From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
chapter 43 sebelum penyelamatan ke empat putri



Beberapa jam sebelum pasukan kerajaan pergi menyelamatkan ke empat putri. Charles sedang tidur di kasur kamar Carla, Charles sedang menunggu Carla memasuki kamarnya.


Beberapa menit kemudian pintu kamar di buka, kemudian masuk seorang wanita berambut panjang berwarna perak.


"Carla. Akhirnya kau datang juga, maafkan aku karena sudah mengusir Mira. Kemarilah dan peluk aku." Kata Charles sambil membentangkan tangan nya.


Mendengar perkataan Charles, Carla langsung menutup pintu dengan keras, hingga mengeluarkan suara keras.


Melihat perilaku Carla, Charles beranjak dari tempat tidur. "Apakah kali ini aku mengambil keputusan yang salah?" Gumam Charles.


 


\\*


 


Setelah menutup pintu Carla pergi meninggalkan kamarnya, Carla pergi dengan perasaan kesal. Wajah Carla memerah karena ia sedang marah.


"Kau kira aku bisa memaafkan mu setelah mengusir anak ku satu-satunya." Gumam Carla.


Saat Carla berjalan Carla bertemu dengan Shina. Shina langsung menunduk saat bertemu dengan Carla.


"Yang Mulia, anda kenapa?" Tanya Shina.


"Aku tidak apa-apa." Jawab Carla.


"Begitu ya."


Percakapan mereka selesai. Kemudian Shina menatap ke arah Carla, mereka berdua bertatapan selama beberapa detik, suasana canggung pun sangat terasa di sekitar mereka.


"Kalau begitu aku pergi dulu Shina." Kata Carla sambil melambaikan tangan ke arah Shina.


Saat Carla hendak pergi, Shina memanggil Carla. "Yang mulia tunggu!!" Shina memegang pergelangan tangan Carla. "Jika anda memiliki waktu? maukah anda menemani saya berkeliling halaman istana?" Sambung Shina.


"Baiklah aku akan menemanimu. Kebetulan aku sedang bosan." Jawab Carla.


Mereka berdua pun berjalan menuju halaman istana. Saat mereka di halaman istana, Shina mengajak Carla pergi ke kebun bunga yang letak nya tidak jauh dari halaman istana. Kemudian Shina mengajak Carla pergi ke pondok yang ada di tengah-tengah kebun bunga.


 


\\*


 


Charles beranjak dari tempat tidurnya, kemudian Charles keluar kamar. Charles berjalan-jalan berkeliling istana, Charles berkeliling sambil memikirkan sesuatu.


Apa yang harus ku lakukan supaya Carla mau memaafkan ku. Pikir Charles. "Sebenarnya aku sudah tau caranya agar Carla memaafkan ku." Gumam Charles. Aku hanya perlu memulangkan Mira ke kerajaan. Tapi aku tidak bisa melanggar peraturan yang di buat turun temurun. Pikir Charles.


Charles berkeliling di istana dengan perasaan resah, Charles menyesali perbuatan nya karena telah mengusir Mira. Tapi di sisi lain Charles tidak bisa melanggar peraturan dari leluhurnya.


"Lebih baik aku keluar mencari udara segar."


Charles pun memutuskan pergi keluar istana. Saat di luar Charles berkeliling di halaman, Charles berkeliling sambil menyapa para prajurit yang sedang berjaga di halaman istana. Saat Charles mendekati prajurit yang berjaga, para prajurit itu langsung berlutut di hadapan Charles.


"Yang Mulia. Kenapa anda kemari?" Tanya salah satu prajurit.


"Aku sedang berjalan-jalan. O iya. Kalian melihat Carla?"


"Ratu Carla sedang bersama Selir Shina di taman." Jawab Prajurit.


Mendengar hal itu Charles langsung bergegas pergi menuju taman tempat Carla berada.


 


\\*


 


"Yang Mulia anda kenapa?" Tanya Shina.


"Sudah ku bilang kan. Aku tidak apa-apa." Jawab Carla.


"Anda tidak bisa berbohong yang mulia! Anda mengkhawatirkan Mira kan?"


Carla tidak menjawab perkataan Shina. "Saya juga seorang ibu. Jadi saya bisa tahu bagaimana perasaan anda." Sambung Shina.


"Kau sendiri Shina. Apakah kau tidak khawatir? Saat ini Yuri sedang pergi keluar istana. Apakah kau tidak khawatir?"


"Jika saya menjawab saya tidak khawatir, maka itu adalah sebuah kebohongan. Saya sangat mengkhawatirkan Yuri, Yuri itu tidak bisa apa-apa. Saat Yuri masih kecil, Yuri di jauhi oleh saudaranya yang lain, karena dia tidak bisa apa-apa. Tapi saat Mira lahir, Yuri mulai latihan memanah. Dia bilang ingin terlihat keren di mata adik nya. Saat melihat itu saya menjadi sangat senang. Dan pada saat tes bakat ternyata Yuri memiliki Class Archer. Hal itu membuat saya bangga." Shina masih terus melanjutkan ceritanya tentang Yuri.


Mendengar cerita Shina, Carla menatap ke arah Shina sambil tersenyum.


"Maafkan saya. Saya terlalu banyak bicara." Kata Shina.


"Tidak apa-apa. Aku senang mendengar cerita tentang Yuri. Yuri itu sudah kuanggap sebagai anak ku. Bahkan dia memanggil ku Bunda. Sebelum Mira lahir, aku juga sering bicara dengan Yuri. Dan saat Mira lahir, aku tidak menyangka kalau Yuri menjadi sangat dekat dengan Mira. Tapi sekarang mereka semua sudah pergi dari istana. Aku tidak mengira kalau akan terjadi secepat ini. Dan untuk Mira, padahal dia baru berapa hari sadar setelah tidak sadarkan diri selama sepuluh bulan, tapi Charles malah mengusir nya, padahal Mira masih anak kecil. Apa sih yang dipikirkan orang tua itu."


Carla terus mengucapkan kata kasar kepada Charles. Lalu beberapa saat kemudian Carla mulai menangis. "Mira, saat ini kau sedang apa? Ibu mu ini sangat khawatir kepadamu." Gumam Carla.


Melihat Carla yang menangis Shina memeluk Carla. "Sialan kau Charles. Kenapa.. Kenapa.. Kenapa... Kau harus mengusir Mira... Dia juga anak mu kan.... Tapi kenapa kau tega mengusir nya..." Kata Carla sambil di pelukan Shina.


"Tenang lah yang Mulia. Aku yakin Mira baik-baik saja. Anak itu lebih pintar dari ke empat saudari nya yang lain. Aku yakin dia akan baik-baik saja." Kata Shina sambil mengelus kepala Carla.


Saat mereka berdua mengobrol, mereka tidak sadar kalau Charles menguping pembicaraan mereka.


Charles sedang berdiri di belakang pondok, Charles mendengar semua perkataan Carla dan Shina. Melihat Carla menangis Charles langsung pergi dari situ dan bergegas pergi kembali ke istana.


Saat di jalan Charles berfikir. Aku tidak menyangka Carla akan menjadi sebenci itu kepadaku, apakah aku harus memulangkan Mira? Pikir Charles.


"Tidak, aku tidak boleh terbawa oleh perasaan bersalah ini. Aku tidak boleh melanggar peraturan yang sudah di buat oleh para leluhur. Aku harus tetap mematuhinya walaupun aku di benci dengan wanita yang aku cintai. Dan walaupun itu harus mengusir anak ku sendiri. Aku harus tetap mematuhi peraturan leluhur." Guman Charles.


Charles berjalan menuju istana, saat berada di depan pintu masuk istana, datang seorang prajurit.


"Yang Mulia!!" Prajurit itu berteriak dari kejauhan. Saat sampai di depan Charles prajurit itu langsung berlutut. "Yang Mulia, saya membawakan surat."


"Surat? Surat dari siapa?" Tanya Charles.


"Tidak tahu. Surat ini tadi di berikan oleh seseorang berjubah hitam. Dia bilang raja akan menyesal jika tidak membaca suratnya. Karena itu saya bergegas membawa surat ini kepada yang mulia." prajurit menyodorkan surat nya ke Charles.


"Aku akan menyesal jika tidak membacanya? Sebenarnya apa isi surat itu?"


"Saya tidak tahu. Surat ini tidak bisa di buka. Kata orang yang memberikan nya, surat ini hanya bisa di buka oleh yang mulia."


Mendengar perkataan prajurit Charles mengambil surat itu, saat Charles menyentuh surat itu, tiba-tiba muncul lingkaran sihir di amplop surat itu. Kemudian surat itu terbuka dengan sendirinya.


Setelah amplop yang menutup surat terbuka, Charles langsung mengambil surat yang terletak di dalam amplop itu. Kertas itu terlipat dengan rapi saat di keluarkan dari amplop.


Charles membuka lipatan surat itu kemudian Charles membaca surat nya.


"Semua Putri mu sudah ku culik, jika kau ingin Putri mu selamat kau harus turun tahta dan membuat kerajaan Fantasia menjadi republik Fantasia." itulah yang tertulis di surat itu.


Setelah Charles membaca seluruh isi surat. Surat itu tiba-tiba terbakar habis, tanpa menyisakan apa pun bahkan abu nya juga ikut terbakar.


"Apa-apaan surat itu. Surat konyol." Gumam Charles.


Charles langsung pergi memasuki istana, setelah masuk ke dalam istana, Charles pergi keluar istana lagi. Kemudian Charles memanggil prajurit yang membawa surat.


Dengan cepat prajurit itu mendatangi Charles.


"Ada apa yang mulia?" Tanya prajurit.


"Sekarang cepat kau kumpulkan pasukan sebanyak-banyak nya. Kemudian suruh mereka berkumpul di depan gerbang istana."