From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 340 Menyelidiki Ibu Kota



Arisa, Jack, dan Amanda berhasil sampai di Ibu kota tanpa masalah. Mereka memutuskan untuk berpencar mencari informasi, sebelum akhir nya berkumpul kembali kemudian memberikan laporan kepada Mira melalui (Thelepaty).


Beberapa menit berlalu. Mereka bertemu kembali di alun-alun kota, mereka kemudian memutuskan untuk pergi ke penginapan, di sanalah mereka akan memberikan laporan kepada Mira.


Setiba nya di penginapan, mereka melakukan check-in untuk satu kamar dengan kapasitas tiga orang, pada titik ini Jack memperkenalkan diri sebagai suami dari Arisa dan Amanda adalah adik nya, ini di lakukan untuk mengelabui resepsionis. Jika Jack memperkenalkan diri sebagai adik Arisa dan Amanda adalah istri nya, resepsionis pasti tidak akan percaya karena mereka berdua pada dasar nya beda ras, dan yang pasti itu akan menimbulkan kecurigaan. Karena itu mereka setuju dengan settingan itu.


Setelah mereka check-in, resepsionis mengantarkan mereka ke kamar yang mereka pesan saat mereka sudah memasuki kamar, resepsionis pun pergi. Arisa menutup pintu kamar, lalu mengatifkan (Barrier) penghalang suara agar pembicaraan mereka tidak di dengar oleh orang lain.


"Kalian mendapatkan sesuatu?" Tanya Amanda sambil duduk di atas kasur.


"Aku mendengar berita terbaru, kalau Selir Shina dan Raja Charles meninggal dunia." Jawab Jack.


"Ya. Hanya itu yang ku dapatkan." Kata Arisa, memberitahu kalau dia tidak mendapatkan informasi apapun kecuali berita yang sama dengan Jack.


"Sama dengan ku," Kata Amanda sambil menghela nafas. "Apakah Mira tahu mengenai berita ini?"


Jack dan Arisa saling bertatap muka saat Amanda menanyakan hal itu. Kemudian Arisa mengalihkan pandangan nya ke Amanda lalu menjawab pertanyaan nya. "Mungkin ia tidak tahu. Bahkan Ratu Carla tidak memberitahukan hal ini pada kami."


"Begitu ya... Apakah kau ingin menyampaikan hal ini pada Mira?"


".... Ya... Aku tidak punya pilihan lain. Dan juga berita ini harus di ketahui oleh Kak Mira."


Arisa memutuskan untuk memberitahu berita duka ini pada Mira secepat nya, atas alasan itulah ia kemudian menggunakan sihir (Telepathy) untuk menghubungi Mira.


Saat Arisa menggunakan sihir (Telepathy) nya, Mira sama sekali tidak menjawab, yang jelas (Telepathy) nya terhubung tapi tidak ada suara, hanya keheningan yang ada. Arisa kemudian memanggil nama Mira berkali-kali hingga kurang lebih selama satu menit ia melakukan itu, Arisa dapat mendengar suara kaget Mira di dalam kepala nya.


'Kak Mira sedang tidur? Aku memanggil Kak Mira dari tadi.' Kata Arisa menduga mengapa (Telepathy) mengalami sedikit delay.


'Ya. Aku tertidur sebentar.' Jawab Mira atas pertanyaan nya.


'Maaf. Apakah aku menganggu?' Arisa mencoba untuk sedikit perhatian pada Mira. Ia tidak ingin Mira yang baru bangun tidur mendengar berita menyedihkan yang akan ia sampaikan.


'Tidak apa-apa. Jadi mengapa kau menghubungi ku?'


Arisa ingin langsung memberitahu mengenai berita duka yang ia dapatkan, tapi ia menduga Mira akan syok jika tiba-tiba mendengar berita itu. Arisa pun memutuskan untuk memberitahu Mira mengenai kondisi Ibu kota saat ini. 'Kami sudah sampai di Ibu Kota, dan telah menyusuri jalanan sebentar, tapi kami tidak menemukan suatu yang janggal saat ini.'


'Begitu ya... Teruslah mencari informasi.' Mira menjawab, entah kenapa ia sedikit lega mengenai informasi yang Arisa berikan pada nya.


Arisa tidak tahu mengapa Mira merespon berita yang ia berikan seperti itu, tapi Arisa memutuskan untuk memberitahukan berita yang mungkin membuat Mira terkejut. Dengan perasaan berat hati, Arisa melanjutkan laporan nya. 'Baiklah... Dan satu hal lagi Kak Mira. Kami mendengar kabar buruk. Seperti nya, Raja Charles dan Selir Shina telah...'


Belum selesai ia menyampaikan, Mira memotong perkataan Arisa dengan nada sedih. 'Ya.... Aku... Sudah... Tahu...'


Mendengar respon Mira yang seperti itu, Arisa hanya bisa berkata. 'Kak Mira tidak apa-apa?'


'... Aku baik-baik saja. Teruslah mencari.' jelas dari nada suara nya, kalau ia tidaklah sedang baik-baik saja, ia jelas merasakan kesedihan dari informasi kematian Shina dan Charles. Walaupun begitu, Arisa tahu kalau Mira saat ini sedang menguatkan diri nya mengenai berita duka ini. Ia baru saja kehilangan Ibu nya, kemudian entah bagaimana dan entah dari mana ia mendapatkan berita kematian Charles dan Shina, tidak bisa di pungkiri kalau Mira sangat syok saat ini.


Arisa mengetahui kalau Mira saat ini ingin menyendiri, karena itulah ia segera mengakhiri (Telepathy) nya. 'Baiklah... Jika aku menemukan informasi penting, aku akan langsung menghubungi Kak Mira.' Kata Arisa sebelum akhir ia benar-benar memutuskan (Telepathy) nya.


Setelah memutuskan (Telepathy) nya, Arisa menyampaikan pembicaraan yang baru saja ia lakukan dengan Mira. "Kak Mira sangat terkejut dengan berita kematian Raja Charles dan Selir Shina."


"Sudah pasti." Kata Amanda. "Malah aneh jika ia tidak terkejut sama sekali."


"Kalau begitu, apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanya Jack.


"Kak Mira menyuruh kita untuk mencari informasi lebih lanjut. Walaupun kita tidak menemukan keanehan di ibu kota, jelas ada sesuatu yang tidak beres di sini. Buktinya ada (Barrier) yang mencegah sihir (Teleportation) yang mengelilingi kota." kata Arisa menjelaskan rasa aneh yang ia rasakan saat memasuki ibu kota.


"Kalau begitu, kita tidak bisa terus mencari informasi dengan cara mendengarkan gosip murahan di sekitaran kota. Kita perlu sumber informasi yang valid." Amanda menjawab atas perkataan Arisa yang menyampaikan perintah Mira.


"Dan di mana kita bisa mendapatkan sumber informasi yang valid? Apakah kita akan menyusup ke istana?" Tanya Jack atas saran Amanda, ia juga mengusulkan untuk menyusup ke istana. Saat ini Jack khawatir dengan kondisi Yuri, ia ingin cepat-cepat bertemu dengan nya, karena itu ia mengusulkan usulan yang sangat beresiko itu.


"Itu tindakan gegabah Jack. Aku tahu kau khawatir dengan Putri Yuri. Tapi kita tidak bisa langsung menyusup masuk istana."


"Kak Amanda benar, jika memang kita terpaksa melakukan itu, kita harus merencanakan hal itu dengan matang."


"Mmm.... Bagaimana kita terus mencari informasi di jalanan. Jika kita tidak mendapatkan informasi baru sampai besok, barulah kita menyusup ke istana." Amanda mengusulkan langkah paling aman menurut nya.


".... Aku tidak yakin... Jika musuh yang memasang (Barrier) ini ada di istana bagaimana? Yang jelas musuh yang kita hadapi kali ini sangatlah berbeda dari musuh yang kita hadapi sebelum nya." Jawab Arisa.


"Mungkin saja orang-orang yang di hadapi Mira di Aziliya yang memasang (Barrier) di sekitaran kota?"


"Sudah jelas mereka yang memasang (Barrier) ini. Tapi mungkin saja ada orang lain, aku tidak yakin. Yang pasti menyusup ke istana yang jelas menjadi markas musuh adalah tindakan gegabah, jika bisa aku tidak ingin melakukan nya sebelum Kak Mira dan Kak Natasha sampai."


"Walaupun begitu, kita tidak bisa mencari informasi dari gosip tidak jelas. Seperti kata Kak Amanda, kita perlu sumber informasi yang valid." Jack mengungkap kan dengan jelas keinginan nya menyusup ke istana.


"Kalian berdua ada benar nya. Tapi kita tidak bisa terus berbedat seperti ini. Kita harus menentukan langkah kita selanjut nya."


"Kita berkumpul di balai kota, pada pukul tiga." Kata Amanda kepada Jack dan Arisa sebelum akhir nya mereka bertiga pergi dari penginapan, menyusuri jalanan Ibu kota untuk mencari informasi.


\*\*\*


Sore hari. Pukul tiga. Di balai kota.


Jack, Amanda, dan Arisa berkumpul sesuai yang mereka rencana kan.


"Apa yang kalian dapatkan?" Tanya Amanda dengan wajah lelah.


"Hanya rumor tidak berguna." Jawab Jack.


"Sama." Sambung Arisa.


"Hah... Seperti nya kita tidak punya pilihan lain..." Amanda menghela nafas setelah mendengar jawaban Arisa dan Jack. Sebelum akhir nya ia mengungkapkan kalau mereka akan menggunakan cara terakhir.


"Sebenarnya aku tidak setuju," Kata Arisa. "Tapi kita tidak punya pilihan... Sebaik nya kita menyusun rencana secepat nya. Ayo kembali ke penginapan."


Saat mereka menyetujui usulan Arisa untuk kembali ke penginapan, tiba-tiba para kstaria dari istana datang, membuat mereka bertiga membatalkan rencana untuk kembali ke penginapan.


"Perhatian!! Kami ingin menyampaikan berita." Kata salah satu ksatria dengan suara lantang. Kemudian ksatria yang lain nya mulai menyebar, membagikan secarik kertas.


Saat kertas itu di bagikan seluruh warga yang ada di balai kota menjadi heboh. Membuat Arisa, Jack dan Amanda bertanya-tanya alasan di balik kehebohan itu. Yang dimana pertanyaan mereka segera terjawab, sesaat ksatria datang menghampiri mereka dan memberikan secarik kertas kepada mereka bertiga.


Saat Jack membaca tulisan yang ada di kertas yang bagikan, ia kemudian berteriak. "Lelucon macam apa ini!? Mana mungkin Putri Yuri membunuh Ratu Carla!"


"Tenang Jack..." Kata Amanda memperingatkan.


"Bagaimana aku bisa tenang dengan berita seperti ini!?" Teriak Jack kepada Amanda.


"Aku akan memastikan berita ini kepada Putri Yuri secara langsung..." Gumam Jack.


"Hentikan! Kita tidak boleh gegabah... Jika Mira tahu kau bersikap seperti ini, dia akan-"


"Dia akan senang! Aku menyelamatkan kakak kesayangan nya!"


"Benar kata Kak Amanda Jack, lebih baik kita-"


"Tidak ada gunanya berbicara pada kalian... Bilang saja kalian takut!"


"Jack... Dengarkan aku!"


Jack tidak mendengarkan peringatan Arisa, ia malah bersiap melesat untuk menyerang para ksatria, tetapi sebelum ia melakukan itu, Amanda dengan cepat memukul perut Jack hingga pingsan. Kemudian mereka bertiga pun pergi memanfaatkan kegaduhan di balai kota.


Setiba nya di penginapan, mereka langsung pergi ke kamar mereka, kemudian memasang (Barrier) untuk mencegah suara masuk.


"Arisa, hubungi Mira sekarang!" Perintah Amanda kepada Arisa.


Arisa mengangguk, lalu mengaktifkan sihir (Telepathy) nya. Tetapi aneh nya, sesaat ia mengaktifkan sihir (Telepathy) nya, sihir itu batal dengan sendiri nya, seakan-akan ada kekuatan asing yang mencegah nya untuk melakukan itu.


Merasa kebingungan, ia mencoba sekali lagi. Tapi tetap gagal.


"Apa... Yang terjadi...? Bagaimana bisa...?"


"Ada apa?"


"Ada yang mencegah sihir (Telepathy) ku!"


"Sial! Jangan-jangan (Barrier) yang mengelilingi ibu kota di perbarui!?"


"Itu tidak mungkin! Aku tidak merasakan hal itu sama sekali!"


Untuk melakukan hal itu, di perlukan energi sihir yang besar. Tetapi selama Arisa berkeliling di ibu kota, ia sama sekali tidak merasakan nya sama sekali. Bisa di mengerti mengapa ia begitu terkejut dengan hal itu.


"Apapun alasan nya, yang jelas kita tidak bisa berhubungan dengan Mira secara langsung. Apakah ada cara lain untuk memberitahu nya mengenai masalah ini?"


"... Burung pengantar pesan..."


"Patut di coba. Arisa segera kirim surat kepada Mira! Beritahukan mengenai masalah ini secepat nya."


Arisa mengangguk, kemudian menggunakan sihir pemanggil untuk memanggil burung merpati, yang di mana burung itu segera berubah menjadi secarik kertas. Dengan cepat Arisa menuliskan laporan nya secara ringkas. Setelah selesai, kertas itu kembali menjadi burung, lalu ia mengepakkan sayap nya terbang menjauh dari ibu kota. Melihat hal itu Arisa hanya bisa bernafas lega, mengetahui kalau ia masih bisa mengirimkan surat kepada Mira.