From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 75 Mira laporan ke Charles



Ke esokan hari nya. Aku terbangun dari tidur ku, saat aku bangun di kamar ku sudah ada Natasha, Arisa dan Jack. Sedang duduk di meja makan kecil yang ada di kamar ku.


Aku melihat ke arah mereka, Natasha mengangkat tangan nya. "Pagi." Kata Natasha tersenyum. Aku menjawab Natasha, aku menyuruh Jack keluar kamar, karena aku ingin mengganti baju ku.


Jack tanpa bertanya ia langsung keluar dari kamar. Saat Jack keluar kamar, aku mengganti baju tidur ku dengan gaun yang tersimpan di lemari ku. Setelah aku berganti baju, aku menyuruh Jack masuk kembali.


Aku duduk di meja makan bersama dengan Natasha, Arisa dan Jack. Saat aku duduk, di meja tersedia bubur dan air putih.


"Kenapa hanya ada ini saja?"


"Sudahlah jangan banyak tanya, makan saja." Kata Natasha Memberitahu.


Aku pun memakan bubur yang ada di meja, setelah bubur habis, aku meminum air putih yang ada di meja.


Setelah selesai makan, pintu kamar ku di buka. Yang membuka pintu adalah Kak Yuri.


"Mira!! Ayo kita sarapan." Kata Yuri mengajak.


Aku menengok ke arah Kak Yuri, aku melihat Kak Yuri berkeskpresi keheranan.


"Kenapa Mira sarapan duluan!?" Kata Yuri kesal.


"Itu karena para bawahan ku menyiapkan makanan untuk ku, aku tidak enak hati untuk menolak nya."


"Begitu ya," Kata Yuri tersenyum. "Mira memang baik. Jadi Mira tadi sarapan apa?"


"Bubur dan air putih."


"Eeeh, kenapa Mira makan makanan seperti itu, padahal di ruang makan banyak makanan yang enak."


"Tidak apa-apa, semua makanan yang di buat para bawahan ku juga enak."


Setelah mendengar perkataan ku Kak Yuri tersenyum.


"Kalau begitu aku pergi ke ruang makan dulu," Kata Yuri. "Setelah aku sarapan, bawa aku mengunjungi toko mu ya." Setelah mengatakan itu Yuri pun pergi.


"Tida apa-apa keluar sekarang?" Tanya Natasha.


Saat Natasha bertanya aku menengok ke arah nya. "Apa maksud mu?"


"Tadi malam ada orang yang ingin membunuh mu kan. Apakah tidak apa-apa kau pergi keluar sekarang? Mungkin saja bukan hanya kau yang di incar, bisa jadi Kakak mu di incar juga." Kata Natasha menjelaskan.


"Tunggu, bagaimana kau tahu kalau ada pembunuh ke sini?"


"Tentu saja aku tahu. Aku bisa merasakan energi sihir mu, tidak mungkin kan kau mengaktifkan sihir hanya untuk iseng saja."


"Hmmm, begitu ya... Baguslah kalau kau sudah mengetahui nya. Sebenar nya aku ingin kau menyelidiki tentang si pembunuh itu, aku sudah menaruh pelacak ke pada si pembunuh."


"Baiklah, akan ku selidiki sekarang." Jawab Natasha.


Natasha menghilang dari hadapan ku, saat Natasha menghilang. Aku mengajak Arisa dan Jack, pergi ke luar kamar.


Saat di luar kamar, tidak ada satu pun prajurit yang berjaga di depan kamar ku, padahal tadi malam banyak sekali prajurit yang berjaga di depan kamar ku.


Aku pun berjalan menuju ruang tahta, aku ingin melaporkan hal ini langsung ke pada ayah.


Aku terus berjalan, tidak terasa aku sudah berada dekat di ruang tahta, ruang tahta berada di depan mata ku. Para penjaga bertubuh besar berdiri tegak menjaga ruang tahta. Aku terus berjalan mendekati pintu ruang tahta. Saat aku berada di depan ruang tahta, para penjaga mulai mendorong pintu. Pintu terbuka, sedikit demi sedikit, akhir nya pintu ruang tahta pun terbuka dengan sempurna.


Aku, Arisa dan Jack. Memasuki ruang tahta, saat kami masuk tidak ada siapa pun di sana, padahal ayah selalu ada di sini dari pagi sampai malam.


"Tidak ada siapa-siapa." Kata Jack.


Aku mengabaikan perkataan Jack, aku berjalan ke pojok ruang tahta, saat aku sampai di pojok ruang tahta. Aku membuka lantai, lantai yang ku buka adalah ruangan bawah tanah yang berfungsi sebagai perpustakaan.


"Aku tidak menyangka ada pintu rahasia di sini." Gumam Arisa.


"Ini ruangan perpustakaan."


Aku turun ke bawah dengan tangga, yang memang sudah di siapkan untuk turun menuju ke perpustakaan, Arisa dan Jack juga ikut dengan ku.


Setelah beberapa menit menuruni tangga, akhir nya kami pun sampai ke dasar. Saat kami sampai ke dasar kami berjalan ke arah depan, ruangan sangat gelap hingga aku tidak dapat melihat apa-apa. Lalu dari belakang ku Arisa mengaktifkan sihir api, sebagai pencahayaan.


Saat kami terus berjalan, akhir nya kami sampai di perpustakaan. Terdapat banyak rak yang terisi dengan buku, aku mengelilingi perpsutakaan tapi aku juga tidak menemukan ayah.


"Tidak ada siapa-siapa di sini." Kata Jack.


"Benar juga, kenapa aku tidak memeriksa ruang makan dulu."


Arisa dan Jack menghembuskan nafas panjang, kemudian aku pun mengajak mereka kembali keruang tahta. Aku sampai di tangga untuk naik keruang tahta.


Aku menaiki tangga itu, akhir nya aku sampai di ruang tahta. Saat aku berada di ruang tahta, aku melihat ibu dan ayah baru saja memasuki ruang tahta.


"Mira kenapa kau ada disini?" Tanya Charles. "Apakah kau ingin bertanya kapan aku akan menyuruh mu ke Cocoa? Kalau tentang itu, kau akan pergi ke Cocoa besok lusa."


"Iya aku sudah tahu itu, tadi malam ibu sudah


memberitahu ku... Aku ingin membahas hal yang lain lagi."


"Apa itu?" Tanya Charles.


"Sebenarnya tadi malam-"


Aku menceritakan kalau ada dua orang pembunuh yang memasuki kamar ku, aku bisa selamat dari pembunuhan karena para bawahan ku membantu ku mengusir si pembunuh itu.


"Begitulah cerita nya."


Ibu mendekati ku, kemudian ibu meraba-raba tubuh ku. "Mira tidak apa-apa? Apakah ada yang terluka?"


"Aku tidak apa-apa, semua luka ku. Sudah di sembuhkan Arisa." Aku menunjuk ke arah Arisa, saat ku tunjuk Arisa langsung membungkuk memberi hormat.


"Jadi elf ini yang menyembuhkan mu?" Tanya Charles.


Aku mengangguk. "Iya, Arisa bisa menggunakan semua sihir. Termasuk sihir penyembuhan."


"Eeeh, begitu ya. Aku kira elf ini sangat hebat dalam pertarungan fisik, kemarin aku melihat nya menendang Goby hingga Goby terpental ke dinding. Ternyata dia hebat dalam sihir."


Ibu mendekati Arisa, kemudian ibu menggenggam kedua tangan Arisa. "Terima kasih telah menyelamatkan anak ku."


"Sama-sama." Jawab Arisa.


"Mira di mana bawahan mu yang satu lagi?" Tanya Charles.


"Tadi malam ku suruh dia mengejar si pembunuh. Sampai sekarang dia masih belum kembali."


"Apakah dia tidak apa-apa?" Tanya Carla.


"Dia akan baik-baik saja.... O iya satu hal lagi, pembunuh yang satu nya masuk lewat pintu kamar ku. Padahal di depan kamar ku ada banyak prajurit yang berjaga.".


"Eh," Kata Charles terkejut. "Ayah tidak ada menyuruh prajurit berjaga di depan kamar mu. Lagi pula setiap kamar memiliki sihir pertahanan orang asing tidak dapat masuk melalui pintu. Bahkan prajurit saja tidak bisa masuk, kecuali mereka di ijinkan. Karena itulah setiap mau masuk kamar para prajurit akan mengetuk pintu dulu."


"Begitu ya. Berarti ada kemungkinan si pembunuh yang satu lagi adalah orang dalam," Kata Carla. "Mungkin saja dia salah satu dari Selir atau mungkin saudara Mira yang lain."


"Ibu terlalu berlebihan. Tidak mungkin para selir dan saudara ku yang lain ingin membunuh ku. Benar kan ayah." Aku melihat ke arah ayah, ayah langsung memalingkan wajah saat ku tatap.


"I-itu benar. Ti-tidak mungkin mereka pelaku nya."


Dari prilaku ayah, ayah juga berfikir sama seperti ibu. Mungkin saja si pelaku adalah salah satu selir atau salah satu dari saudara ku. Aku ingin memastikan satu hal lagi.


"Ayah apakah sihir pertahanan di setiap kamar dapat di hancurkan?"


Charles mengangguk. "Iya, sihir pertahanan nya dapat di hancurkan. Tapi seorang yang sangat kuat saja yang dapat menghancurkan nya, atau mungkin jika di lakukan banyak orang sihir nya akan bisa di hancurkan." Charles terkejut dengan perkataan nya sendiri, dia menyadari sesuatu.


"Tunggu dulu Mira," Kata Charles melanjutkan. "Kau bilang di kamar mu banyak prajurit yang berjaga kan?"


Aku tersenyum ke ayah. "Jadi ayah juga menyadari nya ya." mendengar perkataan ku ayah juga ikut tersenyum. "Sudah ku duga dari anak ku kau ternyata sangat pintar."


"Apa, apa. Kenapa kalian berdua senyum-senyum?" Tanya Carla jengkel.


"Jadi begini Carla," Kata Charles. "Tadi malam di depan kamar Mira ada banyak prajurit yang berjaga. Para prajurit itu bekerja sama dengan si pembunuh yang masuk lewat pintu. Para prajurit yang berjaga di depan kamar Mira menghancurkan sihir pertahanan kamar Mira, setelah sihir nya hancur, si pembunuh masuk lewat pintu."


"Ja-jadi maksud mu. Ada banyak yang ingin membunuh Mira?" Tanya Carla.


"Kurang lebih seperti itu."


Ibu melihat ke arah ku, kemudian ibu memeluk ku. "Mira, malam ini kau tidur saja bersama ibu, ibu khawatir jika ada pembunuh lagi yang masuk ke kamar mu lagi malam ini."


Aku melepaskan pelukan ibu. "Baik ibu, aku malam ini akan tidur bersama dengan ibu."