
Aku menyuruh Natasha membuat kan teh, Natasha pergi dari ruang tamu menuju dapur untuk membuat teh. Beberapa menit kemudian Natasha datang membawa kan secangkir teh, lalu Arisa mengeluarkan keranjang cemilan dari (Inventori).
Raisa bersiul, tanda ia kagum dengan sihir (Inventori) Arisa. "Aku tidak menyangka ada sihir yang berguna seperti itu."
"Berhenti membahas hal lain... Cepat katakan tentang tanaman liar yang kau maksud ini!"
"Ah, benar juga. Sebenarnya kami menemukan tanaman liar nya kemarin. Saat kami sedang berburu di hutan."
"Berburu? Kenapa kalian harus berburu? Aku memberikan pasokan makanan yang cukup untuk sebulan kepada kalian."
"Sebenar nya..."
Natasha menyambung perkataan Raisa. "Mereka berlatih."
Aku berbalik melihat Natasha. "Berlatih?"
Natasha mengangguk. "Mereka berlatih agar dapat menjadi pasukan yang layak untuk Nona Mira."
Setelah mendengar jawaban Natasha. Aku melihat ke arah Raisa. "Bisa kau antar aku ke tempat tanaman liar itu?"
Raisa mengangguk.
"Tapi tunggu aku selesai menghabiskan cemilan ku dulu."
Aku memakan semua cemilan, setelah habis, aku meminum habis teh ku.
Aku bangkit dari tempat duduk, Raisa juga bangkit dari tempat duduk nya.
Aku berjalan keluar ruangan, saat di luar ada Leonardo yang berdiri di samping pintu.
"Aku mau keluar sebentar. Tolong kau jaga Vila!"
Leonardo membungkuk. "Serahkan pada saya Nona."
Aku, Natasha, Arisa, Jack dan Raisa berada di tengah hutan. Raisa berjalan di depan ku, ia menuntun jalan menuju tanaman liar.
Selama perjalanan, Natasha selalu mepet pada ku, aku mendorong Natasha menjauh.
"Panas!! Beri aku ruang sedikit!"
"Ta-tapi.." Natasha mendekatkan mulut nya ke telinga ku. "Ada banyak binatang buas di hutan ini, aku takut kau terluka."
"Aku masih bisa menggunakan lima puluh persen kekuatan ku, seharus nya tidak apa-apa.... Bahkan dengan lima puluh persen, aku masih bisa menghancurkan sebuah negara. Apakah kau harus mengawal seseorang yang bisa menghancurkan negara?"
"Jadi begitu ya, kekuatan mu setara dengan seekor Naga." Kata Natasha dengan senyum di wajah nya.
Raisa yang berada di depan ku berhenti, ia berbalik melihat ku. "Kita sudah sampai.." ia berbalik lagi, lalu ia menunjuk ke arah depan. "Semua itu adalah tanaman liar nya."
Natasha, Arisa dan Jack terkejut. "Banyak sekali!" Kata Arisa terkejut.
Saat melihat tanaman liar yang di maksud Raisa, perasaan bahagia meluap dari dalam diri ku. Aku mengenali bentuk dan ciri-ciri tanaman liar itu. Tanaman liar itu adalah pohon coklat! Akhir nya kutemukan!! Aku berteriak di dalam pikiran ku.
"Natasha... Arisa... Jack... Cepat kalian ambil tanaman itu sebanyak-banyak nya!"
"E-eh," Kata Arisa terkejut. "Semua nya!? Tanaman itu sangat banyak."
"Kalau begitu biar aku yang ambil."
Jack menghalangi ku. "Ti-tidak perlu... Biar kami saja."
Natasha, Arisa dan Jack mengambil semua buah Coklat. Mereka menaruh buah coklat di keranjang, total buah coklat ada empat keranjang.
Natasha menaruh satu keranjang di depan ku, lalu aku mengambil satu buah. Setelah itu aku menggunakan sihir (Creation). Untuk membuat buah coklat menjadi bubuk coklat, aku menaruh bubuk coklat di gelas yang ku ambil dari (Inventori) lalu aku mengambil satu termos air panas, kemudian aku menuang air panas itu ke cangkir yang berisi bubuk coklat. Aku memberikan beberapa sendok gula, lalu aku mengaduk nya.
Setelah ku aduk, aku meniup minuman coklat yang ku buat. setelah ku tiup, aku meminum seteguk.
"Sudah ku duga rasanya enak!"
"Apakah itu tidak beracun?" Tanya Raisa.
Aku menyodorkan gelas ke Raisa. "Tenang saja ini tidak beracun, kalau tidak percaya coba saja!"
Raisa mengambil gelas, lalu gelas itu di rebut Natasha. Natasha dengan cepat meneguk minuman coklat.
Arisa mengambil cangkir dari Natasha. Lalu Arisa meminum habis minuman yang tersisa. "Apa-apaan minuman ini!? Ini sangat enak!"
Jack mengambil cangkir di tangan Arisa, kemudian wajah Jack menjadi kecewa. "Su-sudah habis!? Padahal aku juga ingin tahu bagaimana rasa nya.."
"Seharus nya aku duluan yang mencoba nya." Kata Raisa kesal. "Aku yang di tawarkan pertama kali oleh Nona Mira."
"Sudahlah... Nanti akan ku buatkan lagi! Kalian bawa saja dulu keranjang buah nya ke Vila."
Semua orang mengangguk, lalu mereka mengangkat keranjang di pundak mereka.
"Aaah, Natasha kau tidak perlu membawa nya!"
Natasha menurunkan keranjang buah. "Memang nya ada apa?" Tanya Natasha.
"biarkan saja Jack yang membawa nya. Kau temani aku ke Tiramisu!"
Natasha mengangguk, setelah itu ia mendekati ku. Lalu Natasha mengambil Cristal sihir dari kantung nya. Natasha mengangkat tinggi-tinggi Cristal. "Pindahkan kami ke Tiramisu!" Kata Natasha. Cristal menyala, setelah itu Natasha membanting Cristal ketanah.
Dalam sekejap mata, aku dan Natasha sampai di halaman depan Vila yang ada di kota Tiramisu. Aku dan Natasha berjalan menuju pintu masuk. Saat di depan pintu masuk, Natasha membuka lebar pintu.
Saat itu Rabisia lewat ruang tengah sambil membawa nampan berisi dengan makanan, saat di ruang tengah pintu masuk Vila terbuka, di luar ada seorang wanita dan gadis kecil berambit perak.
Rabisia berhenti, lalu ia menengok ke arah pintu. "Natasha.. Mira.. Ada perlu apa kalian kesini?" Tanya Rabisia.
"Ada hal yang ingin ku bicarakan dengan Lizard... Di mana dia sekarang?"
"Tuan Lizard ada di ruang tamu.. Saat ini saya sedang membawakan nya cemilan."
Mira mengangguk. Kemudian Mira masuk ke dalam Vila, lalu Mira berjalan menuju ruang tamu di ikuti Natasha.
Aku berada di ruang tamu, aku duduk bersama Natasha di sofa sebrang tempat Lizard duduk. Tidak lama kemudian Rabisia datang membawakan keranjang besar cemilan dan empat cangkir teh. Ia menaruh semua barang itu di meja, setelah itu Rabisia duduk di samping Lizard.
"Mau apa kau kesini Mira?" Tanya Lizard.
Mira meminun teh nya, lalu Mira mengambil dua buah cemilan dengan kedua tangan nya. "Aku ingin membeli beberapa hewan ternak.. Kau tahu siapa yang menjual nya?" setelah bertanya Mira menyuap makanan ke dalam mulut nya.
Lizard memegangi dagu nya. "Hewan ternak ya.... Kalau tidak salah Rio menjual nya."
Mira menelan cemilan nya. "Rio!?... Raksasa licik itu!?"
Lizard tertawa terbahak-bahak, hingga ia mengeluarkan air mata. Ia menghapus air mata nya yang keluar. "Kau benar... Dia itu memang licik."
Mira memakan cemilan nya lagi, Mira mengunyah makanan dengan cepat lalu menelan nya. "Panggil dia kesini. Sebut saja nama ku, dia pasti akan langsung sampai di sini."
Lizard menyuruh Rabisia pergi kerumah Rio. Rabisia berdiri dari tempat duduk nya, lalu ia berjalan keruang tengah, saat di ruang tengah Rabisia pergi keluar Vila. Saat di luar, Rabisia mengambil Cristal di saku baju nya.
"Sayang sekali, memakai benda berharga ini... Tapi aku malas berjalan, lebih baik ku gunakan sekarang saja." Kata Rabisia. Ia mengangkat Cristal tinggi-tinggi. "Pindahkan aku ke tengah kota Tiramisu!" Rabisia membanting Cristal nya ke tanah.
Aku, Natasha dan Lizard memakan cemilan. Beberapa menit kemudian terdengar suara pintu depan di buka seseorang. Padahal tidak sampai sepuluh menit semenjak Rabisia pergi, tapi kali ini dia sudah kembali. Dia sangat cekatan dalam pekerjaan nya.
Rabisia datang dengan seorang pria yang tinggi nya mencapai dua meter.
"Nona Mira..." Kata pria tinggi itu. "Lama tidak bertemu.... Kali ini anda ingin apa?"
Pria berjalan menuju sofa, lalu ia duduk di samping Lizard.
"Halo.. Bos Low light... Atau yang harus ku sebut mantan bos Low Light." Pria itu tertawa kecil.
Lizard menatap pria yang baru datang dengan tatapan sinis. Mata Lizard seolah-olah berbicara. "Akan kubunuh kau!!" Seperti itulah yang tergambar di mata Lizard.
Pria yang duduk di samping Lizard tertawa kecil. "Santai saja... Tidak perlu ada hawa membunuh.. Kali ini aku datang memenuhi panggilan Nona kecil imut yang duduk di sana itu." Kata pria yang duduk di samping Lizard sambil menunjuk Mira. Pria yang di samping Lizard tersenyum licik. "Jadi ada perlu apa anda memanggil saya?... Nona Mira."
Mira nenaruh cangkir teh nya di meja. "Apakah kau menjual binatang ternak?"
Pria yang di samping Lizard tertawa kecil, lalu ia menatap Mira dengan tajam. "Tentu saja aku menjual nya... Semua nya ada di perusahaan dagang R!! Tapi..." Pria yang di samping Lizard tersenyum licik. "Harga nya akan sangat mahal... Apakah anda masih ingin membeli nya?"
"Apakah kau meremahkan keuangan ku!?" Kata Mira dengan nada sombong.
Pria yang di samping Lizard tertawa kecil. "Inilah yang saya sukai dari anda." Kata nya dengan tatapan tajam ke arah Mira.