From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 280 Hari Ketiga Invasi XV



Pasukan Demon terus memasuki lembah, selama mereka memasuki lembah aku menyiapkan sesuatu untuk menyambut mereka, aku menyebarkan peledak kecil di puncak pegunungan, peledak itu aku buat dengan sihir (Creation).


Rencana ku kali ini adalah membiarkan pasukan Demon memasuki lembah, meledakkan pegunungan hingga menyebabkan tanah longsor. Tanah longsor pasti akan mengubur hidup-hidup pasukan Demon, walaupun tidak akan semua. Kemudian sisa-sisa pasukan Demon akan di hujani panah oleh para prajurit yang sudah memencar di balik pegunungan, mengurangi jumlah pasukan Demon lebih banyak lagi. Setelah kira nya kami tidak sanggup mengurangi lebih banyak lagi, kami akan mundur, berteleportasi ke pasukan utama yang berada di seberang lembah Phacelia.


Semua peledak telah ku sebar, aku pun bersembunyi di balik gunung bersama dengan Natasha.


Delapan belas menit berlalu, suara gemuruh di tanah dapat terdengar. Suara gemuruh itu adalah langkah kaki para Demon yang berjalan melewati lembah. Aku bersiap-siap meledakkan peledak yang telah ku sebar, aku menunggu pasukan Demon di posisi yang tepat, sehingga saat tanah longsor nanti jumlah pasukan Demon akan berkurang cukup banyak.


Setelah kira nya pasukan Demon telah sampai di posisi yang menurut ku tepat, aku kemudian memicu peledak yang telah ku sebar di pegunungan.


Seketika ledakan terjadi, tanah pegunungan mulai longsor ke lembah, pasukan Demon yang masih terkejut karena ledakan yang tiba-tiba tidak sempat bergerak saat tanah mulai longsor. Hasil tanah longsor itu mengurangi sekitar tiga ribu prajurit dari puluhan ribu pasukan Demon.


Tidak membiarkan mereka merespon apa yang baru saja terjadi, aku memerintahkan para prajurit yang tersebar di pegunungan untuk menembakkan panah mereka. Ribuan panah yang sudah di siapkan untuk rencana ini menyebar ke dalam lembah, membunuh para Demon dalam sekali tembak. Seharus nya panah biasa tidak akan bisa membunuh Demon dalam sekali tembakan, karena itu kami menggunakan panah khusus dalam menjalankan rencana ini. Panah khusus itu terbuat dari campuran Orihalcum dan Mithril. Panah yang terbuat dari kedua logam itu kemudian di mantrai dengan sihir pemanas yang apabila terkena ke target, panah itu akan mengeluarkan panas seratus derajat. Panas seratus derajat apabila di tembakkan ke Ras lain selain Ras Demon mereka masih bisa selamat. tetapi berbeda dengan Ras Demon. Ras Demon adalah Ras beradarah dingin, tubuh mereka mengeluarkan hawa dingin untuk mendinginkan daerah sekitar mereka, karena hal itulah Ras Demon secara alami memiliki kelemahan terhadap hawa panas. Apabila tubuh mereka menjadi panas secara mendadak, darah di dalam tubuh mereka akan berhenti, membuat jantung yang bertugas memompa darah ke seluruh tubuh otomatis juga berhenti, membuat para Demon akan mati terkena serangan jantung akibat panah khusus kami.


Setelah hampir seperempat pasukan mereka mati, akhir nya seorang Demon yang seperti nya pemimpin pasukan itu menyadari kalau mereka di serang. Mereka pun dengan cepat membuat formasi perisai. Mereka menaikkan perisai ke atas kepala mereka, menutupi jalur panah yang datang dari atas, alhasil mereka pun berhasil melindungi diri mereka dari panah yang masih belum mengenai mereka.


Aku sudah memprediksi gerakan mereka yang menggunakan formasi perisai untuk menutupi jalur panah yang datang, aku pun menjalankan tahap ketiga dari rencana ku. Di antara pasukan yang ku bawa ada sekitar tiga puluh penyihir yang ikut, dan mereka adalah kunci untuk mengurangi pasukan Demon dalam jumlah banyak.


Aku memberikan kode untuk pasukan penyihir, mereka mengangguk lalu menembakkan puluhan bola api berdiameter 50 meter ke arah pasukan Demon. Aku tahu kalau bola api itu akan di tepis dengan perisai yang di bawa oleh pasukan Demon, tapi itulah rencana ku, menembakkan api ke arah perisai para Demon. Dengan kemampuan khusus mata emas ku, aku dapat mengetahui kalau perisai mereka setidaknya terbuat dari bahan penghantar panas, walaupun perisai mereka bukan terbuat dari logam yang ada di Benua ini.


Saat bola api yang di tembakkan penyihir terkena perisai pasukan Demon, perisai itu mengeluarkan asap, tanda kalau perisai itu telah mencapai panas tertentu. Itu pasti membuat hawa di sekitar pasukan Demon memanas secara mendadak, dan dari perubahan suhu itu akan membuat pasukan Demon mati secara otomatis karena serangan jantung.


Sesuai dugaan ku, pasukan Demon langsung tumbang sesaat bola api berhasil mereka tepis, dan pasukan Demon yang tumbang lebih banyak dari perkiraan ku. Aku mengira kami akan berhasil membantai hampir setengah pasukan Demon, tapi berkat serangan dari pasukan ku sebelum nya lebih dari setengah pasukan Demon mati secara mendadak. Walaupun aku salah perkiraan, tapi itu membuat ku senang karena rencana ku lebih mengerikan dari pada yang aku duga.


Karena tugas ku dan pasukan ku sudah selesai, aku pun memerintahkan pasukan ku untuk kembali ke pasukan utama yang ada di sebrang lembah Phacelia.


Sebelum aku memerintahkan pasukan ku untuk mundur, Natasha yang berada di samping ku tiba-tiba memeluk ku dengan erat, ia kemudian dengan cepat menggigit jari nya, lalu ia menggunakan (Cursed Blood Control) nya untuk membuat perisai.


Darah yang keluar dari tangan Natasha yang terluka dengan cepat berubah menjadi perisai yang melindungi ku dan juga melindungi Natasha sendiri.


"Natasha, apa yang kau lakukan!" Tanya ku dengan nada tinggi. Serius! Kenapa dia menggunakan (Cursed Blood Control) nya, dia seharus nya tahu akan gawat kalau Ras Vampir, Ras terkuat yang di anggap sudah punah masih eksis sampai sekarang.


"Aku merasakan energi sihir yang sangat besar dari atas langit!" Jawab Natasha atas pertanyaan ku.


"Apa?"


Aku tidak merasakan energi sihir, memang indera ke enam ku, yang bertugas mendeteksi bahaya dan energi sihir sekarang menumpul, tapi jika energi sihir itu sangat besar seharus nya aku bisa merasakan nya.


"Ah. Maaf, walaupun aku bilang sangat besar itu hanya sebesar lima persen kekuatan ku." Kata Natasha, menyadari kebingungan ku yang tidak bisa merasakan energi sihir yang di rasakan Natasha sekarang.


Atas perkataan Natasha itu aku penasaran siapa pemilik energi sihir yang baru saja ia katakan. Aku mendongak, melihat ke atas langit. Di sana terbang dua orang Demon dengan sayap burung gagak, yang warna nya sangat hitam.


Mereka berdua seperti nya membaca mantra yang sangat panjang, dan aku bisa melihat dengan mata emas ku kalau energi sihir di sekitar mereka mulai berkumpul. Lingkaran sihir yang sangat besar muncul di atas langit, mengelilingi seluruh lembah, melihat lingkaran sihir itu, bulu kuduk ku berdiri. Aku tahu dari pola geometris lingakaran sihir itu, itu adalah sihir es yang memiliki dampak luas.


"Ice Age!"


Lingakaran sihir pecah sesaat perapal meneriakkan nama sihir nya. Sesaat lingkaran sihir itu pecah, seluruh lembah menjadi es. Tidak, bukan hanya seluruh lembah, tetapi seluruh mahluk hidup kecuali Ras Demon yang ada di lembah berubah menjadi es. Aku dan Natasha berhasil selamat. Berkat perisai darah yang di buat oleh nya.


"Sayap itu... Dan energi sihir ini... Mereka berdua pasti keturunan Demon Lord Cocytus!" Kata Natasha, menatap tajam ke arah Demon bersayap gagak yang terbang di atas langit.