
Pada siang hari, Ibu dan Kak Yuri sudah selesai melihat-lihat di toko ku, bahkan mereka juga membeli beberapa pakaian dan juga makanan. Padahal aku ingin memberikan harga gratis tapi mereka tidak mau, mereka ngotot ingin membayar semua belanjaan yang mereka beli.
Aku, Arisa, Jack, Kak Yuri dan Ibu sudah sampai di istana, saat di istana. Ibu dan Kak Yuri langsung pergi ke kamar mereka masing-masing. Mereka bilang ingin mencoba pakaian yang mereka beli.
Saat mereka pergi, aku bersama dengan Arisa dan Jack. Pergi ke kamar ku, saat kami sampai. Natasha sudah menunggu sambil minum teh.
"Selamat datang." Kata Natasha sambil menaruh cangkir teh di atas meja.
Aku, Arisa, dan Jack, tidak menjawab sapaan Natasha, aku, Arisa dan Jack terus berjalan ke meja makan kecil yang ada di kamar ku.
Kami duduk di meja makan, saat kami duduk, Natasha mengeluarkan teko yang berisi dengan teh dengan tiga buah cangkir dari dalam (Blood Box) nya.
Natasha menuang teh kedalam cangkir teh, saat cangkir teh penuh Natasha menyodorkan cangkir teh ke hadapan ku, Arisa dan Jack.
Aku meminum seteguk teh yang di sediakan Natasha. Setelah meminun seteguk aku menaruh teh kembali di atas meja.
"Bagaimana hasil penyelidikan mu?" Aku bertanya ke Natasha.
"Lancar. Hanya saja pelaku nya berhasil kabur," Jawab Natasha. "Tapi kita tidak perlu kawatir kan. Kau sudah menanam pelacak pada tubuh si pelaku." Sambung Natasha.
Aku menggelengkan kepala ku. "Saat aku pulang dari toko tadi, aku kehilangan sinyal dengan pelacak yang ku tanam. Jika sinyal nya hilang sudah bisa di pastikan kalau si pelaku sudah-"
"Mati." Sambung Natasha.
Aku meminum teh dengan tenang. Kemudian aku menaruh lagi cangkir teh di atas meja.
"Apa ada hal lain? Yang bisa membuat ku tertarik."
"Mira kau dulu pernah tidak sadarkan diri selama sepuluh bulan kan?" Tanya Natasha.
"O iya. Kak Mira pernah bercerita seperti itu." Kata Arisa sambil menaruh cangkir teh di atas meja.
Aku melirik ke arah Arisa, kemudian aku melirik ke arah Natasha. "Kenapa kau menanyakan hal itu? Apakah ada hubungan nya?"
Natasha mengangguk. Saat melihat Natasha mengangguk, aku mengeluarkan manisan dari (Inventori) ku. "Seperti nya cerita nya akan panjang. Jadi aku menyiapkan cemilan."
Natasha tersenyum, kemudian Natasha mulai bercerita. "Jadi begini saat aku menyelidiki si pelaku-"
Natasha menceritakan semua kejadian tentang Pierot, Gaztor, dan orang yang di sebut oleh Pierot yang bernama Beliau.
"Begitu lah cerita nya." Kata Natasha menutup ceritanya.
"Pierot dewa yang di sembah oleh anak-anak pantin asuhan, Gaztor pelaku yang menculik ke empat saudari ku, dan Beliau pelaku yang membuat ku tidak sadarkan diri selama sepuluh bulan. Aku tidak menyangka kalau mereka semua berhubungan."
"Mira," Kata Natasha memanggil. Aku menengok ke arah Natasha. "Seperti nya ini masalah serius. Kita harus berhati-hati." Sambung Natasha.
Aku pun mengangguk tanda setuju dengan Natasha.
"Lupakan dulu masalah itu," Kata Jack menyambung. "Jangan lupa kalau pembunuh Kak Mira itu ada dua. Kita harus cepat mencari pelaku satu nya."
"Kau benar Jack. Kita lupakan dulu tentang Pierot, Gaztor dan Beliau. Kita harus fokus mengungkap identitas si pelaku yang satu nya lagi." aku menyuruh Jack mendatangi ayah. Aku ingin Jack menjadi prajurit sementara di istana, aku menyuruh Jack menjadi prajurit supaya Jack bisa mencari informasi tentang para prajurit yang bersekongkol dengan pelaku pembunuhan yang kedua.
Jack pun pergi keluar kamar untuk mendatangi Charles.
Saat Jack pergi keluar, aku mendekati Arisa kemudian aku membisikkan rencana ku ke Arisa.
\*\*\*
Goby sedang berada di pos penjagaan, dia bersama para prajurit yang menjadi bawahan nya. Jumlah prajurit yang menjadi bawahan nya sekitar 50 prajurit. Charles sendiri yang memberikan bawahan kepada Goby, dan kelima puluh prajurit sudah bersumpah setia kepada Goby. Jadi para prajurit yang menjadi bawahan Goby akan mematuhi semua perintah Goby. Apapun perintah nya mereka pasti akan mematuhi nya, contoh nya saja membunuh anggota keluarga kerajaan.
"Sial!!" Goby berteriak sambil memukul meja yang ada di sana. "Kenapa tadi malam anak itu bisa bangun." Kata Goby kesal.
"Mohon tenang Tuan Goby." Kata salah satu prajurit menenangkan amarah Goby.
"Tenang kata mu," Kata Goby sambil menarik kerah baju prajurit yang menenangkan nya. "Bagaimana aku bisa tenang!? Aku telah di permalukan di depan banyak orang, dan juga aku telah gagal membunuh anak itu. Kau tahu kan saat ini kita dalam keadaan gawat! Bagaimana kalau kita ketahuan? Bagaimana? Ha, bagaimana!?" Goby berteriak ke arah prajurit.
Prajurit mengangkat tangan nya. "Tenang dulu Tuan Goby. Kita tidak akan ketahuan, tidak mungkin Yang Mulia percaya perkataan anak kecil." Kata Prajurit.
"Salah anak itu?" Kata prajurit yang duduk di kursi yang berada di sebrang meja yang di pukul Goby. "Kapten Goby... Ini bukan salah anak itu. Ini semua salah mu, coba saja kau tidak merencanakan membunuh anak itu. Kita pasti saat ini masih dalam keadaan tenang." Kata prajurit yang duduk di kursi mengejek.
"Apa kau bilang!?" Kata Goby sambil mendekati prajurit yang duduk. Saat Goby berada di dekat prajurit itu, Goby langsung menarik kerah baju prajurit itu. "Kau bilang ini salah ku!?" Si prajurit ketakutan saat kerah baju nya di tarik oleh Goby.
"Te-tentu saja... Kau yang menyuruh kami!!" Kata si prajurit.
"Ini bukan salah ku!!" Goby memukul wajah si prajurit, si prajurit terlempar setelah menerima pukulan Goby. "Ini semua salah kalian," Kata Goby sambil menunjuk semua prajurit. "Kenapa kalian mau aku suruh? Seharus nya kalian bisa menolak nya kan. Tapi kenapa kalian mau?"
Si prajurit yang di pukul Goby berdiri. "Kami mengikuti perintah mu bukan karena kami mau!" Teriak si prajurit. "Kami tidak bisa menolak perintah mu!! Kita semua sudah bersumpah atas nama Dewa Pierot untuk mengikuti mu kemana pun walaupun jalan yang kau lalui menuju neraka. Kami tetap akan mengikuti mu karena kami sudah terikat sumpah dengan Dewa Pierot, kau tahu kan apa yang akan terjadi pada kami jika kami mengingkari sumpah kami." Goby terdiam setelah mendengar perkataan prajurit.
"Maafkan aku." Kata Goby menyesal.
Setelah mendengar perkataan Goby, semua prajurit berlutut di hadapan Goby. "Tuan Goby, atas nama Dewa Pierot kami akan selalu mengikuti perintah mu." Kata semua prajurit serentak.
Goby tersenyum saat mendengar perkataan semua bawahan nya. "Kalian semua... Terima kasih." Goby mengeluarkan air mata bahagia.
Saat Goby menangis tiba-tiba terdengar suara dari seluruh ruangan pos penjagaan.
"Wahai para hamba ku." Bunyi suara itu.
"Suara ini..." Kata Goby terkejut. "Apakah engkau Dewa Pierot?" Kata Goby.
"Benar." Goby bersujud, kemudian semua prajurit ikut bersujud.
"Wahai Dewa Pierot yang agung kenapa engkau mendatangi kami yang hina ini?" Kata Goby.
"Aku hanya ingin memberi kalian pujian. Semua bawahan Goby, kalian tidak mengingkari sumpah kalian. Kalian berhak menerima berkah ku."
"Tentu saja Dewa Pierot," Kata salah satu prajurit menjawab. "Kami tidak bisa mengingkari sumpah kami, jika kami mengingkari sumpah kami maka kami akan masuk neraka."
"Begitu ya... Aku bangga memiliki hamba seperti kalian."
"Terima kasih." Jawab prajurit serentak.
"Dan untuk Goby, seperti nya kau gagal membunuh musuh mu ya."
"Engkau benar wahai Dewa Pierot. Saya gagal." Jawab Goby.
"Tenang lah Goby. Kau gagal bukan karena kesalahan mu."
"Maksud nya?" Tanya Goby dengan nada heran.
"Sebenar nya tadi malam bukan hanya kau yang ingin membunuh anak itu. Tadi malam ada seorang hamba ku yang ingin membunuh anak itu, maka dari itu anak itu terbangun."
"Begitu ya.... Lalu bagaimana dengan nasib hamba mu itu?"
"Dia di bunuh oleh anak itu."
"Apa!!" Teriak Goby. "Dasar iblis."
"Kau benar dia iblis maka dari itu aku ingin kalian membalaskan dendam hamba ku yang telah di bunuh anak itu."
"Jangan Khawatir Dewa Pierot. Kami tidak akan mengecewakan mu. Kami pasti akan membunuh Iblis itu."
"Kalau begitu aku serahkan pada kalian."
Suara itu pun menghilang, semua prajurit beserta dengan Goby bangkit dari sujud mereka.
"Semua kalian dengar sendiri kan. Dewa Pierot ingin kita membunuh anak itu. Jadi apakah kalian ingin melakukan nya lagi?"
"Kami akan selalu mengikuti mu Goby." Kata semua prajurit.
"Baguslah kalau begitu," Kata Goby sambil tersenyum licik. "Kita akan membunuh Putri Kelima kerajaan Fantasia yang bernama Mira sebelum dia berangkat ke kota Cocoa."