From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 244 Satu jam tiga puluh menit setelah pengumuman



"....Membekukan air laut... Itu tidak mungkin!? Bahkan dengan sihir saja tidak mungkin bisa melakukan hal itu!? Apakah kau gila!?" Kak Yuri berteriak, memberitahu Putri Catulus, kalau pergi menyebrangi lautan dengan cara membekukan nya sangat mustahil di lakukan. Dia panik, mendengar kata-kata Putri Catulus sebelum nya, sehingga kata-kata yang di keluarkan Kak Yuri untuk memberitahu Putri Catulus adalah kata-kata yang seolah-olah dia tujukan untuk meyakinkan diri nya sendiri kalau hal itu mustahil untuk di lakukan.


Sangat wajar kalau dia panik, jika memang para Demon bisa membekukan lautan, itu akan menjadi hal menakutkan dan itu juga sekaligus memberitahu kalau Demon sangat jauh lebih kuat dari pada gabungan ketiga Ras. Human, Demi Human dan Dwarf. Karena, walaupun kami bersatu, kami masih tidak bisa membekukan lautan.


Kak Yuri yakin kalau hal itu mustahil di lakukan, sedangkan aku berpikir itu sangat mungkin untuk di lakukan. Dan jika memang benar, maka sangat besar kemungkinan mereka akan memulai invasi melalui lautan. Yah, jika memang benar mereka menyebrangi lautan dengan cara itu, rencana ku tidak akan berubah. Lagipula, aku membuat rencana ini dengan memperhitungkan berbagai kemungkinan, termasuk kemungkinan mereka membekukan laut.


"Kenapa kau tersenyum Mira?"


Ups. Seperti nya aku tanpa sadar tersenyum, yang membuat Kak Yuri langsung menegur ku. Aku hanya menjawab, "Tidak ada apa-apa."


Kemudian Putri Catulus melanjutkan perkataan nya. "Yah. Itu hanya spekulasi, tetapi kemungkinan nya sangat tinggi."


"Jika memang itu benar... Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Kak Yuri ke Putri Catulus.


"Tidak ada yang berubah, kita hanya terus tetap pada rencana... Benarkan Mira?"


"...."


Aku tidak menjawab. Aku menatap Putri Catulus dengan tatapan curiga, dia bertanya pada ku seolah-olah dia sudah tahu rencana ku untuk memenangkan perang nanti. Padahal yang tahu hanya aku, Ayah, Selir Shina dan orang-orang yang di bawah komando Selir Shina saja, dengan kata lain, orang-orang yang bertugas di markas pusat.


Markas pusat biasa di gunakan untuk menyusun strategi, berkomunikasi antar kelompok, dan perawatan orang-orang yang terluka.


"?" Kak Yuri bingung dengan perilaku Putri Catulus, dia memiringkan kepala nya, dan memasang wajah bingung, seolah-olah bertanya, 'Kenapa kau memastikan hal itu pada Mira?'


"Oh? Putri Yuri tidak tahu? Dalam perang nanti kita akan menggunakan rencana Mira, dan semua petinggi negara sudah setuju dengan hal itu."


"...Kenapa kau bisa tahu? Seharus nya orang-orang yang bekerja di markas pusat saja yang tahu masalah itu."


"Oh, benar. Aku lupa memberitahu mu, aku juga bekerja di markas pusat."


"Apa!?"


Orang mencurigakan ini!? Bekerja bersama dengan ku di markas pusat!? Jangan bercanda sialan! Dia pasti merencanakan agar bisa satu tim dengan ku, aku yakin itu! Pasti ada tujuan busuk yang mengikuti setiap tindakan nya! Apa yang kalian pikirkan para petinggi!?


"Hmmm? Kenapa kau begitu terkejut." Kata Putri Catulus sambil memiringkan kepala nya, menatap ku dengan mata ingin tahu.


"Tidak. Tidak ada apa-apa."


Akan ku pastikan dia di awasi dua puluh empat jam secara penuh! Baiklah... Kita tugaskan Arisa pada posisi itu.


"Eeeh.... Jadi Mira yang membuat rencana nya ya..." Kak Yuri bergumam.


"Putri Yuri ingin tahu? Aku bisa bocorkan rencana nya pada mu."


"Eh? Apakah boleh!?"


"Boleh... Boleh... Sini. Sini. Dekatkan telinga mu pada ku..."


Kak Yuri kemudian mendekatkan telinga nya ke Putri Catulus. Kemudian Putri Catulus mulai berbisik ke telinga Kak Yuri.


"Mmm. Mmm. Mmm." Kak Yuri mengangguk beberapa kali, tanda dia mengerti rencana nya. Perlahan wajah nya mulai berubah menjadi ngeri. Rencana pun selesai di bisikkan ke telinga Kak Yuri. Dia kemudian menatap ku dengan mata terbelalak, tidak percaya akan informasi yang di berikan pada nya.


Aku mengalihkan mata ku dari mata Kak Yuri... Aku tahu, aku tahu. Rencana itu sangat kejam, tetapi ini adalah rencana terjitu untuk menghadapi pasukan Demon.


"Mira, aku sudah lama berpikiran seperti ini. Tetapi kau tidak punya belas kasihan ya... Sebagian diri ku ada rasa syukur kau tidak terpilih menjadi ratu masa depan."


"Kak Yuri... Kau baru saja mengatakan kalau aku ini kejam."


"Semua orang akan berpikir seperti itu, jika mengetahui rencana mu!" Kak Yuri berteriak sambil memegangi kepala nya, pusing dengan kelakuan ku.


"Jika kau ingin mendapatkan sesuatu kau harus mengorbankan sesuatu. Dan di dalam peperangan kau harus menutup hati mu dari belas kasihan, jika kau tidak melakukan itu, kau akan menjadi orang yang pertama kali di bunuh dalam peperangan. Itu adalah hal yang ku pelajari, saat berkeliaran di luar, tanpa perlindungan, dan banyak bahaya yang mengintai. Jika aku merasa belas kasihan pada musuh ku, aku yang akan di bunuh."


Aku memberitahu Kak Yuri nasihat, dia pun menjadi bisa sedikit menerima kenapa aku bisa tidak mempunyai belas kasihan, tetapi dari raut wajah nya, masih ada penolakan.


Aku tidak meminta dia menerima alasan ku merencakan rencana yang begitu kejam, tetapi aku ingin dia paham kalau segala sesuatu tidak akan berjalan lancar jika kita tidak siap mengorbankan sesuatu.


Karena suasana menjadi berat akibat kata-kata ku. Kami pun memutuskan untuk berpisah, dan kembali ke ruang masing-masing. Saat aku kembali ke dalam istana, di lorong tempat menuju kamar ku, muncul Arisa di samping ku secara tib-tiba. Dia memakai sihir (Teleportation) untuk pergi ke samping ku dari kerajaan Eurasia.


"Kerja bagus Arisa." Kata ku memuji nya.


"Terima kasih, Kak Mira." Jawab nya dengan senyum bahagia.


"Dan untuk tugas mu selanjut nya. Aku ingin kau mengawasi Putri Catulus saat perang nanti, jangan mengalihkan pandangan dari dia selama sedetik pun. Awasi dia dengan ketat, dan jangan sampai lengah! Kau mengerti Arisa?"


"Ya."


Kami berdua pun berjalan, hingga depan kamar ku, aku kemudian berjalan masuk ke dalam kamar. Di sana sudah ada Natasha yang duduk di atas kasur ku.


"Yo!" Kata nya menyapa kami, sambil mengangkat tangan kiri nya.


Aku mengangguk, lalu duduk tepat di samping nya. Sedangkan Arisa berdiri di pojokan ruangan.


"Jadi, apa langkah mu selanjut nya Mira?" Tanya Natasha.


"Jujur, aku masih bingung. Sebenarnya aku ingin masuk ke peperangan jika situasi menjadi semakin memburuk. Tetapi dengan kondisi ku yang seperti ini, aku tidak bisa apa-apa. Kau tahu Natasha, mengeluarkan energi sihir sedikit saja aku sudah merasa lelah, bagaimana jika aku mengeluarkan energi sihir super besar nanti nya? Tubuh ku tidak salah lagi akan hancur seperti yang di katakan Gloria."


"Hmm.... Apakah tidak ada cara untuk mencegah kehancuran tubuh Kak Mira?" Gumam Arisa sambil memegangi dagu nya.


Untuk masalah itu, kami harus bertanya pada sesuatu yang mengetahui banyak hal. Dan sesuatu itu, tersimpan di (Inventori) ku. Tongkat sihir Glory Rod atau yang ku panggil Gloria, adalah tongkat sihir yang bisa berubah menjadi bentuk Humanoid, dan memiliki pengetahuan yang luas.


Aku kemudian membuka (Inventori) dan segera mengeluarkan tongkat emas yang indah, itu adalah Glory Rod.


Glory Rod langsung mengambang, lalu berubah bentuk menjadi seorang gadis kecil berumur tujuh tahun... Walaupun aku bilang gadis, dia tidak memiliki kelamin, aku menyebut nya gadis karena penampilan dan suara nya sangat dekat dengan seorang perempuan.


"Akhirnya!! Aku bebas!"


Dia berteriak, mengangkat kedua tangan nya.


"Ssstt! Di istana tidak ada yang tahu keberadaan mu!"


Gloria segera menutup mulut nya, lalu ia berkata dengan suara pelan. "Oh. Itu benar... Kalau begitu aku ulangi. Akhirnya, aku bebas."


"Gloria, apakah kau mengetahui cara mencegah kehancuran tubuh ku?"


Mengabaikan kegembiraan nya yang berlebihan, aku langsung bertanya pada nya.


"Nona Mira... Setidak nya, biarkan aku merayakan kebebasan ku dari ruang gelap itu!"


"Sudahlah jawab saja pertanyaan ku."


"Hmmm....." Dia memegangi dagu nya, menggoyang-goyang kan kaki nya, sambil bergumam. Dia memutar otak nya untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan ku. "Ah. Aku tahu, kita hanya harus merubah Class mu saja. Dari Princess menjadi Mage!"


"Bagaimana cara nya?"


"Minum darah gadis perawan." Jawab Gloria dengan senyum cerah di wajah nya.


...... Apa yang baru saja dia katakan....?