From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 160 Membawa Thinkie ke Tiramisu. Perspektif Natasha.



"Ja-jangan hancurkan pohon ini. Kau ingin aku muncul kan? Aku sudah muncul sekarang, jadi jangan hancurkan pohon ini!"


Ratu Roh yang bernama Thinkie muncul di langit-langit istana, dia berteriak menghentikan ku saat hendak menggunakan (Cursed Blood Control)


"Oooh. Ratu Roh! Untunglah anda datang, jika anda tidak datang Vampir kejam ini pasti akan menghancurkan pohon keramat ini."


Oberon yang sudah ada di luar istana masuk kembali saat Thinkie muncul. Mungkin dia merasakan kalau Thinkie muncul, karena itu dia kembali lagi.


"Untunglah kau datang Thinkie. Jadi aku tidak perlu repot-repot menghancurkan pohon ini."


"Kenapa kau mau menghancurkan pohon keramat ini untuk memamnggil ku!?" Thinkie bertanya dengan meninggikan nada suara nya.


"Aku hanya meniru cara Mira saat dia berhasil memancing mu keluar."


"Itu sudah berlebihan! Pikirkan bagaimana perasaan para Elf saat pohon ini hancur. Dan pikirkan para Roh saat tahu Entitas tiruan dari The Mother Of Nature ini hancur. Kau tidak memikirkan hal itu saat mencoba menghancurkan pohon ini?"


"Kehancuran pohon ini hanyalah harga murah yang harus di bayar untuk memanggil mu."


"Harga murah kau bilang...."


"Lupakan pohon jelek ini-"


"Jaga perkataan mu!"


"Apakah kau pernah melihat orang yang terluka akibat kelebihan kekuatan sihir?" Aku mengabaikan protes Thinkie dan bertanya pada nya.


"Dengarkan perkataan ku!" Thinkie protes lagi.


"Sudahlah jawab saja pertanyaan ku."


Thinikie menghembuskan nafas dan menunjukkan ekspresi lelah di wajah nya.


Salah nya sendiri yang marah-marah, jadi dia merasa lelah kan.


"Jadi pertanyaan mu, pernahkah aku melihat orang yang terluka akibat kelebihan kekuatan sihir. Benar kan?"


Aku mengangguk.


Thinkie menghembuskan nafas lagi. Kemudian dia mulai berbicara.


"Aku pernah melihat nya, dulu ada seorang Elf yang terluka akibat terlalu banyak menerima energi sihir dari Roh. Dia menerima luka dalam, dan membuat nya muntah darah setiap dia berlebihan menggunakan kekuatan sihir."


Gejala nya sama seperti Mira! "Lalu bagaimana dengan nasib Elf itu?"


"Dia selamat. Tapi sempat sekarat, untung nya, aku sempat menemukan cara untuk menyembuhkan nya. Jadi nyawa nya tidak terancam."


"Benarkah itu!?" Aku dan Amanda bertanya bersama-sama dengan sedikit bersemangat.


Perjuangan ku mencari pertolongan tidak sia-sia. Aku menemukan secercah harapan di Negeri para Elf ini.


"I-iya itu benar. Memang nya ada apa kalian bertanya tentang hal itu?"


"Tidak ada waktu untuk menjelaskan, bisakah kau ikut kami?"


"Kemana?"


"Ke perbatasan Benua Silia dan Yuro. Kota Tiramisu." Aku menjawab pertanyaan Thinkie.


"Mau apa kita kesana?" Thinkie bertanya lagi.


"Tidak ada waktu untuk menjelaskan, jadi mau kau ikut kami?"


"Kalian tidak akan melakukan hal aneh padaku kan?" Thinkie bertanya pada kami. Dia mencurigai kami. Kenapa dia begitu curiga pada kami?


"Kami tidak akan melakukan hal aneh pada mu. Jadi kau mau ikut kami kan?"


"Boleh saja sih. Tapi...." Thinkie menatap Oberon, setelah itu ia menatap kami. "Tapi aku tidak bisa pergi tanpa izin dari Oberon, dan juga aku tidak bisa meninggalkan para Roh, secara teknis aku ini ratu mereka."


"Lalu bagaimana agar kau bisa pergi dari sini?"


"Asalkan Oberon dan Para Roh membiarkan aku pergi, aku bisa ikut dengan kalian."


"Hmmm.... Begitu ya... Jadi kau hanya perlu izin kan?"


Thinkie mengangguk.


Setelah itu, aku menatap Oberon. "Kau mau memberikan izin kan?"


Aku mengangguk pada Amanda, Amanda ikut mengangguk. Itu adalah isyarat, untuk mengaktifkan Budak darah.


"Wahai Budak darah ku, ku perintahkan kau untuk memberikan izin kepada Thinkie!" Kata Amanda.


"Baiklah. Saya memberikan izin kepada Thinkie untuk pergi ke kota Tiramisu." Jawab Oberon.


Setelah Oberon menjawab, aku melihat ke arah Thinkie. "Dia sudah memberikan izin. Jadi kau ingin ikut dengan kami?"


"Wa-walaupun Oberon memberikan izin.... Para Roh tidak mau membiarkan aku pergi." Thinkie menjawab dengan nada bicara yang bermasalah.


Saat Thinkie menjawab seperti itu, aku berteriak :


"Para Roh sekalian. Kalau kalian tidak memberikan izin, aku akan menghancurkan pohon ini."


"Baiklah, Baiklah, Baiklah, Baiklah. Aku ikut, aku ikut, aku ikut, aku ikut!! Jangan hancurkan pohon ini!" Thinkie menjawab dengan panik.


Dengan ini sudah di putuskan Thinkie ikut dengan kami.


Aku mengambil Thinkie dan menggenggam nya di tangan ku, lalu aku mengambil Cristal sihir teleportasi dari (Blood Box), Amanda menyentuh pundak ku, lalu dengan tangan kiri ku, aku membanting Cristal.


Dalam sekejap kami sampai di depan Vila yang ada Tiramisu.


Matahari sudah terbenam saat kami sampai, malam pun tiba.


"Jadi kenapa kau membawa ku ke sini?" Tanya Thinkie, dia terbang di samping kepala ku.


"Saat memasuki Vila kau akan tahu." Aku menajawab nya.


Aku dan Amanda berjalan ke Vila, sedangkan Thinkie hinggap di atas kepala ku. Saat di depan Vila, pintu terbuka dengan sendiri nya, seseorang yang di dalam Vila lah yang membuka kan pintu untuk kami.


Yang membuka kan pintu untuk kami adalah Rabisia.


"Natasha!" Rabisia menatap kami dengan penuh harap.


"Ada apa?"


"Para Vampir yang kau bawa berdebat dengan Lizard, sangat ribut di dalam. Aku sudah mengingatkan mereka tapi mereka tidak mau dengar. Aku takut mereka akan menyebabkan masalah jika perdebatan mereka terus berlanjut."


"Apa yang mereka lakukan!? Ada orang sakit di dalam sini!?"


Aku mendorong Rabisia menjauh dari pintu lalu menerobos masuk ke dalam Vila. Saat masuk, Vila di penuhi dengan suara seperti yang Rabisia sebutkan.


"Diam!" Aku berteriak saat sampai di ruang tengah, tempat itu adalah tempat Lizard dan kawan satu Ras ku berkumpul.


Kawan se Ras ku dan Lizard melihat ke arah ku.


"Apa yang membuat kalian ribut seperti ini!? Kalian tidak tahu kalau Mira masih tidak sadarkan diri!? Biarkan dia beristirahat dengan tenang."


Mereka semua terdiam, lalu mereka duduk di tempat duduk yang tersedia di ruang tengah.


Rabisia datang dengan Amanda yang ku tinggalkan di depan Vila.


"Jadi Rabisia, kenapa mereka berdebat?"


"Me-mereka berdebat menentukan siapa yang akan merawat Nona Mira. Pertama Tuan Lizard mengajukan aku untuk tugas itu, lalu Para Vampir menentang nya, dan mereka mulai mengajukan Vampir perempuan untuk mengurus Nona Mira. Tapi Tuan Lizard menentang nya, dengan alasan bisa saja Para Vampir menghisap darah Nona Mira karena beliau sedang lemah. Dan Para Vampir membantah nya, dan mengatakan 'Kami tidak akan melakukan hal itu!!' Dan perbebatan mereka terus berlanjut."


"Mereka berdebat untuk hal sepele itu!?"


Rabisia mengangguk lalu berkata : "Iya. Mereka berdebat untuk hal sepele itu!"


Aku menghela nafas karena merasa lelah setelah mendengar cerita Rabisia. Mungkin aku salah, bisa saja aku lelah karena berkeliling mencari pertolongan. Aku tidak tahu apa yang menyebabakan aku lelah, intinya saat ini aku di landa rasa lelah yang hebat


"Biar ku beritahu kalian satu hal. Selama aku masih hidup tidak ada yang boleh merawat Mira saat sedang sakit, yang boleh merawat nya adalah aku atau Arisa. Kalian faham?"


Semua orang mengangguk.


"Jadi apa yang aku lakukan di sini? Apakah untuk menonton acara debat?" Tanya Thinkie yang berada di atas kepala ku.


Aku mengambil nya dengan tangan ku, dia memberontak saat ku genggam. Tapi aku mengabaikan itu. Aku menempatkan tangan ku di depan wajah ku, untuk bertatapan langsung dengan Thinkie yang saat ini sedang duduk di telapak tangan ku.


"Bisakah kau menyadarkan seseorang yang terluka akibat kelebihan kekuatan sihir?" Aku bertanya.


"Bisa saja. Memang nya siapa yang terluka?"


"Yang terluka Mira. Dan sekarang dia sedang dalam keadaan tidak sadar. Jadi aku ingin kau menyadarkan Mira."