
Perspektif : ?
"Kakak!"
"Kakak!"
"Kakak!"
Seseorang memanggil ku?
Aku perlahan membuka mata ku, pandangan ku sedikit kabur. Saat pandangan ku mulai jelas, aku melihat seorang gadis, yang mungkin berumur dua atau tiga belas tahun, ia sedang menatap ku.
"Siapa?" Tanpa sadar aku bertanya.
"Haaah?" Gadis itu berkata dengan jengkel. "Apa kau lupa dengan adik perempuan mu sendiri?"
"Adik perempuan? Kapan Ibu melahirkan lagi? Atau ayah menambah istri lagi?"
Gadis kecil itu menampar ku dengan keras. Saat di tampar rasanya........
Tidak sakit? Kenapa bisa? Apakah ini mimpi?
"Cepat bangun! Jangan ngigau terus!" Kata gadis kecil itu.
Aku duduk di kasur ku. Setelah itu aku melihat ke sekeliling, ini memang kamar ku. Aku menggerakkan sedikit tangan ku, saat itu aku menyentuh sebuah benda.
"Smartphone?"
Eh, Apa itu Smartphone? Kata-kata itu keluar dengan sendiri nya.
"Kakak! Cepat turun ke bawah, Ayah dan Ibu menunggu mu di bawah."
"Tunggu sebentar!" Aku memanggil gadis yang membangunkan ku.
"Kenapa?"
"Kau adik ku kan?"
"Kau masih ngigau kak?"
"Tidak, tadi malam kepala ku terbentur, jadi aku melupakan mu, dan nama ku."
"Serius? Kalau begitu kita harus ke dokter!" Kata gadis itu panik.
"Tidak perlu!" Aku menahan gadis itu. "Jika kau memberitahu ku, namaku dan nama mu, itu akan membuat ku mengingat semua nya."
"Begitu kah?"
Aku mengangguk.
Gadis itu menghembuskan nafas lega, kemudian ia mulai membuka mulut nya.
"Kalau begitu mulai dari nama Kakak ya... Nama kakak ********"
Suara gadis itu tiba-tiba seperti sebuah kaset rusak. Saat aku masih dalam keadaan bingung, gadis itu melanjutkan.
"Lalu nama ku ******"
Suara nya seperti kaset rusak lagi.
Setelah mengatakan nama nya, seluruh ruangan mulai bergetar, kemudian semua barang mulai berubah menjadi debu, gadis itu juga menghilang bagaikan debu.
Ada apa ini?
Kasur yang ku duduki, sedikit demi sedikit berubah menjadi debu. Aku melihat kaki ku. Kaki ku juga sedikit demi sedikit berubah menjadi debu.
Apa yang terjadi?
"......."
"........"
"........"
"Haaaaaa." Suara tarikan nafas.
Aku membuka mata ku, saat ku buka mata ku. Aku tiba di ruangan yang tidak memiliki warna kecuali warna putih, aku terbaring di lantai.
Aku duduk, lalu melihat-lihat ke sekeliling.
"Di mana ini?"
Saat aku bertanya pada diri ku sendiri, kepala ku mulai terasa sakit. Aku memegang kepala ku dengan kedua tangan ku untuk menahan rasa sakit. Aku tahu, yang kulakukan tidak ada gunanya tapi, entah kenapa aku selalu melakukan itu saat kepala ku sakit.
"Selamat datang. *****. Senang bertemu dengan mu." terdengar suara laki-laki dan perempuan yang tumpang tindih.
Aku melihat ke asal suara, tapi tidak ada siapa-siapa di situ.
"Siapa di sana?"
"Siapa aku tidak penting... Yang paling penting, kau harus selesai kan Quest khusus mu... Karena itulah kau kirim ke dunia itu."
"Quest khusus?"
Kepala ku makin sakit lagi.
"Kau tidak lupa kan? Sebelum kau datang ke dunia itu Kau menerima Quest khusus."
Saat suara itu berkata demikian, aku berusaha untuk mengingat, akhir nya aku mengingat nya. Quest khusus! Sebelum mengerjakan nya, aku diberi beberapa pertanyaan. Tapi sampai sekarang aku tidak tahu apa Quest khusus itu.
"Seperti nya kau sudah mengingat nya... Akan ku beritahu sekarang, Quest khusus mu sudah selesai sebanyak 30% jika sudah selesai 100% kau akan mendapat hadiah, lalu aku akan memulangkan mu kedunia asal mu.... Untuk saat ini, aku akan menghapus semua ingatan mu tentang dunia asal mu, kau harus cepat menyelesaikan Quest khusus mu, sebelum ke empat pengkhianat itu membunuh mu."
"Tunggu!! Siapa kau!?"
Kepala ku makin sakit, sakit ini tidak tertahan kan, jika terus seperti ini aku akan mati karena rasa sakit. Kesadaran ku makin menghilang, makin menghilang, makin menghilang, makin menghilang. Hingga akhirnya menghilang sepenuh nya.
Perspektif : Natasha.
Seminggu berlalu, keadaan Mira mulai membaik. Hidung nya tidak mengeluarkan darah lagi, dan Mira tidak muntah darah lagi. Tapi Mira masih belum sadar, nafas Mira masih berat, dan demam nya masih tinggi.
Tidak ada yang tahu kapan Mira sembuh, bahkan Raja sudah memanggil banyak dokter dari seluruh negri, tapi tidak ada yang bisa menyembuhkan Mira! Kami semua tidak bisa melakukan apa-apa, dan Raja juga sudah berusaha semaksimal mungkin. Di tengah keadaan Mira yang sedang sakit, Raja mendapatkan berita gembira. Bukan hanya berita gembira bagi Raja saja, tapi berita gembira bagi seluruh rakyat kerajaan Fantasia.
Berita gembira itu adalah, berita tentang batalnya peperangan dengan kerajaan Elf. Raja Elf yang bernama Oberon memberikan surat ke pada Raja, surat itu memberitahu kalau Kerajaan Elf membatalkan penyerangan.
Semua orang percaya dengan apa yang tertulis di surat itu, karena ada tanda tangan Raja Elf.
Raja Elf Oberon membatalkan serangan nya, karena Mira yang menyerang kerajaan Elf duluan, tapi tidak ada yang tahu hal itu, dan sekarang dia terbaring lemah di kasur.
Ini sangat tidak adil untuk Mira!!
Aku seperti biasa melakukan kegiatan ku.
Kegiatan ku berupa mencuci pakaian, membersihkan ruangan, membantu koki kerajaan menyiapkan makanan, menyediakan makanan kepada keluarga kerajaan, setelah itu aku pergi ke kamar Mira untuk mengawasi nya.
Aku mengawasi Mira tidak sendirian, ada Arisa dan Jack yang selalu menemaniku, lalu Ratu dan Yuri ada di kamar Mira, mereka juga mengawasi Mira.
"Mira tidak sadarkan diri juga.. Sudah seminggu waktu berlalu." Kata Yuri cemas.
Suasana menjadi hening kembali, padahal di dalam kamar banyak orang, tapi rasanya seperti tidak ada orang sama sekali.
"Apakah Mira akan tidak sadarkan diri selama sepuluh bulan lagi?" Kata Yuri dengan nada cemas seperti sebelum nya.
"Yuri!!" Ratu segera menegur.
"Ma-maaf... Hanya saja, aku takut jika itu terjadi lagi." Kata Yuri dengan suara pelan.
"Bukan hanya kau yang takut. Kami semua takut jika itu terjadi lagi." Jawab Ratu.
Suasana menjadi hening kembali,
Sampai keheningan itu di pecahkan dengan suara pintu di ketuk dengan keras dari luar.
"Carla!! Aku tahu bagaimana cara membuat Mira sadar!" Suara seorang pria berteriak dari luar kamar.
Bergegas aku membuka pintu, saat terbuka, berdiri Raja di depan pintu, badan nya basah dengan keringat, seperti nya ia berlari menuju kamar Mira. Aku membuka lebar pintu, lalu membiarkan Raja masuk.
"Carla!!" Kata Raja pada Ratu. "Aku tahu bagaimana...."
"Jadi bagaimana caranya?" Tanya Ratu, memotong perkataan Raja.
"Aku sudah memikirkan ini selama seminggu penuh. Dan akhir nya aku menemukan caranya. Jadi begini......"
"Tidak perlu di jelaskan, beritahu saja bagaimana caranya!" Kara Ratu memotong lagi.
"Baiklah kalau begitu, yang kita perlukan adalah Penyihir kerajaan.... Kita harus memanggil semua penyihir kerajaan!" Kata Raja dengan suara meninggi.
Setelah berkata seperti itu, Raja melihat ke arah Arisa yang ada di pojok ruangan bersama dengan Jack. "Kau bisa menggunakan sihir kan?" Tanya Raja pada Arisa.
"Ya. Saya bisa!" Jawab Arisa dengan percaya diri.
"Kalau begitu, kau tunggu di sini! Aku akan memanggil semua penyihir kerajaan."
Setelah berkata seperti itu, Raja keluar ruangan.
Apa yang ingin di lakukan Raja? Apakah dengan memanggil semua penyihir kerajaan bisa membuat Mira sadar?
Aku tidak tahu, yang pasti jika ada cara untuk membuat Mira sadar, kenapa tidak di coba?
Yang bisa kami lakukan sekarang adalah percaya dengan Raja.
-------------------------------------------
Author's Note.
Jika ada kesalahan ketik, penyebutan nama karakter, dan dialog. Mohon beritahu saya di kolom komentar.
Terima kasih selalu mendukung dan membaca Novel saya. Saya bisa menulis sampai ratusan episode berkat dukungan kalian.