasia, Putri Mira.


Mereka sudah mengirim serangga kecil itu, beberapa menit kemudian serangga itu kembali. Serangga kecil itu membesar sebesar telapak tangan, kemudian serangga itu berubah menjadi sebuah Cristal sihir.


Cristal sihir itu memiliki fungsi mentransfer penglihatan, pendengaran, dan ingatan serangga yang mereka panggil.


Lina membanting Cristal sihir itu ke lantai, selama 59 detik semua ingatan, penglihatan, dan pendengaran serangga memasuki ingatan, penglihatan dan pendengaran Lina.


Setelah itu Lina memegangi kepala nya, ia kesakitan sejenak.


"Ini berita bagus!" Lina berteriak.


"Kenapa? Apa yang kita dapatkan?" Tanya White.


"Kota Cocoa di serang Wyvern! Jika ini terus terjadi kota Cocoa akan menerima kerugian besar!"


"Itu berita bagus! Balas White. "Kalau begitu aku akan langsung memberitahu Blanc tentang ini." White langsung pergi keluar kamar.


"Aku juga akan memberitahu Nina."


Lavender tidak mengatakan apapun, ia hanya pergi keluar kamar.


Lina pergi ke meja yang sudah ada gambar lingkaran sihir untuk memanggil burung pengantar pesan, ia menaruh tangan di tengah lingkaran sihir, mengucap mantra, burung pun keluar dari dalam lingkaran sihir. Burung itu berubah menjadi kertas. Tanpa basa-basi Lina langsung menulis pesan untuk anak nya, Nina.


Setelah menulis pesan, kertas berubah meniadi burung kembali. Kemudian burung itu terbang keluar kamar melalui jendela.


\*\*\*


Seekor burung hinggap di pundak Nina. Ia saat ini berada di kantor nya yang ada di ruang paling atas Mansion nya.


Nina tinggal di Mansion paling megah yang ada di kota Yugmish, itu adalah tempat tinggal paling pantas untuk seorang putri seperti diri nya.


Burung yang hinggap di pundak Nina berubah menjadi selembar kertas, di kertas itu ada tulisan tangan ibu nya. Nina membaca kertas itu. Setelah membaca nya, Nina tersenyum bahagia sambil bersenandung kecil.


"Kota Cocoa di serang Wyvern, kemenangan ku sudah di pastikan. La,la,la,la la,la,la,la."


Hari itu Nina sangat gembira sekali.