From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 272 Hari Ketiga Invasi VII



Pagi hari tiba, hari ini adalah hari ketiga Invasi pasukan Demon ke Benua Yuro dan Benua Silia. Aku yang baru bangun dari tidur ku, langsung mencuci muka menggunakan sihir air, mengelap tubuh ku dengan lap yang sudah di rendam air hangat yang juga ku hasilkan dengan sihir, menggosok gigi, setelah itu barulah aku mengganti pakaian tidur ku menjadi seragam militer.


Aku keluar tenda tempat ku beristirahat, di luar tenda sudah ada Natasha dan Arisa yang setia menunggu ku.


"Selamat pagi Mira."


"Pagi Kak Mira."


Natasha dan Arisa menyapa ku secara bersamaan, aku membalas mereka hanya dengan 'Pagi' setelah itu aku lanjut berjalan ke tempat yang ingin ku tuju, yaitu tenda tempat Putri Catulus istirahat.


"Kemana kita Kak Mira?" Tanya Arisa pada ku.


"Tenda Putri Catulus," Jawab ku. "Aku dan Natasha akan membantu mu mengawasi Putri Catulus."


Arisa tidak mempertanyakan lebih lanjut mengapa aku dan Natasha harus membantu nya. Ia pasti berpikir aku melakukan hal ini karena ada alasan khusus.


Tapi sayang nya, pemikiran Arisa setengah benar.


Aku memang ingin membantu Arisa mengawasi Putri Catulus karena memiliki alasan ku sendiri, tapi bukan alasan khusus. Alasan ku membantu mengawasi Putri Catulus karena firasat ku mengatakan untuk melakukan nya.


Memang alasan yang simple, tapi mengingat firasat ku kadang benar di suatu situasi, aku tidak bisa mengabaikan apa yang di katakan firasat ku. Dan juga pada hari ketiga ini aku tidak melakukan hal khusus di markas pusat, aku yakin para komandan akan ragu meminta bantuan ku setelah apa yang terjadi kemarin, karena hal itu, pada hari ketiga ini aku memiliki banyak waktu luang. Atas alasan itu jugalah yang membuat ku memutuskan untuk membantu Arisa mengawasi Putri Catulus.


Untuk lebih sederhana nya, aku hanya mencari cara untuk menghabiskan waktu luang ku pada hari ini.


Ini sangat aneh, aku tidak memiliki hal khusus untuk di lakukan hari ini, mengingat situasi kita sangat gawat, seharus nya aku memikirkan sesuatu untuk memecahkan masalah gawat ini. Tapi itu tidak perlu ku lakukan! Sudah ada para komandan, raja dari tiga kerajaan besar di Benua Silia dan ahli strategi hebat seperti Selir Shina, yang memutar otak mereka untuk memecahkan masalah gawat ini, jadi hari ini aku betul-betul bebas.........


Atau begitulah yang ku kira.....


"Mira!"


Saat aku sampai di tengah-tengah markas pusat, para komandan, para raja Benua Silia, dan prajurit yang di jadwalkan bertempur di garis depan berkumpul di tempat ini. Bahkan setelah ku perhatikan dengan seksama, aku juga dapat melihat Putri Catulus di antara kerumunan.


Ada apa ini? Kenapa semua orang berkumpul di sini?


Di tengah kebingungan ku, ayah memisahkan diri dari kerumunan, kemudian ia mendekati ku. Saat sudah berdiri tepat di hadapan ku ayah berteriak dengan suara keras.


"Mira!"


"I-Iya..."


Karena terkejut dengan ayah yang berteriak tiba-tiba, aku menjawab dengan terbata-bata.


"Mulai hari ini Kau di promosikan menjadi panglima perang! Mulai sekarang kau akan memimpin pasukan langsung di garis depan!"


"....."


"Tu-Tunggu sebentar!" Salah satu komandan yang akhir nya bisa memproses apa yang di katakan ayah, angkat bicara, memprotes perkataan nya. "Anda tidak bisa memutuskan begitu saja! Kami para komandan tidak setuju dengan hal itu!"


Para komandan mengangguk secara serempak mendengar perkataan komandan yang memprotes perkataan ayah.


Ayah melihat ke arah komandan yang memprotes, menatap nya dengan tajam, dengan suara di penuhi dengan amarah, dia membalas protes komandan. "Kalau begitu. Selesaikan masalah yang kalian buat!"


"Masalah yang kami buat... Kami tidak pernah membuat masalah!"


"Setelah apa yang terjadi pada hari kedua kau masih bisa berkata seperti itu?" Yang membalas komandan itu bukanlah ayah, melainkan Joshua, dia berkata dengan nada menantang, dengan sorot mata tajam ia menyampaikan argumen nya. "Jika kemarin kalian para komandan memakai rencana Mira, kita tidak akan menderita kekalahan kemarin... Kalian menolak rencana Mira mentah-mentah lalu mencaci maki nya, membuang orang berbakat seperti nya, bukankah kalian membuat masalah secara tidak langsung?"


".....Uuugh!" Tidak bisa membalas perkataan Joshua, Komandan yang memprotes wajah nya terdistorsi, mengeluarkan erangan kesal.


"Aku setuju dengan Raja Joshua," Kali ini Raja Albert yang menunjukkan persetujuan nya. "Jika kalian menjalankan rencana Mira, kita tidak akan mengalami kerugian sebesar ini. Kalian terlalu mementingkan harga diri kalian, dari pada kepentingan bersama, kalian tidak pantas menjadi komandan!"


Mendengar raja dari tiga kerajaan besar mendukung ku membuat para prajurit secara alami mendukung ku. Mereka menyimpulkan kalau kekalahan kemarin akibat para komandan, alhasil semua orang dari Divisi strategi di tatap oleh para prajurit dengan tatapan dingin. Perlakuan para komandan kepada ku kemarin telah berbalik, mereka merasakan apa yang kemarin aku rasakan.


Mengikuti arus, ayah mengangakat suara nya sekali lagi. "Bagi siapa yang tidak setuju Mira menjadi panglima perang maju kehadapan ku!"


Tidak ada yang melakukan nya, sedetik kemudian semua orang kecuali dari divisi strategi bersorak menyerukan nama ku.


"Sudah di putuskan! Mulai hari ini Mira menjadi panglima perang!"


Dan begitulah. Akhir nya aku menjadi panglima perang yang akan memimpin pasukan aliansi di garis depan pertempuran.


..... Tapi sebelum pergi ke garis depan, izinkan aku menyampaikan apa yang sudah ada di kepala ku semenjak aku sampai di sini.....


Bagaimana dengan pendapat ku atas masalah ini!? Kalian hanya memutuskan secara sepihak! Aku bahkan belum menyetujui hal itu! Kalian tidak meminta pendapat ku!? Setidak nya bertanya, 'Apakah kau mau menjadi panglima perang Mira?'


Tapi kalian tidak bertanya! Kalian. Hanya. Memutuskan. Secara. SEPIHAK!!!!


Atau begitulah yang ingin ku katakan... Setelah melihat semua orang yang sudah yakin aku setuju menjadi panglima perang, mana bisa aku menolak... Dalam situasi seperti ini, tidak ada pilihan lain selain menyetujui nya.


"Haaaaah...." Aku pun menghela nafas panjang.


Padahal hari masih pagi, tapi aku sudah merasa lelah...


"Haaaah...."Sekali lagi aku menghela nafas, membuang semua kelelahan ku melalui helaan nafas yang telah ku keluarkan.


Author's Note..


Jika ada kesalahan kata, atau kesalahan kalimat, atau kesalahan ketik, silahkan lapor xi kolom komentar.


Terima kasih sudah membaca.