
Ke esokan hari nya.
Aku saat ini berbaring di kasur, menatap ke arah langit-langit. Saat ini aku tidur di rumah Kak Rosa... Tadi malam, setelah sebuah pohon tumbuh dari makam Ibu, situasi menjadi kacau. Para penduduk kota berbondong-bondong datang ke bangunan monumen yang telah hancur untuk melihat pohon yang tumbuh dalam satu malam secara misterius, memanfaatkan kekacauan itu kami pun pergi dari lokasi dengan cara berteleportasi setelah sihir ku cooldown.
Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi yang jelas ibu mengetahui hal ini akan terjadi oleh karena itu ia menyuruh ku untuk menguburkan jasad nya di kampung halaman nya, ia ingin meninggalkan bukti nyata kalau kampung halaman nya pernah berdiri di kota ini. Ia ingin meninggalkan bukti yang dapat di lihat oleh semua orang, bukan hanya sekedar bangunan monumen yang di jaga ketat, yang bahkan seluruh warga kota tidak tahu mengapa bangunan itu di jaga begitu ketat nya... Atau itulah yang bisa aku duga...
"Hmmm...." Suara seorang gadis dapat terdengar di samping ku, aku melihat ke samping dan melihat Natasha tidur tepat di samping ku. Hah? Kapan dia naik ke kasur ku? Aku bahkan tidak ingat... Mungkin kemarin aku terlalu lelah sehingga aku langsung tertidur saat memasuki ruangan sehingga aku tidak tahu kalau Natasha diam-diam tidur satu kasur dengan ku.
Aku bangkit dari kasur, berjalan ke ujung ruangan yang terdapat cermin di sana, aku merapikan rambut ku lalu mengenakan pakaian yang membuat ku mudah bergerak. Pakaian yang ku kenakan seperti seragam sekolah, blazer berwarna hitam, dengan rok mini yang juga berwarna hitam.
Setelah aku berpakaian, aku membangunkan Natasha.
"Pagi Mira."
"... Pagi..." Aku ingin menanyakan mengapa ia tidur satu kasur dengan ku, tapi aku menahan pertanyaan ku untuk saat ini karena tiba-tiba aku mendengar suara ketukan dari jendela kamar. Berjalan mendekati jendela, aku menemukan seekor burung merpati berdiri di ambang jendela, aku membuka jendela untuk membiarkan merpati itu masuk. Saat merpati itu memasuki ruangan, merpati itu berputar di atas kepala ku, sebelum akhir nya berubah menjadi secarik kertas. Aku dengan sigap menangkap kertas itu.
"Burung pengantar pesan... Dari siapa?" Natasha yang melihat merpati masuk langsung bangkit dari tempat tidur lalu berdiri di belakang ku untuk melihat isi surat yang sudah ada di tangan ku.
"Kak Mira. Ini Arisa..." Ternyata surat itu dari Arisa, mengapa ia menghubungi melalui surat, kenapa tidak dengan (Telepahty) saja? Pertanyaan ku terjawab, saat aku membaca surat itu lebih lanjut.
"Kami berusaha menghubungi Kak Mira dari tadi sore, tapi ada penghalang yang menghalangi (Telephaty) ku. Seperti nya seseorang berusaha mencegah ku untuk menghubungi Kak Mira secara langsung.
Kami ingin melaporkan hasil penyelidikan kami.
Saat hari beranjak sore, tiba-tiba seluruh ksatria kerajaan membagikan lembaran pengumuman kepada warga ibu kota. Isi dari lembaran itu adalah berita eksekusi untuk Putri Yuri, yang terbukti bersalah atas pembunuhan Ratu Carla. Situasi menjadi kacau, Jack tidak bisa menahan diri dan langsung ingin menerobos masuk istana, untung saja Kak Amanda langsung membuat nya tidak sadarkan diri. Tapi situasi tidak kunjung membaik. Lembaran yang di bagikan memberitahukan kalau eksekusi Putri Yuri akan di lakukan di depan publik besok siang. Kami ingin Kak Mira datang kesini secepat nya, sebelum situasi menjadi semakin buruk."
Setelah aku membaca isi surat, surat itu mengeluarkan api lalu membakar surat hingga abu bakar nya tidak tersisa sama sekali.
"Putri Yuri akan di eksekusi... Tunggu jika surat ini di tulis kemarin, itu berarti eksekusi akan di lakukan hari ini..." Natasha bergumam dengan wajah terkejut setelah pesan terbakar tanpa sisa.
Sedangkan untuk ku, aku hanya bisa terdiam membeku, tangan ku tidak berubah posisi, aku terdiam seperti seseorang sedang memegang secarik kertas. Mendengar kalau Kak Yuri akan di eksekusi membuat aku panik, takut, dan marah. Semua emosi negatif itu bergabung menjadi satu. Berusaha menenangkan diri, aku akhir nya dapat menggerakkan tubuh ku, walaupun begitu, aku tiba-tiba lemas. Aku kehilangan kekuatan pijakan ku, saat aku hendak terjatuh Natasha langsung menangkap ku di pelukan nya.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya nya dengan khawatir.
"Ya... Hanya sedikit syok..."
Mendengar jawaban ku, Natasha menggendong ku, lalu mendudukkan ku di atas kasur. Aku menutup wajah ku dengan kedua tangan ku, lalu mengerang dengan suara di penuhi dengan berbagai macam emosi yang saat ini memenuhi hati ku... "Aaaaaaaa.......... Hah...." Pada akhir nya, aku dapat menenangkan diri sepenuh nya, yang bisa kulakukan hanyalah menghela nafas panjang sambil menjatuhkan tubuh ku di atas kasur.
"Setiap satu hari berlalu, situasi semakin kacau..."
".... Seperti nya, orang-orang yang kau lawan di Benua Aziliya benar-benar membenci mu sampai membuat kau seperti itu."
"Ya. Kau benar. Dan aku juga membenci pengkhianat seperti mereka."
".... Kau mengatakan, seakan-akan pernah akrab dengan mereka."
"... Begitulah kenyataan nya..."
".... Keberatan jika aku ingin tahu bagaimana bisa kau kenal mereka? Kau bahkan tidak pernah melakukan kontak dengan mereka sebelum pertarungan di Benua Aziliya."
".... Baiklah, aku akan memberitahu mu semua nya. Aku berencana memberitahu mu ini lebih cepat, tapi melihat situasi saat ini... Aku tidak memiliki waktu yang tepat untuk mengatakan nya."
Natasha duduk di samping ku, kemudian dengan lembut menggenggam kedua tangan ku. "Apapun yang kau katakan, aku tidak akan pernah meninggalkan mu... Kau adalah alasan aku hidup di dunia ini, kau membuat dunia monokrom ini penuh warna, kau adalah segala nya bagi ku." sembari mengatakan itu, ia menggerakkan tangan nya ke kedua pipi ku.
Aku bangkit, duduk di atas kasur, menatap kedua mata nya, lalu menaikkan tangan ku untuk memegang kedua pipi nya sama seperti yang ia lakukan pada ku. "Aku tahu itu... Kau adalah orang yang paling ku percaya di dunia ini setelah diriku sendiri."
Natasha kemudian mendekatkan wajah nya dengan wajah ku sehingga kening kami saling bersentuhan. Ia perlahan-lahan memejamkan mata nya, kemudian mendekatkan bibir nya dengan bibir ku. Yang di mana aku merespon nya dengan menjauhkan wajah ku dari nya, lalu dengan dingin berkata. "Tidak... Aku tidak akan melakukan itu..."
"Aku adalah Mira dari dunia lain yang keberadaan ku menyatu dengan Mira di dunia ini."
Aku pun menceritakan semua kepada Natasha, di mulai dari aku adalah seorang remaja pria dari dunia lain kemudian aku menggunakan tekonologi bernama VR yang menurut orang dari dunia ini dapat mentransfer jiwa ke dunia khayalan bernama Fantasy Life. Di sana aku menceritakan kalau jiwa Mira dunia ini sudah menyatu dengan jiwa ku. Ini adalah penjelasan dari ingatan Mira dunia ini yang kulihat mengendalikan ku secara tidak langsung saat aku membuat Avatar Character ku sangat persis dengan Mira di dunia ini. Kemudian aku menjelaskan kalau Ritual Ibu membuat jiwa ku tertarik ke dunia ini untuk menyatu dengan Mira di dunia ini. Yang membuat seluruh keberadaan ku seperti sekarang ini.
Setelah aku menjelaskan semua itu, Natasha hanya bisa terdiam dengan wajah tercengang. Ia bukan nya tidak percaya dengan apa yang ku katakan, hanya saja ia sulit untuk menerima penjelasan ku.
"Satu hal yang menjanggal pikiran ku... Di dunia lain, kau adalah seorang remaja... Pria...?"
"... Ya... Itulah yang aku katakan...."
"Bagaimana perasaan mu saat berubah menjadi seorang gadis?"
"Seperti yang aku katakan, keberadaan ku menyatu dengan Mira di dunia ini, oleh karena itu aku tidak merasakan keanehan saat itu terjadi."
Aku tidak bisa mengatakan kalau aku terbiasa bersikap sebagai seorang gadis semenjak aku bermain FL...
"Lalu bagaimana dengan prefensi S*x mu? Apakah kau masih nafsu kepada seorang perempuan atau kau nafsu kepada laki-laki?"
"Eeee.... Kenapa kau menanyakan hal itu...? Bukankah ada hal yang lebih penting yang ingin kau tanyakan?"
"Ini lebih penting dari apapun!"
"Be-Begitu... Sebenarnya aku tidak tahu... Saat aku membayangkan diri ku berhubungan dengan seorang laki-laki... Jujur saja, aku merasa jijik... Maksud ku, aku adalah pria normal sebelum aku menjadi Mira, bagaimana mungkin aku bisa nafsu kepada laki-laki lain... Dan juga aku tidak yakin aku masih nafsu terhadap perempuan, kita sering mandi bersama bukan, aku tidak merasakan apapun saat kau tidak mengenakan busana sama sekali. Dan juga aku tidak bisa membayangkan memiliki hubungan seperti itu dengan mu..."
"... Kau yakin akan hal itu?"
"Ya... Aku yakin.... Tunggu, apa yang kau lakukan?"
"Aku ingin melihat bagaimana reaksi mu saat kau memegang payudara ku."
"...."
Natasha mengambil tangan ku, lalu menggerakkan tangan ku ke arah dada nya. Dada Natasha cukup berisi. Dia adalah seorang gadis dengan wajah cantik dan bertubuh seksi... Jika aku masih seorang pria, aku yakin aku akan jatuh cinta pada pandang pertama saat melihat nya...
"Tidak ada reaksi ya... Cih... Aku pikir itu akan berhasil."
"Ke-Kenapa kau nampak kecewa...?"
"Kalau begitu bagaimana dengan ini?"
"Natasha.... Apapun yang kau lakukan, ini bukanlah waktu yang tepat untuk itu... Kita harus memikirkan cara untuk menyelamatkan... Kya!"
Natasha tiba-tiba mendorong ku, lalu ia menindihi ku, karena perbedaan kekuatan aku tidak bisa mendorong nya menjauh. Tatapan mata nya seperti elang yang mengunci mangsa nya, kemudian dengan gerakan yang begitu feminim Natasha menjilat bibir nya, senyum di bibir nya dapat menangkap hati pria manapun yang melihat nya.
"Eksekusi Putri Yuri akan di lakukan pada siang hari, kita masih memiliki banyak waktu..."
\*\*\*
Rosa berjalan ke kamar Mira untuk membangunkan nya, dia sudah terlalu lama di kamar nya, Rosa khawatir terjadi sesuatu pada Mira....
.... Saat Rosa tiba di depan kamar Mira, ia mendengar suara Mira. Suara itu bukan suara kesakitan, suara itu adalah suara yang... Tidak dapat di jelaskan oleh Rosa....
Dengan perlahan, Rosa membuka pintu kamar, hingga menimbulkan celah, kemudian dari celah itu Rosa mengintip kedalam kamar. Saat menyaksikan apa yang terjadi di dalam kamar, Rosa kemudian menutup pintu kamar lagi dengan perlahan lalu berjalan menuju ruang tengah dengan ekspresi yang sulit di jelaskan...
"Pantas saja dia selalu menolak tawaran dari pria manapun..." Gumam Rosa kepada diri nya sendiri.