From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 349 Menggagalkan Eksekusi



Yuri terbelalak kaget saat pisau Guillotine yang hendak menyentuh leher nya hancur berkeping-keping di hantam dengan panah es yang melesat dari kerumunan warga kota. Saat ini tubuh Yuri di tahan oleh seorang pria berbadan besar, sehingga ia tidak dapat bergerak. Walaupun begitu, ia masih bisa menggerakkan matanya untuk melirik dari mana panah es itu berasal.


Sebelum eksekusi nya berlangsung, adik nya, Mira memberitahukan rencana nya. Dan saat ia memberitahukan rencana nya itu, dia juga mengungkapkan beberapa hal gila, yang seketika membuat otak Yuri tidak bisa mencerna informasi itu secara langsung. Tetapi... Satu hal yang Yuri tahu, jika rencana Mira kali ini berhasil, perang sipil... Tidak. Bukan hanya perang sipil, tapi perang besar. Itu benar. Perang besar akan terjadi jika rencana Mira kali ini berhasil. Dan yang lebih parah nya, Mira tidak tahu akan hal ini, walaupun ia sangat cerdas, ia tidak dapat memperkirakan dampak dari rencana nya kali ini.


Saat Yuri melirik arah datang nya panah es yang menghancurkan pisau Guillotine, ia melihat seorang Elf perempuan bersama dengan seorang pria yang sangat Yuri kenal. Saat melihat pria itu, Yuri tidak bisa menahan air mata nya. Itu wajar, karena pria yang ia lihat adalah pria yang sangat ia cintai sekaligus cinta pertama nya, yaitu tunangan nya sendiri. Tidak di ragukan lagi identitas pria itu adalah Jack, dan Elf perempuan yang bersama nya adalah saudari nya, yaitu Arisa.


"Jack!" Teriak Yuri dengan senyum lebar di wajah nya.


\*\*\*


Nina begitu terkejut dengan perubahan kejadian yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan. Mulut nya ternganga, ekspresi wajah nya menunjukkan kebingungan, khawatir, dan amarah yang bercampur jadi satu.


"Apa...!?" Dan ternyata bukan hanya Nina yang terkejut, tapi semua orang. Termasuk Blanc, Lina, dan White, begitu juga warga kota yang ikut menyaksikan eksekusi ini.


Nina yang masih di landa kebingungan hebat, segera memulihkan diri, ia menduga kalau serangan barusan pasti di lakukan oleh bawahan Mira. Walaupun ia tidak tahu bagaimana bisa bawahan Mira lepas dari sihir pengendali pikiran nya, yang pasti ia tahu kalau ini bukan saat nya untuk memikirkan hal itu. Dengan pemikiran seperti itu, Nina memutar otak nya dengan cepat, lalu ia melihat pedang yang tergantung di pinggang prajurit yang saat ini masih menahan Mira. Sebuah ide langsung terbesit di kepala nya.


Nina dengan gerakan secepat yang ia bisa, menarik pedang yang tergantung di pinggang prajurit keluar dari sarung nya. Setelah pedang itu tercabut, Nina melihat ke arah Mira yang sudah jelas merencanakan hal ini. Dengan perasaan kebencian pada nya, Nina mengayunkan pedang dengan kedua tangan nya untuk memenggal kepala Mira yang masih di tahan oleh prajurit.


"Mati dasar sialan!" Teriak Nina.


Seharus nya pedang biasa tidak bisa melukai tubuh Mira, tetapi saat ini tubuh Mira melemah sehingga kekuatan nya setara dengan manusia biasa. Mira tidak tahu apakah pedang yang di pakai ksatria bisa melukai nya atau tidak, ia tidak memiliki kesempatan untuk mencoba nya. Tahu kalau tubuh nya bisa saja terluka oleh senjata biasa, wajah Mira memucat dengan ekspresi panik saat Nina mengayunkan pedang untuk memenggal kepala nya. Karena rasa panik, Mira refleks menutup kedua mata nya.


Jika pedang yang di gunakan Nina tidak bisa melukai kulit Mira, seharus nya pedang itu akan patah seperti menghantam benda yang lebih keras dari bilah pedang itu. Mira menunggu suara pedang patah itu, tetapi ia tidak mendengar nya. Bukan hanya itu, Mira tidak merasa ada sesuatu yang menghantam tenguk nya. Kebingungan, Mira perlahan membuka mata nya. Ia melihat seseorang berdiri di samping Nina, memegang bilah pedang sesaat bilah itu hendak menyentuh tenguk nya.


"Apa!?" Nina berteriak kaget, melihat bilah pedang yang tajam di hentikan hanya dengan tangan kosong. Orang yang menghentikan bilah pedang itu adalah Natasha, bawahan Mira yang paling setia.


Natasha bukan hanya menghentikan bilah pedang, ia juga mematahkan bilah pedang itu dengan tangan kosong, kemudian dengan gerakan cepat ia menusukkan kuku nya yang tajam dan panjang ke dada prajurit yang saat ini masih menahan Mira dengan tatapan kosong, sudah jelas kalau prajurit itu di kendalikan oleh Nina. Dengan kuku Natasha yang begitu tajam, dan kekuatan dorongan tangan nya yang begitu kuat, tangan Nina dengan mudah menembus dada prajurit yang menahan Mira, terlepas dari fakta kalau ia menggunakan baju besi, tangan Natasha tetap dengan mudah menembus dada nya. Saat tangan Natasha keluar dari punggung prajurit itu, Natasha sudah menggenggam jantung nya. Dengan sekuat tenaga Natasha kemudian meremas jantung yang masih berdetak itu, seketika menghancurkan nya.


Semua orang yang hadir, selain Mira dan bawahan nya menyaksikan kejadian yang begitu sadis itu dengan wajah pucat di sertai dengan ekspresi ketakutan, dan tidak percaya. Mengabaikan semua hal itu, Natasha melanjutkan aksi nya. Ia mengalihkan pandangan nya ke arah Nina, lalu dengan gerakan cepat sehingga mata orang biasa tidak bisa mengikuti pergerakan nya, Natasha melakukan hal yang sama pada Nina. Menusuk dada nya, mengeluarkan jantung nya, lalu menghancurkan nya. Saat Natasha mencabut tangan nya dari dada Nina, tubuh Nina terjatuh ke lantai seperti sebuah boneka.


"A... AAA... AAAAAAAAAAAAAAAH... A-A-A-A... A... AAKH!" suara teriakan yang begitu keras terdengar dari tempat khusus keluarga kerajaan. Tentu saja yang berteriak adalah ibu Nina, yaitu Lina. Tapi yang jadi masalah bukan teriakan itu. Yang jadi masalah adalah, suara teriakan itu tersendat sebelum akhir nya terhenti dengan tiba-tiba. Seperti seorang yang mematikan kaset rekaman. Mira penasaran dengan hal itu, lalu ia melirik ke arah keluarga kerajaan berada, ia melakukan itu setelah ia bangkit dari posisi sebelum nya. Saat Mira melirik, ia segera mengetahui penyebab terhenti nya teriakan itu...


White dan Blanc yang menyaksikan hal itu ingin berteriak, tetapi mereka takut akan bernasib sama dengan Lina. Mereka pun hanya bisa meringkuk sembari bergetar ketakutan.


Sesaat setelah Nina dan Lina mati, kejadian yang di prediksi Mira terjadi. Semua orang yang di kendalikan Nina langsung jatuh terbaring di tanah tidak sadarkan diri, ini juga termasuk para warga kota. Sejauh ini masih dalam prediksi Mira, akan bagus kalau kejadian selanjut nya masih dalam prediksi nya. Akan tetapi itu hanyalah mimpi di siang bolong. Sesaat semua orang kecuali White, Blanc, Yuri, Mira dan para bawahan nya tidak sadarkan diri. Kejadian di luar dugaan Mira akhir nya terjadi.


"Jack! Bawa Kak Yuri pergi dari sini!" Mira masih belum tahu di mana posisi Jack, tapi ia bisa menduga kalau Jack sudah berada di dekat Yuri. Karena itulah ia langsung memberikan perintah kepada Jack.


"Baik!" Seperti dugaan Mira, Jack berada tepat di samping Yuri yang masih berusaha untuk bangkit setelah lepas dari prajurit yang menahan nya. Jack dengan sigap menggendong Yuri lalu ia dengan cepat pergi ke gerbang kota.


Natasha, Amanda dan Arisa secara serempak pergi kehadapan Mira, melindungi nya, sambil menyiapkan senjata masing-masing.


Tepat di hadapan mereka berempat, jasad Nina yang masih segar melayang ke udara sejauh sepuluh meter di atas tanah. Darah yang keluar dari dada nya yang berlubang membasahi kalung merah rubi yang masih ia kenakan, seketika merubah warna nya menjadi merah darah. Kalung itu kemudian mengeluarkan cahaya merah darah, di sertai dengan energi sihir yang begitu besar.


Dengan mata emas nya, Mira melihat lubang di dada Yuri seketika bergenerasi, bahkan jantung nya yang hilang muncul kembali seperti semula. Rantai kalung yang ia kenakan kemudian terputus meninggalkan liontin berwarna merah darah yang terus mengeluarkan cahaya dan energi sihir super besar.


Sesaat kalung yang menggantung di leher Nina terlepas, liontin berwarna merah darah mengeluarkan ledakan cahaya yang sangat terang. Seperti sebuah Flashbang. Mira dan yang lain nya secara refleks melindungi mata mereka dengan tangan mereka. Saat cahaya akhir nya meredup, muncul seorang pria yang menggantikan posisi dari liontin bewarna merah darah sebelum nya. Atau begitulah pemikiran Natasha, Amanda, dan Arisa. Hanya Mira yang dapat melihat dengan mata emas nya apa yang sebenarnya terjadi...


Untuk di katakan menggantikan itu kurang tepat, karena pada kenyataan nya, pria itu adalah perwujudan dari liontin merah darah sebelum nya. Bisa di katakan liontin merah darah itu berubah wujud menjadi seorang pria yang saat ini melayang di depan Nina.


Pria perwujudan dari liontin itu nampak seperti berumur tiga puluh tahunan, dengan rambut pirang, dan mata merah darah yang sama seperti Natasha. Kulit nya pucat pasi seperti mayat, itu dapat terlihat jelas karena saat ini pria itu tidak menggunakan busana sama sekali.


Walaupun yang melihat wujud telanjang pria itu kesemua nya adalah gadis, mereka tidak memikirkan hal itu sama sekali. Karena situasi saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk memikirkan hal itu.


Natasha dan Amanda nampak nya mengenali pria itu, terlihat dari ekspresi terkejut mereka sesaat pria itu muncul di udara. Natasha hanya menunjukkan sedikit perubahan wajah, sedangkan Amanda wajah nya berubah dari terkejut menjadi kebingungan, lalu berubah menjadi panik.


Pria yang melayang di depan Nina saat ini menghadap ke arah Mira dan yang lain nya, atau bisa di katakan ia memunggungi Nina. Pria itu kemudian berbalik, menggendong Nina di tangan nya. Sesaat setelah itu, cairan merah muncul mengitari pria itu lalu cairan itu berubah menjadi pakaian berwarna hitam pekat yang segera membungkus pria itu. Pakaian yang terbuat dari cairan merah sebelum nya, bermodelkan seperti jas kantoran yang sama sekali tidak sesuai dengan situasi tegang saat ini.


Pria itu perlahan turun ke tanah, sembari menggendong Nina di tangan nya. Ia berbalik menghadap Mira dan yang lain nya, saat kaki nya menyentuh tanah. Sesaat kemudian, tepat di belakang nya muncul sebuah lingkaran sihir yang di tengah nya terdapat ruang seperti sebuah pintu, dari sana keluar ke empat orang yang sangat Mira kenali... Mereka tidak lain adalah Bruno, Catulus, Siegurd, dan Javelin.


"Sudah ku duga mereka akan muncul." Gumam Mira dengan suara lirih.