
"Membuat Kak Mira sadar?" Jack bertanya padaku. "Bagaimana cara kita melakukan nya?'
"Aku tidak tahu. Tapi kita harus menemukan caranya. Jika di biarkan, bisa seminggu lebih Mira baru sadar. Tapi kita memerlukan Mira secepat mungkin, karena itu kita harus menemukan cara untuk membuat Mira sadar."
"Kak Natasha bicara seakan-akan itu hal mudah."
"Tidak ada pilihan lain, pertama kita harus bertanya pada kenalan kita dulu."
Aku melihat ke Lizard. "Bisa kau jaga Mira selama kami pergi?"
"Itu hal yang mudah." Jawab Lizard.
"Terima kasih.... Ayo kita pergi Jack!"
Aku menyuruh Jack, kemudian aku dan Jack pergi keluar Vila.
Saat di halaman, aku menumbuhkan sayap kelelawar di punggung ku, lalu mulai mengepakkan nya.
"Kita akan terbang?" Kata Jack. "Aku tidak bisa terbang!"
"Kau ada kalung yang di berikan Mira sewaktu kau dan Arisa selesai latihan? Seharus nya kalung itu dapat membuat mu terbang."
"Tidak ada. Semua barang ku, ku berikan pada Arisa."
Anak ini...... Sampai kapan dia akan bergantung pada saudari nya!!
Aku membuang semua kekesalan ku, kalau muka nya tidak bonyok pasti akan kupukul dia dengan keras. Tapi karena muka nya masih bonyok jadi aku tidak akan melakukan nya.
Aku menghembuskan nafas panjang. "Untuk seterusnya jangan bergantung pada Arisa lagi."
"Ba-baik."
"Kalau begitu mendekatlah, biar ku gendong kau!"
Jack mengangguk. Kemudian ia mendekat, aku menjatuhkam tubuh nya, lalu menggendong nya dengan posisi terbaring di tangan ku.
"Kau sangat ringan."
"Kak Natasha saja yang terlalu kuat." Kata Jack sambil tersenyum masam.
"Aku terima itu sebagai pujian." Aku melompat ke udara, lalu mengepakkan sayap ku.
Aku terbang di langit, hari masih siang. Jadi aku tidak bisa terbang cepat di karenakan kekuatan ku yang berkurang karena terkena cahaya matahari.
"Kak Natasha. Kenapa kita nggak pakai Cristal sihir?" Kata Jack.
"Cirstal sihir yang ku punya, hanya cukup untuk pulang ke Tiramisu."
Setelah itu Jack tidak bertanya lagi. Aku melanjutkan terbang di langit, tujuan pertama ku adalah Danau Denizi. Aku ingin bertanya pada Amanda dan yang lain nya, apakah mereka bisa membuat Mira sadar. Tapi aku tidak akan berharap pada mereka, karena aku tahu mereka akan bereaksi seperti apa saat mengetahui Mira tidak sadarkan diri.
Aku sampai di Danau Denizi, tempat ini berkabut. Ini adalah sihir ilusi milik Mira, ini berguna untuk mencegah seseorang yang tidak di kenal masuk ke danau Denizi.
Saat aku dan Jack berjalan sedikit, kabut mulai menghilang, danau yang indah di kelilingi rerumputan membentang luas sejauh mata memandang. Di sekitar danau aku juga melihat beberapa rumah yang terbuat dari Kayu, dan Beton. Dari rumah-rumah itu keluar beberapa orang, saat melihat kami orang-orang itu datang.
Mereka adalah kawan Se Ras ku.
"Natasha!" Kawan-kawan ku berteriak memanggil nama ku sambil berlari ke arah ku.
Dari kawan-kawan ku itu, aku dapat melihat Ratu Vampir yang baru namanya adalah Amanda, dia mantan tangan kanan ku.
"Kenapa kau ke sini?" Amanda bertanya saat di dekat ku.
"Ada yang ingin ku bicarakan."
"Ngomong-ngomong siapa pria jelek di samping mu ini?" Amanda menunjuk Jack yang berada di samping ku.
Wajah Jack saat ini bonyok karena menerima hukuman ilahi dari ku. Jadi bukan salah Amanda kalau dia berkata Jack itu jelek. Yang lebih parah lagi, Amanda tidak mengenali Jack. Itu bukan salah ku! Tentu saja. Ini semua salah Jack sendiri, jadi Jack hanya menerima apa yang ia tanam. Sekali lagi ini bukan salah ku!
"Dia adalah Jack." Aku menjawab sambil tersenyum.
"Dia Jack ternyata..... Dia Jack.... Dia Jack?... Hmmmm. Eeeeeh!? Dia Jack!? Ada apa dengan wajah nya!?"
Amanda memberikan respon terkejut yang lambat saat melihat wajah Jack.
"Tidak perlu urus masalah wajah nya! Kita memiliki urusan penting di sini."
Aku dan Amanda berjalan menuju bangunan yang di sebut istana oleh kawan-kawan ku. Jack mengikuti kami dari belakang. Saat kami berjalan, kawan-kawan ku melihat ke arah Jack. Sedangkan Jack hanya tertunduk karena malu.
"Tidak apa-apa. Luka itu adalah salah nya sendiri. Jadi jangan terlalu di pikirkan."
"Be-begitu ya..... Ngomong-ngomong mana Nona Mira dan Arisa?"
"Hal yang ku bicarakan nanti berhubungan dengan mereka berdua."
Setelah percakapan singkat, kami sampai di depan pintu bangunan Istana. Amanda membuka nya, sama seperti ruang tahta pada umum nya di dalam nya terdapat singgassana. Singgassana hanyalah kursi sederhana yang terbuat dari darah kawan-kawan ku. Itu di buat dengan cara mengkristalkan darah kami.
Karena tidak ada apa-apa selain singgassana, Amanda menyuruh beberapa kawan-kawan ku untuk mengambil meja, kursi, makanan dan minuman.
Beberapa menit kemudian. Meja dan kursi tersusun rapi. Itu adalah meja persegi panjang dengan beberapa kursi di samping nya, lalu di atas meja ada beberapa cemilan dan minuman.
"Tidak perlu ada cemilan kan? Mira tidak ada di sini." Kata ku pada kawan-kawan ku.
"Biasanya kau datang dengan Nona Mira kan? Jadi ini sudah jadi kebiasaan kami untuk menyiapkan cemilan dan minuman manis." Jawab Amanda.
Aku duduk di salah satu kursi kosong, Jack duduk di samping ku. Kemudian Amanda duduk di bagian paling ujung kursi, lalu kursi kosong yang lain nya di isi oleh kawan-kawan ku yang sudah menjadi penasihat kerajaan yang di tunjuk langsung oleh Amanda.
"Jadi Natasha kenapa kau kesini?" Tanya Amanda.
"Karena waktu kita tidak banyak, jadi akan kusingkat. Dengar baik-baik.
Pertama Arisa di pengaruhi pikiran nya oleh musuh yang kami hadapi sekarang, dan dia menyerang kami beberapa jam yang lalu." Semua orang terkejut, kecuali Jack karena memang dia sudah tahu situasi nya. "Kedua Mira tidak sadarkan diri. Karena terlalu banyak menggunakan kekuatan sihir nya saat melawan Arisa beberapa jam yang lalu."
Semua orang lebih terkejut mendengar berita ini.
"Kenapa bisa sampai terjadi seperti itu?" Salah satu penasihat Amanda bertanya.
"Cerita nya panjang. Aku tidak bisa menceritakan nya, karena terlalu panjang. Aku langsung ke intinya saja. Apakah di antara kalian ada yang bisa membuat Mira sadar? Kami memerlukan bantuan nya sekarang."
"Sayang sekali tidak ada yang bisa kami lakukan."
Sudah ku duga. Jawaban nya akan jadi seperti ini.
"Begitu ya... Kalau begitu aku akan pergi mencari lagi... Ayo Jack!" Aku berdiri dari tempat duduk ku.
"Tunggu!" Amanda berdiri dari tempat duduk nya. "Boleh kami ikut? Jika Nona Mira sadar, kami akan langsung siap untuk membantu kalian menghadapi musuh."
"Tidak boleh! Kalian akan terlalu ribut jika pergi kesana."
"Kami akan berjaga di tempat tinggal Nona Mira." Kata salah satu penasihat.
"Sudah ada Lizard yang melakukan itu."
"Lizard saja tidak cukup. Kami mohon biarkan kami ikut!"
Mereka semua membungkuk memohon padaku. Aku menghela nafas, karena tidak bisa menolak permintaan kawan-kawan ku aku menerima permintaan mereka.
Aku kembali ke Tiramisu.
Di belakang ku ada pasukan terbaik yang di miliki oleh Ras Vampir. Amanda membawa mereka untuk berjaga di depan Vila Mira yang ada di Tiramisu. Jack saat ini di gendong oleh Amanda, ternyata menggendong Jack cukup melelahkan, jadi aku melemparkan tugas itu pada Amanda. Kami terbang cukup tinggi, hingga kami tertutup dengan awan. Jadi kami tidak perlu khawatir di lihat oleh orang banyak karena jika kami terbang akan kelihatan mencolok.
Setelah beberapa jam, kami sampai di halaman depan Vila Mira. Kami mendarat bersamaan, saat kami mendarat ada seorang gadis kelinci yang menunggu di depan Vila.
Aku berjalan mendekati nya.
"Ada apa ini? Kenapa kau membawa banyak orang kesini."
"Cerita nya panjang. Di mana Lizard?"
Saat aku bertanya, Rabisia berteriak memanggil Lizard. Lizard keluar dari dalam Vila. Saat melihat banyak orang dia terkejut, ia langsung melihat ke arah ku.
"Kenapa kau-"
"Mereka datang untuk membantu mu berjaga. Aku tidak dapat cara untuk membuat Mira sadarkan diri, jadi aku akan pergi lagi."
Sebelum Lizard selesai bertanya, aku langsung menjawab nya. Saat ini kami tidak punya banyak waktu, jadi aku tidak bisa membuang waktu ku.
"Amanda kau ikut aku! Jack kau bantu penjagaan di sini. Walaupun aku yakin tidak akan ada orang yang berani kesini, tapi hanya untuk jaga-jaga saja."
"Baiklah!" Jack menjawab.
"Ayo Amanda!" Aku langsung mengepakkan sayap ku dan terbang lagi ke langit. Amanda menyusul ku dari belakang.