
"Anakku, Mira. Jika kau membaca surat ini, berarti ritual yang kulakukan sukses, dan aku berhasil menyadarkan mu dari tidur panjang. Ritual yang kulakukan memiliki bayaran yang sangat mahal, yaitu nyawa ku sendiri, dan aku mungkin tidak sempat melihat mu saat kau sadarkan diri. Atas alasan itulah aku membuat surat ini untuk menyampaikan kata-kata yang tidak sempat aku katakan pada mu.
Untuk memulai, aku mengetahui kalau ada jiwa seseorang selain dari diri mu yang bersemayam di dalam diri mu, dan itu membawa perubahan signifikan dari cara mu berpikir. Membuat ku sempat berpikir kalau kau telah berubah menjadi orang asing yang tidak aku kenali. Walaupun begitu... Itu tidak mengubah siapa diri mu... Apapun wujud mu, walaupun kau berubah menjadi monster yang mengerikan, itu tidak akan merubah siapa diri mu. Kamu adalah anakku tersayang, anakku yang sangat berharga, melebihi apapun di dunia ini. Oleh karena itu Mira, apapun yang kau lakukan, aku akan selalu mendukung mu, walaupun di mata dunia yang kau lakukan adalah hal jahat. Aku yakin kalau kau pasti memiliki alasan kuat untuk melakukan itu. Alasan kuat, yang tidak bisa di pahami oleh orang lain, yang membuat mu memilih jalan itu. Walaupun dunia menganggap mu musuh, aku tetap akan berpihak pada mu.
Atas dasar itu Mira, lakukanlah apa yang ingin kau lakukan. Aku tahu suatu saat kau akan melakukan hal di luar akal sehat saat kau melawan ayah mu saat ia menjodohkan mu dengan Alex. Sesuatu yang tidak mungkin di pahami oleh orang lain, dan sesuatu itu tidak mungkin kau tinggalkan. Walaupun begitu, seperti yang ku katakan, apapun yang kau lakukan, aku akan tetap mendukung mu! Aku akan tetap di samping mu, walaupun tidak dalam wujud fisik, aku akan terus mengawasi mu dari atas langit. Oleh karena itu Mira... Jangan ragu, jangan bimbang, jangan biarkan orang lain menahan langkah mu, lakukan apa yang kau inginkan, lakukan apapun sesuai kata hati mu. Hiduplah tanpa penyesalan, sampai tiba masa nya kau menyusul ku...
Anak ku tersayang, Ibu akan terus berada di sisi mu.
Dan satu hal lagi, ini adalah saran terakir dari ku. Aku ingin kau mengunjungi kampung halaman ku, di sana kau pasti menemukan sesuatu yang dapat membantu mu, dan kalau bisa aku ingin kau menguburkan ku di sana.
Kampung halaman ku berada..."
Aku membaca surat dari ibu, setelah tubuh ku mulai membaik, dan aku bisa menggerakkan tubuh ku. Tubuh ku masih lemas, oleh karena itu aku tidak memaksakan diri, dan memilih duduk di kasur sembari membaca surat yang di tulis ibu kepada ku.
Surat ibu sendiri tidak menuliskan sesuatu yang berarti, tidak ada informasi mengenai kondisi politik kerajaan Fantasia, tidak ada informasi mengenai dampak dari peperangan melawan pasukan Demon, tidak ada informasi mengenai kondisi Kak Yuri dan yang lain nya, surat itu hanya bertuliskan kata-kata dukungan yang ibu berikan pada ku.
Ia sama sekali tidak akan menyalahkan ku jika aku melakukan tindakan jahat, ia malah mendukung ku dengan dalih kalau aku memiliki alasan kuat untuk melakukan itu.
Pandangan ibu sebagai seorang pribadi banyak di pengaruhi dari posisi nya sebagai ratu kerajaan, di mana seorang ratu harus memikirkan keuntungan kerajaan dari pada keuntungan pribadi nya, di mana tindakan kotor akan di benarkan jika itu di perlukan dan membawa keuntungan bagi negara. Oleh karena itu, di mata ibu, konsep keadilan dan kejahatan hanyalah perspektif seseorang dari sisi mana ia memandang. Sebagai contoh, di mata publik seorang yang melakukan pencurian sudah jelas dia akan di cap sebagai penjahat. Tapi jika kita melihat dari perspektif pencuri itu, ia tidak akan melakukan tindakan itu jika ia tidak memiliki alasan yang kuat. Atas dasar itulah, ibu akan terus mendukung ku dan akan terus berada di sisi ku, walaupun jalan yang ku tempuh nampak menyimpang dari mata masyarakat umum...
Walaupun begitu, kejahatan adalah kejahatan! Tidak peduli apapun alasan nya, jika ia melakukan, ia harus berani bertanggung jawab. Peraturan di buat untuk mengekang seseorang melakukan tindakan seperti itu.
Kemungkinan besar, ibu menuliskan surat semacam ini karena ia mengetahui alasan ku, sebagai pengganti Mira dari dunia lain yang datang ke dunia ini...
Aku tidak tahu alasan pasti nya, yang jelas... Melalui surat ini, aku merasakan hati ku sedikit tenang, mengetahui kalau ibu tidak akan membenci ku saat aku melakukan kesalahan.
Sambil tersenyum, aku melipat surat kembali. Tapi saat hendak menutup surat, aku dapat melihat bekas pena di balik kertas yang berisi tulisan ibu. Bekas pena itu menunjukkan kalau ibu, menulis sesuatu tanpa menggunakan tinta.
Membuka surat sekali lagi, aku menggunakan mata emas ku, untuk membaca tulisan yang di tulis ibu tanpa tinta itu.
"Mira... Surat ini sengaja aku tulis tanpa menggunakan tinta. Isi dari surat ini adalah perasaan sebenarnya yang ingin aku ungkapkan. Tidak banyak yang bisa aku tulis melalui surat ini, intinya aku ingin mengatakan.
'Jangan lakukan tindakan ceroboh! Aku ingin kau berumur panjang dan tidak cepat-cepat menyusul ku! Kau adalah harta yang sangat berharga yang ku miliki, harta yang tidak akan tergantikan oleh apapun di dunia ini. Aku sangat menyayangi mu! Aku sangat mencintai mu! Aku tidak ingin mati di saat aku bisa melihat mu lagi! Ini sungguh tidak adil! Mengapa kau tidak sadarkan diri saat aku berhasil menemukan mu! Ini semua terjadi karena kau ceroboh. Jika kau tidak ceroboh hal ini pasti tidak akan terjadi... Mengapa aku harus mengungkapkan perasaan ku melalui tulisan ini dan tidak melalui mulut ku! Mengapa, mengapa, mengapa, mengapa, mengapa, mengapa, mengapa, mengapa, mengapa, hal ini terjadi pada ku!? Di saat aku sudah menemukan mu, mengapa aku harus mati untuk membuat mu sadar!? Ini sungguh tidak adil! Mira... Mengapa kau... Mengapa kau... Berjalan menjauh dari ku? Mengapa kau tidak menjadi anak penurut dan terus diam di samping ku? Mira, yang ku inginkan hanyalah berada di samping mu sampai akhir hayat ku... Tapi hal itu tidak mungkin... Oleh karena itu, sebagai ganti nya aku akan terus mendukung mu dan mengawasi mu. Ini adalah tugas terakhir ku sebagai seorang Ibu. Aku harap kau menemukan kebahagiaan dengan jalan yang kau pilih.'"
Isi dari surat yang tidak bertinta itu adalah... Rasa sebenarnya dari Ibu... Dengan kedua tangan ku, aku mencengkeram kedua sisi kertas hingga rusak, air mata ku mengalir dari kedua mata ku. Yang bisa ku lakukan hanyalah menunduk, sembari mengatakan dengan suara lirih... "Maaf ibu... Aku tidak bisa menemani mu... Maaf aku tidak bisa menjadi anak penurut yang akan terus diam di sisi mu... Maaf telah membuat mu mengorbankan nyawa mu untuk ku... Maaf... Maaf..."
Saat ini tidak ada siapapun di dalam kamar, semua orang telah keluar membiarkan ku untuk membaca surat dari ibu seorang diri, membuat suara tangisan lirih ku terdengar begitu nyaring di ruangan sepi dan remang-remang yang ku tempati saat ini.
Sambil menangis, aku terus mencengkeram surat yang ibu tulis untuk ku dengan sekuat tenaga.