From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 150 Arisa dan Jack sampai di Kota Banitza.



Author's Note.


Saya sudah memperbaiki Chapter 1-42, saya memperbaiki kesalahan ketik dan mengubah sedikit alur yang tidak sesuai.


Tapi tenang, perubahan alur cerita tidak akan berpengaruh pada cerita kedepan nya.


Yang saya rubah alur ceritanya adalah. Bagian kutukan budak darah Natasha.


Saat Natasha memberikan kutukan budak darah kepada Mira, kutukan itu malah berbalik terkena ke Natasha.


Sebelum nya, kutukan itu berbalik di karenakan Level Natasha yang lebih rendah dari Mira. Tapi kemudian saya mengubah nya, menjadi kutukan itu berbalik ke Natasha karena Super Magic Mira. Super Magic yang di gunakan adalah The Golden Punishment.


Hanya itu yang saya rubah.


Jika masih ada kesalahan ketik atau ada kata-kata yang hilang, silahkan lapor di kolom komentar. Saya akan segera memperbaiki nya.


Silahkan menikmati Chapter 150!!


-------------------------------------------


"Kau faham Mira?!"


"I-iya. Aku faham."


Ayah membentak ku. Di dalam kamar ku, aku duduk di kasur, tertunduk saat di marahi oleh ayah.


Di sini ada Ayah, Ibu dan Natasha yang berdiri diam di pojok ruangan.


Setelah aku mencoba kekuatan baru ku, aku di panggil ke kamar dan dimarahi sampai sore. Saat ini telinga ku sudah panas mendengar omelan dari ayah. Ibu hanya tersenyum saat aku di marahi.


Ayah menghela nafas. "Sudahlah. Aku harap kau tidak melakukan hal seperti itu lagi. Jadikan ini pelajaran! Kau faham Mira?!"


"A-aku faham."


"Sudahlah Charles. Kau sudah memarahi Mira dari tadi siang, aku yakin Mira sudah menyesali perbuatan nya." Ibu membela ku.


"Baiklah kalau begitu. Mira, pergi keruang makan sekarang! Sebentar lagi waktu makan malam."


"Ba-baik!"


Ayah keluar kamar, Ibu mengikuti di belakang nya. Saat Ibu sampai di depan pintu, Ibu berhenti dan menatap ku.


"O. iya, Mira. Kamu jangan banyak makan, kalau kamu terlalu banyak makan, kamu akan menjadi gemuk. Nanti, tidak akan ada laki-laki yang mau dengan mu."


"Baik bu!"


"Dan juga, jangan menyuruh pelayan untuk mengambil makanan di tengah malam lagi. Kau faham?"


"Baik bu.... Tunggu dulu! Apa maksud-"


"Kalau begitu, Ibu tunggu di ruang makan."


Sebelum aku selesai bicara, Ibu sudah pergi dari kamar ku.


Saat 2 orang superior keluar dari kamar ku, Natasha mendekati ku. "Mira, kau ada menyuruh pelayan mengambil makanan?"


Aku menggelengkan kepala ku. "Tidak ada. Aku bahkan tidak pernah bangun tengah malam."


Tidak pernah bangun tengah malam kau bilang? Kau hampir tiap hari bangung tengah malam. Natasha memprotes pernyataan Mira di pikiran nya.


"Kalau begitu, siapa yang menyuruh pelayan mengambil makanan di tengah malam?"


"Entahlah, aku juga tidak tahu."


 


\*


 


Kembali pada pagi hari, di Kota Banitza.


Arisa dan Jack memakan makanan yang di bawakan pelayan ke mereka sampai habis. Setelah makanan habis, mereka meminum Susu Coklat dengan satu tegukan.


"Ini aneh..." Jack bergumam sambil menempelkan wajah nya di meja. "Bagaimana bisa?! Bagaimana bisa makanan Bar seenak ini?! Ini seharusnya makanan Restoran bintang 5 kan?"


"Kau benar, Kota ini sangat aneh." Kata Arisa sependapat dengan Jack.


"Ini Tagihan nya." Pelayan datang dengan membawa kertas. Di sana tertulis biaya makanan.


Arisa melihat dengan seksama kertas itu.


"Apakah ini benar harganya?" Arisa bertanya setelah membaca.


"Kenapa? Apakah terlalu mahal? Tapi ini harga normal di kota ini."


"Tidak bukan itu. Aku bertanya maksud nya, apakah ini tidak terlalu murah? Padahal ini makanan kelas atas."


"Saya merasa tersanjung anda berkata seperti itu." Seakan-akan sudah mendengar lama percakapan Arisa dengan Pelayan, seorang pria yang berada di dapur keluar mendatangi Arisa.


Dapur tempat memasak hanya di tutupi kain. Mungkin karena itu, pria itu bisa mendengar percakapan Arisa dengan pelayan. Di tambah posisi duduk Arisa dan Jack yang di ujung dan dekat dengan dapur, itu semakin membuat pria yang bekerja di dapur mendengar jelas percakapan Arisa dengan pelayan.


"Apakah anda koki di sini?" Tanya Arisa.


"Anda benar, saya koki nya. Tetapi... Anda benar-benar memuji masakan saya. Saya merasa sangat senang dengan itu, padahal saya memasak, masakan rumahan saja. Tapi anda bilang masakan saya adalah makanan kelas atas. Hahahahaha." Pria itu tertawa bahagia saat mendengar jawaban Arisa.


"Bahan berkualitas tinggi?" Pria yang mengaku koki kebingungan dengan perkataan Jack.


"Apakah saya salah?" Jack bertanya untuk menegaskan argumen nya.


"Anda sepenuh nya salah!" Koki langsung menjawab Jack. "Saya tidak menggunakan bahan berkualitas tinggi, saya menggunakan bahan makanan yang saya beli di pasar. Dan juga bahan makanan yang ada di pasar tidak berkualitas tinggi, biasa-biasa saja."


"Oh... Jadi anda tidak menggunakan bahan berkualitas tinggi? Melainkan bahan makanan biasa?"


"Anda benar."


"Kalau begitu... Berarti memang kemampuan masak anda yang hebat!"


"Te-terima kasih atas pujian nya."


Arisa dan Jack berdiri dari tempat duduk mereka. Arisa memberikan uang kepada koki, lalu ia berjalan keluar Bar. Sedangkan Jack sebelum keluar, ia melakukan percakapan singkat dengan koki.


"Terima kasih atas makanan nya, ini makanan terenak yang pernah ku makan."


"Terima kasih tuan."


"Ngomong-ngomong, kalau boleh tahu, dimana anda membeli bahan makanan ini?" Saat bertanya Jack mengambil beberapa koin emas di saku nya, lalu di sodorkan nya ke Koki.


Koki mendekatkan kepala nya ke Jack, kemudian ia berbisik. "Di pasar, warung kelima saat anda baru memasuki pasar, warung itu di sebelah kiri."


"Siapa pemilik warung itu?" Jack berbisik sambil menyodorkan lebih banyak koin emas.


"Saya tidak tahu, tapi ada rumor kalau warung itu milik seorang bangsawan."


"Siapa nama bangsawan itu?" Jack menyodorkan lebih banyak koin emas lagi.


"Bangsawan bernama Wilson. Dari Rumor yang saya dengar, beliau adalah tunangan Putri Yuri."


Kemudian Bar menjadi berisik karena ada seorang turis Pria yang pingsan.


 


\*


 


Di penginapan Kota Banitza di salah satu kamar, terdengar suara tangisan seorang Pria yang sampai menggema ke seluruh bangunan penginapan. Sebelum nya pria itu juga sudah membuat heboh di suatu Bar.


"Jack!! Sampai kapan kau menangis terus?! Kita memiliki misi yang penting kau tahu. Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan dengan koki itu barusan, tapi... Apakah itu sangat penting sampai kau tidak mau mengerjakan misi lagi?"


"Ini sangat penting Arisa. Masa depan ku sedang di pertaruhkan sekarang."


Masa depan Jack? Apa maksud nya? Pikir Arisa. Dan juga, kenapa dia tiba-tiba pingsan di Bar tadi? Apakah karena makanan nya? Arisa memutuskan berhenti memikirkan itu.


"Hmmm... Kalau memang hal yang kau tangiskan itu begitu penting, tidak ada pilihan lain. Aku akan menjalankan misi ini sendiri."


"Terima kasih." Setelah mengucapkan itu, Jack memendam wajah nya di bantal, lalu menangis sekeras-keras nya.


"Baiklah kalau begitu.... Aku akan menyelidiki distrik bangsawan." Arisa bergumam, lalu ia membuka pintu kamar.


Saat hendak keluar, tangan Arisa di tarik oleh Jack.


"Kau bilang apa Arisa?"


"Eh?!" Arisa terkejut. "A-A-aku ingin menyelidiki distrik bangsawan? Memang nya kenapa?"


"Kalau begitu aku ikut. Ada seorang Bangsawan yang mencurigakan di kota ini."


"Apakah itu benar?" Tanya Arisa serius.


Jack mengangguk.


 


\*


 


Aku berada di ruang makan, saat ini aku dan keluarga ku sedang makan malam.


Seperti biasa... Suasana canggung sangat terasa di sekitar kami.


Karena situasi masih hening, belum ada keributan. Aku makan dengan perlahan.


Saat makan, aku menyambungkan (Telephaty) ke Natasha yang berdiri di ujung ruang makan.


"Arisa dan Jack, belum mengirim laporan ya."


"Kau benar." Natasha menjawab melalui (Telephaty). "Apa langkah selanjutnya? Apakah kita pergi ke kota Banitza? Untuk melihat situasi di sana dengan mata kepala kita sendiri?"


"Kita tunggu beberapa hari. Jika masih belum ada laporan, kita akan langsung pergi kesana."


"Shina. Bagaimana perkembangan kepemimpinan Yuri?" Ayah mulai membuat masalah dengan bertanya pada Selir Shina. Lebih baik aku mempercepat menyuap makanan kedalam mulut ku.


Seperti dugaan ku, dengan pertanyaan dari ayah. Ruang makan dalam beberapa menit kedepan menjadi ribut dengan pertengkaran para istri Raja.


Dan untung nya, makanan ku sudah habis saat mereka memulai keributan.