
"Jadi kapan kita akan ke sarang Wyvern yang kau ceritakan tadi?" Tanya Natasha.
Aku menceritakan kepada Natasha, Arisa dan Jack. Semua yang di ceritakan oleh ayah kepada ku, ku ceritakan semua kepada mereka.
Saat ini kami sedang berjalan ke kamar ibu, aku ingin meminta izin untuk keluar istana sebentar. Dan di saat berjalan ke kamar Ibu, Natasha bertanya pada ku.
"Jangan buru-buru Natasha, untuk saat ini kita harus mengumpulkan informasi dulu. Lagi pula aku tidak tahu pasti di mana sarang itu berada."
Setelah itu Natasha tidak bertanya lagi. Kami berempat terus berjalan ke kamar ibu, saat di perjalan aku bertemu ke empat selir, mereka berjalan berkelompok.
Aku membungkuk memberi salam pada mereka, mereka tidak membalas salam ku, aku pun terus berjalan.
Beberapa menit kemudian, aku sampai di depan kamar Ibu, aku mengetuk pintu. Tapi tidak ada balasan dari dalam.
Prajurit lewat, aku menghentikan dia. Kemudian aku bertanya.
"Ibu ada di mana?"
"Yang Mulia Ratu ada di ruang tahta."
"Begitu ya.... Bisa aku minta tolong?"
"Akan saya lakukan semampu saya."
"Aku ingin keluar istana sebentar, bisa kau beritahu Ibu?"
"Baik akan saya lakukan. Ngomong-ngomong, Putri Mira ingin saya kawal?"
"Tidak perlu, aku memiliki mereka." Aku menunjuk Natasha, Arisa dan Jack yang berdiri di belakang ku.
Setelah itu, mengucapkan terima kasih, kemudian pergi berjalan ke pintu keluar istana yang ada di lantai satu.
Aku bisa keluar istana tanpa masalah, berjalan menyusuri taman sebentar, kemudian aku sampai di gerbang istana. Di sana ada dua prajurit yang menjaga gerbang istana.
"Putri Mira!! Apakah anda ingin keluar?"
Aku mengangguk. "Iya. Jadi bisa kalian buka gerbang nya?"
Kedua prajurit mengangguk, kemudian mereka membuka gerbang istana selebar-lebar nya. Mengucapkan terima kasih kepada dua prajurit, kemudian aku pergi keluar istana.
Aku berjalan di tempat khusus pejalan kaki, selama aku berjalan para warga membungkuk memberi salam pada ku. Aku membalas salam mereka dengan lambaian tangan.
"Jadi kita ingin kemana Mira?" Tanya Natasha.
"Ke Guild petualang, aku ingin mengumpulkan informasi."
"Lalu dimana Guild petualang itu?"
"Tidak tahu!"
"Kau.....!" Suara Natasha yang ada di belakang ku terdengar bermasalah. Ia seperti nya ingin memprotes tindakan ku yang berjalan keluar istana tanpa tahu tempat tujuan.
"Huuft!" Natasha menghela nafas. "Lakukan saja sesuka mu Mira."
Ia menyerah untuk memprotes tindakan ku.
Selama aku berjalan, aku terus melambaikan tangan untuk membalas salam dari warga. Entah kenapa rasanya aku seperti barang pertunjukan.
"Aduh!"
Tiba-tiba ada seorang gadis kecil jatuh di depan ku. Aku berhenti berjalan, lalu aku menjulurkan tangan ku untuk membantu gadis kecil yang ada di depan ku untuk berdiri.
"Kau tidak apa-apa?"
Gadis kecil itu melihat tangan ku, lalu ia dengan cepat berdiri, membersihkan baju nya, kemudian membungkuk beberapa kali.
"Maafkan saya! Maafkan saya!! Maafkan saya, maafkan saya karena telah menghalangi jalan anda! Saya mohon jangan hukum mati keluarga saya!"
Apa yang gadis ini katakan? Seperti apa aku di matanya sampai ia berkata seperti itu? Apakah aku terlihat seperti seorang Putri yang menguasai negeri dengan tirani?
"A-aku tidak mungkin menghukum mu karena masalah sepele seperti itu. Lagi pula kau tidak salah."
Saat aku berkata seperti itu, tiba-tiba datang seorang wanita dewasa, ia langsung bersujud di hadapan ku. Gadis kecil yang tadi terjatuh juga ikut bersujud.
"Ma-maafkan anak saya!" Teriak wanita dewasa itu.
Semenjak tadi aku selalu di perhatikan oleh warga kota, tapi saat wanita dewasa itu datang kemudian bersujud, makin banyak warga kota yang memperhatikan ku.
Aku menghela nafas. Melihat hal itu membuat ku lelah, bukan secara fisik, tapi secara mental.
"Aku tidak akan memaafkan tindakan tidak sopan anak mu barusan!"
Semua warga, wanita dewasa dan anak yang tadi terjatuh itu terkejut dengan perkataan ku. Sedangkan Natasha, Arisa dan Jack menahan tawa mereka.
Kenapa mereka tertawa? Apakah yang ku katakan tadi lucu? Seharus nya yang ku katakan tadi itu menyeramkan bukan? Lalu kenapa mereka tertawa?
Aku membuang semua pertanyaan tidak berguna dari kepala ku, kemudian aku melihat ke arah anak yang terjatuh dan wanita dewasa yang bersujud di depan ku, mereka mendongak sedikit dengan wajah pucat.
"Hmm..." Aku menyilangkan tangan di dada sambil menutup mata ku. Aku berakting seperti sedang berpikir. "Baiklah hukuman nya sudah ku tentukan."
Wajah ibu dari anak yang terjatuh dan anak nya makin pucat.
"Sebelum ku sebut hukuman nya, kalian berdua berdiri dulu."
Mereka berdiri menuruti perintah ku.
"Baiklah dengar baik-baik. Hukuman kalian adalah.."
Anak yang terjatuh dan ibunya meneguk ludah dengan perasaan takut.
"Hukuman kalian adalah.... Kalian harus memberitahu kepada ku di mana Guild petualang berada."
"Eh?"
\*\*\*
Aku sampai di depan Guild petualang.
Aku merasa bersalah kepada Ibu dan anak yang ku takuti sebelum nya.
Mereka berdua sampai dengan takut-takut menjawab pertanyaan ku, sejujur nya adegan itu sangat lucu.
Pantas saja Natasha, Arisa dan Jack menahan tawa mereka. Mereka ternyata sudah tahu tujuan ku, dan mereka juga sudah tahu reaksi kedua orang itu seperti apa.
"Lain kali, jangan lakukan hal itu Kak Mira!" Arisa berkata sambil menahan tawa nya.
"Iya, iya... Cepat berhenti ketawa nya, dan kita masuk kedalam tempat ini."
Aku berjalan ke pintu Guild petualang.
Guild petualang adalah gedung berwarna hitam dengan pintu kayu yang banyak dengan goresan. Saat melihat tempat ini, aku membuat gambaran, kalau tempat ini adalah tempat jual beli barang haram. Karena kondisi gedung yang terlihat terbengkalai dan menyeramkan. Tapi seingat ku, tempat jual beli barang haram, itu lebih berkelas dari ini.
Aku menyentuh pintu yang penuh dengan goresan, saat ku sentuh pintu itu terasa sangat kasar. Aku menghembuskan nafas, lalu melihat ke arah Natasha, Arisa dan Jack yang ada di belakang ku.
"Apapun yang mereka lakukan, beri hukuman yang ringan kepada mereka. Kalian paham!"
"Ba-baik!" Jawab Jack dengan bingung. Sebenarnya bukan Jack saja yang bingung, Arisa dan Natasha juga bingung dengan perintah ku.
Aku memiliki firasat kalau aku masuk kedalam bangunan ini akan ada banyak orang yang akan berprilaku kasar kepada ku, jadi aku memberitahu mereka untuk menghukum pelaku-pelaku itu dengan ringan.
Aku mendorong pintu. Suara engsel pintu terdengar sangat jelas, yang semakin membuat bangunan itu semakin terasa menyeramkan. Kalau aku datang di malam hari, bulu kuduk ku pasti akan merinding mendengar suara engsel pintu tadi.
Saat masuk, tempat itu.......
Kosong!
Tidak ada orang di dalam nya!
Kemudian pintu belakang bangunan terbuka, keluar gadis yang seperti nya berumur pertengahan 20 tahun dengan rambut merah dan baju pelayan.
"Hari ini kalian cepat ya! Bagaimana dengan Pekerjaan kalian?" Kata gadis itu, saat baru masuk dari belakang bangunan.
Gadis itu menatap kami dengan tatapan serius.
"Anu... Anda Putri Mira kan?"
Aku mengangguk.
Saat aku mengangguk, gadis itu mengeluarkan keringat dingin, bergegas mengatur meja dan kursi, lalu menyuruh aku duduk. Aku nurut dan duduk bersama dengan Natasha, Arisa dan Jack. Setelah kami duduk, gadis itu kembali keruang belakang bangunan. Beberapa menit kemudian dia kembali dengan membawa beberapa cangkir teh, dan dia tidak datang sendiri, dia datang bersama dengan seorang laki-laki yang seperti nya berumur empat puluh tahun, dengan baju berkelas berwarna biru, dan memiliki rambut berwarna merah sama seperti gadis yang membawa kan teh untuk kami.
Gadis itu menaruh secangkir teh di depan ku, Natasha, Arisa dan Jack. Meja yang ada di hadapan kami berbentuk persegi panjang, aku, Natasha, Arisa dan Jack duduk bersampingan, sedangkan pria yang berambut merah duduk di sebrang meja bersama dengan gadis yang menyediakan kami teh.
Aku menyeruput teh ku.
"Ada apa Putri Mira datang ke tempat jelek seperti ini?" Kata pria pria itu dengan senyum pahit di wajah nya.
Aku menaruh cangkir di atas meja. Rasa teh nya lumayan, walaupun tidak seenak teh buatan Natasha.
Untuk saat ini kesampingkan komentar teh, aku menanyakan nama gadis dan laki-laki berambut merah.
"Maafkan saya karena tidak memperkalkan diri." Kata laki-laki berambut merah. "Kalau begitu, perkenalkan nama saya Rouge, dan ini anak saya Cecil."
Gadis berambut merah membungkuk setelah di sebut nama nya.
"Saya adalah Guild master di sini, dan anak saya adalah resepsionis di sini."
Aku menyeruput teh ku lagi. Menaruh nya lagi setelah minum seteguk, lalu aku membuka mulut.
"Aku akan langsung ke intinya. Apakah kalian tahu tentang sarang Wyvern di perbatasan kota Cocoa dan kota Banitza?"
Setelah mengatakan itu, aku menyeruput teh lagi.