
Setelah pelayan membawakan makanan, aku mengeluarkan meja kecil dari (Inventory) untuk pelayan tersebut menaruh makanan. Setelah menaruh makanan, pelayan itu membungkuk kemudian pergi keluar kamar.
"Kalau begitu, aku juga pergi."
"Eh, Mira di sini aja."
"Kalau terlalu banyak orang di sini bakal berisik kan? Itu akan mengganggu. Aku ingin Kak Rosa beristirahat."
"Begitu ya."
"Kalau begitu, Kak Rosa cepat sehat. Kak Yuri tolong jaga Kak Rosa."
Kak Rosa menjawab "Terima kasih" dengan suara pelan, dan Kak Yuri menjawab "serahkan padaku!" aku tersenyum menjawab mereka, kemudian pergi keluar kamar.
Saat di luar, aku berjalan menuju kamar dengan langkah pelan, saat itu aku mendapat kan (Telephaty) dari Arisa.
"Kak Mira jangan-"
"Arisa! Kenapa!?"
Arisa tidak menjawab, atau lebih tepat nya dia menutup (Telephaty) secara tiba-tiba. Tapi dari intonasi suara nya, aku yakin dia mendapatkan masalah. Karena penasaran, aku menghubungi Natasha melalui (Telephaty).
"Kenapa Mira?"
Suara Natasha langsung muncul di kepala ku.
"Kau ada di mana sekarang?"
"Aku sudah terbang menuju Kerajaan Eurasia bersama para Vampir dan Jack."
"Kau sudah berangkat sekarang!? Ini masih siang!"
"Rencana nya kami akan menemui Joshua dan Alex untuk membantu kami dalam menjalankan rencana. Dengan bantuan petinggi negara, pasti mereka bisa menyembunyikan bukti tentang kami yang akan menghancurkan Gereja penyembah Pierot."
"Aku tidak menyuruh kalian melakukan itu! Jangan sembarang bergerak! Kita belum mengetahui kekuatan musuh!"
"Tapi apakah mereka sekuat itu, menurut ku-"
"Jangan sombong Natasha! Aku tahu kalian pasti bisa menghabisi mereka, tapi bagaimana jika mereka memiliki senjata rahasia yang dapat mengalahkan kalian! Lakukan apa yang ku perintahkan, dan berhenti mengusik mereka! Kau dengar!"
Saat aku memarahi Natasha, aku sampai di kamar, aku membuka pintu kamar. Lalu masuk. Dan sesuatu yang tidak terduga terjadi di dalam kamar ku.
"Kami sudah menunggu mu, iblis perak."
Di dalam kamar ku, terdapat banyak lingkaran sihir (Gate) aku sudah melihat nya sekali, jadi aku tahu. Lalu banyak orang berjubah hitam menggunakan tudung menutupi wajah mereka. Dan yang jadi perhatian ku adalah.....
"Arisa!"
Arisa sedang di cekik dan di angkat ke udara oleh seseorang berjubah dengan badan besar dan tinggi.
"Ada apa Mira!?"
Suara (Telephaty) dari Natasa terdengar di kepala ku.
"Maaf, aku tutup sebentar. Intinya jangan melawan kelompok agama Pierot! Kau faham!?" aku menjawab Natasha dengan (Telephaty) tanpa membuka mulut ku untuk berbicara, aku berbicara melalui pikiran.
"Tunggu, apa yang terjadi di sana!? Mira kau dengar!? Mira-"
Aku langsung menutup (Telephaty)
"Bagaimana kalian masuk..... Seperti nya tidak perlu di tanya."
"Kau terlihat tenang dalam kondisi seperti ini. Seperti yang di harapkan dari entitas dari kejahatan, iblis perak. Dengan perintah terakhir pendeta Gaztor, kami akan menjadikan mu persembahan untuk membangkitkan Dewa Pierot!"
"Bisakah kalian melakukan itu?"
Aku memunculkan sepuluh (Fire Ball) di belakang ku.
"Ku mohon jangan menggunakan sihir, bagaimana jika-"
Tanpa mendengar peringatan nya, aku menembakkan (Fire Ball)
"Dengarkan kami bicara, bagaimana jika bawahan mu terkena? Kau harus berterima kasih karena menyelamatkan nya."
"Dia bukan lagi bawahan ku, dia hanyalah beban. Dan beban harus di singkirkan."
Aku menembakkan (Fire Ball) lagi, lalu seseorang yang memegang Arisa, maju kedepan dan menjadikan Arisa sebagai perisai daging. (Fire Ball) ku terkena punggung Arisa, (Fire Ball) meledak, Arisa pun berteriak sangat keras hingga memekakkan telinga.
"Kau yakin membiarkan nya berteriak, jika seperti itu para prajurit akan datang kesini kau tahu." Kata ku sambil tersenyum percaya diri.
"Ruangan ini sudah saya jadikan kedap suara. Jadi jangan khawatir. Dari pada itu, seperti yang di duga dari entitas dari kejahatan kau membuang bawahan mu begitu saja." Balas nya dengan suara ringan, seakan-akan dia gembira melihat ku menembak Arisa.
"Sayang sekali, aku bukan orang sebaik itu. Dan juga, kalian yakin ingin membangkitkan Dewa kalian dari entitas kejahatan seperti ku? Bukankah nanti dewa kalian akan menjadi jahat juga."
"Tidak masalah, karena semua kejahatan dalam diri mu akan menghilang saat kami membangkitkan Dewa Pierot."
"Begitu ya....."
Sial. Mengalahkan mereka adalah hal yang mudah. Yang merepotkan adalah, mereka menahan Arisa. Walaupun aku mengatakan akan membuang Arisa, aku tidak bisa melakukan hal itu. Aku tidak segan menembakkan (Fire Ball) karena, aku tahu Arisa bisa menyembuhkan diri nya sendiri. Jika itu sihir lemah, Arisa pasti bisa menahan nya. Tapi jika aku menggunakan sihir kuat......
Arisa mungkin mati!
Yah, walaupun mereka juga akan mati.
"Seperti nya pikiran ku salah." kata pemimpin orang berjubah.
"...... Apa maksud mu?"
"Tenyata kau menahan diri. Aku benarkan?"
"Hoooooo. Apa yang membuat mu berfikir seperti itu?" Sialan! Aku ketahuan! Padahal aku sudah menggunakan Poker Face.
"Kau adalah pembunuh Dewa kami, seharus nya kekuatan mu tidak seperti itu."
"Dewa kalian mati!?"
Aku tidak sengaja nyengir.
"Berani nya kau!!"
Ah, seperti nya dia marah.
Ini bukan salah ku.... Aku tidak bermaksud menghina dewa mereka. Habis nya, coba pikir. Mereka menyembah sosok yang sudah mati! Itu aneh kan. Penyembah nya masih hidup sedangkan yang di sembah mati. Bagaimana orang mati mengabulkan doa orang yang masih hidup. Dan mereka mencoba menghidupkan dewa mereka, sejak kapan dewa atau tuhan atau apalah itu nama nya meminta tolong pada para penyembah nya. Yang masih mengikuti agama Dewa Pierot benar-benar orang bodoh. Lupakan hal itu, saat ini Arisa lebih utama. Apa yang harus ku lakukan...... Apakah aku harus menghentikan waktu?
Jika bisa aku tidak ingin menggunakan nya, karena berdampak besar bagi tubuh ku.
"Seperti nya kami memang harus menggunakan hidup kami untuk menangkap mu, iblis perak!"
"Coba saja. (Flashbang!)"
Aku menggunakan sihir cahaya untuk membuat bom cahaya yang dapat mengganggu penglihatan sebentar, aku akan menggunakan kesempatan itu untuk mengambil Arisa kembali.
Tetapi........
Sebelum bom cahaya mengeluarkan cahaya terang, bom cahaya menghilang.
"!?" Aku terkejut karena sihir ku tiba-tiba menghilang. Tetapi, sekali lagi aku menembakkan sihir yang berbeda.
"Boulder!"
Kali ini aku mencoba sihir bumi dan menciptakan batu besar. Tapi batu itu pecah berkeping-keping.
"Wind Cutter!"
Aku mengayunkan tangan kiri dari bawah ke atas untuk menciptakan pisau angin, tapi kali ini angin tajam yang biasa keluar dari ayunan tangan ku tidak muncul.
"Kenapa....."
"Kami menggunakan nyawa kami untuk menyegel sihir mu. Itu juga cara kami bisa mengalahkan bawahan mu. Itu sangat susah kau tahu, setengah dari kami langsung lenyap saat menahan sihir terkuat nya...... Sekarang kemenangan ada di tangan kami."
Saat dia mengatakan itu, kesadaran ku langsung menghilang.