From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 201 Katedral dan Cahaya Suci. Perspektif Natasha



Saat aku berjalan di tengah kerumunan orang yang memiliki tujuan sama dengan ku, yaitu memasuki Katedral. Aku melihat mereka mengenakan kalung yang memiliki liontin berbentuk lingkaran, dan di tengah nya terdapat pola geometris yang sangat rumit. Liontin itu sekilas mirip dengan lingkaran sihir. Semua orang di kerumunan yang pergi ke Katedral memakai kalung yang sama.


Aku terus berjalan di tengah kerumunan, setelah beberapa detik aku sampai di pintu masuk Katedral.


Di depan pintu ada seseorang yang mengenakan pakaian putih, yang terlihat seperti jubah dengan corak emas yang menghiasi jubah nya. Itu sangat mencolok. Orang yang di depan pintu adalah pria besar berotot dengan rambut merah dan berjanggut panjang serta dengan kumis yang tebal. Lalu dia juga memakai kalung yang sama yang di kenakan orang-orang di kerumunan.


Aku sempat khawatir aku akan di hentikan karena aku tidak mengenakan kalung yang sama seperti mereka. Tetapi itu hanya kekhawatiran ku saja, aku di biarkan masuk di sertai dengan kata-kata seperti 'Semoga hati mu di sentuh oleh Dewa!' sambil tersenyum.


Jika seorang gadis imut yang tersenyum aku masih bisa menerima, tetapi jika orang macho serta memiliki kumis dan jenggot yang tebal. Rasanya sangat menjijikan.


Aku masuk kedalam Katedral sambil memikirkan hal itu.


Saat di dalam, terdapat banyak kursi panjang yang dapat menampung lima orang untuk duduk. Kursi-kursi panjang itu terletak di sisi kanan dan kiri Katedral. Aku duduk di kursi kiri paling belakang dekat dengan pintu masuk, lalu aku melihat ke arah depan. Di sana terdapat patung besar seorang pria dengan wajah seperti seperti badut, dan memiliki sayap burung merpati di bagian punggung nya sayap itu terbuka lebar, serta tangan patung itu terbuka lebar seakan-akan siap menerima pelukan.


Saat aku memerhatikan patung yang sangat mencolok itu, orang-orang duduk di kursi yang saat ini ku duduki.


Saat semua orang sudah duduk, seorang orang tua dengan jubah putih seperti pria yang ku lihat sebelum nya maju ke depan lalu dia berdiri di bagian kaki patung pria badut.


"Semua nya! Sampaikan dewa kita kepada dewa Pierot!"


Tenyata ini benar-benar kelompok agama Pierot. Pikir ku. Sementara aku berpikir seperti itu, perkataan orang tua di depan terus berlanjut.


"Berdoa lah kepada nya! Dan minta perlindungan dari kutukan iblis perak. Dan minta perlindungan dari musuh kita. Demon, Demi Human, Dragon, Giant, Dwarf, dan Elf. Kita para Human adalah Ras terkuat dan semua Ras adalah lemah, dan yang lemah harus mati! Karena itu mintalah perlindungan dari Dewa! Agar kita bisa menghabisi mereka!"


Kemudian orang tua itu menyatukan tangan nya, memejamkan mata nya dan menundukkan kepala nya. Untuk berdoa.


Aku? Tentu saja aku tidak akan melakukan itu!


Agama ini tidak benar sama sekali! Mereka menyuruh pengikut nya untuk bertingkah Rasis! Dan jika aku tidak salah dengar mereka mengajarkan untuk menghabisi seluruh Ras kecuali Ras Human!! Uwaaah! Ajaran yang benar-benar bodoh.... Bagaimana agama ini berhasil menarik begitu banyak pengikut? Apakah dengan sihir pengendali pikiran?


Aku mengangguk dengan hipotesis yang muncul di kepala ku.


Aku yakin itu! Pasti dengan sihir! Walaupun aku tidak dapat merasakan kekuatan sihir di dalam Katedral ini.


Kemudian sesi doa pun selesai, dan khotbah panjang dari orang tua sebelum nya berlanjut. Aku tidak tahu apa inti dari khotbah ini, dia hanya mengatakan hal bodoh seperti. Dewa agung Pierot adalah segala nya! Semua yang di dunia ini adalah milik Dewa Pierot! Sembahlah dia! Atau Azab bagi kafir!


Haaaaah..... Telinga ku panas mendengar ocehan nya dari tadi.....


Di saat aku sudah mengibarkan bendera putih mendengarkan ocehan (Khotbah) dari orang tua itu. Orang-orang yang duduk berdiri dari kursi nya dan berjalan menuju keluar Katedral, aku mengikuti mereka.


Saat di luar, aku menerobos kerumunan, pergi ke gang sepi, kemudian aku berubah menjadi kelelawar, lalu terbang menuju ke Katedral.


Untung saja saat aku sampai kerumunan masih berdesak-desakan untuk keluar dari Katedral yang membuat pintu Katedral masih terbuka. Aku masuk ke dalam Katedral melalui bagian atas pintu, lalu saat di dalam, aku hinggap di ujung ruangan yang tidak terkena sinar matahari. Yang perlu aku lakukan adalah menunggu Katedral sepi, lalu aku akan menyelidiki Katedral ini.


Setelah menunggu selama beberapa detik, akhir nya orang-orang yang berdesakan di pintu meghilang, dan Katedral pun sepi.


Pria botak yang ku lihat di depan pintu, menutup pintu Katedral dan mengunci nya, kemudian dia mendatangi orang tua yang berkhutbah yang sekarang masih berdiri di bawah patung yang kemungkinan patung Dewa Pierot.


Mereka berbicara singkat, karena aku berada di ujung kamar dan mereka berbicara dengan suara kecil, aku tidak dapat mendengar pembicaraan mereka.


Setelah mereka selesai berbicara, mereka berjalan mendekati tangan kanan patung, kemudian mereka menggerakkan jari jempol patung kesamping, setelah itu bagian kaki patung turun ke tanah dan jalan rahasia menuju ruang bawah tanah pun terlihat dengan jelas. Di sana terdapat tangga Diagonal yang menjorok ke depan bawah.


Mereka berjalan menuruni tangga, setelah mereka tidak lagi terlihat bagian kaki patung naik kembali dan menyembunyikan tangga menuju ruang bawah tanah.


Aku berubah wujud menjadi manusia, dan jatuh ketanah, lalu aku mendarat dengan mulus.


Setelah itu, aku melukai telapak tangan kanan ku dengan kuku jari telunjuk tangan kiri ku. Luka sayatan pun muncul dan dari luka itu mengeluarkan darah merah segar. Aku segera menahan dengan (Cursed Blood Control) agar darah tidak keluar dari luka. Ini adalah persiapan, jika aku menemui bahaya, aku bisa menciptakan senjata dengan darah ku sesuka hati tanpa harus melukai tangan ku terlebih dahulu.


Aku berjalan mendekati patung, lalu pergi ke tangan kanan nya, lalu melakukan hal yang sama seperti orang tua itu lakukan di jari jempol patung, dan seperti kejadian sebelum nya. Terdengar suara keras, yang merupakan tanda kalau jalan menuju ruang bawah tanah telah terbuka. Aku menggerakkan jempol patung dengan tangan kiri, tentu saja. Karena tangan kanan ku terluka, akan gawat jika darah ku tertempel pada jari jempol patung itu.


Setelah membuka jalan menuju ruang bawah tanah, aku pun pergi masuk ke sana. Bau apek melayang saat aku masuk, dan cahaya yang ada hanyalah cahaya dari pintu masuk ruang bawah tanah. Jika pintu itu tertutup, tidak salah lagi, ruangan ini akan menjadi gelap.


Saat sudah agak jauh, menuruni tangga, terdengar suara keras dari belakang, di ikuti dengan cahaya yang menghilang. Aku melihat ke belakang, dan benar saja. Pintu masuk tertutup.


Jika mata ku tidak memiliki kemampuan khusus untuk melihat dalam gelap, pasti aku sudah tidak bisa melihat apapun dalam keadaan ini. Tetapi mata ku berbeda dengan mata Ras lain nya, mata ku bisa melihat ke dalam gelap. Untuk mengingatkan, aku adalah Ras Vampir, dan Vampir adalah mahluk Nokturnal, sudah jelas aku memiliki kemampuan untuk melihat dalam gelap.


Aku terus menuruni tangga, dan bau tidak sedap masih mengelilingi ruangan. Aku menutup hidung ku dengan tangan kiri ku, lalu terus melanjutkan. Beberapa menit kemudian, tangga pun berakhir dan hanya ada jalan mendatar menuju lurus kedepan. Tanpa ragu, aku menyusuri jalan.


Selama aku berjalan, aku tidak menemukan apa-apa. Hanya dinding berbatu yang ada di samping kanan dan kiri ku, dan lorong gelap terus kedepan. Tidak ada cahaya, dan hanya ada bau yang tidak sedap.


Semakin lama, semakin susah untuk bernafas karena bau tidak sedap ini, aku terkejut karena dua orang yang masuk sebelum ku bisa tahan dengan bau ini. Dan juga, aku tidak dapat menemukan mereka, padahal aku masuk beberapa menit setelah mereka masuk. Dengan kecepatan berjalan ku yang sedikit lebih cepat dari manusia normal seharus nya aku bisa mengejar mereka. Yang lebih mengejutkan, ada orang tua yang kelihatan nya susah berjalan sebelum nya, tetapi aku tidak bisa mengejar mereka sampai sekarang.


Kesampingkan kedua orang barusan, yang jadi masalah sekarang adalah lorong ini. Lorong ini sangat panjang!


Dari aku masuk sampai sekarang, hanya ada jalan lurus kedepan tidak ada jalan lain.


Di saat aku mulai jenuh dengan pemandangan monoton dari lorong yang ku lewati, aku melihat ada cahaya terang di depan ku.


Aku mencairkan darah ku, kemudian membuat gagang pedang. Jika situasi berbahaya, aku bisa langsung menggunakan pedang darah ku sekarang.


Aku mempercepat langkah, dan menuju cahaya yang kulihat di depan.


Saat aku memasuki ruangan bercahaya, tiba-tiba tubuh ku terasa seperti terbakar, dan itu membuat tubuh ku melemah.


"Hoooo kau bisa menahan cahaya suci kami?"


Aku melihat ke arah suara itu, suara itu berasal dari depan atas ku. Di sana terdapat lantai dua dan tempat itu seperti nya di sediakan khusus untuk menonton apa yang terjadi di lantai yang menjadi tempat ku berpijak sekarang.


Aku melihat sekeliling ternyata terdapat tempat menonton yang sama, dan di salah satu tempat menonton itu terdapat sebuah lampu sorot yang langsung menyinari ke arah ku.


"Cahaya suci? Ini hanya cahaya lampu kan?"


"Aku mengetahui siapa kau sebenar nya. Kau adalah Ras laknat! Yang seharus nya sudah punah!"


"Kalau begitu. Seharus nya kau takut pada ku kan?"


"Hahahahaha. Takut? Untuk apa? Untuk apa aku takut terhadap Ras terkutuk seperti mu! Yah, kesampingkan hal itu, kami akan segera menghukum mu sekarang, ada kata terakhir?"


"Untuk seorang manusia lemah, kau sangat sombong ya?"


"Kaulah yang sombong. Untuk.mengira, Ras Laknat seperti mu terus berkuasa di dunia ini. Jangan fikir kami tidak bisa melawan mu."


Tidak ada kebohongan dalam kata-kata nya, dan juga.... Semenjak datang ke sini aku terus merasakan perasaan bahaya. Lalu dia sangat percaya diri menghadapi Ras Vampir, yang dulu di takuti sebagai Ras terkuat di dunia.


"Tidak ada yang perlu di bicarakan.... Tembakkan cahaya suci!"


Dengan kata-kata nya, dari lantai dua banyak lampu yang menyorot ke arah ku.


Saat lampu itu menyinari tubuh ku. Aku merasakan panas seperti di bakar oleh api dan kekuatan dalam tubuh ku menghilang.


Apa ini!?


Apa yang terjadi!?


Dengan kebingungan aku menganalisis situasi....... Karena tidak bisa menahan, aku pun berlutut di tanah, dan aku melihat bagian lengan ku menjadi gosong dan mengeluarkan asap.... Sialan! Sebenarnya apa yang terjadi!? Apakah ada sihir yang di letakkan di lampu itu?


Dengan cepat aku membuat perisai dengan darah ku, beberapa perisai muncul dan mengelilingi ku. Melindungi aku dari cahaya lampu. Tetapi, sedetik kemudian, perisai itu kembali menjadi cairan dan jatuh lantai. Lantai di sekitar ku pun di penuhi dengan darah.


"Sialan.... Apa yang terjadi?"


Saat aku kebingungan, orang tua di lantai dua turun dengan cara melompat lalu mendekati ku.


"Seperti nya kau kebingungan."


"Apa yang kau lakukan sialan!?"


"Tidak ada... Kami hanya menggunakan alat yang di ciptakan dewa Pierot kepada kami. Alat ini menghasilkan cahaya yang memiliki kekuatan sepuluh kali lipat dari cahaya matahari..... Apakah dengan penjelasan itu kau faham?"


.......Begitu ya......


Artinya, saat ini aku seperti sedang di sinari oleh banyak matahari. Jika satu cahaya itu memiliki kekuatan sepuluh kali lipat dari cahaya matahari. Maka, semua lampu yang ada di sini memiliki kekuatan seratus kali lipat dari cahaya matahari ya......


Pantas saja tubuh ku seperti terbakar.... Tetapi, apakah mereka mengira itu cukup untuk menghentikan ku?


"Cursed Blood Control. Full Shape One : Sword!"


Darah yang berceceran di sekitar ku melayang dan berkumpul menjadi satu di depan ku, aku berdiri dengan susah payah. Orang tua yang mendekati ku menjauh dengan wajah terkejut. Tetapi siapa peduli, karena dia akan mati sebentar lagi.


Aku memegang darah di depan ku, saat ku pegang, darah itu perlahan berubah bentuk, dan darah keluar dari luka yang ada di telapak tangan ku.


Beberapa detik kemudian, darah itu menjadi besar dan panjang ke langit-langit ruangan, tapi itu masih belum berhenti. Darah itu kemudian berubah bentuk menjadi pedang dan mengeras yang membuat langit-langit di ruangan runtuh.


"Ba-Bagaimana bisa!?" Kata orang tua itu dengan wajah pucat. "Ka-kau sudah terkena cahaya suci Dewa Pierot! Bagaimana bisa kau bisa bergerak dan mengeluarkan kekuatan sebesar itu!? Ini tidak mungkin! Ini tidak mungkiiiiiiin!"


"Saat nya untuk mati!"


Aku mengayunkan pedang ku kebawah, yang menyebabkan langit-langit ruangan hancur dan jatuh ke lantai.


"Yang mati adalah kau!"


Sebelum pedang ku benar-benar menyentuh tanah, tubuh orang tua itu menggembung seperti bola.


Dia akan meledakkan diri!


Aku semakin mempercepat pedang ku, saat pedang ku menyentuh tubuh orang tua itu, tubuh nya meledak dan menciptakan cahaya yang sangat terang. Saat terkena cahaya itu, Cursed Blood Control ku menjadi kacau, dan pedang darah ku kembali menjadi darah kembali. Tubuh ku terasa terkena api yang sangat panas, dan di beberapa bagian tubuh ku mengeluarkan asap.


Langit-langit runtuh, tetapi itu semua tersapu ledakan yang di ciptakan orang tua itu. Dan sekarang ruangan itu pun tidak lagi memiliki atap yang menutupi dari luar. Cahaya matahari pun masuk dari atap yang rusak, dan langsung menyinari ku. Saat itu tubuh ku semakin terasa panas, dan kulit ku semakin terbakar.


"Hahahahahahahaha," Tawa menjijikan terdengar, aku melihat ke arah tawa itu berasal. Dan aku melihat orang tua itu yang sudah memiliki tubuh hancur tidak berbentuk lagi. "Sesuai rencana, kau terkena cahaya suci kami yang terkuat! Yang akan membuat mu lemah terhadap cahaya matahari! Hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaaaaaaaaaa!"


Sampai akhir hayat nya dia terus tertawa dengan suara yang menjijikan.


Di saat tubuh ku melemah, datang sekelompok orang berjubah hitam dan memakai tudung lalu menutupi wajah mereka.


"Seperti nya dia bawahan iblis perak. Buat dia tidak sadar dan bawa dia ke iblis perak!"


Dengan tubuh ku yang melemah, kesadaran ku pun ikut menghilang.