
"Ini belum di umumkan, tetapi sebulan lagi akan ada perang."
Sebulan lagi...? Bukan nya itu bertepatan dengan pernikahan Kak Yuri!? Pikir ku. Saat aku berpikir seperti itu, Ayah berbicara lagi.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan, perang itu terjadi di saat bersamaan dengan pesta pernikahan Yuri... Mengingat saat itu akan terjadi perang, pesta nya sudah pasti di batalkan."
"Tu-Tunggu dulu... Kita akan berperang!? Siapa yang kita lawan!? Dan juga kenapa ayah diam saja tentang masalah genting ini!?" Aku kehilangan ketenangan ku, dan bertanya pada ayah dengan suara keras dan bernada tinggi. Ayah langsung menaruh jari nya di mulut nya, lalu bergumam "Ssst!" Menyuruh ku untuk diam! Aku menghela nafas, menenangkan diri, kemudian menanyakan hal yang sama pada ayah.
"....Sebelum aku menjawab itu. Aku ingin memberitahu mu tentang inti dari pertemuan yang di adakan di kerajaan Animalia... Inti dari pertemuan itu adalah, Demon Lord ingin menyerang Benua Yuro... Sampai sini, kau bisa menyimpulkan sendiri kan?"
".....Ya...."
Baiklah. Jadi pertemuan mendadak yang di adakan waktu acara pernikahan itu untuk membentuk aliansi antara Benua Yuro dan Benua Silia, kita juga tidak bisa menolak ya... Jika Benua Yuro kalah dari pasukan Demon Lord dari Benua Chiso, target selanjut nya adalah Benua Silia. Dan untuk kepetingan benua masing-masing Benua Yuro dan Benua Silia memutuskan untuk kerja sama ya...
"Tetapi, kenapa ayah masih diam sampai sekarang tentang masalah ini?"
"...Sejujur nya aku kurang yakin tentang masalah Demon Lord ingin menyerang Benua Yuro." Ayah terdiam sejenak, sebelum akhir nya menjawab ku, tangan nya di taruh di dagu, dengan ekspresi bermasalah dia menjawab ku.
"Hah? Kenapa begitu?"
"Kau tahu... Mereka mengetahui hal itu dari lamaran... Ramalan itu berkata, seribu tahun mendatang para Demon akan menyerang Benua terbesar di seluruh dunia... Dan seribu tahun yang di maksud
"Mereka tahu dari ramalan? Bukan dari deklarasi perang?"
Ayah mengangguk menjawab pertanyaan ku.
"Ku pikir, para Demon mendeklarasikan perang... Kalau begitu, bukankah masih terlalu cepat menyimpulkan kalau akan ada perang?"
"Begitulah... Hanya saja kita harus bersiap-siap, kalau memang perang sudah pasti terjadi, dan pasukan Demon membuat pergerakan Kerajaan Animalia pasti menghubungi kita."
"Begitu ya..." Jadi jika semua nya sudah betul-betul jelas, barulah ayah mengumumkan tentang masalah ini ya... Lalu kenapa ayah memberitahu ku terlebih dahulu. Saat aku menanyakan hal itu pada nya, dia menjawab:
"Bukan hanya kau yang ku beritahu terlebih dahulu, Shina juga aku beritahu masalah ini kemarin. Jika memang terjadi perang, memang dia yang paling bisa di andalkan. Kau tahu kan, kerajaan Fantasia selalu menang dengan strategi yang di buat nya."
"...Ya aku tahu itu. Tetapi kenapa aku? Apakah ada alasan, kenapa aku di pilih sebagai asisten Selir Shina?"
"Dari semua anak ku, kau adalah yang paling cerdas, dan berjiwa kepemimpinan, kau sangat cocok dengan posisi itu. Shina juga sangat cerdas, hanya saja dia masih terlalu naif. Dia tidak bisa membuat rencana tanpa mengorbankan sesuatu, tetapi kau berbeda, kau bisa mengorbankan segala nya demi satu tujuan. Karena itu aku memilih mu."
"....Ayah baru saja membuat ku seperti seseorang berdarah dingin barusan... Yah, ku akui, ayah memang benar masalah itu."
Ayah mengetahui sifat ku mengenai masalah itu, melalui suatu kejadian. Saat itu sebulan setelah aku memerintah kota Cocoa, ada seorang bandit yang menyandra anak seorang bangsawan dan pelayan nya. Saat itu, ayah dari anak itu meminta kami untuk menyelamatkan anak nya, tidak dengan pelayan nya. Hanya anak nya saja.
Selir Shina di tugaskan untuk membuat rencana pada saat itu, tetapi karena hati baik nya, Selir Shina membuat rencana untuk menyelamatkan kedua nya. Tetapi rencana itu sangat beresiko. Jika gagal mereka berdua akan mati, dan peluang sukses nya sangat kecil. Tentu saja, bangsawan itu tidak mau rencana Selir Shina di jalankan, tetapi tidak ada yang tahu lagi rencana seperti apa yang bisa menyelamatkan anak bangsawan itu. Sampai akhirnya aku angkat bicara, memberitahukan rencana ku, peluang sukses nya cukup tinggi, tetapi rencana ku harus mengorbankan si pelayan agar sukses, dan jika rencana ku gagal, si anak dan pelayan tidak akan dalam bahaya. Bangsawan itu langsung menyetujui rencana ku. Tetapi, Selir Shina, Kak Yuri dan Ibu tidak menyetujui nya. Mereka berkata itu terlalu kejam untuk si pelayan. Keputusan akhir, jatuh ke ayah. Dia pun memutuskan dengan berat hati, untuk tidak menggunakan rencana ku dan menggunakan rencana Selir Shina. Karena peluang sukses rencana Selir Shina sangat kecil, aku sampai mengirim Arisa untuk membantu menyukseskan rencana itu melalui bayang-bayang.
Semenjak hari itu, jika terjadi suatu masalah, ayah akan meminta ku atau Selir Shina untuk membuat rencana menyelesaikan masalah yang ada. Dan sekarang ayah ingin aku menjadi Asisten Selir Shina dalam menyusun strategi saat perang nanti... Aku tidak berpengalaman masalah itu, tetapi kederangan nya menarik. Aku pun memutuskan untuk menerima nya.
"...Baguslah. Jika ada sesuatu yang tidak bisa di selesaikan Shina, aku ingin kau menyelesaikan nya nanti."
"Baik. Dan juga, aku ingin di berikan hak untuk memimpin satu regu pasukan terdiri dari seratus orang."
"Boleh saja. Akan ku siapkan nanti."
"Tidak. Tidak perlu! Aku memiliki pasukan sendiri. Aku ingin ayah memberikan izin pasukan ku bergerak sendiri di medan perang nanti."
"Baiklah... Ku berikan izin, tetapi untuk apa pasukan berjumlah sedikit seperti itu."
"...Jika nanti, Selir Shina masih ngeyel menjalankan recana yang beresiko membahayakan pasukan kita dan tidak mau menerima saran dari ku. Aku ingin menggunakan pasukan ini untuk menjalankan rencana ku secara rahasia tanpa di ketahui Selir Shina."
"Oh... Bagus juga pemikiran mu. Tetapi, rencana seperti apa yang bisa membahayakan pasukan kita?"
"Sebagai contoh... Jika ada satu kota yang di jadikan sandra oleh pasukan Demon, yang membuat pasukan kita tidak bisa apa-apa selain menonton, apa yang akan di rencana Selir Shina?"
"Aku yakin dia akan menyelamatkan mereka..."
"Betul. Tetapi bisa saja kota yang di sandra itu adalah jebakan untuk membunuh pasukan kita secara sekaligus."
"Memang benar...."
"Dan di situlah pasukan yang ku perintah masuk. Jika kota yang di sandra itu adalah jebakan, aku hanya perlu memusnahkan nya dengan penduduk nya sekaligus... Dan dengan begitu, pasukan kita bisa selamat, tetapi para penduduk kota yang tidak bisa bertarung yang akan mati. Lebih menguntungkan yang mana?"
"Hmmm.... Kau memang benar. Lebih baik mengorbankan penduduk satu kota yang tidak bisa berperang dari pada mengorbankan satu pasukan yang bisa berperang... Tetapi, rasanya sangat kejam."
"Kita perlu mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu. Jika kita ingin meraih kemenangan, kita perlu mengorbankan pasukan dan warga kita, begitulah perang ayah."
Pembicaraan pun selesai... Aku pergi keluar dari ruang kerja ayah.
Waktu terus berlalu, hingga akhir nya tinggal seminggu lagi perang akan di mulai. Saat itulah, pasukan Demon membuat pergerakan, menandakan ramalan tentang perang itu benar adanya. Ayah pun mengumumkan tentang perang itu ke warga kerajaan Fantasia. Dan seperti biasa nya dalam peperangan, pengumuman ayah membawa ketakutan, dan kecemasan untuk penduduk kerajaan.
------------------------------------------------------------------------
Author's Note.
Bila ada kesalahan ketik. Mohon beritahu di kolom komentar! Nanti saya perbaiki.
Sekian dan Terima kasih!