From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 87 Sarion dan Rony



Aku melihat Arisa di lamar oleh seorang Elf yang tiba-tiba datang entah dari mana. Wajah Arisa memerah karena perkataan Elf bernama Sarion.


"Kalau tidak salah nama mu Sarion kan?" Aku bertanya.


Elf bernama Sarion itu mengabaikan ku. Pandangan nya hanya tertuju ke arah Arisa.


"Jadi apa jawaban mu?" Tanya Sarion ke Arisa.


Arisa memalingkan wajah nya. "A-akan ku pikirkan." Kata Arisa malu-malu.


Mendengar jawaban Arisa, Sarion berdiri kemudian ia melihat ke arah ku.


"Anda benar Putri Mira. Nama saya Sarion." Jawab Sarion.


"Aku hanya memiliki satu pertanyaan untuk mu. Bagaimana kau bisa masuk?"


"Anda tidak perlu menanyakan hal yang sudah jelas. Tentu saja saya masuk lewat pintu."


"Hal itu lah yang ingin ku tanyakan! Bagaimana cara mu masuk lewat pintu? Di Vila ini seharusnya ada sihir penghalang! Jadi orang asing tidak bisa masuk!"


"Maaf saja Putri Mira. Sebelum anda datang, Vila ini adalah tempat rapat para bangsawan. Jadi para bangsawan kota Cocoa bisa masuk ke Vila ini sesuka hati." Jawab Sarion.


"Begitu ya... Sekarang semua nya sudah jelas."


Nanti malam akan ku perbarui penghalang nya.


Tiba-tiba ada suara bising terdengar di seluruh ruangan. "Makan Siang! Makan siang! Makan siang!" Begitulah suara itu. Suara itu terus berulang hingga suara nya makin bising.


"Su-suara apa itu!?" Kata Jack.


"Oh itu," Kata Sarion. "Suara itu berasal dari sini!" Sarion mengambil sesuatu dari kantung nya. "Dari sini!" Sarion menunjukkan benda bulat bewarna perak dengan rantai panjang yang menyangkut di kantung nya. "Benda ini di sebut Jam dan suara yang bising ini adalah Alarm." Kata Sarion.


"Jam? Alarm?" Kata Jack kebingungan.


"Jam adalah benda untuk menunjukkan waktu. Dan Alarm adalah suara dari Jam jika telah mencapai waktu tertentu. Contoh nya saja suara tadi makan siang. Berarti Jam itu menunjukkan waktu nya makan siang."


"Begitu ya..." Kata Jack.


"Aku tidak menyangka Putri Mira tahu banyak tentang Jam." Kata Sarion.


"Bukan nya itu pengetahuan umum."


Sarion menggelengkan kepalanya. "Itu bukan pengetahuan umum, pengetahuan tentang Jam itu hanya di ketahui oleh para Dwarf dan Demi Human saja."


"Kenapa seperti itu?"


"Karena Dwarf dan Demi Human yang menciptakan Jam. Dan Jam ini masih belum di sebar luaskan ke seluruh benua." Jawab Sarion.


"Lalu kenapa kau memiliki nya?" Tanya Natasha.


"Aku mencuri nya Saat aku mengunjungi Benua Yuro. Pada saat itu aku-"


Sebelum Sarion bercerita aku memotong perkataan nya.


"Tidak perlu kau ceritakan. Itu tidak penting."


"Eeeeh, padahal aku ingin menceritakan tentang petualangan ku." Kata Sarion kecewa.


"Lupakan soal itu! Bisa kau matikan Alarm nya? Dari tadi berisik."


"Ah," Sarion memencet tombol yang ada di samping Jam, kemudian suara bising Alarm pun berhenti. "Maaf-maaf aku lupa soal alarm nya." Kata Sarion tersenyum.


Sarion berjalan keluar ruangan. "Karena sudah waktu nya makan siang, aku akan pergi." Kata Sarion. Sarion pergi, lalu Sarion datang lagi. "Aku hampir lupa!" Kata Sarion panik. Sarion melihat ke Arisa. "Gadis Elf!" Kata Sarion memanggil Arisa.


Arisa menengok ke arah Sarion dengan wajah yang memerah. "A-ada apa? kata Arisa malu-malu.


"Aku ingin jawaban mu secepat nya."


Arisa mengangguk. "Ba-baik!" Kata Arisa dengan suara pelan.


Sarion tersenyum. Kemudian Sarion langsung pergi. Melihat Sarion pergi, Rony berpamitan. "Kalau begitu aku juga pergi!" Kata Rony.


Rony berjalan ke arah pintu, saat di depan pintu, tiba-tiba datang Leonardo mengahalangi Rony.


"Tunggu sebentar Tuan Rony!" Kata Leonardo terengah-engah.


"Ada apa?" Tanya Rony dengan suara lantang.


"Saya dapat laporan. Seseorang yang terkena penyakit menular tiba-tiba mengamuk. Dan sekarang orang itu sedang menuju ke daerah bangsawan." Kata Rony.


"Apa kau bilang!? Para rakyat jelata itu datang lagi!?"


Lagi? Apakah kejadian ini pernah terjadi sebelum nya?


Aku mendekati Rony. "Ada apa Rony?"


"Tuan Putri," Kata Rony serius. "Ada penduduk yang terkena penyakit menular mengamuk. Dan sekarang dia sedang menuju ke daerah bangsawan." Jawab Rony.


Aku sudah dengar itu.


"Jadi kenapa kau masih berdiam di sini?"


"Eh?" Kata Rony keheranan.


"Ba-baik! A-akan saya laksanakan."


Rony berlari, kemudian ia berbalik melihat ku. "Tuan Putri diam di sini! Kami akan menghadang orang itu." Kata Rony. Setelah mengatakan itu, Rony pergi.


"Sa-saya akan menutup seluruh Pintu dan Jendela." Kata Leonardo. Leonardo pun juga pergi menjalankan tugasnya.


Aku melihat ke arah Arisa. Kemudian aku menatap Arisa dengan wajah serius. "Arisa!"


"I-iya Kak Mira!" Jawab Arisa dengan suara lantang.


"Selamat!! Akhirnya kau dilamar oleh seseorang. Bagaimana perasaan mu?" kata ku sambil mengejek Arisa.


"Mira benar Arisa!! Bagaimana perasaan mu? Senang? Gembira? Bahagia? Atau suka?" Kata Natasha dengan nada mengejek.


"Bukan nya semua itu sama saja?"


Natasha menggoyangkan jari tekunjuk nya. "Itu beda Mira." Kata Natasha.


"Apa bedanya?"


"Beda perkataan nya." Jawab Natasha.


"He-hentikan kalian berdua!?" Kata Arisa berteriak. "Aku tidak senang!! Aku malu tahu!!"


"Kenapa harus malu?" Kata Natasha. "Bukan kah bagus kau dapat pasangan."


"Bagus dari mana nya!?" Kata Arisa berteriak.


"Anu," Kata Jack. "Kalian sadar nggak sih. Kalau kita ini dalam masalah genting."


"Masalah genting?" Kata Natasha dan Arisa bersama-sama.


"Masalah genting nya apa?" Tanya Arisa.


"Entahlah?" Jawab Natasha.


"Santai saja Jack." Kata Mira.


Jack melihat kearah Mira yang duduk di kursi yang ada di ruang kerja. Mira sedang minum teh sambil makan manisan.


"Begitu ya." Kata Jack.


Jack mendatangi Mira, kemudian Jack ikut makan cemilan bersama dengan Mira.


Natasha mengeluarkan teko yang berisi teh dan juga cangkir dari (Blood Box) nya. Kemudian Arisa mengambil bangku untuk tempat nya dan Natasha duduk, kemudian mereka berdua pun ikut minum teh dan makan cemilan bersama Mira.


\*\*\*


Leonardo menyuruh para pelayan untuk menutup Jendela dan Pintu Vila. Para pelayan pun dengan cepat melakukan suruhan Leonardo.


Setelah mereka selesai menutup semua Jendela dan Pintu, mereka beristirahat di ruang tengah.


"A-aku tidak menyangka..... Menutup semua jendela dan pintu Vila ini..... Sangat... Melelahkan...." Kata salah satu pelayan terengah-engah.


"Kau benar..... Tapi kita harus..... Melakukan nya..... Jika kita..... Tidak melakukan.... Nya..... Tuan Putri..... Akan..... Dalam bahaya....." Jawab pelayan lain terengah-engah.


"Benar kata nya!" Kata Leonardo dengan suara lantang. "Keselamatan Nona Mira adalah prioritas utama kita. Aku pasti yakin saat ini Nona Mira sedang menggigil ketakutan."


"Benar kata Tuan Leonardo..... Tuan Putri..... Masih anak-anak..... Pasti dia ketakutan..... Sekarang....." Jawab salah satu pelayan.


\*\*\*


Sarion sedang berada di Vila milik nya. Ia sedang duduk di sofa yang berada di ruang tengah Vila milik nya.


"Bagaimana Ghoul? Kau sudah melakukan nya?" Kata Sarion.


Sarion seperti sedang berbicara dengan seseorang tapi sebenarnya di ruang tengah tidak ada siapa-siapa selain dia.


"Jadi begitu ya... Kerja bagus Ghoul. Aku sangat bangga pada mu." Kata Sarion sambil tersenyum licik.


Sarion mengambil Jam di saku nya, kemudian ia melihat ke Jam nya. Di Jam nya menunjukkan pukul 12:29.


"Satu menit lagi."


Jarum detik di Jam Sarion akhir nya melewati angka dua belas. Akhirnya pukul di Jam Sarion pun menunjukkan pukul 12:30.


"Sudah waktunya."


Setelah berkata seperti itu datang seseorang dari arah pintu masuk ruang tengah.


"Tuan Sarion." Kata orang yang masuk.


"Kau sudah datang Rony?" Jawab Sarion.


"Benar. Saya sudah datang."


Sarion tersenyum licik, kemudian Sarion bangkit dari sofa nya. Kemudian ia berjalan keluar ruang tengah.


"Saat nya kita menambah Monster ciptaan kita.... Ghoul!" Kata Sarion.


Rony pun mengikuti Sarion dari belakang, entah mereka berdua ingin pergi kemana?