From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 72 Reuni II



Carla dan Yuri melihat kalung Ruby yang di berikan Mira dengan tatapan kagum.


"Terima kasih Mira." Kata Yuri.


Aku mengangguk kan kepala, atas perkataan Kak Yuri. Setelah mendapat kalung, ibu langsung memeluk ku.


"Hadiah Mira, akan ibu jaga baik-baik." Kata Carla.


"Mau ibu, buang juga tidak apa-apa... Aku punya banyak di Tiramisu."


Ibu melepaskan pelukan ku, kemudian ibu memasang muka marah.


"Walaupun benar, kamu punya banyak. Kamu tidak boleh membuang benda berharga seperti ini. Coba saja, kamu jual barang ini pasti akan menghasilkan uang banyak, dan uang nya kamu bisa gunakan untuk membantu anak Yatim di daerah kumuh, seharus nya kamu memikirkan kepentingan orang banyak dari pada kepentingan sendiri... Itu syarat jika kamu ingin jadi penguasa di kerajaan Fantasia. Mira faham?"


Baru saja pulang sudah kena omelan aku.


Ibu menjetik kening ku. "Faham!?"


Aku menganggukkan kepala ku.


Setelah di omelin, aku menghembuskan nafas panjang. Kemudian aku melihat keseluruh ruangan. Tapi aku tidak melhat ayah di manapun.


"Mana Charles?"


"Mira, kamu tidak boleh memanggil ayahanda seperti itu." Kata Yuri.


Aku memalingkan wajah ku.


Yuri menghembuskan nafas panjang. "Mira kamu dengar?" Tanya Yuri dengan tegas.


Carla memegang kedua pundak Yuri. "Sudah, sudah. Yuri, adik mu seperti nya masih kesal dengan ayah nya." Kata Carla menenangkan emosi Yuri.


Yuri pun menghembuskan nafas nya, agar Yuri menjadi sedikit lebih tenang.


Nina dan Blanc di halangi oleh para prajurit, mereka berdua ingin mendekati Mira. Tapi prajurit menghalangi mereka.


"Beraninya kalian menghalangi ku!!! Aku pewaris sah tahta kerajaan tahu!!" Teriak Nina.


"Sekarang anda bukan lagi pewaris sah." Kata Prajurit yang menghalangi.


"Sialan!! Dasar rakyat jelata."


Mereka berdua pun menyerah untuk mendekati Mira, kemudian mereka kembali ke tempat mereka berbaris sebelum nya.


"Sialan." Gumam Nina kesal.


"Nina," Kata Blanc ke Nina. Nina menengok kearah Blanc. "Kau sebenar nya ingin mendekati si pelayan Mira yang tampan itu kan." Sambung Blanc.


"Tidak!!" Jawab Nina tegas. "Aku ingin melihat Ruby yang di bawa Mira... Tapi aku tidak percaya dia bisa mempunyai Ruby."


"Jadi kau tertarik pada Ruby nya ya... Benda murahan itu bisa kita beli dengan mudah tahu... Yang paling penting, si pelayan Mira itu sangat tampan. Aku ingin sekali mendekati nya." Kata Blanc.


"Ternyata selera mu itu buruk sekali ya.... Kenapa tidak kau incar pangeran Alex saja, dari pada mengincar pelayan rendahan itu."


"Tidak, kau ambil saja pangeran Alex. Aku lebih mengincar pelayan Mira.... Siapa ya nama pelayan Mira itu?"


Aku melihat ke arah kak Yuri dan ibu. Kemudian aku melihat ke arah Selir Shina yang berada di samping Kak Yuri. Selir Shina tersenyum bahagia, mungkin dia senang karena bisa melihat wajah bahagia anak nya. Aku mendengar dari kepala prajurit yang bernama Goby, kata nya Kak Yuri selalu murung semenjak aku pergi. Tapi sekarang Kak Yuri sangat bahagia, mungkin itu yang membuat Selir Shina juga ikut merasa bahagia.


"O iya Selir Shina," Selir Shina melihat ke arah ku. "Aku tidak enak melihat Selir Shina sendiri saja yang tidak dapat hadiah dari ku. Jadi aku ingin memberikan hadiah kepada Selir Shina juga, Selir Shina ingin apa?"


Shina menggelengkan kepala nya. "Tidak perlu, aku tidak ingin hadiah." Kata Shina.


"Walaupun Selir Shina berkata seperti itu rasanya aku tidak enak hati. Bagaimana kalau Selir Shina kuberikan beberapa emas?"


Shina mengangkat tangan nya, dan dia memberikan tanda menolak dengan tangan nya. "Sudah ku bilang tidak perlu."Kata Shina.


Aku mengabaikan perkataan Selir Shina, kemudian aku memanggil Arisa. Arisa berjalan ke samping ku.


"Ada apa nona Mira?" Tanya Arisa.


"Cepat kau keluarkan emas nya."


Arisa mengangguk, kemudian dia menggunakan (Inventori). Semua orang terkejut saat Arisa mengaktifkan (Inventori). Karena saat Arisa mengaktifkan (Inventori), timbul sebuah portal seukuran kepal tangan di depan wajah Arisa, Arisa memasukkan tangan nya ke portal itu, kemudian Arisa mengeluarkan tangan nya. Saat Arisa mengeluarkan tangan nya, tangan Arisa sudah memegang sebuah kotak.


"Si-sihir apa itu?" Tanya Shina.


"Sihir ini adalah sihir ruang, aku bisa menyimpan barang apapun di dalam dimensi lain." Jawab Arisa.


Arisa membuka kotak yang di pegang nya, saat kotak di buka. Kotak itu penuh dengan perhiasan yang terbuat dari emas. Bahkan Shina sampai berdecak kagum melihat emas-emas itu.


Arisa memberikan kotak yang berisi emas itu ke Shina. "Te-terima kasih, padahal aku bilang aku tidak ingin." Kata Shina dengan terbata-bata.


Setelah aku memberikan hadiah kepada ibu, Kak Yuri dan Seilr Shina. Aku kembali melihat ke seluruh ruangan, aku melihat Kak Nina dan Kak Blanc, sedang menatap ke arah ku. Tidak lebih tepat nya mereka melihat seseorang yang ada di belakang ku. Aku penasaran mereka melihat siapa? Aku pun berbalik untuk melihat siapa yang ada di belakang ku.


Saat aku berbalik, aku melihat Jack. Ternyata Kak Nina dan Kak Blanc terpesona dengan ketampanan Jack, aku tidak menyangka ternyata Jack bisa membuat dua putri kerajaan menaksir diri nya, tapi jika ku perhatikan lagi pandangan Jack tertuju pada seseorang yang ada di belakang ku. Aku mengetahui yang ada di belakang ku kali ini adalah Kak Yuri. Seperti nya Jack menaksir Kak Yuri, aku berbalik melihat Kak Yuri. Memang tidak salah Jack menaksir Kak Yuri, Kak Yuri itu sangat cantik, bahkan menurut ku dia lebih cantik dari pada ketiga putri kerajaan Fantasia. Tentu saja, Kak Yuri kalah dengan ke imutan ku.


Saat aku memikirkan hal itu, para prajurit yang menunggu di depan pintu ruang tahta berteriak. "Yang Mulia Raja Charles sudah datang."


Para Prajurit yang membuat formasi lingkaran, berhamburan menghancurkan formasi mereka. Kemudian mereka membentuk formasi memanjang, setelah mereka membuat formasi. Ibu berbalik menghadap singgassana nya.


"Charles sudah datang, cepat kau ikut berbaris Mira... Dan suruh pelayan mu ikut berbaris juga." Kata Carla.


Ibu berjalan menunggu Singgassana nya, kemudian tangan ku di tarik Kak Yuri. "Ayo cepat kita juga."


Kak Yuri menarik ku, kearah barisan para putri. Natasha, Arisa dan Jack mengikuti ku. Saat kami tiba di barisan para Putri, aku berada di barisan paling kiri. Natasha, Arisa dan Jack juga berada di samping kiriku. Saat kami berbaris. Kak Nina dan Kak Blanc melihat ke arah Jack.


Saat Ayah masuk, barulah pandangan Kak Nina dan Kak Blanc menghadap kedepan.


Ayah berjalan dengan perlahan menuju singgassana nya, saat dia berjalan, dia lewat di hadapan barisan para Selir dan para Putri. Saat lewat di barisan para Putri, ayah terus menatap tajam ke arah ku. Aku membalas tatapan tajam nya.


Saat kutatap, ayah dengan sombong nya membuang muka. Ayah pun sampai di Singgassana nya, kemudian ayah duduk di singgassana nya.


"Berlutut!!" Teriak salah satu prajurit.


Semua orang berlutut. Natasha, Arisa dan Jack yang melihat keadaan itu menjadi bingung.


"Apakah kita juga berlutut?" Tanya Natasha.


"Tentu saja, Ayah Kak Mira itu seorang raja. Jadi kita juga ikut berlutut." Kata Arisa dengan berbisik.


Mendengar perkataan Arisa. Natasha dan Jack pun ikut berlutut, Arisa juga berlutut setelah mereka berlutut.


Sekarang semua nya sudah berlutut. Pikir Yuri, tapi saat Yuri melihat ke arah samping kiri nya. Ia melihat Mira masih berdiri tegak dia tidak berlutut sama sekali.


Semua orang terkejut dengan prilaku Mira. Kenapa Mira tidak ikut berlutut? Pikir Carla.


Kak Mira serius pengen ngelakuin hal itu? Kalau gagal dia bisa di usir lagi. Pikir Arisa dan Jack.


Sudah ku duga dari Mira, dia bisa membuat semua hal menjadi menarik. Pikir Natasha.


Aku menatap ayah dengan tatapan tajam, kemudian aku berjalan menuju tengah-tengah ruang tahta. Saat sampai di tengah-tengah ruang tahta, aku memanggil Arisa.


"Arisa cepat ambilkan aku kursi!!"


Arisa berdiri, kemudian ia mengambil kursi dari (Invetori) nya. Semua orang terkejut Arisa bisa memunculkan sebuah Kursi.


Setelah mengambil Kursi, Arisa membawa Kursi itu ke belakang ku.


Aku langsung menduduki kursi yang di bawa oleh Arisa. Setelah membawa Kursi, Arisa kembali lagi ke tempat nya. Suasana ruang tahta, menjadi tegang. Karena prilaku ku.


"Jadi kenapa aku tiba-tiba di suruh kembali ke istana?"


Saat, aku berkata seperti itu, Goby berdiri, dia berada bagian kanan tempat ku duduk. "Walaupun anda adalah Putri, saya tidak akan membiarkan seseorang berprilaku tidak sopan kepada raja."


"Goby kembali ketempat mu!!" Teriak Carla.


"Maaf Yang Mulia Ratu, biarkan saya memberikan hukuman kepada putri yang terbuang ini." Kata Goby dengan lantang.


"Goby berani nya kau berkata seperti itu pada anak ku!!" Teriak Carla.


Goby berjalan mendekati ku, kemudian ia mengayunkan tinju nya ke arah ku.


"Berhenti!!" Teriak Carla dan Yuri.


Melihat Mira, yang ingin di pukul Jack melesat ke depan Goby. Pukulan Goby pun di tangkis oleh Jack. Tangan Goby bergetar saat memukul tangan Jack.


Arisa, dengan cepat melesat ke arah Goby, Arisa kemudian menendang kepala Goby. Natasha ikut berdiri, kemudian ia berjalan menuju samping kiri kursi yang ku duduki.


Goby terpental hingga terhempas ke dinding karena tendangan Arisa.


"Kuat sekali!!" Gumam Goby kesakitan.


Aku menyuruh Arisa dan Jack minggir, kemudian aku mengarahkan tangan ku ke arah Goby yang masih bersandar lemah di dinding.


"Fire Ball." Saat aku berkata seperti itu, bola api seukuran bola basket muncul di tangan ku. Aku menembakkan bola api tepat di atas kepala Goby.


Bola api melesat dari tangan Mira ke atas kepala Goby. "Jika kau berani mengarahkan tinju mu lagi kepada ku... Kau akan menjadi daging panggang." Kata Mira mengancam.


Keringat dingin memenuhi tubuh Goby, Goby pun di landa rasa takut yang hebat.