From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 123.04 teman-teman Catherine



Aku di ajak ke suatu tempat bersama dengan Catherine. Ketika ku tanya, "kemana kita akan pergi?" dia hanya menjawab, "Jangan banyak tanya, dan ikuti saja aku."


Setelah mendengar itu, aku ingin Logout dan meninggalkan nya sendiri, tapi aku sudah memutuskan untuk mengikuti nya, karena ayah ku pernah berkata. "Jika laki-laki sudah memutuskan sesuatu, ia tidak boleh membatalkan keputusan nya itu."


Saat memikirkan hal itu, perasaan aneh menyelimuti tubuh ku. Aku berpikir lagi.


Sekarang ini aku bukan laki-laki, tapi seorang gadis kecil yang imut. Jadi aku boleh melawan perinsip yang di ajarkan oleh ayah ku!


Setelah memimirkan hal itu, tanpa basa-basi aku memunculkan layar, membuka pengaturan lalu aku memencet tombol Logout. Tapi pada saat jari ku tinggal beberapa inci lagi dengan tombol, Catherine menghentikan ku.


"Kau sudah berjanji untuk ikut kan?" Kata Catherine kesal.


"Kau membawa ku ketempat mencurigakan, karena perasaan ku tidak enak jadi aku ingin Logout."


"Sebentar lagi sampai, teman-teman ku ada di rumah yang di sana." Catherine menunjuk sebuah rumah.


Rumah itu, adalah rumah adat lain dari Indonesia, tapi aku tidak ingat nama nya. Aku memutar otak ku untuk mengingat nya. Setelah sampai di depan rumah barulah aku ingat, itu adalah rumah Adat dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Nama nya Krong Bade.


Aku memasuki rumah adat itu, seperti rumah adat yang sebelum nya di dalam cuma ada satu meja bundar dan beberapa kursi yang mengelilingi nya.


Kursi-kursi itu di duduki dengan tiga orang Player laki-laki. Saat kami masuk, mereka bertiga melihat ke arah kami.


Jika ku deskripsikan penampilan mereka, akan jadi seperti.


Seorang anak kecil dengan rambut warna hitam.


Seorang Elf berambut pirang.


Seorang pria berkulit putih dengan rambut coklat.


"Catherine siapa gadis kecil itu?" Tanya Elf berambut pirang.


"Nama nya Mira."


Aku membungkuk atas perkataan Catherine.


Kemudian Catherine mulai menunjuk satu-satu Player. Di mulai dari anak kecil. "Yang cebol di sana itu nama nya Bruno!"


Anak kecil yang di perkenalkan Catherine berteriak. "Sialan kau!"


Catherine mengabaikan nya, kemudian ia melanjutkan lagi. "Kakak yang buruk rupa di sana itu Siegurd." Catherine menunjuk pria berkulit putih dan berambut coklat.


Saat mendengar perkataan Catherine, pria berambut coklat mendesah seperti. "Aaaah, seperti biasa hinaan Catherine membuat ku terangsang."


Aku mengabaikan hal yang baru saja ku dengar, kemudian Catherine melanjutkan perkataan nya lagi. "Lalu Elf yang di sana itu, Javelin."


"Salam kenal." Kata Elf dengan ramah.


"Jadi Kenapa kau membawa gadis kecil itu kesini?" Tanya anak kecil bernama Bruno.


Aku di ajak Catherine mendekati meja, aku di suruh duduk. Aku menurutinya dan duduk di kursi yang kosong, Catherine duduk di sebelah ku.


"Mira ceritakan tentang Quest itu!" Kata Catherine.


"Baiklah. Pertama kedatangan ku kesini karena di paksa Catherine."


"Catherine, kau tidak boleh memaksa gadis kecil seperti itu." Kata Pria berambut coklat bernama Siegurd.


"Diam kau Bab* Sialan!" Teriak Catherine.


"Aaahn," Desah Siegurd.


Catherine berdehem. "Biar aku yang ceritakan. Jadi begini...."


Catherine menceritakan tentang aku menerima Quest peningkat kapasitas MP kemudian Catherine menawarkan bantuan untuk menyelesaikan Quest itu dengan imbalan 50 Coin emas.


"Dengan begitu, kedua belah pihak mendapatkan untung. Kita dapat duit untuk membuat Guild dan Mira bisa menyelesaikan Quest nya." Kata Catherine menutup cerita nya.


"Sudah ku bilang aku menjadi pihak yang di rugikan disini. Kalian mendapatkan 50 koin emas lalu kapasitas MP kalian meningkat, sedangkan aku kehilangan 50 koin emas tapi kapasitas MP ku meningkat. Sudah sangat jelas aku yang di rugikan di sini."


"Boleh ku koreksi," Kata Elf bernama Javelin. "Seperti nya kau salah di sini Mira. Walaupun kami membantu mu menyelesaikan Quest, Kapasitas MP kami tidak akan meningkat. Hanya penerima Quest yang MP nya meningkat."


"Walaupun kau bilang seperti itu... Aku tidak mungkin langsung mempercayaimu."


"Begini saja," Kata Bruno. "Kau bayar kami setelah kita menyelesaikan Quest nya, jika kapasitas MP kami meningkat maka kami tidak akan menerima bayaran nya."


Penawaran yang bagus, tapi entah kenapa aku masih kurang yakin dengan mereka berempat. Apakah karena mereka orang asing? Tapi aku tidak bisa menyelesaikan Quest itu sendirian.


Aku bisa saja menggunakan Super Magic: The Doomsday, untuk menyelesaikan Quest itu sendirian. Tapi Penalty yang diberikan setelah aku menggunakan The Doomsday itu sangat merepotkan..... Seperti nya aku harus menerima tawaran mereka.


Aku menyodorkan tangan ku, Bruno menyalimi tangan ku.


"Kalau begitu kami akan memasukkan mu ke Friend List."


"Sebelum itu, ada yang ingin kutanyakan."


Semua nya terdiam, aku melanjutkan perkataan ku.


"Catherine."


"Apa yang ingin kau tanyakan?" Balas Catherine.


"Bagaimana kau bisa mengintip Status ku melalui Friend List?"


"Kau tidak tahu caranya?" Tanya Siegurd.


Aku tidak menjawab. Kemudian Catherine melanjutkan perkataan nya. "Anu, jadi begini. Di Shop ada Skill nama nya "Peek" Skill itu memungkinkan kamu mengintip Status Player di Friend List milik mu."


"Kalau begitu akan ku cek... Akan ku beritahu sekarang, jika Skill itu tidak ada di Shop, perjanjian kita batal!"


"O-oke, silahkan di cek!" Kata catherine terbata-bata, dengan senyum pahit di wajah nya.


Aku memunculkan layar, kemudian aku mencari Tombol "Shop." setelah menemukan nya, aku memencet tombol "Shop." Tombol "Shop." memiliki lambang keranjang troli, jadi aku bisa dengan cepat menemukan nya.


Setelah memencet "Shop." muncul daftar.


"Item.


Skill.


Coin.


Land.


House."


Aku memilih memencet daftar yang bertuliskan "Skill."


Setelah itu muncul lagi, banyak nama. Nama itu di awali dengan huruf "A" di depan nya, aku menggeser layar kebawah, hingga sampai pada daftar nama yang di awali dengan huruf "P" sekitar satu menit aku mencari, di bagian nama yang di awali huruf "P", tapi aku tidak ketemu dengan Skill "Peek."


"Aku tidak ketemu Skill Peek, kalau begitu perjanjian nya batal."


Aku berdiri, kemudian hendak meninggalkan Rumah, tapi Catherine menghentikan ku lagi, kali ini ia memeluk ku hingga aku tidak dapat bergerak.


"Cari dulu yang betul, aku yakin ada Skill Peek di situ. Kau pasti tadi terlewat."


Orang ini sangat mengganggu apakah mereka benar-benar butuh uang, sampai harus memohon pada ku.


"Aku sudah mencari nya tadi, tapi tidak ketemu. Kau sudah setuju kan, kalau Skill nya tidak ketemu perjanjian kita batal."


"Itu..." Catherine hendak mengatakan sesuatu tapi kata-kata nya tertahan dan tidak dapat keluar. Ia berwajah sedih dan mulai melemahkan dekapan nya kepada ku.


"Mira, kenapa kau tidak cari sekali lagi?" Tanya Javelin.


"Itu benar, siapa tahu Skill itu terlewat. Cari nya pelan-pelan." Sambung Bruno.


Setelah mendengar itu, Catherine menambah kekuatan dekapan nya. Kemudian ia menatap mata ku dengan serius. Tatapan itu seperti mengatakan "Aku mohon sekali lagi."


Karena tidak bisa melepaskan diri, dan aku selalu di paksa, aku pun memutuskan untuk mencoba mencari Skill "Peek" sekali lagi.


Aku menghela nafas, "Baiklah akan kucari sekali lagi."


Catherine melepas kan pelukan nya. Aku memunculkan layar lagi, membuka Shop, setelah itu memencet daftar Skill, lalu menggeser layar kebagian nama berawalan huruf "P." Aku mencari perlahan, di bagian huruf "P." aku menggeser layar secara perlahan, dan memerhatikan layar dengan seksama.


Setelah hampir dua menit aku mencari, aku menemukan Skill Peek. Aku menatap ke arah semua orang dengan tatapan serius. Lalu aku berkata.


"Skill nya sudah ketemu! Quest akan kita lakukan besok, dan tempat pertemuan nya di Gunung Mauna Kea. Kalau begitu aku Logout dulu!"


Semua orang menghembuskan nafas lega.


"Baiklah Gunung Mauna Kea. Jam berapa kamu akan Login besok." Tanya Bruno.


"Jam tiga."


"Jam tiga! Baiklah kita sepakat, setelah menyelesaikan Quest beri kami 50 koin emas."


Aku mengangguk pelan, kemudian aku Logout, meninggalkan Catherine dan teman-teman nya.