
Di saat bersamaan Catulus memarahi tiruan nya.
Di tenda lain, tenda tempat Charles istirahat tepat nya. Tenda tempat Charles beristirahat sedikit lebih besar dari pada tenda lain nya, juga ada pelayan pribadi yang di siapkan markas pusat untuk membantu Charles selama di dalam tenda. Tentu saja pelayan pribadi yang di siapkan adalah pria. Jika pria yang sudah menikah di sediakan pelayan wanita, akan menimbulkan rumor jelek, walaupun Charles tidak melakukan apapun dengan pelayan perempuan itu.
"Teh herbal anda yang mulia."
Pelayan pria yang di sediakan markas pusat untuk Charles meyediakan teh herbal untuk Charles yang saat ini sedang duduk di atas kursi yang ada di dalam tenda nya. Teh herbal itu memiliki efek menenangkan, yang membuat orang yang meminum nya akan cepat tertidur.
Setelah pertempuran hari ini, Charles menggunakan kemampuan otak nya untuk membalikkan keadaan pada pertempuran besok, dan hasil nya nihil. Dia tidak menemukan satu cara pun untuk membalikkan keadaan. Karena berpikir terlalu keras itulah yang membuat Charles susah untuk tidur, sehingga ia meminta pelayan menyiapkan sesuatu yang membuat nya mudah tertidur.
"Terima kasih." Jawab Charles, sebelum akhir nya ia mengambil gelas berisi teh, lalu menyeruput teh nya dengan gerakan yang elegan sesuai dengan status nya sebagai seorang raja suatu negara.
"Haaah..." Charles menghela nafas panjang, setelah meminum seteguk dari teh nya, ia pun menaruh gelas nya di atas meja lagi. Setelah meletakkan gelas teh nya, Charles bersandar pada sandaran kursi nya, kemudian ia memijat-mijat kening nya, untuk meredakan rasa pusing yang sekarang menyerang kepala nya.
Kepala Charles pusing di sebabkan oleh hal yang sama, yaitu memikirkan rencana untuk membalikkan keadaan pada invasi hari berikut nya.
"Aku sudah terlalu tua untuk hal seperti ini."Gumam Charles dengan suara lirih.
Walaupun kemampuan fisik dan penampilan Charles masih nampak muda dari pada umur asli nya, tapi kemampuan otak Charles masih tetap sama seperti umur nya. Kemampuan otak seorang pria berumur lima puluh tahunan. Kemampuan otak nya sudah tidak kuat untuk memikirkan hal-hal rumit seperti memikirkan strategi perang, terlebih lagi situasi saat ini yang di mana pasukan yang di pimpin nya menerima kekalahan besar. Alasan ini jugalah Charles ingin cepat-cepat mewariskan tahta nya kepada anak-anak nya. Ia sudah terlalu tua untuk mengurus negara, terlebih lagi negara yang di pimpin nya adalah negara terbesar di Benua Silia.
'Setelah perang ini, aku akan segera melaksanakan upacara pernikahan untuk Yuri dan Jack setelah itu aku akan melaksanakan upacara kenaikan tahta.'
Charles mengalihkan pikiran nya, dari memikirkan strategi perang ke apa yang akan di lakukan setelah perang. Dia memikirkan akan melaksanakan pernikahan untuk Putri nya, Yuri. Setelah perang ini selesai. Saat memikirkan hal itu, Charles tersenyum sedih. Perasaan nya saat ini bercampur aduk, antara bahagia dan sedih. Ia senang Putri nya akan segera menikah, tapi di satu sisi ia merasa sedih putri nya akan segera menikah. Sangat aneh, padahal dia sudah menyaksikan Putri nya menikah tiga kali, tapi ia masih merasa campur aduk saat putri nya akan menikah.
'Menjadi ayah seorang dari seorang anak perempuan sangat tidak rupanya... Aku berharap aku memiliki anak laki-laki setidak nya satu. Haaaah....' dengan senyum kecut Charles memikirkan keinginan nya yang sudah ia impikan semenjak ia menikahi Carla dari dulu.
"Haaaah....." dengan suara berat, Charles menghela nafas. Ia memutuskan untuk berhenti lari dari kenyataan dan berhenti memikirkan hal tidak berguna, kembali menghadapi kenyataan dan memikirkan strategi lagi untuk membalikkan keadaan pada pertempuran esok hari.
Beberapa menit kemudian, seberapa keras Charles berpikir, ia tidak menemukan satu pun cara. Teh herbal yang seharus nya membuat seseorang mengantuk tidak berefek pada nya, ia terlalu fokus berpikir, sampai rasa kantuk nya menghilang dalam sekejap.
"Aaaaakh!!!!" Karena kesal tidak mendaatkan ide, Charles mengacak-ngacak rambut nya sambil mengerang, mengeluarkan suara berat. Kepala nya di landa rasa pusing hebat, kepala nya juga terasa berat. Untuk mengistirahatkan kepala nya, Charles membaringkan kepala nya di atas meja. "Sialan!! Tidak ada ide. Sialan!" Dengan wajah cemberut, Charles mengucapkan kata kasar, seakan-akan ia mengeluarkan rasa sakit yang melanda kepala nya.
"Jika saya di izinkan untuk memberi saran Yang Mulia."
Pelayan yang selama ini berdiri di ujung ruangan angkat bicara, Charles mengangkat kepala nya kemudian menengok ke arah pelayan itu. "Silahkan. Katakan saran mu pada ku." Jawab Charles.
"Baiklah kalau begitu," Karena sudah mendapat izin, pelayan akhir nya mengungkapkan isi pikiran nya. Sebelum memberikan saran nya, ia membungkuk menunjukkan rasa terima kasih nya karena di perbolehkan untuk berbicara. Sangat jarang seorang seperti raja mendengarkan pendapat dari seorang pelayan, karena itu pelayan pribadi yang di siapkan markas pusat merasa terhormat dapat memberikan saran kepada seorang raja. "Saran saya yang mulia, lebih baik anda memanggil Raja Albert dan Raja Joshua, dan memikirkan masalah ini bersama-sama."
"Hmmm...." Charles memegangi dagu nya setelah mendengar saran dari pelayan, memikirkan keuntungan dan kerugian dari mendiskusikan hal ini bersama dengan Joshua dan Albert. Memang benar, dengan meminta pendapat mereka berdua beban Charles akan berkurang tapi saran ini juga memiliki masalah. Jika pendapat Charles, Joshua dan Albert berbeda, masalah ini tidak akan selesai dan akan menjadi tambah rumit. Ini adalah kekurangan dari bermusyawarah, jika ada perbedaan pendapat perpecahan akan terjadi. Dan ini sudah terjadi pada hari kedua Invasi, para komandan berbeda pendapat dengan Mira yang membuat perpecahan antara kedua belah pihak yang menyebabkan kekalahan ke pasukan aliansi.
Karena hal ini jugalah yang membuat Charles memaksakan diri untuk membuat strategi dengan kemampuan nya sendiri tanpa bantuan orang lain.
Belum selesai Charles berpikir, seorang prajurit penjaga tenda, memanggil Charles.
"Yang Mulia. Raja Albert dan Raja Joshua datang menemui anda."
Albert dan Joshua...? Untuk apa mereka kesini? "Biarkan mereka masuk." Walaupun di tengah kebingungan, Charles masih mengizinkan Albert dan Joshua masuk ke tenda nya. Mengingat mereka mengunjungi Charles di tengah malam, pasti mereka memiliki hal penting untuk di diskusikan.
"Tidak perlu makanan, kami tidak akan lama di sini."
Saat pelayan selesai menyiapkan tempat duduk, dengan mengambil kursi dari luar tenda yang sudah di bawah oleh prajurit sebelum nya, pelayan hendak menyiapkan manisan, tapi di hentikan oleh Albert.
"Mengerti!" Jawab pelayan. Karena mengetahui kalau pembicaraan akan penting, pelayan dengan sadar diri keluar dari tenda memberikan ruang pribadi untuk para raja kerajaan Benua Silia.
Setelah pelayan keluar, barulah Joshua dan Albert duduk di bangku yang di sediakan untuk mereka.
"Untuk apa kalian datang di tengah malam seperti ini?" Tanya Charles duduk di kasur nya yang berada tepat di depan kursi tempat Joshua dan Albert duduk.
"Kau sendiri kenapa belum tidur jam segini, kau harus istirahat untuk pertempuran besok. Lagipula kau ini panglima perang, kami membutuhkan mu di saat kau sedang dalam kondisi prima." Joshua membalas Charles.
"Kau pikir aku bisa tidur di saat kondisi pasukan seperti ini?"
"Hahaha.... Kau benar. Alasan kami ke sinj berhubungan dengan itu." Dengan sedikit tertawa Joshua membawa topik masalah yang membuat mereka datang menemui Charles.
Saat Joshua berkata seperti itu, wajah Charles berubah menjadi serius, kemudian ia memperhatikan kedua nya dengan seksama, membuka lebar telinga nya agar tidak ada satu katapun yang terlewatkan.
"Apakah kau menemukan cara untuk membalikkan keadaan besok?" Tanya Albert.
Charles menggelengkan kepala nya.
"Begitu ya... Sebenarnya kami juga tidak. Tapi setelah mengingat diskusi kita dengan para komandan kami mengetahui seseorang yang dapat meecahkan masalah ini."
"...Maksud mu anak ku?" Tanya Charles setelah diam sejenak.
"Ya. Itu benar."
"Tapi apakah dia mau menolong kita lagi setelah apa yang di lakukan para komandan pada nya? Dan juga jika para rencana nya bertentangan dengan para komandan dia tidak bisa apa-apa."
"Gampang. Kita hanya harus membuat status nya lebih tinggi dari pada komandan."
\*\*\*
Ke esokan hari nya.
"Mira! Kau di promosikan menjadi panglima perang! Mulai sekarang kau akan memimpin pasukan langsung di garis depan!"
Mendengar perkataan ayah nya, Mira hanya bisa diam membeku.
Author's Note.
Bila ada kesalahan ketik atau kata, silahkan lapor di kolom komentar.