From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 276 Hari Ketiga Invasi XI



"Apa yang di pikirkan laki-laki bodoh itu!? Membuat anak nya sendiri pergi garis depan peperangan! Menjadi bodoh juga ada batas nya!! AKU SUDAH MUAK DENGAN NYA!!!!!"


Saat aku dan Ibu berjalan berdampingan menuju ruang harta, Ibu menanyai alasan ku pulang ke Fantasia. Tentu saja aku menjawab pertanyaan Ibu dengan jujur. Aku menjawab: 'Karena aku di kirim ayah ke garis depan, aku ingin mengambil sesuatu di ruang harta yang bisa membantu ku di peperangan nanti.'


Sebagai seorang Ibu, tentu saja dia marah mengetahui Putri satu-satu nya akan di kirim ke garis depan peperangan, yang sudah jelas sangat berbahaya. Alhasil Ibu pun berteriak, mengutuk pemikiran ayah yang di anggap Ibu sudah kelewat bodoh.


Saat Ibu berteriak, menumpahkan semua amarah nya, para ksatira yang berjaga di istana terkejut, mereka semua bergerak menjauh dari Ibu dengan gerakan tergesa-gesa. Sudah jelas para ksatria takut melihat Ibu marah. Energi sihir yang Ibu keluarkan juga tidak normal, jumlah nya lebih besar dari pada penyihir terkuat di istana.


Berapa Level Ibu sekarang...? Pikir ku saat melihat energi sihir Ibu yang bocor saat dia meluapkan amarah nya.


"Haaaah...." Ibu menghela nafas panjang, mencoba untuk menenangkan diri. "Tidak ada gunanya marah pada laki-laki bodoh itu sekarang." Gumam nya dengan suara pelan, tapi aku masih bisa mendengar suara nya dengan jelas. "Kalau begitu, kita harus mencari Armor terkuat yang bisa melindungi mu Mira!" Kata Ibu kepada ku.


"Memang itu rencana ku." Jawab ku dengan singkat.


Kami terus berjalan di lorong istana, hingga akhir nya kami tiba di ujung lorong. Hanya ada dinding di depan, kami telah sampai di jalan buntu. Aku dan Ibu terus berjalan ke arah dinding, saat kami berada tepat di depan dinding, kami berhenti.


Aku meletakkan tangan kiri ku di dinding, dengan bisikan pelan aku mengucapkan sandi yang ayah beritahu pada ku sebelum pergi ke Fantasia.


Setelah selesai mengucapkan sandi yang amat panjang, dinding yang ku sentuh mengeluarkan cahaya biru pucat, lingkaran sihir muncul, sedetik kemudian lingkaran sihir itu pecah seperti kaca yang di pukul menggunakan palu. Setelah lingkaran sihir pecah, dinding batu solid berubah menjadi pasir kering, pasir kering itu akhir nya roboh, membuka jalan yang awal nya buntu.


Di depan kami terdapat lorong panjang dan gelap. Lorong ini langsung mengarah ke ruang harta.


Aku dan Ibu berjalan melewati tumpukan pasir yang roboh, memasuki lorong gelap. Sesaat kami masuk, pasir di belakang kami mulai membentuk bentuk nya kembali. Pasir berubah menjadi dinding batu solid, menghalangi jalan yang baru saja kami lalui.


Setelah jalan di belakang kami tertutup, langit-langit lorong mengeluarkan cahaya. Cahaya itu berasal dari Crystal sihir yang telah di mantrai dengan sihir (Light).


Aku dan Ibu pun terus berjalan menyusuri lorong hingga akhir nya kami berdua sampai di depan ruang harta.


\*\*\*


Di saat bersamaan Mira dan Carla pergi ke ruang harta, Yuri dan Jack berjalan berdampingan di taman bunga istana.


Tidak ada siapapun di taman bunga, biasanya ada beberapa ksatria dan prajurit yang lewat. Mungkin karena mereka bisa membaca suasana, atau mungkin memang para ksatria dan prajurit jumlah nya sangat sedikit karena sebagian di kirim ke peperangan, membuat taman bunga istana menjadi tempat yang tidak di jaga sama sekali. Alhasil, hanya Jack dan Yuri yang ada di taman bunga saat ini.


Suasana di sekitar mereka terasa canggung, walaupun mereka bertunangan, mereka tidak banyak berinteraksi sebelum nya, mereka juga jarang melakukan pertemuan. Alasan nya sangat sederhana, itu karena Yuri sangat malu saat berada di dekat Jack. Akhir nya Jack pun memutuskan untuk tidak sering mengunjungi Yuri.


Mereka terus berjalan di taman bunga, hingga akhir nya mereka berhenti di salah satu petak bunga. Yuri mendekati petak bunga itu, ia berjongkok, lalu memetik salah satu bunga yang ada di petak itu.


"Hmmm...." Setelah memetik bunga, Yuri menghirup nya, ia kemudian mengeluarkan gumaman imut. "Sudah ku duga bunga ini memiliki bau yang sangat harum." Kata nya dengan suara gembira.


"Heeeh... Apakah bunga itu seharum yang anda katakan Putri Yuri?" Tidak menyadari maksud Yuri yang sebenarnya, Jack mendekati Yuri untuk melihat bunga yang ada di tangan Yuri. Karena tangan Yuri tepat berada di depan wajah nya, Jack pun mau tidak mau harus mendekatkan wajah nya ke wajah Yuri untuk melihat bunga yang di pegang Yuri, akibat Jack yang mendekatkan wajah nya yang tiba-tiba itu membuat Yuri terkejut, wajah Yuri memerah seperti buah apel, ia pun secara reflek menjauh dari Jack.


Jack tersentak karena Yuri yang tiba-tiba menjauh, ia pun segera menyadari kalau perilaku Yuri barusan karena perbuatan nya.


"Ah. Maafkan saya." Kata Jack dengan sopan, meminta maaf ke Yuri.


Yuri menggelengkan kepala nya, dengan terbata-bata ia menjawab Jack. "Ti-Tidak perlu minta maaf." Kata nya dengan wajah yang masih memerah.


Suasana pun seketika menjadi canggung, Jack dan Yuri terdiam, tidak tahu harus berbicara apa. Kemudian, ekspresi Yuri berubah, yang awal nya malu-malu menjadi wajah yang menunjukkan kecemasan. Jack yang tidak tahu kenapa Yuri menunjukkan ekspresi seperti itu kebingungan, ia pun dengan cemas bertanya. "A-Ada apa...?"


".... Apakah Mira, ayah, dan kau bisa pulang dengan selamat?" Setelah di tanya oleh Jack, Yuri tidak langsung menjawab. Ia terdiam sejenak, menggigit bibir nya, dengan wajah sedih. Setelah hampir semenit ia terdiam, barulah Yuri menjawab pertanyaan Jack dengan pertanyaan lagi. Ia bertanya dengan suara serak di penuhi dengan kecemasan, kesedihan, dan ketakutan.


Jack yang mengetahui semua emosi yang tergambar di wajah Yuri, mata nya terbelalak kaget, sekejap wajah nya terdistorsi. Tapi Jack segera menundukkan kepala nya, menyembunyikan ekspresi wajah nya. Ia kemudian mengangkat kepala nya, menunjukkan ekspresi bahagia kepada Yuri, yang sangat jelas kalau ekspresi Jack saat ini palsu. Ia memaksakan diri untuk terlihat bahagia di hadapan Yuri.


"Tenang saja. Kami semua akan baik-baik saja. Selama dua hari ini kami tidak menghadapi masalah sama sekali." Jawab Jack dengan senyum palsu. Jack tahu kalau informasi kekalahan di hari kedua di sembunyikan oleh para petinggi, ia pun mengira kalau Yuri tidak akan tahu kalau pasukan aliansi menderita kekalahan di hari kedua.


"Kau bohong." Kata Yuri. Mata Jack terbelalak ketika mendengar perkataan Yuri, wajah nya seketika langsung memucat. "Tadi malam Ibu pulang ke Fantasia dan mememui Ibunda. Ibu mengatakan kalau pasukan aliansi menderita kekalahan, dan pasukan Demon berhasil memasuki perbatasan. Aku sempat menguping pembicaraan mereka berdua. Alasan Mira pulang hari ini karena ia bersiap-siap maju ke garis depan bukan?" Ibu yang di maksud Yuri adalah Shina dan Ibunda yang di maksud Yuri adalah Carla. Yuri memanggil Carla dengan sebutan Ibunda karena Carla sendiri yang menyuruh Yuri memanggil nya begitu, tapi karena alasan sopan santun, Yuri tidak bisa memanggil Ratu kerajaan dengan sebutan 'Ibu' dan Yuri tidak bisa menolak. Karena menolak perintah dari ratu di anggap lancang, karena alasan itulah Yuri memanggil Carla dengan sebutan 'Ibunda' untuk menambah kesan sopan dan sekaligus tidak di anggap lancang karena menolak perintah ratu.


"Sebelum aku menguping pembicaraan mereka berdua... Aku mendapat mimpi buruk kau tahu..." Dengan wajah sedih Yuri melanjutkan perkataan nya. "Aku bermimpi semua anggota keluarga ku menghilang dalam kegelapan, tidak ada siapapun dalam kegelapan itu... Kemudian, di saat aku berpikir hanya ada aku sendiri di sana, Mira tiba-tiba muncul. Hanya saja dia berada di tempat yang sangat jauh. Sangat jauh sehingga aku tidak bisa mencapai nya. Tidak peduli seberapa keras aku berlari ke arah nya, aku tidak dapat mencapai nya... Saat aku berada di tengah keputusasaan karena tidak bisa mencapai Mira, dia berbalik kemudian berlari mendekati ku. Hanya saja..... Hanya saja, setelah aku berhasil mencapai Mira, kata-kata yang pertama kali dia ucapkan kepada ku adalah selamat tinggal. Setelah ia mengucapkan kata-kata itu, Mira pun ikut menghilang di tengah kegelapan seperti yang lain nya. Hanya meninggalkan ku sendiri."


Yuri menceritakan mimpi nya kepada Jack dengan wajah di penuhi ketakutan. Ia agak kesusahan menceritakan mimpi nya kepada Jack, nafas nya terengah-engah saat sampai di tengah cerita. Tapi berkat usaha nya meredam rasa takut nya, Yuri pun berhasil menceritakan mimpi nya kepada Jack.


Jack menatap lurus ke wajah Yuri, ia dapat memahami dengan jelas perasaan Yuri dari raut wajah nya. Ia juga tahu kalau emosi Yuri saat ini sedang tidak stabil, itu semua terbukti dari mata emas nya yang mengeluarkan cahaya. Walaupun saat ini mereka di tempat terang, Jack masih bisa melihat mata Yuri yang mengeluarkan cahaya.


"Setelah mendapat mimpi itu," Yuri melanjutkan perkataan nya dengan suara pelan, tidak bertenaga. "Aku mulai cemas. Aku mulai berpikir apakah mungkin keluarga ku saat ini sedang menghadapi sesuatu yang sangat berbahaya, dan akhir nya mimpi ku menjadi kenyataan. Aku mendengar Ibu dan Ibunda berbicara mengenai peperangan pada hari kedua Invasi kemarin... Jack... Apakah kalian benar-benar akan kembali setelah perang selesai?" Yuri bertanya lagi kepada Jack. Ia menatap lurus ke arah mata Jack, ia menunggu jawaban Jack dengan wajah serius. Ia ingin Jack menjawab pertanyaan nya dengan jujur.


"....." Jack tidak langsung menjawab, ia memejamkan mata nya, menarik nafas dalam-dalam, kemudian tangan nya bergerak, menyentuh pipi kanan Yuri dengan lembut. Yuri tidak melawan, dan ia juga tidak memerah saat Jack memegang pipi nya, ia hanya menatap lurus ke arah mata Jack.


"Pasti akan kembali!" Jack menjawab pertanyaan Yuri dengan wajah serius. "Aku bersumpah... Aku akan membawa kembali keluarga Putri Yuri. Aku akan membawa kembali Yang Mulia, dan Putri Mira dengan selamat... Aku bersumpah!"


Mendengar perkataan Jack, Yuri akhir nya bisa tenang. Ia tersenyum bahagia, dengan mata nya yang berkaca-kaca seperti hendak menangis. Tapi perkataan Jack belum selesai sampai di situ, ia melanjutkan perkataan nya. "Lalu setelah aku berhasil kembali... Aku ingin menikahi mu!"


Yuri memejamkan mata nya, dengan tenang ia menjawab. "Ya."


Setelah mendapatkan jawaban Yuri, Jack menyentuh pipi kiri Yuri dengan tangan nya yang satu lagi. Yuri nampak terkejut dengan gerakan Jack yang tiba-tiba, tapi ia tidak melawan. Jack kemudian memejamkan mata nya, membawa wajah nya mendekat ke wajah Yuri. Yuri juga ikut memejamkan mata nya, membiarkan Jack melakukan apa yang ingin ia lakukan. Jack terus mendekatkan wajah nya, hingga akhir nya hidung mereka hampir bersentuhan. Jack pun perlahan-lahan mendekatkan bibir nya ke bibir Yuri, perlahan tapi pasti bibir Yuri dan Jack terus berdekatan, hingga akhir nya bibir mereka pun bersentuhan.