From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 10 hukuman



Pagi hari tiba, raja Charles memakai pakaian perang nya. Pasukan dalam jumlah besar berbaris di halaman istana. Raja Charles pun pergi keluar untuk menemui pasukan nya.


"Pasukan bersiap!" raja Charles berteriak. "Sekarang kita akan menghadapi kerajaan Eurasia, aku tidak menerima kata kalah dalam perang ini. Kita harus menang!!" raja Charles berteriak sambil mengangkat tangan kanan nya, semua pasukan pun mengangkat tangan mereka dan bersorak.


Lalu sebuah burung merpati terbang mendekati pundak raja Charles,


Raja charles membiarkan burung itu hinggap di pundaknya.


"Burung sihir pengantar pesan? Dari siapa?" gumam raja Charles.


Burung merpati itu tiba-tiba berubah menjadi secarik kertas, raja Charles pun membaca kertas itu.


"Kami kerajaan Eurasia membatalkan peperangan, maafkan kami atas tindakan kami. Jika kalian tidak percaya kami membatalkan peperangan, kalian bisa memanggil kami ke istana kalian sekali lagi untuk mengkonfirmasi.


Joshua."


itulah yang tertulis di suratnya.


"Hmmm, tanda tangan di surat ini betul-betul milik Joshua," kertas itu tiba-tiba mengeluarkan api, lalu kertas itu pun terbakar tanpa sisa, bahkan abunya pun juga ikut menghilang. Raja Charles, pun berteriak kembali ke pada pasukan nya.  "Kerajaan Eurasia, membatalkan perang nya. Tapi aku masih kurang yakin, oleh karena itu aku akan memanggil raja Joshua untuk bertemu dengan ku secara langsung."


                                ***


Aku berbaring di kasurku, tubuhku tidak bisa bergerak 1 inci pun. Tubuhku tidak bisa bergerak dikarenakan efek samping dari sihir (growth). Walaupun sihir (growth) bisa membuat tubuh ku menjadi dewasa selama 1 jam, tapi efek samping nya akan membuat ku menjadi lumpuh selama 6 jam. Sudah 5 jam lebih tubuhku menjadi lumpuh.


Aku menatap langit-langit kamar tidur ku, lalu pintu kamar ku di buka dengan keras oleh seseorang.


"Mira, kau sudah bangun? Aku membawa berita bagus."


Seorang gadis berteriak dengan ceria, aku tidak bisa melihat siapa yang datang. Aku bisa mendengar kalau gadis itu mendekati ku, lalu ia duduk di samping ku dan menatap wajah ku.


"Mira, kau kenapa?"


"Ternyata kak Yuri. Tubuh ku sekarang tidak bisa bergerak."


"Apa!?" kak Yuri terkejut. "Apakah ini karena ini kau tidak di kasih makan seharian? Jadi sekarang tubuh mu lemas untuk bergerak?"


"Kurang lebih seperti itu, lupakan masalah tubuhku. Katanya kakak membawa berita bagus."


"Jadi begini ceritanya-"


Kak Yuri menjelaskan pada pagi hari ayah menerima surat pembatalan perang dari kerajaan Eurasia, dan sekarang ayah sedang mengadakan pertemuan dengan kerajaan Eurasia.


"Begitulah ceritanya."


"Oh, kirain berita apa, sekali nya cuma berita pembatalan perang."


"Apa-apaan ekspresi mu itu, harus nya kau lebih merasa senang. Semua penyebab kita berperang itu karena kau."


"Iya, iya. Terus kakak ada tujuan lain? selain memberitahu kalau perang nya di batalkan."


"Benar, tujuan sebenarnya aku kesini adalah untuk membawa mu keruang tahta."


"Maaf tubuhku tidak bisa bergerak sekarang, bilang pada ayah kalau aku tidak bisa kesana sekarang."


"Kalau begitu ku gendong."


Aku pun di gendong kak Yuri ke ruang tahta. Sesampainya aku di ruang tahta, semua orang menatap ku dengan tatapan sinis.


"Yuri kenapa kau menggendong Mira?" Ibu bertanya.


"Yang mulia ratu, saat ini putri Mira sedang tidak bisa bergerak karena kelaparan. Kata Putri Mira, dia terlalu lemas untuk bergerak."


"Benarkah itu Yuri?" ibu bertanya kembali. Kak Yuri mengangguk menanggapi pertanyaan ibu.


Ibu menatap ke arah raja. "Charles, sudah ku bilang hukuman ini terlalu berat untuk Mira."


"Tapi kan perang nya sudah batal, dan juga raja Joshua sudah menandatangani surat perdamaian."


"Carla sudah ku bilang, keputusan ku sudah bulat."


Ibu pun menyerah untuk membelaku.


Raja berdiri dari kursinya. "Semuanya, aku akan mengumumkan hukuman untuk putri ku Mira. Tapi sebelum itu, ada hal penting yang harus ku sampaikan. Untuk ke empat Putriku, kalian semua akan ku berikan tes, jika kalian lulus maka ia akan mendapatkan tahta kerajaan. Lalu sekarang aku akan memberikan hukuman untuk mu Mira."


Raja menatap ku dengan tajam, tanpa ku sadari akhirnya tubuhku pun bisa bergerak kembali, aku minta di turunkan dari gendongan ku. Aku menatap balik kewajah raja.


"Saya akan menerima apapun hukuman nya, karena saya sadar saya yang bersalah di sini."


Raja tersenyum melihat perilaku ku. "Sepertinya kau tidak ragu sedikit pun. Mira kau akan ku buang dari kerajaan ini, dan mulai sekarang kau tidak akan ku anggap putri ku lagi. Jangan tunjukan wajah mu dihadapan ku lagi."


Aku menunduk kepada raja. "Saya terima dengan senang hati."


"Tunggu dulu," Kak Yuri berteriak. "Aku tidak terima kalau Mira di usir dari kerajaan ini, dia itu masih anak kecil. Memangnya ayah yakin kalau Mira bisa bertahan di luar sana."


"Yuri!" aku berteriak sangat kencang.


"Mira, kau tidak memanggil ku kak Yuri lagi?"


"Sekarang aku bukan saudara mu lagi," aku berjalan mendekat kearah Yuri. "Jadi kau tidak perlu membela ku lagi. Dan juga bisakah kau berhenti menganggap ku sebagai anak kecil? Hal itu membuat ku jijik!"


Air mata keluar dari mata Yuri, aku menatap wajah nya, dalam sekejap dadaku terasa sangat sakit. Rasa nya aku ingin menangis, dengan menundukan wajah ku, aku pergi dari ruang tahta.


                                ***


15 menit berlalu, sekarang aku sedang menaiki kereta kuda, yang bertujuan pergi keluar kota Caramel. Walaupun aku di usir, tapi ternyata raja masih memberiku uang yang cukup di pakai selama sebulan.


Terdapat 15 orang yang menaiki kereta kuda ini, lalu aku bertanya kepada seseorang yang berada di samping ku.


"Permisi, apakah kau tahu kota yang bagus untuk mencari pekerjaan?"


"Nona muda, apakah kau keluar kerajaan ini seorang diri?"


"I-iya, ngomong-ngomong pertanyaan ku."


"Maaf,maaf. Aku kaget saja kalau ada seorang anak kecil yang berani melakukan perjalanan sendirian. Hmmm, kota yang bagus untuk pekerjaan."


"Apakah ada?"


"Jika pekerjaan untuk nona, di ibukota pun ada pekerjaan yang bagus dengan bayaran besar."


"Yang ku maksud bukan pekerjaan itu."


"Walaupun kau anak kecil, tapi kau sangat peka ya. Jika pekerjaan nona datang saja ke wilayah Netral."


"Memangnya wilayah Netral ada banyak pekerjaan?"


"Sangat banyak, wilayah Netral. Atau lebih tepatnya kota Tiramisu, adalah tempat yang bagus untuk memperkaya diri."


"Kalau begitu aku akan pergi kesana."


"Jika aku jadi nona aku tidak akan pergi kesana."


"Memangnya kenapa?"


"Karena kota Tiramisu adalah wilayah Netral, disana jadi tidak memiliki aturan. Akan sangat bahaya anak kecil seperti nona pergi kesana."


"Terima kasih atas saranya."


Kota Tiramisu ya, sepertinya tempat itu akan menjadi tempat yang menarik.