From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 281 Hari Ketiga Invasi XVI



Pasukan utama aliansi yang saat ini berada seratus meter dari jalan masuk lembah Pachelia, bersiap siaga menunggu pasukan khusus yang di pimpin Mira berkumpul bersama mereka.


Mereka bersiap siaga karena mendengar suara ledakan keras dari dalam lembah, itu menandakan kalau Mira sudah memulai rencana nya.


Charles yang berada di barisan paling depan berdiri bersama Jack dan para komandan terus melihat ke arah lembah dengan tatapan serius. Ia terus berharap di dalam hati nya untuk keselamatan Putri nya yang saat ini sedang melakukan rencana penting dalam keberlangsungan peperangan ini.


"Sudah sekitar sepuluh menit setelah ledakan terdengar, dan tidak ada tanda-tanda mereka akan kembali. Seperti nya rencana Putri Mira berjalan dengan baik." Kata Jack, mencoba menenangkan Charles yang terus menatap ke arah lembah. Walaupun tidak terlihat di wajah nya, Jack tahu kalau saat ini Charles sangat khawatir dengan keselamatan Mira, karena itu ia mencoba menenangkan nya.


"Ya. Kau benar. Dia dan pasukan nya seharus nya segera kembali." Charles menjawab sambil tersenyum kecil.


Jack juga ikut tersenyum saat melihat senyum di wajah Charles, 'Seperti nya ia sudah sedikit lebih tenang.' Pikir Jack.


"!"


Bulu kuduk Jack tiba-tiba berdiri, ia merasakan energi sihir besar berasal dari langit di atas lembah. Sesaat kemudian seluruh lembah membeku, membuat pasukan aliansi menaikkan suara nya karena terkejut, mereka tahu kalau hal buruk sedang terjadi di lembah Phacelia.


"A-Apa-apaan ini....?" Kata Charles dengan wajah terkejut, sebutir keringat jatuh dari pipi nya, wajah nya pucat pasi, ia merasakan bahaya yang tidak pernah ia rasakan sebelum nya.


"Yang Mulia... Apapun yang terjadi di dalam lembah saat ini, kita tidak boleh menggerakkan pasukan untuk menyerbu ke dalam lembah." Kata Jack dengan tenang, mengingatkan Charles. "Yang harus kita lakukan saat ini, melawan apapun yang keluar dari dalam lembah itu... Dan untuk Putri Mira, anda tidak perlu khawatir, dia pasti akan berkumpul bersama kita."


\*\*\*


Beberapa menit sebelum lembah Pachelia membeku.


Di markas pusat pasukan aliansi.


Di dalam tenda tempat istirahat Putri Catulus, Catulus saat ini sedang minun teh dengan wajah tenang, padahal prajurit dari kerajaan nya ada yang ikut berperang ke garis depan, ia tidak menunjukkan wajah khawatir sama sekali.


Berdiri di samping kiri belakang nya adalah pelayan yang di siapkan markas pusat, yang tidak lain dan tidak bukan pelayan yang berdiri di sana adalah Arisa.


Arisa juga menunjukkan wajah tenang, tidak ada ekspresi khawatir di wajah nya, padahal tuan nya saat ini berada di garis depan peperangan. Alasan Arisa tidak khawatir, karena ia percaya, kalau tuan nya pasti akan kembali dengan selamat. Dan ia percaya kalau tuan nya pasti bisa memenangkan peperangan ini.


Walaupun alasan ketenangan Arisa sangat jelas, tapi Putri Catulus tidak memiliki alasan yang jelas kenapa ia sangat tenang. Ia seakan-akan tidak peduli pada nasib pasukan aliansi, ia seakan-akan tidak peduli kalau pasukan aliansi kalah atau menang dalam peperangan ini.


"Kau sangat tenang ya. Padahal Mira pergi ke garis depan, apakah kau tidak khawatir dengan nya...? Ah. Bisa kau ambilkan teh lagi?" Setelah menyeruput habis teh nya, Catulus melirik ke belakang lalu ia bertanya ke Arisa apakah ia khawatir dengan Mira atau tidak, setelah bertanya seperti itu Catulus menyodorkan gelas nya, meminta tambahan teh yang telah ia habiskan.


Arisa tidak langsung menjawab pertanyaan Catulus, ia malah bergerak mengambil cangkir teh nya kemudian ia berjalan ke suatu meja di ujung ruangan yang di atas meja ada sebuah teko, alat sihir yang mirip seperti kompor, alat sihir penghasil air, dan daun teh dengan kualitas tinggi, meja itu di sediakan untuk pelayan menyiadakan teh. Di saat bersamaan ia menyiapkan teh untuk Catulus, Arisa akhir nya buka mulut, menjawab pertanyaan Catulus.


"Aku sama sekali tidak khawatir," Kata Arisa sambil menyedu teh dengan lihai. "Aku percaya pada Nona Mira kalau ia bisa memenangkan peperangan ini... Silahkan teh nya." di saat bersamaan ia selesai menjawab, teh sudah selesai di sedu, ia kemudian menuangkan teh panas yang ada di dalam teko ke cangkir, membawa cangkir ke meja kecil di depan Catulus, lalu menaruh nya di atas meja Catulus dengan senyuman lembut.


"Terima kasih," Jawab Catulus. "Kau sangat mempercayai Mira ya... Apakah tidak pernah terbesit di pikiran mu kalau ia akan kalah dalam pertempuran?"


"Tidak sama sekali." Jawab Arisa tanpa jeda sedikit pun.


"Eeeh... Katakan Arisa, apakah Mira memiliki sesuatu yang ia benci?" Catulus bertanya sambil mengambil cangkir berisi teh yang terletak di atas meja.


"Entah... Nona Mira tidak pernah membicarakan tentang diri nya sendiri pada kami." Jawab Arisa. Sebenarnya ia tahu sesuatu yang Mira benci, tapi ia tidak bisa memberitahu Catulus, ia tidak boleh memberikan informasi apapun mengenai Mira kepada Catulus.


"... Tidak mengetahui apa yang tuan mu benci... Kau gagal sebagai pelayan..." Kata Catulus kepada Arisa dengan cemberut.


"Saya sangat sadar akan hal itu." Tanpa terganggu di ejek oleh Catulus, Arisa menundukkan kepala nya, kemudian menjawab Catulus dengan nada meminta maaf.


"Apakah anda baru saja mendecikkan lidah?" Sebagai seorang Elf, pendengaran Arisa sangatlah tajam, karena itu ia bisa mendengar decikkan lidah Catulus, padahal Catulus mendecikkan lidah nya hampir tidak menimbulkan suara.


"Tidak. Mungkin kau salah dengar."


"Begitu...?"


Pembicaraan selesai. Catulus kemudian meminum teh nya, setelah meminum beberapa tegukkan, Catulus membuka mulut lagi, mengajak Arisa berbicara. "Katakan... Apakah kau bicara dengan Mira dengan nada kaku seperti itu?"


Arisa memiringkan kepala nya, kebingungan dengan pertanyaan Catulus. "Apa maksud anda dengan nada kaku?" Tanya nya.


"Itulah yang ku maksud! Kau bicara dengan sangat sopan! Gaya bicara seperti itu sangat tidak enak di dengar! Kau bicara dengan Mira dengan gaya bicara yang terlalu sopan begitu!? Jika aku jadi Mira, aku pasti merasa tidak nyaman."


"...." Arisa tidak menjawab, ia memikirkan sesuatu di dalam kepala nya dengan kecepatan sepersekian detik.


'Tentu saja aku tidak akan bicara dengan nada sopan seperti ini pada Kak Mira. Dia merasa tidak nyaman jika ada orang yang bicara pada nya dengan nada terlalu sopan secara terus menerus. Dan juga, bicara dengan sopan membuat ku lelah... Aku ingin mengatakan itu kepada Putri Catulus, tapi Kak Mira mengatakan jangan bocorkan apapun kepada nya... Tunggu dulu, apakah informasi gaya bicara ku ini termasuk informasi yang tidak boleh ku ungkapkan pada nya? Seharus nya tidak apa-apa kan mengungkapkan gaya bicara ku yang biasa nya, lagipula tidak ada rugi nya jika aku mengungkapkan hal ini.'


"Tentu saja saya tidak akan bicara pada Nona Mira dengan nada sopan seperti ini. Saya bicara pada nya seperti saya bicara pada saudara saya sendiri."


"Eeeh... Begitu ya... Ngomong-ngomong di saat kau sendiri bersama Mira, kau memanggil nya dengan sebutan apa? Kau memanggil nya Nona Mira? Atau hanya memanggil nama nya saja tanpa honorifik?"


".... Aku memanggil nya Kak Mira..." Jawab Arisa atas pertanyaan Catulus dengan ragu-ragu.


"Hah...? Kenapa kau memanggil nya dengan sebutan Kak?" Tanya Catulus.


"...." Arisa hanya diam, tidak menjawab. Ia bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin dia mengungkapkan kalau sebenarnya dia lebih muda dari pada Mira, terlepas dari penampilan nya.


"Yah. Kalau kau tidak mau menjawab, tidak apa-apa... Katakan Arisa, apakah Mira pernah di khianati oleh orang terdekat nya?"


"... Kenapa anda menanyakan hal itu?"


"Aku tidak bermaksud apapun, aku hanya penasaran saja... Aku mengetahui anak itu lebih dari siapapun di dunia ini. Dan aku tahu dia sangat tidak suka jika di kihanati oleh orang yang dia percaya, mungkin dia trauma atas apa yang kami lakukan dulu. Sebenarnya kami tidak ingin melakukan ini lagi, tapi kami tidak punya pilihan lain, kami harus mengkhianati nya lagi... Ini semua kami lakukan untuk kembali ke tempat yang kami sebut rumah."


"Hah?" Apa yang dia katakan...? Aku tidak memahami perkataan nya sama sekali... Dia mengatakan seolah-olah sudah kenal lama dengan kak Mira. Padahal dia baru kenal dengan Kak Mira baru beberapa hari... Arisa dapat mengerti perkataan Catulus, tapi ia tidak dapat memahami makna di balik kata-kata nya itu, ia sangat kebingungan saat ini, ia terus memikirkan apakah dia telah melakukan kesalahan...? Apakah dia memberikan informasi yang seharus nya tidak dia katakan...?


"Clang!" Pemikiran panjang Arisa terhenti oleh suara dentingan gelas yang di taruh di atas meja. Catulus yang telah selesai meminum teh nya, berdiri dari bangku, setelah itu ia meregangkan persendian nya, seolah-olah melakukan pemanasan sebelum berolahraga.


"... Maafkan aku Arisa. Aku tidak memiliki dendan terhadap mu, tapi aku harus melakukan ini..."


"!"


Bulu kuduk Arisa berdiri, energi sihir yang sangat besar tiba-tiba keluar dari tubuh Catulus. Arisa langsung melompat beberapa meter menjauh dari Catulus, kemudian ia mengambil tongkat sihir dari (Inventori) nya lalu mengambil posisi siap bertarung.


Apa-apaan energi sihir ini!? Kekuatan nya setara dengan Kak Natasha dan Kak Mira sebelum ia melemah.


...... Beberapa menit kemudian...........


Markas pusat pasukan aliansi hancur lebur akibat pertarungan dua orang berlevel seratus.