
Tiga kerajaan besar saat ini sedang mengalami kesulitan. Itu karena kejadian tujuh tahun yang lalu.
Tujuh tahun lalu, kelompok agama sesat menyebabkan kematian di Benua Silia. Kelompok agama itu, di pimpin oleh para bangsawan dari ketiga negara. Atau begitulah yang tercatat. Karena itulah, tiga kerajaan besar membuat marah kerajaan-kerajaan kecil yang ada di Benua Silia.
Kerajaan-kerajaan kecil itu membentuk aliansi untuk menyerang tiga kerajaan besar, tetapi tiga kerajaan besar juga membentuk aliansi untuk menekan penyerangan itu. Pertempuran kecil pun terjadi di perbatasan tiga negara besar dengan negara-negara kecil lain nya. Pertempuran itu, tidak menghasilkan apa-apa kecuali korban jiwa, sehingga kedua kubu sepakat untuk genjatan senjata dan menandatangani perjanjian damai. Walaupun begitu, masih ada rasa tegang antara aliansi tiga negara besar dan aliansi negara kecil. Jika terjadi satu kesalahan, pertempuran akan terjadi sekali lagi.
Kerajaan Milefolia, Kerajaan Fantasia dan Kerajaan Eurasia. Membantu untuk semakin memperkuat hubungan antara aliansi kerajaan kecil, dengan cara pernikahan politik. Kerajaan Fantasia tentu saja menikahkan Putri-Putri nya dengan pangeran dari kerajaan-kerajaan kecil. Yang di nikahkan adalah Putri Nina, Putri Blanc dan Putri Rosa. Mereka di nikahkan dengan pangeran dari tiga kerajaan kecil yang memegang kunci dari kekuatan militer aliansi. Kerajaan Milefolia, menikahkan Putri Lia dengan salah satu kerajaan kecil. Untuk urusan tahta di kerajaan Milefolia, sudah ada pengganti Lia, yaitu adik laki-laki nya.
Dan kerajaan Eurasia menikahkan Alex dengan Putri salah satu kerajaan kecil.
Pernikahan politik itu terjadi enam tahun yang lalu, setahun setelah kejadian kematian masal itu.
Berkat itu, hingga sekarang. Tujuh tahun kemudian, masih belum ada pertempuran yang terjadi antara kedua aliansi. Walaupun begitu, ketiga kerajaan tidak boleh lengah hingga membuat tiga kerajaan besar kerepotan untuk menjaga ketegangan antara aliansi tidak pecah hingga menyebabkan pertempuran.
Dan sekarang, di kerajaan Fantasia. Terdapat tiga orang bocah, dua perempuan dan satu laki-laki. Mereka berumur empat hingga lima tahun.
Mereka adalah anak dari ketiga Putri yang di nikahkan politik, mereka saat ini sedang menjelajah di istana, karena sangat jarang mereka bisa mengunjungi istana kerajaan Fantasia. Sehingga mereka tidak bisa menahan rasa penasaran mereka, dan mulai menjelajah.
"Kita sudah mengelilingi semua ruangan di istana ini." Kata bocah laki-laki, dia berumur 5 tahun, nama nya adalah Tristan, anak dari Rosa.
"Tidak masih belum. Masih ada ruangan itu!" Kata bocah perempuan, berumur 4 tahun, dia bernama Mariana, anak dari Nina. Dia menunjuk salah satu ruangan yang masih belum mereka jelajahi.
"Ta-Tapi bibi bilang ruangan itu tidak boleh kita masuki." Kata bocah perempuan berumur 4 tahun dengan takut-takut. Dia bernama Liliana, anak dari Blanc. "Dan juga ruangan itu di kunci." tambah nya.
Tristan dan Mariana tidak mendengarkan perkataan Liliana dan menuju ruangan itu, Liliana mencoba menghentikan mereka berdua, tetapi di abaikan. Liliana pun mengikuti mereka berdua.
Saat di depan ruangan, Tristan memegang gagang pintu, memutar kenop nya, kemudian ia mendorong pintu secara perlahan. Jika pintu itu terkunci, pintu itu tidak akan bergerak, tetapi....
"Te-Terbuka!" Kata Liliana dengan panik. "A-Apakah baik-baik saja kita masuk?" Tanya nya dengan takut-takut.
Mariana melihat sekeliling, dia tidak melihat para penjaga yang biasa berpatroli. "Tidak apa-apa. Prajurit istana masih belum kesini." Kata nya menenangkan Liliana.
"Tenang saja. Aku akan melindungi kalian berdua." Kata Tristan dengan gaya paling keren nya, dia pun semakin mendorong pintu itu dan memasuki ruangan itu bersama dengan Mariana dan Liliana.
\*\*\*
Aku terbangun di sebuah ruangan. Yang jelas ini bukan kamar ku. Aku bangkit, duduk di kasur. Seperti nya tidak ada apa-apa di sini, kecuali kasur tempat aku tidur.
Aku merangkak kepinggir kasur, yang besar nya cukup hingga tiga orang. Saat sampai di pinggiran kasur, aku melihat ke lantai. Lantai nya bercahaya dengan warna merah terang. Ini bukan cahaya dari lantai. Ini adalah lingkaran sihir! Untuk apa ada lingkaran sihir di sini?
Aku menginjakkan kaki ku di lantai, saat kaki ku menyentuh tanah lingkaran langsung pecah hingga berkeping-keping, membuat cahaya yang menerangi ruangan menghilang. Alhasil ruangan pun menjadi gelap.
Aku menggunakan sihir Light, untuk menerangi ruangan. Kemudian aku membuat cermin besar dengan sihir (Creation). Aku kemudian melihat pantulan seluruh diri ku di cermin.
".....Tidak ada yang berubah..." Kata ku sambil memegang-memegang tubuh ku saat aku bercermin. Tetapi.... Aku menggunakan pakaian tidur dan rambut ku acak-acakan.
Aku kemudian melepas pakian tidur ku, membuat bola air kemudian mencuci tubuh ku setelah itu membuat pakaian dengan sihir (Creation). Pakaian yang ku buat berawarna putih seperti salju, yang membuat ku sangat imut. Aku meraih pantulan diri ku di cermin, saat pantulan tangan kanan ku dan tangan kanan ku saling menyentuh, aku tersenyum.
"Masih imut seperti biasa.... Tetapi, berapa lama aku tidak sadarkan diri? Tubuh ku terasa sangat lemas."
Saat itu aku mendengar suara 'klik' aku melihat ke arah suara itu. Itu adalah suara pintu yang di buka. Saat ini aku tidak merasakan ancaman, sehingga aku tidak perlu berhati-hati.
"Pe-Permisi...." Terdengar suara anak laki-laki yang dari nada suara nya, dia sedang takut.
"Cepat masuk! Di mana sikap keren mu yang barusan!" Kemudian terdengar suara anak perempuan bernada marah.
"Le-lebih baik jangan. Ayo kita kembali!" Terdengar suara anak perempuan lain yang mencegah kedua anak sebelum nya masuk.
Akhir nya pintu terbuka semua, dan masuklah ketiga anak kecil. Mereka lebih muda dari pada ku. Seperti nya berumur sekitar lima tahunan, mereka bertiga melihat sekeliling dengan takut-takut, setelah akhir nya pandangan mereka terkunci pada ku.
Aku memiringkan kepala ku, kebingungan dengan perilaku mereka. Dan juga aku belum pernah melihat mereka sebelum nya, apakah mereka salah satu anak bangsawan? Sangat tidak mungkin mereka adalah anak dari para pelayan atau prajurit di istana. Itu semua tergambar jelas dari pakaian mereka, yang hanya di pakai oleh anak bangsawan dan keluarga kerajaan.
"ka-Kak Peri.....?" Tanya salah satu anak perempan.
"......Apa?"
Apa yang di katakan anak ini barusan? Kak peri? Siapa yang anak ini maksud?
"Ka-Kamu peri kan?" Tanya anak perempuan yang lain.
Aaaah. Jadi aku yang di maksud. Aku senang di panggil peri, tetapi aku tidak ingin berbohong pada anak-anak yang polos ini. Jadi aku tidak bisa berpura-pura menjadi peri.
Aku menggelengkan kepala ku, lalu menjawab sambil tersenyum. "Sayang sekali. Aku bukan peri. Aku hanyalah manusia biasa seperti kalian."
"Bohong!" Kali ini si anak laki-laki yang berbicara. Mata nya berbinar.
"Eh?" Aku terkejut dengan penolakan yang tiba-tiba hingga aku bingung ingin membalas apa.
Kedua anak perempuan mengangguk, setuju dengan perkataan anak laki-laki itu, kemudian salah satu dari anak perempuan itu berbicara sambil menunjuk ku. "Kamu sangat imut. Tidak ada manusia yang bisa seimut kamu, jadi pasti kamu bukan manusia. Dan jawaban nya sangat jelas. Kamu adalah Peri. Jadi percuma berbohong, kami sudah tahu."
Aku tersenyum lembut, kemudian mengelus kepala anak yang memuji ku dengan lembut. "Terima kasih. Tapi aku betul-betul hanya manusia."
"Pe-Peri itu mengelus kepala ku! Apa ini!? Tangan nya sangat lembut!"
"A-Aku juga Kak Peri." Kata anak perempuan yang satu lagi. Aku pun menuruti kemauan nya, dan mengelus kepala nya. "Ehe. Ehehehehe." Dia pun tertawa bahagia saat aku melakukan nya.
Si anak laki-laki menatap kedua anak perempuan sambil cemberut, dan dia melihat ku dengan tatapan memohon.
Maaf. Aku tidak akan melakukan nya pada laki-laki, jadi tatapan memohon mu itu tidak berguna pada ku.
Aku pun segera menghentikan acara elus kepala ini dan bertanya nama mereka.
"Aku Tristan!" Kata anak laki-laki.
"Aku Mariana!" Kata anak perempuan, dia memliki rambut hijau muda yang indah dan wajah yang imut.
"Li-Liliana...." Jawab anak perempuan satu lagi, dia memiliki rambut biru laut. Dia memiliki wajah imut yang tidak kalah dengan Mariana. Dia memperkenalkan diri dengan gugup, sambil menundukkan kepala nya.
"Mariana, Liliana, dan Tristan. Baiklah sudah ku ingat. Sekarang giliran ku, nama ku Mira. Salam kenal, kalian bertiga." Aku berkata sambil tersenyum pada mereka.
"Sa-Salam kenal." Mereka pun membalas salam ku dengan gugup, dengan wajah memerah.
Setelah aku mempekenalkan diri pada mereka, pintu terbuka sekali lagi. Kemudian terdengar suara panik dari luar ruangan.
"Arisa. Pintu ini tidak terkunci!" Terdengar suara seorang gadis.
"E-EH!? Ga-gawat aku lupa mengunci nya!"
"Dasar bodoh!"
Kemudian pintu terbuka dengan keras, dan masuk dua orang yang sangat akrab dengan ku.
Saat mereka melihat ku, mereka terdiam, dengan mulut ternganga, seakan-akan melihat sesuatu yang tidak dapat di percaya. Kemudian Arisa tersentak, lalu berlari keluar ruangan sambil berteriak "Yang Mulia!!"
"Ga-Gawat... Apa yang harus kita lakukan...." Sedangkan ketiga anak yang memasuki kamar ku sebelum nya, menjadi pucat karena Arisa keluar ruangan untuk melapor.