
Se... Seratus... Tahun...." Natasha berkata dengan wajah melongo, mulut nya ternganga.
"Ya. Seratus tahun. Itulah waktu yang di perlukan Mira untuk memulihkan diri nya." Kata Thinkie dengan datar terhadap keterkejutan Natasha, ia kemudian menatap Natasha, ekspresi wajah nya seakan-akan menanyakan Natasha dengan pertanyaan. 'Apa yang membuat mu begitu terkejut?'
Thinkie berpikir melalui perspektif dari Ras yang memiliki umur panjang seperti diri nya, Vampir, Elf dan lain nya. Bagi mereka, waktu seratus tahun itu sama seperti satu minggu, tidak akan terasa lama. Tentu saja, Natasha merasa waktu seratus tahun itu tidaklah lama bagi nya. Tapi itu jalan pikir Natasha yang dulu, sebelum bertemu dengan Mira, orang yang ia cintai. Pada saat itu dunia nya terasa monokrom dan membosankan, sehingga waktu sepuluh, seratus atau bahkan seribu tahun pun tidak terasa lama bagi nya. Tapi jalan pikir Natasha kini berbeda, waktu satu hari di habiskan tanpa ada nya sosok Mira terasa sangatlah lama bagi nya. Natasha mengingat kembali saat Mira tidak sadarkan diri selama tujuh tahun, ia merasa waktu berjalan lebih lambat, setiap hari nya terasa seperti seribu tahun lama nya. Tujuh tahun menunggu Mira sadar, adalah waktu yang terlama yang ia rasakan... Dan kini Natasha harus menunggu seratus tahun... Natasha tidak bisa membayangkan betapa tersiksa nya ia harus menunggu waktu selama itu.
"Apakah tidak ada cara menyadarkan lebih cepat?" Natasha bertanya pada Thinkie dengan panik.
"... Untuk saat ini... Aku tidak menemukan cara untuk melakukan itu..." Jawab Thinkie setelah berpikir sejenak.
'Untuk saat ini... Kalau begitu, berarti ada cara untuk membuat Mira sadar lebih cepat!' Pikir Natasha dengan penuh optimisme setelah mendengar perkataan Thinkie. 'Kalau begitu, aku harus menemukan cara untuk menyadarkan Mira!'
Saat itu, Natasha tidak tahu kalau satu-satu nya cara menyadarkan Mira ada di kerajaan Fantasia, dan jika ia menggunakan cara itu, ia harus membayar dengan harga yang sangat mahal... Tetapi Natasha tidak tahu menahu mengenai hal itu...
\*\*\*
Nina dan Lina menemui seseorang di sebuah restoran. Dengan status nya yang seorang keluarga kerajaan ia mendapatkan perlakuan VIP. Ia bahkan di sediakan ruang pribadi untuk menemui tamu nya, saat di ruang pribadi ini tamu yang ia temui menggunakan sihir (Barrier) untuk mencegah pihak ketiga mendengar pembicaraan mereka. Ruangan pribadi yang di sediakan sudah kedap suara, pihak ketiga yang berada di luar ruangan tidak akan bisa mendengar pembicaraan mereka, tapi tamu yang mereka temui adalah seorang yang paranoid, membuat nya menggunakan pengamanan yang berlebihan.
"... Baiklah, dengan begini tidak akan ada yang bisa mendengar pembicaraan kita." Kata tamu yang di temui Nina dan Lina.
"Apakah kau yang akan memimpin rencana kami?" Tanya Lina kepada tamu nya dengan wajah ragu.
"Ya. Dan juga sebaiknya kau jangan menilai kemampuan ku dari penampilan ku saja, terkadang penampilan seseorang dapat menipu." Jawab tamu atas keraguan Lina.
Nina dan Lina hanya bisa terdiam atas jawaban itu, mereka dapat mengerti maksud tamu nya. Bahkan di antara salah satu keluarga mereka ada seseorang yang nampak seperti seorang gadis kecil polos tapi sebenarnya adalah seorang yang bertangan dingin, yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu yang ia inginkan.
"Sebelum aku mendengar permasalahan kalian, aku ingin memperkenalkan diri... Nama ku Bruno."
Itu benar, orang yang di temui oleh Nina dan Lina adalah Bruno. Mereka nampak ragu dengan kemampuan Bruno di karenakan penampilan nya yang seperti anak kecil. Tapi setelah mendengar perkataan Bruno tentang penampilan seseorang kadang menipu, mereka akhir nya mengubur keraguan mereka dalam-dalam di hati mereka. Menurut analisis mereka, Bruno adalah seseorang yang seperti Mira, seorang anak kecil dengan otak di atas rata-rata orang dewasa.
"Salam kenal Bruno, kalau begitu giliran kami untuk memper-"
"Ah... Tidak perlu, aku sudah mengetahui nama kalian... Aku tidak bisa berlama-lama disini. Ayo kita masuk ke permintaan kalian."
Saat Nina hendak memperkalkan diri, perkataan nya langsung di potong oleh Bruno. Sebenarnya perlakuan Bruno sudah lancang terhadap keluarga kerajaan, tetapi kali ini status Bruno lebih tinggi daripada Nina. Itu di karenakan dia adalah orang yang akan membantu Nina untuk merebut tahta dari Yuri. Nina pun dengan perasaan tidak senang membiarkan perilaku lancang Bruno kepada nya.
Bruno yang mendengar perkataan Nina, seketika merenung. Ia memejamkan mata nya, mensimulasikan rencana nya dengan imajinasi nya.
'Itulah tujuan rencana ku, untuk membuat mu mengambil tahta dalam waktu singkat.' Pikir Bruno sambil mensimulasikan rencana nya. '... Tetapi, jika dia tiba-tiba berkhianat di tengah pelaksanaan, semua hal yang ku susun sampai sekarang akan hancur berantakan. Sebaiknya di sini aku menuruti kemauan nya. Kalau begitu, langkah yang tepat untuk di lakukan...'
Setelah berpikir sejenak, Bruno membuka mata nya, menatap langsung ke mata Nina dengan tatapan tajam.
"Baiklah... Tapi untuk melakukan rencana ini, kau harus mengorbankan anggota keluarga mu."
Nina dan Lina yang mendengar perkataan Bruno, tersenyum sinis. Senyum sinis itu makin lebar setelah mendengar rencana baru dari Bruno.
\*\*\*
Lavender dan anak nya, Rosa sedang duduk di gazebo yang ada di taman, sambil menikmati teh dan manisan yang di sajikan oleh pelayan yang berdiri agak jauh dari gazebo. Pelayan itu adalah pelayan pribadi Rosa, ia berdiri agak jauh agar tidak menganggu waktu antara orang tua dan anak itu, dan juga untuk persiapan jikalau di panggil saat jasa nya di butuhkan.
Rosa menyeruput teh nya dengan gerakan anggun sambil melihat ke taman bunga, senyum nya menunjukkan kalau ia menikmati teh nya. Sementara itu sang ibu, mengangkat cangkir teh nya sembari melihat ke arah langit dengan wajah khawatir.
"Ada apa Ibunda?" Tanya Rosa saat melihat ekspresi khawatir ibu nya.
"... Tidak ada apa-apa... Mengapa kau bertanya?" Tanya balik Lavender menanggapi pertanyaan anak nya.
"Ibunda nampak khawatir akan sesuatu." Jawab Rosa.
Mendengar perkataan Rosa, Lavender menunjukkan senyum kecil, kemudian menyeruput teh nya, ia memikirkan sesuatu di dalam kepala nya.
'... Bukan nya aku meragukan kemampuan Yuri dalam memimpin negara ini. Hanya saja, aku merasakan firasat buruk semenjak ia mewarisi tahta...'
Setelah meminum seteguk teh nya, Rosa bergumam sambil memandang langit biru.
"Aku harap waktu damai ini berlangsung selama nya..."
Perkataan Lavender itu, menandakan akan terjadi sesuatu yang buruk terhadap kerajaan Fantasia.