From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 256 Hari Kedua Invasi



Malam hari setelah penyerangan di kota Paela. Di markas utama pasukan Demon Lord, 100 kilometer di perbatasan antara Benua Chiso dan Benua Yuro, di bagian kanan sungai yang menjadi perbatasan Benua. Berbeda dengan markas pusat pasukan aliansi Benua Yuro dan Benua Silia yang hanya berupa kumpulan tenda, markas pusat Demon berupa sebuah bangunan berbentuk seperti sebuah mansion besar dan indah yang biasa di jadikan tempat para bangsawan tinggal.


Mansion itu tidak di bangun, melainkan di bawa. Lebih tepat nya, mansion itu adalah mansion yang berasal dari benua Chiso yang di pindahkan menggunakan sihir (Teleportation) ke perbatasan Benua. Mansion itu di tempati oleh petinggi-petinggi dari pasukan ras Demon, atau begitulah seharus nya... Sayang nya, kenyataan nya tidak seperti itu. Mansion itu bukan di tempati oleh petinggi-petinggi dari pasukan ras Demon, mansion itu di tinggali oleh tiga orang asing yang saat ini mengendalikan seluruh pasukan Demon. Mereka menyebut diri mereka 'Player.'


Walaupun mereka menyebut diri mereka 'Player' mereka memiliki nama.


Mereka adalah : Bruno, Javelin, dan Siegurd.


Mereka berada di sebuah ruangan, di ruangan itu terdapat sebuah meja bundar, dan mereka duduk mengelilingi meja itu. Di atas meja itu terdapat sebuah benda bulat. Benda itu menunjukkan semua kejadian yang terjadi saat pasukan Demon menyerang kota Paela. Mulai dari pasukan Demon yang membantai penduduk kota, hingga hujan batu dan hujan api yang memusnahkan semua pasukan Demon dan seisi kota, termasuk bangunan dan para penduduk yang tersisa.


"Uwaaah.... Ini sangat mengerikan..." gumam Bruno sambil tersenyum masam saat melihat benda bulat di atas meja.


"Bahkan setelah melihat hal sesadis ini, hati ku tidak merasa kasihan pada mereka... Sudah ku duga, semenjak datang ke dunia ini, rasa keperimanusiaan ku sudah hilang." Kata seorang Elf, dia adalah Javelin.


"Tentu saja kita tidak akan kasihan kepada semua penduduk kota dan semua Demon itu, mereka hanyalah NPC, mereka di ciptakan hanya untuk menghias dunia ini." Balas seorang seorang Pria terhadap perkataan Javelin. Dia adalah Siegurd.


Ketiga 'Player' yang mengendalikan pasukan Demon, memberikan komentar mereka saat melihat pembantaian yang terjadi di kota Paela, menggunakan sebuah benda bulat yang terletak di atas meja bundar. Benda bulat itu adalah Crystal sihir, yang memiliki fungsi menerima visi dan pendengaran yang di kirim oleh familiar. Familiar yang di maksud adalah binatang panggilan yang di panggil menggunakan sihir. Binatang panggilan dapat mengirimkan apa yang mereka dengar, dan mereka lihat kepada pemanggil mereka. Tetapi, dengan Crystal sihir bulat yang terletak di atas meja, binatang panggilan akan mengirimkan visi dan pendengaran mereka ke Crystal sihir sebagai pengganti mengirimkan ke pemanggil mereka.


"Yang lebih penting lagi... Kita dapat melihat pembantaian dari awal hingga akhir, ini sangat aneh menurut ku." Bruno berkata sambil memegangi dagu nya. Ia menemukan keanehan dari situasi yang saat ini mereka alami.


Sebagai tanggapan atas perkataan Bruno, Javelin dan Siegurd mengangguk. Mereka juga menemukan keanehan dari situasi yang saat ini mereka hadapi.


"Apakah ini tanda kalau dia betul-betul melemah? Atau ini adalah bagian dari rencana nya?" Siegurd berkata dengan ekspresi serius sambil memegangi dagu nya. Dia memikirkan berbagai kemungkinan di kepala nya, tetapi karena dia tidak ahli dalam hal itu, ia pun akhir nya menyerah tanpa menemukan jawaban.


"Jika kita bisa melihat semua kejadian melalui Crystal sihir, berarti dia tidak menyadari Familiar ku bukan? Kalau begitu... Dia betul-betul melemah?" Javelin memberikan kesimpulan nya, itu adalah hal yang bisa dia simpulkan melalui fakta yang ada.


"Yah.. Javelin benar." Siegurd memberikan persetujuan atas kesimpulan Javelin. "Jika dia tidak menyadari Familiar yang Javelin kirim, berarti dia memang sudah melemah. Laporan dari Catherin benar ada nya."


"Hmmm....." Walaupun Javelin dan Siegurd sudah memberikan jawaban yang cukup logis, Bruno masih tidak terima. Dia masih memikirkan kemungkinan lain di kepala nya. Dia bergumam, sambil terus menggosok-gosok dagu nya, beripikir keras.


Apakah aku terlalu berpikir berlebihan? Pikir Bruno sambil melihat Crystal sihir dengan tatapan serius.... Tidak. Yang kita bicarakan adalah Mira. Orang terlicik dan terkejam, dari semua orang yang pernah aku temui. Dia pasti sudah menyadari Familiar milik Javelin dan membiarkan nya merekam semua kejadian, untuk menuntun kami berpikir kalau dia sudah melemah, padahal kenyataan nya dia tidak melemah sama sekali. Selama yang kita lawan adalah anak itu, aku harus tetap berhati-hati. Dengan pemikiran seperti itu, Bruno membuka mulut nya, mengemukakan isi pikiran nya.


"Jangan lengah kalian berdua!" Kata nya dengan tegas. "Apakah kalian lupa siapa yang kita lawan?"


Wajah Javelin dan Siegurd yang awal nya lega, berubah menjadi serius. Mereka akhir nya sadar kalau mereka lengah.


"Ya. Kau benar." Kata Javelin. "Selama Mira yang kita lawan kita tidak boleh lengah."


Siegurd pun ikut setuju dengan pemikiran itu, ia menjawab dengan anggukan.


"Kalau begitu, kita mulai rencana selanjut nya." Kata Bruno, memberitahu kedua teman nya. Setelah memberitahu itu, dia menyimpan Crystal sihir di dalam (Inventori) kemudian dia mengeluarkan kapur, lalu menggambar lingkaran sihir di atas meja.


Setelah selesai menggambar lingkaran sihir, Bruno mulai membaca mantra, tetapi sebelum mantra selesai, terdengar suara pintu di ketuk. Bruno pun menghentikan ritual sihir nya dengan perasaan kesal. Javelin dan Siegurd juga ikut kesal, tetapi mereka memendam rasa kesal mereka dan memberikan izin masuk untuk orang yang mengetuk pintu.


Pintu ruangan terbuka, kemudian masuk seorang Demon laki-laki. Dia tidak seperti Demon lain nya yang berbadan besar dan memiliki kepala binatang, dia terlihat seperti seorang Human, hanya saja kulit nya sangat pucat seperti mayat, memiliki tanduk di atas kepala nya, dan sayap burung gagak di punggung nya. Dia adalah Demon Lord.


"Hmm....?"


Saat Javelin, Siegurd dan Bruno mengira Demon Lord datang sendiri, ternyata mereka salah. Setelah Demon Lord memasuki ruangan masuk seorang Demon laki-laki yang penampilan nya sangat mirip dengan Demon Lord, dia adalah anak dari Demon Lord.


"Mengapa kalian ke sini?" Tanya Javelin dengan nada memprovokasi, dan wajah cemberut. Jelas tidak senang dengan kedatangan mereka.


Demon Lord tersentak, wajah nya dalam sekejap di penuhi dengan ketakutan. Keterbalikan dengan Demon Lord, anak nya langsung cemberut, kesal dengan sifat Javelin.


"Sa-Saya membawa laporan...." Dengan Gugup, Demon Lord menyampaikan maksud kedatangan nya. "Pa-Pasukan di Kota Paela sudah di...."


"Eh....?" Bagaimana kalian bisa tahu? Pikir Demon Lord saat laporan nya di potong Siegurd, ia pun bergumam, kebingungan karena tidak menyangka kalau Javelin, Siegurd dan Bruno sudah tahu isi laporan nya.


"Jika hanya itu, segera keluar dari sini! Kami tidak ingin di ganggu." Kata Siegurd mengusir Demon Lord dan anak nya keluar.


"Ba-Baik...." Setelah menjawab, Demon Lord berbalik, pergi keluar ruangan.


"Hentikan sifat lancang kalian!"


Berbeda dengan Demon Lord yang sudah siap untuk keluar ruangan, anak Demon Lord tidak tahan dengan sifat lancang Javelin, Siegurd dan Bruno. Dia pun berteriak kepada ketiga nya, mengeluarkan semua amarah nya. "Berani sekali kalian bersikap seperti itu, dasar Ras lemah! Dan ayah juga, kenapa harus takut kepada mereka! Mereka hanya Elf, dan Human!"


Javelin dan Siegurd saling bertatap-tatapan, Ras mereka memang Elf dan Human, anak Demon Lord tidak salah. Setelah menatap satu sama lain dalam sekejap, Javelin dan Siegurd mengalihkan pandangan ke Bruno... Wajah Bruno datar, tidak memiliki ekspresi. Kenapa Ras Bruno tidak di sebut....? Pikir Javelin dan Siegurd di dalam kepala mereka.


"Kalian mengabaikan ku!?" Anak Demon Lord makin meninggikan suara nya, urat nadi di dahi nya mulai terlihat, dan wajah nya memerah. Tanda ia makin marah. Anak Demon Lord pun berbalik melihat ke arah ayah nya. "Ayah. Aku akan membunuh ketiga nya di sini! Mereka hanyalah Ras Elf dan Ras Human! Mereka Ras lemah! Aku akan membunuh mereka dalam sekejap!"


Mendengar perkataan anak nya, wajah Demon Lord menjadi kaku, ia tidak tahu harus menjawab apa. Anak nya, tidak mengetahui seberapa mengerikan nya ketiga orang yang di hina nya, dia hanya memandang Ras, dia berpikir kalau Ras Demon adalah Ras terkuat, bahkan lebih kuat dari pada Ras Dragon... Demon Lord yang mengetahui betapa bodoh pikiran anak nya, kemudian membuka mulut untuk menghentikan anak nya.


"Hei kau," Sebelum Demon Lord membuka mulut, Bruno membuka mulut nya terlebih dahulu, memanggil anak Demon Lord. "Apa?" Jawab anak Demon Lord. "Menurut mu, apa Ras ku?" Tanya Bruno.


"Huh?" Karena Bruno tiba-tiba bertanya, anak Demon Lord kebingungan harus menjawab nya atau tidak. Bruno mengabaikan kebingungan nya, ia kemudian bertanya lagi. "Apa ras ku menurut mu?"


"Hu-Human...." Jawab anak Demon Lord dengan ragu-ragu... Ia sebenarnya tidak yakin dengan Ras Bruno, tetapi di lihat dari penampilan nya, Bruno memiliki Ras Human. Hanya saja, menilai orang dari penampilan adalah hal yang salah, banyak Ras yang mirip dengan Human, contoh nya saja Elf, Vampire, dan Giant. Kebetulan, Ras Bruno adalah Giant, hanya saja tinggi Bruno jauh di bawah rata-rata Ras Giant lain nya, karena itulah ia sering di salahpahami sebagai Human.


Mendengar jawaban anak Demon Lord, Bruno menghela nafas panjang, dengan perasaan iritasi. Berbanding terbalik dengan perasaan Bruno, Javelin dan Siegurd nampak bahagia dengan kesalahpahaman anak Demon Lord, mereka menunduk, bahu mereka bergetar-getar, dengan tangan menutup mulut, mereka berusaha keras menahan tawa mereka.


"Lancang kalian!" Anak Demon Lord tidak tahan dengan sikap santai ketiga orang 'Player', dia pun berteriak marah, kemudian ia mengeluarkan hawa membunuh, energi sihir nya pun bocor memenuhi ruangan.


Siegurd dan Javelin pun berhenti menahan tawa mereka, wajah mereka berubah serius.


"Jadi bagaimana? Aku tidak ingin buang waktu..." Kata Siegurd setelah menghela nafas panjang.


"Aku bisa saja membereskan nya, tetapi ruangan ini akan penuh dengan bau amis.... Dan di penuhi dengan warna merah." Kata Javelin dengan malas.


"Biar aku yang urus, kalian lanjutkan rencana." Kata Bruno, berdiri dari tempat duduk nya.


Anak Demon Lord, bersiap untuk bertarung. Tetapi, baru hendak ingin menyerang, nafas nya menjadi sesak, tubuh nya kemudian terasa melayang dari tanah.


"Aaakh... Aaakh.... Aaaakh..." Anak Demon Lord berusaha mengambil nafas, tetapi ia tidak bisa. Mata nya pun mulai melihat sekeliling, saat ia melihat ke arah depan, sedikit ke bawah dari pandangan nya, ia melihat Bruno berdiri di depan nya, sambil menjulurkan tangan.... Bruno saat ini sedang mencekik leher anak Demon Lord lalu mengangkat nya.


"Haaaaaah," Bruno menghela nafas... Dengan malas ia berjalan menuju arah pintu, dengan tangan yang masih bebas ia pun membuka pintu. Bruno pun keluar kamar sambil mencekik anak Demon Lord.


Siegurd dan Javelin yang melihat Bruno yang membawa anak Demon Lord, dan Demon Lord yang keluar ruangan, melambaikan tangan, mengucapkan selamat tinggal pada mereka bertiga.


"Baik kita lanjutkan...." Kata Javelin. Siegurd kemudian mengangguk, tanda setuju dengan nya.


Dengan begitu, Javelin melanjutkan apa yang ingin Bruno lakukan sebelum nya. Ia menuangkan energi sihir ke dalam lingkaran sihir yang sudah di gambar Bruno sebelum nya, mengucapkan mantra. Setelah beberapa saat lingkaran sihir bercahaya, Javelin kemudian mengucapkan kata terakhir dari mantra nya. "Summon!"


Cahaya di lingkaran sihir makin terang, kemudian cahaya itu mulai berubah bentuk, menjadi seekor binatang... Setelah beberapa saat cahaya itu meredup, memperlihatkan binatang di tengah lingkaran sihir. Itu adalah merpati dengan bulu putih.


Merpati kemudian terbang ke langit-langit ruangan, lalu merpati berubah menjadi selembar kertas, kertas kemudian jatuh secara perlahan ke atas meja. Javelin mengambil kertas itu, lalu mengambil sebuah pena dan tinta dari (Inventori), setelah itu ia menuliskan surat yang di tujukan kepada Catherine.


Author's Note.


Jika ada kesalahan kata atau kalimat silahkan lapor di kolom komentar, segera akan di perbaiki.