From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 78 Hari-hari yang damai



Jack pergi keruang tahta untuk menemui Charles. Saat berada di ruang tahta, Jack melihat seluruh anggota keluarga kerajaan berada di ruang tahta.


"Bukan nya kau bawahan Mira," Kata Charles. "Kebetulan sekali, aku ingin memanggil Mira kesini. Jadi bisa kau saja yang panggilkan Mira kesini sebentar?"


Jack berlutut di hadapan Charles, Charles duduk di singgassana nya bersama dengan Carla. "Maaf yang Mulia, Nona Mira tidak bisa datang kesini."


"Kenapa?" Tanya Yuri.


Jack menengok ke arah Yuri, saat melihat wajah Yuri jantung Jack berdebar kencang wajah Jack mulai memerah. "Se-sebenar nya..." Kata Jack dengan terbata-bata, belum selesai Jack berbicara, Charles memotong perkataan Jack.


"Kalau dia tidak mau kesini ya tidak apa-apa," Kata Charles. "Padahal aku ingin menyebarkan tentang-" Sebelum Charles berbicara tentang percobaan pembunuhan Mira. Jack memotong perkataan Cahrles agar Charles tidak menyebarkan berita tentang percobaan pembunuhan Mira.


"Nona Mira menyuruh ku untuk memberitahu yang Mulia agar tidak menyebarkan kejadian tadi malam." Kata Jack lantang.


Charles terkejut dengan perkataan Jack. "Apakah dia punya rencana?" Tanya Charles.


Jack mengangguk. "Itu benar, jadi saya ingin anda tidak menyebarkan berita nya... Dan juga Nona Mira menyuruh saya untuk menjadi prajurit sementara di istana ini."


Charles mengangguk. "Jika itu kemauan Mira. Aku akan menjadi kan mu prajurit sementara di istana."


"Terima kasih."


Jack bergegas pergi dari ruang tahta, saat di luar ruang tahta Jack langsung bergegas kembali ke kamar Mira. Selama di perjalanan Jack selalu memegangi dadanya.


"Entah kenapa saat berada di dekat sudari Kak Mira yang bernama Yuri itu jantung ku berdebar sangat kencang." Gumam Jack.


Jack memikirkan perkataan saudari nya. Saudari nya mengatakan kalau Jack itu menyukai Yuri. "Apakah aku memang benar suka padanya." Gumam Jack dengan wajah merah.


\*\*\*


Arisa memberitahu Jack melalui (Telephaty) untuk memberitahu Charles agar tidak menyebarkan tentang percobaan pembunuhan Mira. Arisa di beritahu semua tentang rencana Mira, jadi Arisa mengambil inisiatif untuk memberitahu Jack agar Charles tidak memberitahu tentang percobaan pembunuhan Mira.


"Dengan begini aku akan menjadi lebih berguna dari pada Kak Natasha." Gumam Arisa.


Saat Arisa bergumam sendirian Mira memanggil nya, Arisa pun berbalik badan menengok ke arah Mira yang sedang makan manisan bersama dengan Natasha.


"Ada apa Kak Mira?" Tanya Arisa.


"Aku lupa memberitahukan hal ini ke pada Jack.... Bisa kau beritahu Jack untuk melarang ayah menyebarkan berita tentang percobaan pembunuhan Ku."


"Kalau masalah itu tenang saja Kak Mira, aku sudah memberitahu Jack." Kata Arisa dengan nada sombong, Arisa menyilangkan tangan di dadanya, kemudian Ia tertawa terbahak-bahak.


Aku keheranan melihat prilaku Arisa, dia tiba-tiba ketawa sendiri, mungkin dia merasa puas karena bisa mendahului ku.


Beberapa detik kemudian Jack datang, saat Jack datang Jack berjalan menuju meja makan di ikuti oleh Arisa, setelah mereka sampai di meja makan, mereka duduk, lalu mereka makan cemilan yang ada di atas meja.


"Semua nya beres Kak Mira." Kata Jack sambil memasukkan makanan kedalam mulut nya.


Aku mengangguk, kemudian aku menyuruh Jack untuk bertugas layak nya prajurit kerajaan mulai besok. Saat kami tengah asik makan cemilan dan minum teh, seseorang membuka pintu.


"Mira!!"


Yang membuka Pintu adalah Kak Yuri, dia membuka pintu sambil meneriakkan nama ku dengan nada gembira.


"Aaaah," Yuri berteriak. "Mira makan nggak bagi-bagi." Kata Yuri kesal.


"Maaf, maaf."


Kak Yuri mendatangi ku dengan wajah cemberut, saat berada di depan ku Kak Yuri langsung menjetik kening ku.


"Ini hukuman karena enggak bagi-bagi makanan." Kata Yuri kesal.


Aku mengelus-ngelus kening yang habis di jentik oleh Kak Yuri, aku memasang wajah cemberut. Saat melihat wajah ku, Kak Yuri menjadi panik.


"Maaf, Maaf. Mira Apakah sakit?" Kata Yuri panik."


"Ya iyalah sakit."


Kak Yuri merapatkan kedua tangan nya, kemudia Kak Yuri memasang pose memohon. "Aku betul-betul minta maaf."


Aku bangkit dari tempat duduk ku, kemudian aku berjalan ke kasur, lalu aku duduk di kasur. "Jadi ngapain Kak Yuri kesini?"


"Yah, Aku cuma ingin menunjungi Mira aja." Kata Yuri.


"O iya Mira," Kata Yuri melanjutkan perkataan nya. "Tadi ayahanda mengumpulkan semua orang di ruang tahta. Saat kami semua sudah berkumpul, ayahanda langsung menyuruh kami pergi, tanpa bilang apa-apa." Kata Yuri sambil duduk di kursi yang kosong.


Jack yang melihat Yuri duduk di samping nya menjadi panik. Melihat prilaku Jack, Yuri menatap Jack dengan tatapan heran, Jack wajah nya memerah karena di tatap Yuri.


"A-aku me-memang nya Kenapa?" Kata Jack terbata-bata.


"Kok malah balik nanya," Kata Yuri. "Kau ini lucu ya." Yuri tertawa kecil.


Melihat tawa Yuri, wajah Jack makin memerah, kemudian Jack bangkit dari tempat duduk nya.


"Ka-Kak-" Sebelum Jack mengucapkan Kata Kak Mira, Aku menatap tajam Jack. "No-nona Mira. A-aku pergi dulu." Setelah berkata seperti itu Jack langsung berlari menuju keluar kamar.


Yuri yang melihat perilaku Jack tertawa kecil. "Fufufu, bawahan mu tadi lucu sekali Mira."


"Aku rasa dia bersikap seperti itu karena salah Kak Yuri."


Natasha dan Arisa mengangguk setuju. Yuri kebingungan dengan perkataan adik nya, dan prilaku bawahan adik nya. "Eeeh," Kata Yuri keheranan. "Kenapa jadi salah ku?"


Aku mengabaikan sikap keheranan Kak Yuri, aku langsung merebahkan diri di kasur. "Entahlah, kenapa bisa jadi salah Kak Yuri."


Mendengar perkataan Mira, Yuri langsung melompat ke kasur Mira. Kemudian Yuri menggelitik seluruh tubuh Mira. "Kasih tahu aku, kenapa bisa aku yang salah?" Kata Yuri sambil menggelitik.


Gelitikan Kak Yuri sama sekali tidak Terasa, makin lama Kak Yuri menggelitik ku semakin kelelahan juga Kak Yuri. Karena kelelahan Kak Yuri pun berhenti menggelitik ku.


"Kenapa sekarang Mira nggak mempan di gelitiki?" Tanya Yuri kesal.


"Entahlah pikir sendiri."


"Putri Yuri!!" Kata Natasha memanggil. Yuri menengok ke arah Natasha. "Kenapa?" Jawab Yuri menyahut panggilan Natasha.


"Percuma jika anda menggelitik badan Nona Mira, tiup telinga nya!" Kata Natasha bersemangat. "Nona Mira tidak tahan jika telinga nya di tiup."


Mendengar perkataan Natasha, Yuri memasang senyum licik nya. "Hoho, jadi di situ ya kelemahan nya." Kata Yuri sambil tertawa jahat.


Kak Yuri merebahkan ku di kasur, sebelum dia meniup telinga ku. Aku menghentikan Kak Yuri. "Tunggu!! Akan ku kasih tahu. Tapi Kak Yuri jangan tiup telinga ku."


Mendengar perkataan ku Kak Yuri langsung memasang wajah kecewa.


"Cih," Yuri mendecakkan lidah nya. "Membosankan." Kata Yuri kecewa.


Natasha dan Arisa saling memandang satu sama lain, kemudian Natasha mengedipkan mata kanan nya. Arisa mengangguk menjawab kedipan mata Natasha.


Aku melihat Natasha dan Arisa bangkit dari tempat duduk mereka, kemudian mereka berjalan mendekati kasur. Saat mereka dekat dengan kasur mereka langsung menerjang ku, hingga aku terbaring di kasur. Saat aku terbaring, Natasha menahan tangan ku dan Arisa menahan kaki ku.


"Putri Yuri. Cepat tiup telinga nya, kami tidak bisa menahan nya lebih lama lagi." Kata Arisa.


Yuri memasang senyum licik nya. "Dengan senang hati."


Yuri pergi ke samping Mira, kemudian Yuri meniup pelan telinga Mira. Saat telinga Mira di tiup, Mira mengeluarkan suara desahan yang sangat imut. Natasha Arisa dan Yuri pun melanjutkan menjahili Mira.


\*\*\*


Setelah Jack keluar kamar Mira, Jack pergi berlari entah kemana. Hingga akhir nya Jack lelah berlari.


"Ha, Ha, Ha," Suara Nafas Jack. " Entah kenapa saat melihat nya tersenyum jantung ku berdebar sangat kencang."


Jack melihat ke arah kiri dan kanan. Ia saat ini berada di halaman istana. "Tidak terasa aku berlari sampai halaman." Gumam Jack.


Jack terus berjalan, hingga akhir nya Jack tiba di suatu pondokan. Jack saat ini berada di belakang pondokan, Jack pun memutuskan untuk melihat pondokan dari arah depan.


Jack berjalan melalu samping pondokan untuk pergi ke arah depan pondokan. Saat ia hampir tiba di bagian depan, ia melihat Nina dan Blanc sedang mengobrol. Karena reflek Jack pun bersembunyi di tembok samping pondokan.


Kenapa aku malah sembunyi? Pikir Jack.


"Blanc," Kata Nina dengan bersemangat. "Kau lihat pelayan Mira tadi? Dia sangat tampan, jika ayahanda memberikan nya gelar bangsawan sudah pasti aku akan menikahi nya."


"Selera mu benar-benar buruk sekali ya Nina." Kata Blanc kecewa.


"Jika selera ku buruk maka selera mu juga buruk."


"Apa Maksudmu?"


"Waktu di ruang tahta, kau juga melihat ke arah Pelayan Mira terus kan? Dari tatapan mu saja, sudah pasti kau tertarik pada nya."


Blanc menundukkan wajah nya, kemudian wajah Blanc memerah.


Nina dan Blanc pun terus mengobrol tentang Jack, Jack yang berada di sana mendengar semua yang mereka berdua katakan.


Ternyata aku hebat juga. Bisa membuat dua putri Kerajaan menyukai ku. Mungkin aku juga bisa membuat Saudari Kak Mira yang bernama Yuri itu menyukai ku Juga. Pikir Jack bersemangat.