
Catulus dan Javelin berhasil berpindah dari Benua Aziliya ke tempat yang mereka tuju. Mereka saat ini berada di ruangan mewah, yang kelihatan nya adalah tempat tinggal bangsawan.
"Fuuuuh...." Catulus menghela nafas lega saat mengetahui diri nya berhasil berpindah dengan selamat, tanpa ada bagian tubuh nya yang di potong oleh Jack. "Javelin, aku akan berpindah ke Lembah Phacelia. Kau rawat Bruno dan Siegurd." Kata Catulus ke Javelin sembari membaringkan Bruno ke lantai.
Javelin mengangguk. "Baiklah... Tapi kau harus berhati-hati, aku takut bawahan Mira juga ikut berpindah ke Lembah Phacelia." Kata Javelin mengingatkan Catulus.
"Ah... Tenang saja. Aku sudah mengatur agar mereka tidak akan langsung berpindah ke Lembah Phacelia." Kata Catulus sembari mengambil Crystal sihir teleportasi dari (Inventori) nya.
\*\*\*
Di Benua Aziliya, tempat Natasha, Amanda, Jack dan Arisa berada.
Mereka semua berwajah kesal karena mempercayai perkataan Catulus dengan begitu mudah nya, terutama Jack. Ia mencengkram gagang pedang nya dengan begitu kuat. Wajah nya bukan hanya menunjukkan kekesalan tapi juga penyesalan.
'Sekali lagi aku gagal melindungi orang yang berharga bagi ku...' Jack mengernyit, menatap ke depan nya, tempat Catulus berada beberapa saat yang lalu.
"Arisa! Arisa!"
Jack berhasil menahan rasa amarah nya saat mendengar suara Amanda memanggil nama saudari nya dengan panik. Jack kemudian menengok ke tempat saudari nya berada.
Saudari Jack, Arisa sedang terbaring tengkurap di tanah sambil memegangi dada nya, mengerang kesakitan. Amanda yang berada di dekat nya memeriksa keadaan nya sembari memanggil-manggil nama nya dengan wajah khawatir. "Arisa!" Jack yang sudah meredam rasa amarah nya langsung melesat ke tempat Arisa, memeriksa keadaan nya.
"Bagaimana keadaan nya?" Tanya Jack kepada Amanda.
Amanda hanya bisa menggelengkan kepala nya. "Aku tidak tahu." Hanya itu yang bisa di katakan Amanda.
"Sebaik nya kita pergi dari sini." Natasha yang juga masih kesal sebisa mungkin ia meredam emosi nya. Ia menyarankan untuk pergi ke tempat aman sambil membawa Mira di tangan nya.
Saat Natasha menyarankan hal itu, Amanda menawarkan untuk pergi ke Danau Denizi untuk memeriksa kondisi Arisa dan Mira lebih lanjut. Natasha berpikir sejenak saat mendengar saran Amanda, ia ingin pergi ke Lembah Phacelia untuk memeriksa keadaan di sana, tapi ia lebih mengutamakan untuk memeriksa kondisi Arisa dan Mira. Atas pertimbangan itulah Natasha menyetujui saran Amanda.
"Jack sebaik nya kau... Tidak, lebih baik kau ikut kami dan temani Arisa." Natasha melihat ke arah Jack, memerintahkan nya untuk pergi ke lembah Phacelia. Tapi saat ia melihat ekspresi khawatir Jack saat menggendong Arisa, ia pun mengurungkan niat nya untuk menyuruh Jack ke lembah Phacelia. Amanda juga tidak bisa pergi ke sana, pasukan Aliansi tidak akan menerima orang asing ke dalam kelompok mereka, walaupun Amanda mengenalkan diri sebagai bawahan Mira tidak mungkin pasukan aliansi akan percaya hal itu begitu saja.
"Amanda, apakah kau memiliki Crystal sihir untuk menteleportasi kita ke Danau Denizi?" Tanya Natasha kepada Amanda.
Amanda mengangguk lalu mengambil Crystal sihir dari (Blood Box) milik nya. Setelah mengeluarkan Crystal sihir yang cukup untuk memindahkan mereka semua, Amanda pun membagikan Crystal sihir itu.
Dengan Crystal sihir pemberian Amanda, mereka semua pun berpindah ke Danau Denizi.
\*\*\*
Lembah Phacelia, tempat pertempuran antara pasukan Aliansi Benua Silia dan Benua Yuro melawan pasukan Demon dari Benua Chiso.
Kali ini luapan energi sihir besar yang asal nya entah dari mana, menyebabkan pertempuran antara kedua belah pihak tertunda. Itu di karenakan banyak prajurit dari kedua belah pihak tidak sadarkan diri karena luapan energi sihir itu.
Untuk Natasha dan kelompok berlevel seratus lain nya. Luapan energi sihir itu bukanlah apa-apa. Paling parah hanya menyebabkan tubuh terasa tertekan saja. Tetapi itu tidak berlaku untuk orang-orang yang level nya tertinggal jauh dari mereka.
Luapan energi sihir yang super besar dan maha dahsyat itu, menyebabkan mereka tidak sadarkan diri, dan yang paling parah nya mereka bisa mati akibat tekanan kuat yang di hasilkan energi sihir itu. Alhasil pertempuran kedua belah pihak pun tertunda.
Seluruh prajurit dari kedua belah pihak tidak sadarkan diri, menyebabkan Lembah Phacelia tertutupi oleh para prajurit yang terbaring di tanah.
Catulus yang telah datang ke lokasi beberapa saat yang lalu, menyakiskan hal ini. Ia hanya bisa tersenyum pahit saat menyaksikan hal itu.
"Aku yakin seluruh dunia pasti mengalami hal serupa..." Gumam Catulus sambil melayang di atas Lembah Phacelia. Ia nampak nya mencari sesuatu.
"Di sana rupanya...." Kata nya saat ia menemukan apa yang ia cari.
Catulus terbang mendatangi apa yang ia cari, kemudian ia perlahan turun ke tanah. Saat kedua kaki nya menyentuh tanah, ia menggerakkan kaki kanan nya menendang tubuh seseorang yang berada di depan nya. "Bangun!" Kata nya dengan kasar.
Orang yang di tendang Catulus tersentak, ia pun tersadar.
"A-Apa!? Apa yang terjadi!?" Kata orang yang baru saja di tendang Catulus, terbangun dari tidur nya. Orang itu adalah pemimpin pasukan Demon, Sang Demon Lord, Glacies.
Glacies yang baru saja di bangunkan Catulus kebingungan dengan apa yang baru saja terjadi, tapi saat melihat Catulus berdiri tepat di depan nya, ia segera mengambil posisi berlutut sambil menundukkan kepala nya dengan hormat.
"Glacies, kita mundur... Rencana kami berhasil. Kami berhasil menarik keluar orang yang kami incar." Kata Catulus kepada Glacies dengan nada arogan.
"Ba-Baik Nona Catulus..." Glacies tidak tahu rencana apa yang akan di lakukan Catulus dan kelompok nya, tetapi ia hanya tahu satu hal. Yaitu para Demon harus tunduk kepada para 'Player' dan melakukan apapun yang mereka perintahkan... Jika mereka melawan, Ras Demon tidak akan tersisa lagi di dunia ini.
Catulus merasa puas dengan jawaban Glacies, ia pun mengambil sebuah item dari (Inventori) nya. Kemudian ia melempar item itu ke atas langit, seketika item yang di lempar Catulus terpecah belah menjadi ribuan lalu melesat ke arah tubuh Demon yang tidak sadarkan diri. Seketika tubuh Demon itu terhisap oleh sesuatu ke tanah, kemudian menghilang seakan-akan di telan bumi.
Item itu adalah Item buatan Siegurd dan Javelin. Yang berguna untuk membuka portal ke tempat yang sudah di tandai. Item yang Catulus gunakan sudah di atur untuk membuka portal ke Benua Chiso tempat para Demon tinggal. Walaupun begitu, untuk memindahkan semua Demon yang jumlah nya mencapai ratusan ribu memerlukan energi sihir yang besar. Dan Catulus dapat dengan mudah melakukan itu, menandakan kalau jumlah energi sihir nya tidak main-main.
Setelah Catulus memindahkan semua Demon, termasuk Glacies. Catulus kemudian berjalan ke depan sejauh lima meter. Di sana terbaring tubuh seseorang yang dari ciri-ciri fisik nya adalah seorang Human. Saat Catulus berada tepat di samping orang itu, ia dengan perlahan membalikkan tubuh nya yang terbaring tengkurap menjadi posisi telentang, berniat melihat wajah orang itu.
"Tidak salah lagi, dia ayah Mira, Raja Charles... Maafkan aku. Aku tidak punya pilihan selain melakukan ini, semoga jiwa mu dapat bereinkarnasi dengan aman..." Gumam Catulus dengan wajah sedih.
Catulus kemudian mengambil sebuah anak panah dari (Inventori) nya. Ia pun menjatuhkan anak panah itu tepat ke jantung Charles.
Dada Charles yang bergerak mengembang dan mengempis, menandakan ia bernafas, seketika berhenti bergerak saat anak panah itu menusuk dada nya.