
"Cih!" Jack yang berlindung di belakang Joshua yang saat ini sedang memegang perisai menahan serangan proyektil dari pasukan Demon, mendecakkan lidah nya. Ia kesal, karena markas pusat masih belum memberi instruksi lebih lanjut. Apa yang di lakukan para komandan!? Pikir nya.
Beberapa menit yang lalu, Joshua memerintahkan prajurit untuk melapor ke markas pusat menggunakan Crystal sihir (Telephaty), prajurit itu menjelaskan situasi secara singkat dan meminta untuk instruksi lebih lanjut. Tapi, sampai sekarang masih belum ada balasan dari markas pusat.
'Jika Kak Mira ada di sana, seharus nya mereka bisa menemukan solusi untuk masalah ini lebih cepat!' Pikir Jack dengan di penuhi perasaan kesal di hati nya. Dia tahu Mira pasti akan menemukan solusi, tapi yang jadi masalah apakah solusi Mira di terima komandan atau tidak.
Saat pikiran Jack di penuhi dengan rasa iritasi, suara prajurit yang menghubungi markas pusat menggema di antara pasukan aliansi. "Markas pusat menyuruh kita untuk maju!"
Charles yang bertugas sebagai panglima perang, yang di mana nyawa pasukan berada dalam pundak nya, menunjukkan wajah tidak senang. Itu sungguh rencana yang terlalu beresiko. Pikir Charles. Tetapi ia tidak bisa memikirkan rencana lain, karena itu ia menghubungi markas pusat, berharap markas pusat memiliki rencana yang lebih baik karena ada dua ahli strategi handal yang sangat di percaya Charles di sana, yaitu Mira dan Shina. Tapi setelah mendengar balasan dari markas pusat Charles merasakan penyesalan yang sangat dalam. Tidak punya pilihan lain, Charles pun memutuskan untuk mengikuti rencana markas pusat.
"Siapkan perisai!" Charles berteriak dengan suara lantang, mengeluarkan semua udara yang telah ia simpan di paru-paru nya. "Abaikan prajurit yang berubah menjadi zombie dan terobos maju ke arah pasukan Demon! Para penyihir gunakan sihir (Barrier)." Charles pun mengatakan instruksi yang telah markas pusat berikan pada nya, melalui prajurit yang telah menerima balasan melalui (Telepathy).
Sementara itu, Jack yang berada di samping Charles berpikir di dalam kepala nya, dengan rasa di penuhi dengan iritasi, 'Rencana ini pasti bukan dari Kak Mira!
Setelah mendengar teriakan Charles, para prajurit menyiapkan perisai nya, membentuk suatu formasi. Para penyihir pun menggunakan (Barrier) untuk menutupi pertahanan yang bolong di antara pasukan.
Bola-bola aneh yang merubah para prajurit menjadi zombie menabrak perisai dengan keras hingga bola itu hancur berkeping-keping. Para prajurit kemudian terus berjalan maju, sementara para prajurit yang menjadi zombie yang masih berada di dalam pasukan terus berusaha menambah jumlah dengan cara menggigit pasukan yang mengangkat perisai nya. Karena para prajurit mengangkat perisai dengan dua tangan, mereka pun tidak bisa melawan para zombie yang membuat mereka mudah tergigit tanpa perlawanan.
"Aaaaaakh!"
"Aaaaaakh!"
"Aaaakh!"
Charles yang berada di garis depan mendengar suara prajurit berteriak karena tergigit zombie merasa iritasi. Wajah nya terdistorsi, menunjukkan ekspresi rumit. "Sialan..." Gumam nya dengan suara pelan, kemudian dengan suara serak ia berteriak. "Terus maju! Jangan mundur! Maju terus! Percepat langkah!"
Langkah prajurit makin cepat menuju sungai tempat yang menjadi perbatasan antara benua Chiso dan benua Yuro. Suara teriakan terus terdengar, jumlah prajurit makin berkurang, korban terus berjatuhan, tapi pasukan aliansi pantang mundur! Mereka terus maju hingga sampai ke sungai. Setelah sampai di samping sungai, pasukan penyihir mengambil inisiatif untuk membekukan sungai. Mereka pun menggunakan sihir es untuk membuat sungai membeku.
Lebar sungai hanya dua ratus meter, dan pasukan penyihir berjumlah hampir seribu orang, dengan jumlah yang begitu banyak membekukan sungai dengan lebar seperti itu sangatlah mudah.
Karena pasukan aliansi sudah sangat dekat, pasukan Demon tidak bisa menembakkan bola aneh lagi.
Tapi seperempat pasukan Demon, memakan bola yang membuat pasukan aliansi menjadi zombie, hasil nya pun sama. Mereka juga berubah menjadi zombie. Sisa pasukan Demon yang tidak menjadi zombie, mundur menggunakan Crystal sihir (Teleportation).
Pasukan Demon yang menjadi zombie pun menyerang pasukan aliansi.
Suasana saat itu pun makin kacau.
\*\*\*
Tiga orang 'Player' yang mengendalikan pasukan Demon di balik bayang-bayang melihat peperangan berlangsung menggunakan familiar yang mereka kirim untuk mengawasi peperangan. Dengan menghubungkan Visi familiar dengan Crystal sihir bundar yang berada di atas meja, mereka pun bisa melihat peperangan secara langsung tanpa harus pergi ke lokasi kejadian.
"Mereka memilih untuk maju ya..." Gumam salah satu 'Player' dengan penampilan bocah laki-laki. Dia bernama Bruno.
"Kalau begitu, ini rencana nya Catherine bukan?" Tanya 'Player' lain dengan penampilan Elf. Dia bernama Javelin.
"Hah.. Hah.. Hah.. Membayangkan aku berada si situasi seperti itu, membuat ku merinding sekaligus senang! Hah... Hah... Hah..." salah satu 'Player' bernama Siegurd, membayangkan diri nya sendiri berada dalam situasi terdesak yang mengancam nyawa, membuat nya bahagia. Wajah nya memerah di hiasi senyum bejat, ia merasakan di tengah-tengah euforia setelah membayangkan hal itu.
"Haaah," melihat kelakuan teman nya, Javelin menghela nafas berat, dengan wajah lelah. "Penyakit masokis Siegurd kambuh lagi." Kata nya sambil memegang kepala.
"Aku bersyukur, Catherine berhasil meyakinkan para komandan untuk menggunakan rencana nya. Dengan begini, kita bisa memasuki perbatasan. Setelah ini mereka pasti akan mundur." Kata Bruno dengan senyum kecil di wajah nya, setelah itu ia menghela nafas lega.
"Yah. Wajar saja, akibat kejadian ini pasukan mereka menderita kerugian besar." Javelin tersenyum kecut, melihat pasukan lawan melalui Crystal sihir yang berada di depan nya, yang terletak di tengah-tengah meja bundar.
"Tujuan kita bukan hanya memasuki perbatasan saja kan? Kita juga harus membunuh Raja kerajaan Fantasia, itu yang kita putuskan tadi malam bukan?" Siegurd yang sudah agak tenang, angkat bicara.
"Benar kata Siegurd, Bruno." Kata Javelin. "Kita harus membunuh dia! Kalau kita gagal membunuh nya, semua rencana yang kita bangun akan gagal."
"Apa kalian pikir kita bisa membunuh raja fantasia selama Mira masih berada di sana?" Bruno melihat kedua teman nya dengan tatapan tajam. Ia memperingatkan kalau mereka terlalu menganggap remeh semua hal ini, mereka harus bergerak dengan hati-hati atau rencana mereka akan gagal. Karena ini baru tahap awal rencana mereka.
"Ma-Maaf. Lalu kapan kita akan membunuh nya?" Tanya Javelin.
"Tunggu setelah Catherine memberikan laporan nya." Jawab Bruno, sambil menyandarkan diri di bangku nya. "Yah, setelah Catherine memberikan laporan kita akan masuk ke tahap berikut nya." Sambung Bruno dengan nada lelah, ia memejamkan mata nya, sambil memijat-mijat ujung hidung nya.
"Haaaaah...." Bruno menghela nafas panjang. Ia sangat tertekan, memikirkan rencana nya akan berhasil atau tidak. Dan mengetahui rencana nya berjalan sesuai yang ia rencanakan membuat nya lega. Siegurd dan Javelin yang melihat Bruno seperti itu, hanya bisa tersenyum. Mereka tahu seberapa keras Bruno memikirkan rencana ini, dan mereka tahu berapa lama Bruno menderita hanya untuk saat ini.
"Tetapi, Putri pertama dan kedua dari kerajaan Fantasia benar-benar sampah ya," Javelin tiba-tiba berbicara. "mereka rela mengorbankan ayah mereka hanya untuk kekuasaan." Kata nya, dengan senyum bahagia.
"Kau benar. Mereka hanya memiliki wajah yang cantik, tapi keperibadian mereka benar-benar sampah." Sambung Siegurd. Mendengar perkataan Seigurd Javelin pun tertawa terbahak-bahak, Siegurd pun ikut tertawa bersama teman elf nya itu.
"Berarti kita tidak ada beda nya dengan sampah itu, mengkhianati teman hanya untuk ke egoisan kita masing-masing." Kata Bruno dengan senyum pahit di wajah nya.
Javelin dan Siegurd seperti di siram dengan air dingin setelah mendengar kata-kata Bruno. Mereka bertiga sadar, kalau mereka orang jahat. Walaupun begitu, mereka tidak berniat untuk mundur! Mereka tidak berniat stop di sini! Itu karena mereka egois.
Author's Note.
Jika ada salah kata silahkan lapor di kolom komentar.