From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 253 Hari Pertama Invasi II



Aku sampai ke markas pusat.


Markas pusat berada 100 kilometer dari perbatasan antara Benua Chiso dan Benua Yuro. Markas pusat, sebenarnya bukanlah bangunan, tetapi hanyalah kumpulan tenda tempat para prajurit Human, Demi Human dan Dwarf berkumpul.


Tepat di tengah-tengah kumpulan tenda, terdapat sebuah tenda besar, yang jelas berbeda dari tenda lain nya. Itu adalah tenda untuk para komandan, dan tempat menyusun strategi saat berperang nanti. Aku pun pergi ke arah tenda itu, di depan tempat masuk tenda sudah ada Natasha, Gloria, Arisa dan Putri Catulus yang berdiri menunggu ku. Saat melihat Putri Catulus, wajah ku langsung terdistorsi, menjadi cemberut.


"Ada apa dengan wajah itu? Kau tidak senang melihat ku disini?" Dengan nada marah, Putri Catulus bertanya pada ku.


Aku mengabaikan nya, berjalan melewati nya, kemudian masuk ke dalam tenda, di ikuti Natasha dan Arisa. "Tunggu! Jangan abaikan aku!" Aku dapat mendengarkan teriakan kesal dari belakang ku. Tetapi, aku terus mengabaikan nya, berjalan terus hingga ke tempat berkumpul nya para komandan. Mereka berkumpul di tengah meja kotak besar, di atas meja tersebut terdapat peta Benua Chiso, Benua Yuro dan Benua Silia.


"Bagaimana situasi nya?" Tanya ku.


"Sekarang kami akan menjelaskan nya. Karena kau dan Selir Shina sudah ada, kami akan menjelaskan situasi nya sekarang." Salah satu komandan berbicara dengan serius. "Pertama kondisi di perbatasan, di sebrang sungai sepuluh batalion pasukan Demon Lord sudah ada di sana, mereka bisa menyerang kapan saja."


"Dan mereka belum menyerang?"


"Ya. Mereka seperti menunggu sesuatu, untuk saat ini kondisi di perbatasan masih aman... Dan jika memang betul menyerang, Komandan Jack dan pasukan nya pasti bisa mengatasi mereka."


Aneh... Pikir ku. Kenapa pasukan Demon Lord di perbatasan belum menyerang? Apa yang mereka tunggu...? Percuma... Seberapa keras aku berpikir, aku tidak bisa menebak pergerakan mereka. "Untuk saat ini, perkuat pertahanan di perbatasan." Kata ku memberi perintah kepada komandan.


"Ya. Aku setuju dengan Mira. Sangat aneh, mereka belum menyerang." Selir Shina berbicara, setuju dengan ku.


Semua komandan pun mengangguk, kemudian ia mulai melanjutkan memberitahu situasi di setiap lokasi yang berpotensi terjadi nya pertempuran. Lokasi selanjut nya adalah di Pelabuhan.


"Tidak ada yang aneh terjadi di pelabuhan."


"Eh? Tidak ada yang terjadi di pelabuhan?"


"Ya. Tidak ada."


"Hmmm....." Aku terdiam, memandangi peta yang ada di atas meja, sambil memegangi dagu.


"Sangat aneh bukan?"


Aku tahu apa yang di maksud Putri Catulus 'sangat aneh'. Tetapi... Untuk memastikan kita memiliki pemikiran yang sama, aku pun bertanya. "Apa nya yang aneh?"


"Kau sudah tahu hal itu bukan... Pasukan Demon, kenapa mereka tidak menyerbu pelabuhan terlebih dahulu. Mengingat sifat Ras Demon, mereka sudah pasti akan menyerbu pelabuhan terlebih dahulu bukan? Itulah kenapa kita akan memakai rencana mu pada hari ini."


Ternyata kita memiliki pemikiran yang sama... Sejujur nya, aku tidak menduga kalau pasukan Demon akan menyiagakan pasukan nya di perbatasan sungai, aku kira mereka akan menyerang lewat laut pada hari pertama... Dan saat penyerangan lewat laut gagal, mereka akan menyerang ke perbatasan pada hari kedua... Itulah yang ada di pemikiran ku selama ini. Apakah aku salah....?


Di saat aku berpikir seperti itu, keberuntungan datang kepada ku... Dari luar tenda, ada seorang prajurit yang masuk. Dengan wajah pucat, nafas terengah-engah, dia mulai buka mulut, melaporkan situasi terbaru.


"Komandan... Tim pengintai di pelabuhan melihat pasukan Demon di balik cakrawala... Mereka berjalan di atas lautan."


Bingo!! Rencana yang sudah ku siapkan akhir nya bisa di jalankan!


Dengan begitu, aku berteleportasi ke pelabuhan, memberikan komando langsung ke tentara yang sudah siaga di sana.


\*\*\*


Di pelabuhan Benua Silia, di sana terdapat sebuah kota pelabuhan, tempat banyak kapal dari seluruh Benua Silia bersinggah di sana. Nama kota tersebut adalah Paela. Kota itu di pimpin oleh seorang bangsawan yang korup. Dengan menaikkan pajak untuk para nelayan, bangsawan itu dengan cepat menambah kekayaan nya. Dia adalah tipe orang yang lebih mementingkan harta dari pada nyawa nya sendiri.


Seperti pemimpin kota nya, warga kota Paela juga sama busuk nya. Mereka adalah orang-orang licik yang lebih mementingkan keuntungan.


Karena kebusukan warga kota itu, Mira tidak segan-segan menggunakan mereka sebagai alat untuk mempelancar rencana nya. Hanya saja, tidak semua orang di kota itu memiliki keperibadian busuk, masih ada orang baik di kota itu. Masih ada anak-anak yang tidak berdosa. Dan masih banyak orang yang tidak bersalah di kota itu. Karena itu, Selir Shina menentang untuk menggunakan warga kota itu sebagai alat. Tetapi... Mira tidak peduli! Itu benar... Dia tidak peduli!! Apapun akan dia gunakan untuk mempelancar rencana nya! Walaupun itu orang-orang tidak berdosa sekalipun!


"Tidak ada jalan untuk mundur sekarang...." Mira bergumam dengan suara lirih, dia saat ini berada di atas gunung, yang berjarak 700 meter dari kota pelabuhan, sambil melihat ke arah lautan, dia membulatkan tekad nya untuk menjalankan rencana yang sangat kejam ini.


Dia berbalik, melihat ke arah pasukan yang sudah menyiapkan beberapa Catapult, dan ada beberapa penyihir yang berspesialis untuk serangan bombardir. Semua pasukan dan penyihir itu, memiliki wajah pucat, dan ketakutan. Mereka semua terpaksa melakukan rencana kejam Mira, mereka tidak tega menggunakan para penduduk kota sebagai alat. Tetapi, mereka tidak punya pilihan lain. Hanya ini satu-satu nya cara untuk meminimalisir korban.


"Jangan berwajah seperti itu!!" Mira berteriak membuat semua prajurit dan penyihir tersentak, kaget mendengar suara nya. "Kalian hanya menjalankan perintah ku... Karena itu, dosa yang akan kalian lakukan sekarang akan menjadi milik ku." Kata Mira dengan senyum jahat di wajah nya. Mata emas nya sedikit bersinar, menandakan dia sedang berada di puncak emosi nya saat ini. Emosi apa yang ada di dalam hati Mira saat itu, tidak ada yang mengetahui nya... Hanya Mira yang mengetahui emosi apa yang meluap dalam hati nya, pada saat menjalankan rencana nya saat ini.


Author's Note :


Bila ada kesalahan kata, segera lapor di kolom komentar. Akan segera saya perbaiki.