From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 337 Berita yang menyakitkan



"Untuk memulai, aku ingin menyampaikan berita duka terlebih dahulu..." Kak Rosa, Selir Lavender terdiam, memperhatikan setiap perkataan yang keluar dari mulut ku. "Ibu telah mati." saat aku mengatakan itu, suara menjadi serak, rasa nya nafas ku seperti tertahan saat aku menyampaikan itu.


Selir Lavender dan Kak Rosa terbelalak kaget saat mendengar berita kematian ibu. Itu wajar. Karena sebelum mereka sampai di sini, Ibu masih hidup dan dalam kondisi sehat. Mereka tidak bisa merespon atas berita yang baru saja aku sampaikan. Oleh karena itu, aku terus berbicara.


"Sebelum berangkat berperang melawan pasukan Demon aku memberikan suatu item yang dapat menteleportasikan ibu ke tempat yang aman saat nyawanya di ujung tanduk. Dan baru beberapa jam yang lalu, ibu berpindah ke tempat yang ku maksud, sayang nya nyawanya tidak tertolong. Aku berada di sini atas permintaan terakhir nya, ia ingin jasad nya di kuburkan di kampung halaman nya."


Aku melewatkan bagian ibu mati karena menolong ku, walaupun itu fakta! Aku tidak ingin fakta ini di ketahui oleh siapapun. Memberitahu seseorang mengenai fakta itu, akan memberatkan hati ku karena rasa bersalah karena telah membuat ibu mengorbankan diri nya untuk ku.


"Di kerajaan ada yang membahayakan nyawa ibu, memaksa ibu mengaktifkan item itu. Dan menurut dugaan ku, ibu terbunuh setelah kalian pergi dari Ibu kota."


".... Begitu ya... Lalu, kemana kau selama ini? Jika kau dalam keadaan baik-baik saja kenapa kau tidak langsung pulang ke Fantasia? Apakah kau tahu kalau ayah mu dan Selir Shina telah mati?"


"Apa? Ayah dan Selir Shina... Kenapa kau tidak memberitahukan hal ini lebih awal!?" saat mendengar berita kematian ayah, ketenangan ku mulai menghilang. Aku berdiri lalu memukul meja dengan keras sembari berteriak kepada Kak Rosa.


"... Maaf... Aku pikir kau sudah tahu... Sebenarnya tadi aku ingin menyampaikan hal ini pada mu..."


Saat melihat wajah bersalah Kak Rosa, aku meredam kemarahan ku, dengan tenang duduk kembali di sofa. Sebenarnya Kak Rosa ingin segera menyampaikan berita kematian ayah dan Selir Shina padaku, tapi ia tidak dapat menemukan waktu yang tepat untuk menyampaikan nya, dan juga ia mengira aku sudah tahu mengenai kematian mereka berdua. Ini adalah berita kematian ayah, aku bisa mengerti bagaimana berat nya menyampaikan hal itu secara langsung. Justru akulah yang aneh, dapat menyampaikan berita duka tanpa ada rasa berat hati sedikit pun.


Menghela nafas, aku berusaha menenangkan diri lagi dengan cara meminum teh. Setelah meminum seteguk aku ingin melanjutkan pembicaraan... Tapi aku sama sekali tidak niat untuk melakukan itu. Hati ku terasa berat. Mungkin akibat aku mengetahui tentang kematian ayah...


Ruangan menjadi hening, tidak ada siapapun yang membuka mulut. Yang terus ku lakukan hanyalah meminum teh, tanpa menyadari teh yang ada di dalam cangkir sedikit lagi akan habis... Di saat bersamaan, aku merasakan mata ku sedikit basah, seakan tidak bisa membendung lagi, air mata ku jatuh membasahi kedua pipi ku.


"... Aku ingin keluar sebentar..." Kata ku, berdiri dari sofa, kemudian langsung melesat keluar ruangan, meninggalkan Natasha dan keluarga Kak Rosa sendirian di dalam ruangan.


\*\*\*


Natasha melihat Mira yang menangis melesat keluar ruangan, dengan wajah sedih. Walaupun ia bersikap tenang, ia tidak bisa menahan syok setelah mendengar berita kematian ayah nya. Hari ini ia mengetahui kedua orang tua nya telah tiada, seberapa keras ia berusaha bersikap tenang, ia tidak akan bisa membendung perasaan sedih di dalam hati nya.


Natasha yang mengerti kalau Mira ingin menyendiri, tidak mengejar nya. Ia memilih untuk melanjutkan pembicaraan dengan Rosa.


"Sehabis peperangan melawan pasukan Demon," Kata Natasha dengan raut muka sedih. "Nona Mira mengalami luka parah, faktanya kali ini ia baru saja sembuh dari luka-luka nya. Itulah alasan ia tidak langsung pulang ke Fantasia."


"...." Rosa tidak bisa berkata apa-apa. Ia tahu kalau Mira pasti memiliki alasan yang kuat untuk tidak langsung pulang ke Fantasia. Tapi dia tidak menduga kalau alasan nya tidak pulang karena ia terluka parah, untuk kali ini Rosa benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Selama ini Rosa, akan selalu mengikuti saran dari Ibu nya, yaitu selalu berpegang pada seseorang yang berpengaruh dan kuat. Lavender dapat menjadi Selir raja bukanlah kebetulan belaka, ia selalu menggunakan kemampuan nya dalam menilai kemampuan seseorang untuk membuat jalan hidup yang ia inginkan, dan kemampuan menilai seseorang itu menurun ke anak nya, Rosa, yang selama ini selalu berpegang ke kelompok yang lebih kuat. Jika faksi Nina lebih baik, ia akan mendukung Nina walaupun harus menjatuhkan faksi Mira atau Yuri, dan begitu pula sebalik nya. Tapi kali ini, Rosa tidak dapat menilai situasi, jika ia mendukung faksi Nina yang saat ini pasti akan mendapatkan kekuasaan kembali, ia harus berhadapan dengan Mira yang jelas dia adalah musuh terburuk yang harus di hadapi.. Rosa kebingungan dalam memilih pihak mana yang harus di dukung, ia tidak bisa memilih sama sekali...


Lavender yang mengetahui anak nya kebingungan, akhir nya angkat bicara.


"Apakah kalian akan melakukan sesuatu untuk menyelesaikan masalah ini?" Tanya Lavender kepada Natasha.


"Ya... Tapi setelah kami menerima kabar lebih lanjut dari mata-mata yang kami kirim ke Ibu kota."


\*\*\*


Sambil memejamkan mata, aku merasakan angin sepoi-sepoi mengenai wajah ku...


'Kak Mira... Kak Mira... Kak Mira...'


"Hah!"


Karena suara Arisa yang terus bergema di kepala ku, aku langsung mengangkat kepala ku dari atas meja. Dengan perasaan kesal, aku membalas (Telepathy) nya.


'Ada apa!?'


'Kak Mira sedang tidur? Aku memanggil kakak dari tadi.'


Seperti nya karena angin sepoi-sepoi terasa nyaman dan cuaca yang mendukung, aku tanpa sadar tertidur saat menyandarkan wajah ku di atas meja. Untung saja aku hanya tidur sebentar, sehingga sihir ku masih stabil. Alhasil aku tidak terjatuh walaupun aku saat ini masih melayang di atas langit.


'Ya, aku tertidur sebentar.' Jawab ku atas pertanyaan Arisa.


'Ah. Maaf. Apakah aku mengganggu?'


'Tidak apa-apa. Jadi mengapa kau menghubungi ku?'


'Kami sudah sampai di Ibu Kota, dan telah menyusuri jalanan sebentar, tapi kami tidak menemukan suatu yang janggal saat ini.'


'Begitu ya... Teruslah mencari informasi.'


'Baiklah... Dan satu hal lagi Kak Mira. Kami mendengar kabar buruk. Seperti nya, Raja Charles dan Selir Shina telah...'


'Ya.... Aku... Sudah... Tahu...' Jawab ku dengan lesu, atas kabar dari Arisa yang memberitahu ku mengenai kematian ayah.


'... Kak Mira tidak apa-apa?'


'... Aku baik-baik saja. Teruslah mencari.'


'Baiklah... Jika aku menemukan informasi penting, aku akan langsung menghubungi Kak Mira.'


Pesan dari Arisa pun terputus.


Aku melihat ke arah cakrawala, dengan perasaan hati yang masih di landa rasa sedih, aku menguatkan diri ku lalu beranjak dari tempat duduk, menyimpan meja dan kursi, kemudian aku berteleportasi ke dalam rumah Kak Rosa.