
Di Benua Yuro, kerajaan Animalia. Di sebuah kamar yang di gunakan oleh Putri kerajaan Animalia, Catulus.
Dia saat ini sedang berbaring di kasur nya sambil menatap langit-langit kamar nya. Dia memikirkan tentang acara pernikahan nya dengan pangeran dari kerajaan Dwarf yang akan di laksanakan dalam waktu dua minggu lagi.
Di Benua Yuro terdapat dua kerajaan besar, yang terikat dengan perjanjian aliansi yang sudah ada sejak zaman dahulu. Dua kerajaan itu selalu mengadakan pernikahan politik untuk memperkuat aliansi. Dua kerajaan itu adalah, Kerajaan Animalia tempat untuk semua Ras Demi Human tinggal, dan Kerajaan Dwarvania, tempat bagi Ras Dwarf tinggal.
"Tidak pernah terpikirkan oleh ku di jadikan benda untuk memperkuat Aliansi." Gumam Catulus dengan suara lirih.
Kemudian tiba-tiba, Catulus merasakan sesuatu masuk ke dalam kamar nya melalui jendela. Dia tahu apa yang masuk itu, sehingga Catulus membiarkan sesuatu itu masuk.
"Selamat atas pernikahan mu Catherine." Sesuatu yang masuk itu berbicara. Itu adalah sebuah burung. Tidak. Itu adalah sesuatu yang mirip dengan burung.
Sebagai bukti itu bukan burung adalah itu bisa berbicara layak nya mahluk yang memiliki akal, itu memiliki tubuh yang terbuat dari baja bukan nya daging dan itu bukan terbang menggunakan sayap nya layak nya burung normal. Tetapi itu terbang menggunakan sihir (Fly) yang di terapkan pada benda yang mirip dengan burung itu.
"Berisik!" Catulus berteriak kesal kepada benda yang mirip burung itu. Dia kemudian berbicara lagi dengan suara bernada tinggi. "Asal kalian tahu. Aku tidak akan pernah mau menikah selagi aku hidup di dunia ini."
"Kami juga tidak mau," Balas sesuatu yang mirip dengan burung itu. "Dan bukan hanya kami. Mira pasti tidak mau menikah dengan seorang Pria. Anak itu tidak tertarik pada lawan jenis, dia hanya tertarik pada makanan manis."
"Kau benar....." Jawab Catulus dengan senyum sedih di wajah nya. Dia kemudian berbicara, dengan ekspresi kesakitan bercampur dengan ekspresi sedih di wajah nya. ".....Apakah kita harus benar-benar membunuh nya? Dan juga apakah kita bisa membunuh nya?"
"......Apa maksud mu apakah kita bisa membunuh nya?.... Apakah kau pikir, rencana yang kita siapkan dengan susah payah tidak cukup untuk membunuh nya?" Kata benda mirip dengan burung itu dengan nada marah.
"........ Bukan itu." Jawab Catulus dengan ekspresi bermasalah. "Maksud ku..... Mungkin saja dia sama dengan kita."
"Kalau Mira sama dengan kita. Sistem pasti tidak akan memberikan Quest untuk membunuh nya."
"Kau benar...... Jika kalian mengirim benda ini pada ku, Pasti rencana kalian sudah selesai?" Jawab Catulus kepada benda mirip burung itu, sebelum mengalihkan pwmbicaraan dengan bertanya tentang sesuatu yang hanya di ketahui Catulus dan benda yang mirip burung itu.
"Begitulah. Hanya tinggal pengumuman."
".......Hah....." Catulus menghela nafas mendengar kata-kata benda yang mirip burung itu. "Apakah ada gunanya melakukan semua ini?" Tanya nya.
"Tentu saja ada. Ini semua untuk memulai kekacauan, dan memberitahu dunia kalau ada ancaman yang di sebut dengan Player."
***
Aku berdiri diam, menatap Natasha yang baru saja masuk bersama dengan Arisa yang saat ini sudah keluar untuk melapor. Natasha melihat ku, seperti menatap sesuatu yang sulit untuk di percaya. Mulut nya menganga, mata nya melotot, dan ekspresi nya bahagia bercampur dengan sedih. Aku dan dia bertatapan selama hampir satu menit, membuat ketiga anak yang masuk sebelum Natasha menjadi bingung dengan situasi.
Aku kemudian berjalan mendekati Natasha, sambil berkata pada nya. "Seperti nya aku membuat mu khawatir." Saat sudah berada tepat di depan nya, aku berkata lagi. "Maaf." Hanya itu yang bisa ku katakan.
Setelah aku meminta maaf, dia menangis. Air mata nya keluar begitu deras dari kedua mata nya. Dia kemudian memeluk ku dengan sekuat tenaga, sambil menangis begitu keras seperti anak kecil.
"Uuuwaaaaaaaa! Miraaaaaaaaaaa!"
Aku membalas pelukan nya, lalu pintu terbuka lagi. Masuk ayah, Ibu, Arisa dan empat orang wanita yang tidak ku kenal. Natasha langsung melepas ku saat mereka masuk, lalu ia menghapus air mata nya. Dari belakang, aku bisa mendengar ketiga anak yang berteriak kebingungan, "Ibu!" Kata Mariana, Liliana dan Tristan, secara bersama-sama.
Yang mana Ibu mereka? Pikir ku sambil melihat ke empat wanita yang menatap ku dengan tatapan terkejut.
Ibu tanpa basa-basi langsung memeluk ku bersama dengan salah satu wanita yang ikut bersama dengan nya.
"Miraaaaaaaaa!" Kata wanita yang tidak ku kenal.
Sedangkan ayah, yang melihat kejadian itu tersenyum. Lalu kelompok lain masuk kedalam ruangan lagi. Mereka adalah Para Selir dan tiga orang laki-laki berwajah tampan.
"Ayah juga kesini!?" Ketiga anak di belakang ku berteriak kebingungan.
.......Baiklah. Aku ingin penjelasan di sini. Kenapa banyak orang yang tidak ku kenal mendatangi ku.
Setelah itu, wanita yang tidak ku kenal dan ibu melepaskan pelukan ku. Ibu kemudian langsung menggendong ku, lalu mendudukkan ku di atas kasur.
"Ini sangat mengejutkan...... Dia benar-benar tidak berubah sedikit pun...."Aku bisa mendengar salah satu wanita yang tidak ku kenal bergumam.
"Ibu. Siapa mereka?" Aku menunjuk ketiga pria berwajah tampan dan ke empat wanita yang tidak ku kenal.
Ayah tersenyum pahit mendengar pertanyaan ku. Sedangkan Ibu menatap ke empat wanita itu dengan tatapan bermasalah, lalu ia melihat ke arah ku. "Kau tidak kenal mereka?" Tanya nya.
Aku menggelengkan kepala ku.
"A-Ahahahaha. Wajar saja. Kami sudah banyak berubah." Salah satu wanita yang tidak ku kenal tertawa dengan senyum pahit.
"Kenapa dia tidak berubah sedikit pun." Kata salah satu wanita yang tidak ku kenal dengan suara getir.
"Hmmm.....?" Aku menatap mereka berempat dengan tatapan bingung sambil memeringkan kepala ku.
Ibu kemudian berkata. "Mira. Mereka adalah saudari mu."
".......Hah?......Apa yang barusan Ibu katakan?" Tanya ku dengan bingung. Mereka adalah Saudari ku? Aku tidak salah dengar kan?
"Mereka adalah saudari mu."
"......"
"Mereka adalah saudari mu."
Aku terdiam mendengar jawaban ibu, yang membuat ibu mengulangi jawaban nya untuk yang ketiga kali nya. Ternyata aku tidak salah dengar barusan. Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak. Mereka saudari ku. Itu tidak mungkin! Mereka terlalu banyak berubah. Tidak mungkin mereka berubah terlalu banyak hanya dalam waktu beberapa jam..... Tidak. Apakah aku betul-betul tidak sadarkan diri hanya dalam waktu beberapa jam?
Sudah berapa lama waktu berlalu semenjak kejadian di kota Salad?
Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?
"......Berapa lama..... Aku tidak sadarkan diri......" Tanya ku dengan suara bergetar ketakutan.
"....Nona Mira," Natasha menjawab pertanyaan ku. "Kau sudah tidak sadarkan diri selama tujuh tahun."
........Apa. Aku tidak bisa berkata-kata mendengar jawaban nya.