From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 284 Haru Ketiga Invasi XIX



Saat anak Demon Lord, yang bernama Hielo menyerang ku. Natasha dengan cepat menghentikan serangan nya tepat sebelum mengenai ku, dia memegang kepalan tangan Hielo dengan tangan kanan nya. Hielo terkejut serangan nya berhasil di hentikan dengan tangan kosong, tapi kemudian ia tersenyum seakan-akan senang serangan nya di hentikan.


Dan pada akhir nya aku mengetahui alasan ia tiba-tiba tersenyum.


Tangan Natasha yang memegang kepalan tangan Hielo, membeku secara perlahan. Mulai dari telapak tangan nya, merambat ke pergelangan tangan nya, hingga akhir nya tangan Natasha membeku seluruh nya.


"Bodoh! Jika kau terus memegang tangan ku, seluruh tubuh mu akan membeku!" Kata Hielo dengan percaya diri.


Seperti perkataan Hielo, pembekuan Natasha mulai menyebar, yang awal nya hanya salah satu tangan nya yang membeku, kini badan nya mulai ikut membeku, walaupun kecepatan pembekuan sangatlah lambat. Sebenarnya Natasha bisa melepaskan tangan nya dari kepalan tangan Hielo, atau ia bisa menyerang Hielo dengan tangan nya yang satu lagi, yang jelas tangan satunya belum membeku dan masih terbebas.


Natasha mengabaikan Hielo, ia malah melihat ke belakang, berbicara pada ku.


"Bagaimana ini Mira? Kita habisi Demon Lord dan anak nya di sini? Atau kita berteleportasi ke pasukan utama yang menunggu di sebrang lembah?" Tanya nya dengan santai.


"Apa!? Kau mengaba-"


"Hmmm... Benar juga, sebaiknya apa yang harus kita lakukan..."


Hielo mulai kesal saat Natasha mengabaikan nya, tapi sebelum ia memuntahkan kekesalan nya, aku memotong, berbicara pada Natasha dengan santai.


"Kau tahu, aku ingin kita menghabisi Demon Lord dan anak nya di sini, tapi itu bukan tugas kita... Sebaik nya kita menyerahkan Demon Lord dan anak nya kepada Jack." Kata ku.


"Kalau begitu kita kembali?" Tanya Natasha.


"Berani nya kalian-"


"Diam!" Hielo tambah marah, ia mengeluarkan aura membunuh di tambah dengan energi sihir yang besar, tapi Natasha membalas nya dengan aura membunuh yang lebih kuat dan energi sihir yang lebih besar. Hielo pun terdiam, kemudian ia menjawab Natasha dengan "Iya." dengan nada ketakutan.


"Tidak. Kita tidak akan kembali dulu, ada hal yang menarik perhatian ku di sini." Aku menjawab pertanyaan Natasha, sambil memberi kode untuk menjauhkan Hielo dari ku.


"Baiklah, kalau itu mau mu." Jawab nya.


Setelah itu, tubuh Natasha yang sudah seperempat membeku kembali seperti semula, es yang menutupi tubuh nya pecah. Hielo dan ayah nya Demon Lord Glacies terkejut melihat betapa mudah nya Natasha lepas dari sihir es nya Hielo. Setelah tubuh nya terbebas dari pembekuan, Natasha kemudian dengan keras melempar Hielo ke dalam lembah. Hielo berhasil mendarat di samping ayah nya dengan luka parah, dan es yang menjadi tempat nya mendarat hancur.


"Oooow... Maaf. Aku tidak menyangka kau akan selemah itu. Seharus nya aku menggunakan satu persen kekuatan ku, tapi aku malah sengaja menggunakan sepuluh persen kekuatan ku. Yah... Itu salah kau, memancing ku untuk menggunakan sepuluh persen kekuatan ku, jika kau tidak menyerang Mira sebelum nya aku hanya akan menggunakan satu persen kekuatan ku untuk melawan mu. Tapi karena kau menyerang Mira, aku malah sengaja menggunakan sepuluh persen kekuatan ku. Maaf ya..." Kata Natasha, mengejek Hielo secara halus, saat ia melihat nya terluka parah akibat terbanting keras ke tanah lembah.


"Aku pikir kau sedikit keterlaluan Natasha." Kata ku saat melihat Hielo yang badan nya di penuhi dengan darah di sertai dengan beberapa tulang patah.


"Itu baru langkah yang tepat. Jika seseorang menyerang mu, balas dia dengan sungguh-sungguh jangan tanggung-tanggung. Jika aku jadi kau, aku akan membunuh nya setelah itu menghidupkan nya kembali... Ok, baiklah. Kita lupakan hal ini terlebih dahulu... Demon Lord aku memiliki pertanyaan untuk mu." Aku mengakhiri pembicaraan dengan Natasha, kemudian mengajak bicara Glacies. Saat aku meemanggil nya, ia melihat ke arah ku dengan wajah pucat di penuhi dengan ketakutan. "Anak mu barusan mengatakan kalau akulah penyebab perang ini, apa maksud mu dengan hal itu? Aku sama sekali tidak mengingat mengajak perang Ras Demon malah kalian duluan yang mengajak berperang, berinteraksi dengan kalian saja tidak pernah, bagaimana bisa aku yang menyebabkan peperangan ini terjadi?"


"... Aku... Tidak bisa memberitahu mu..." Jawab Glacies dengan takut-takut.


".... Tidak bisa, katamu... Apa maksud mu dengan tidak bisa?"


"...."


Glacies tidak menjawab. Bibir nya gemetaran, setelah itu ia mengigit nya dengan keras, wajah nya semakin pucat, ia semakin ketakutan... Ada satu hal yang menganggu ku dengan perilaku dan perkataan nya.


Jika ia tidak ingin memberikan ku informasi apapun, dia bisa mengatakan 'Aku tidak akan mengatakan apapun pada mu!' tapi ia tidak mengatakan itu, ia malah mengatakan 'Aku tidak bisa memberitahu mu.' kata-kata nya seakan-akan mengindikasikan kalau dia ingin memberikan informasi pada ku, tapi ia tidak di perbolehkan untuk mengatakan apapun... Jika seperti itu, Demon Lord memimpin pasukan Demon untuk menginvasi Benua Silia dan Benua Yuro atas perintah orang lain...?


Saat aku memikirkan hal itu, aku terus menatap ke arah Glacies. Ia menundukkan kepala nya, bermaksud menyembunyikan ekspresi wajah nya agar aku tidak dapat membaca emosi nya. Walaupun ia menyembunyikan wajah nya, aku dapat tahu ia saat ini sangat ketakutan. Aku mengetahui dari badan nya yang terus gemetaran seperti orang kedinginan, padahal ia adalah Ras Demon yang tahan terhadap udara dingin. Jadi tidak mungkin ia kedinginan karena lembah saat ini sedang membeku.


"Kalau kau tidak ingin menjawab pertanyaan ku tidak apa-apa... Aku akan memberikan mu pertanyaan lain." Mendengar perkataan ku. Glacies mendongak, menatap lurus ke arah ku. "Demon Lord, siapa yang memerintahkan mu untuk menyerang Benua Yuro dan Benua Silia?"


Wajah Glacies berubah, ia nampak terkejut, tapi ekspresi terkejut nya hanya berlangsung beberapa detik, sebelum akhir nya wajah nya berubah menjadi ketakutan kembali. Ia kemudian menundukkan kepala nya lagi.


Dari perilaku nya sudah bisa di pastikan kalau Glacies bekerja di bawah perintah orang lain. Yang jadi masalah di sini adalah... Siapa yang bisa memerintahkan seseorang yang kekuatan nya di atas rata-rata seperti Demon Lord. Yang jelas, seseorang yang memerintahkan Demon Lord bukanlah orang biasa, bisa ku asumsikan kalau kekuatan orang itu setara dengan Arisa atau Jack lebih parah lagi kekuatan nya bisa saja setara dengan Natasha.


Dari percakapan ku bersama dengan Glacies, aku mendapatkan informasi yang sangat penting. Dan dari perkataan Hielo saat menyerang ku pada saat pertama kali ia mendengar nama ku, bisa di pastikan kalau incaran orang yang memerintahkan Glacies menyerang Benua Silia dan Benua Yuro adalah AKU. Aku tidak tahu apa tujuan orang itu mengincar ku, yang jelas saat ini aku sedang dalam bahaya.


"Natasha... Kita kembali berkumpul ke pasukan utama."


"Urusan mu sudah selesai?"


"Ya. Aku menangkap sesuatu dari percakapan ku barusan. Natasha, jika aku jelaskan kepada mu, penjelasan nya akan menjadi panjang. Tapi intinya, ada seseorang yang sangat kuat mengincar nyawa ku."


"!"


Mendengar informasi ku, Natasha terkejut. Ia ingin meminta penjelasan lebih lanjut tapi aku mendesak nya untuk pergi, berkumpul bersama pasukan utama.


Tapi, saat aku mengaktifkan sihir (Teleportation) udara di sekitar berubah. Suasana berubah menjadi mencekam, energi sihir yang sangat besar muncul dari udara tipis, bersamaan dengan itu muncul lingkaran sihir. Di tengah-tengah nya terdapat sebuah ruang hitam. Dari ruang hitam itu keluar mahluk raksasa, yang tidak ku ketahui mahluk apa itu, tapi yang jelas aku entah bagaimana bisa mengetahui nama mahluk itu... Dengan suara serak, aku menyebutkan nama mahluk itu.


"Ke-Kenapa... Kenapa. Bisa ada robot meka gu*dam di sini...?"