From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 240 Pulang ke Fantasia Dan bicara empat mata dengan ayah.



Aku, Natasha, dan Arisa berhasil mengambil tongkat sihir uang bernama Glory Rod. Yang mengejutkan nya, tongkat sihir itu bisa berubah menjadi bentuk Humanoid, yang sekarang ku panggil Gloria. Setelah menyelesaikan itu semua, kami kembali ke kerajaan Animalia, dan aku langsung tertidur saat membaringkan diri di kasur kamar tamu.


Dan esok hari pun tiba... Hari kepulangan aku dan keluarga ku ke kerajaan Fantasia. Ngomong-ngomong Glory Rod sekarang dalam wujud tongkat nya, tersimpan aman di dalam (Inventori) ku. Sebagai tongkat yang memiliki kesadaran, dia kesal karena ku simpan dalam (Inventori), tetapi mau bagaimana lagi... Akan aneh, jika aku pulang membawa orang asing ke istana...


Saat ini seluruh keluarga ku, selain dari Kak Nina, Kak Blanc dan Kak Rosa, yang saat ini bersama dengan keluarga nya masing-masing. Berkumpul di halaman istana kerajaan Animalia untuk berteleportasi, pulang ke kerajaan Fantasia. Kami memang sudah berkumpul, Crystal sihir sudah di siapkan, tidak ada lagi yang kurang untuk pulang ke Fantasia. Tetapi.. Entah kenapa, kami masih berdiri di sini seakan-akan menunggu seseorang.


"Maaf... Aku kesulitan menyiapkan pakaian ku."


Seseorang datang, Demi Human kucing perak. Dia memakai pakaian ringan yang memudahkan dia untuk bergerak. Dia adalah Putri dari Kerajaan Animalia, Catulus.


"Kenapa Putri Catulus ikut dengan kita...?" Tanya Kak Yuri yang ada di samping ku, dia Mendekatkan telinga nya padaku kemudian berbisik.


"Entahlah..." Jawab ku, sambil mengangkat bahu.


Putri Catulus bergabung dengan kami, seperti itu adalah hal alami. Aku kemudian menatap ayah, meminta penjelasan pada nya melalui kode mata ku. Ayah tersentak, terkejut, lalu berkata pada ku...


"Oh... Aku tidak memberitahu kalian?"


"Memberi tahu apa?"


"Jadi begini-"


"Ah.. Yang mulia, Charles. Biar aku saja."


Saat ayah ingin menjelaskan, Putri Catulus maju mendekati ku, lalu memotong perkataan ayah. Jika kami berada di acara formal, perbuatan Putri Catulus sangat tidak sopan. Karena memotong perkataan Raja. Tetapi, karena kami tidak dalam acara formal, perbuatan Putri Catulus tidak ada yang mempermasalahkan nya.


"Salam kenal semua nya... Mungkin kalian sudah tahu, nama ku Catulus. Aku di tugaskan oleh Ibu ku, Ratu kerajaan Animalia, Cathsidna, untuk pergi ke kerajaan Fantasia sebagai Duta besar kerajaan Animalia. Semua nya, mulai sekarang mohon bantuan nya."


Dia memberikan salam sopan, membungkuk, sambil mengangkat ujung rok nya. Seperti yang biasa di lakukan bangsawan saat memberikan salam formal. Setelah salam itu, ayah berbicara pada kami.


"Begitulah... Karena Seluruh negara di Benua Yuro telah menandatangani perjanjian aliansi, Putri Catulus di kirim ke kerajaan kita sebagai Duta besar. Mulai sekarang dia akan tinggal di istana kerajaan."


"Tu-Tunggu ayahanda... Bukankah Putri Catulus baru menikah."


"Benar... Ada apa dengan itu?" Yang menjawab bukan ayah, tetapi Putri Catulus sendiri.


"A-Apakah baik-baik saja kau meninggalkan pasangan mu dan ikut dengan kita?"


"Ini perintah Ibu ku, Ratu kerajaan Animalia. Apapun yang di katakan nya, harus aku turuti... Jadi aku tidak bisa melakukan apapun tentang itu."


...Ok. semua kecurigaan ku tentang pesta pernikahan Putri Catulus sekarang terjawab. Mulai sekarang, aku akan menjauhi orang ini. Walaupun dia sudah membantu ku mendapatkan Glory Rod, tetapi aku harus tetap mewaspadai nya! Putri Kerajaan Animalia, Catulus... Kau tidak melakukan apapun yang membuat ku membenci mu, tetapi... Kau adalah serigala berbulu domba, kau adalah bom waktu yang bisa meledak kapan saja, mulai saat ini aku tegaskan sekali lagi... Aku tidak akan melakukan interaksi dengan mu, dan sepenuh nya menjauhi mu.


Di saat aku mulai menegaskan tekad ku untuk menjauhi Putri Catulus, ayah mengatakan sesuatu yang sangat tidak bisa ku percaya.


"Mira... Kau ku tugaskan untuk mengawasi Putri Catulus. Mohon bimbing dia saat berada di istana.


"Tu-Tunggu... Apa!? Ke-Kenapa aku harus melakukan itu!? Apakah kau sadar, baru saja mempekerjakan anak kecil!"


"Kau berumur tujuh belas, tahun ini. Kau bukan anak kecil lagi, anggap saja ini tugas pertama mu sebagai orang dewasa."


Apa yang kau katakan orang tua!? Kau mempercayakan orang mencurigakan seperti dia pada ku!? Pikirkan tentang konsekuensi nya sedikit sebelum berbicara!!


"Mohon Bantuan nya, Putri Mira!"


\*\*\*


"Jangan dekat-dekat dengan ku!"


"Ta-Tapi Raja Charles menyuruh mu untuk membimbing ku kan!?"


"Cari orang lain!"


"Jangan dekat-dekat dengan ku!"


"A-Aku hanya ingin berteman dengan mu!"


"Cari orang lain!"


"Jangan dekat-dekat dengan ku!"


"Ta-Tapi aku tidak punya siapapun untuk di ajak berbicara."


"Kalau begitu, diam diri di kamar mu."


Begitulah percakapan ku dengan Putri Catulus. Sudah tiga hari dia selalu mengganggu ku, dan aku langsung menghindar dari nya.


Memang benar, dia tidak memiliki siapapun untuk di ajak bicara selama di istana. Tetapi, itu karena dia juga selalu menghindar jika orang lain bicara dengan dia... Putri Catulus begitu terobsesi untuk berbicara pada ku. Dan itu semakin menambah kewaspadaan ku pada nya. Kenapa dia begitu terikat pada ku? Dan apa tujuan nya mendekati ku? Pertanyaan seperti itu muncul terus di kepala ku saat dia begitu berusaha berbicara pada ku.


Ke esokan hari nya, atau lebih tepat nya hari ke empat setelah Putri Catulus datang ke istana kerajaan Fantasia.


Kegiatan pagi kami, keluarga kerajaan seperti biasa. Sarapan, setelah itu mengerjakan tugas masing-masing. Aku biasa nya pergi ke ruang kerja yang ada di dalam kamar ku, mengurus dokumen-dokumen keadaan kota Cocoa. Walaupun tes yang di berikan ayah selesai, bukan berarti tanggung jawab ku sebagai gubernur kota juga sudah selesai. Aku masih harus memimpin kota itu, karena hanya aku yang bisa melakukan nya.


"Mira, pergi ke ruangan ku sekarang!"


Saat aku hendak pergi ke kamar ku, ayah berbicara menghentikan langkah ku. Ada apa ini tiba-tiba? Pikir ku. Tetapi, aku tetap menurut dan mengikuti ayah ke ruang kerja nya.


Ruang kerja ayah, kurang lebih sama seperti ruang kerja ku. Di sana ada meja dengan setumpuk dokumen, rak buku di kedua sisi dinding, kursi halus dan mahal yang di gunakan saat bertugas mengisi dokumen dan ada sofa di tengah ruangan untuk menyambut tamu.


"Duduk di sana!"


Ayah menunjuk sofa di tengah ruangan, aku menurut dan duduk. Ayah duduk di sofa sebrang sofa ku. Membuat kami duduk saling berhadap-hadapan.


"Jadi kenapa ayah memanggil ku?" Aku memulai percakapan duluan.


Ayah menanggapi dengan memajukan badan nya ke depan sedikit, lalu menatap mata ku dengan tajam. Dia berbicara dengan nada berat, suasana serius mulai terasa di sekitar.


"Kau akan menjadi asisten Shina dalam mengatur strategi saat perang nanti." Kata ayah.


.....Apa?


Aku kehilangan kata-kata pada saat ayah berbicara.