From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 257 Hari Kedua Invasi II



Di markas pusat aliansi.


Para komandan, berada di tenda rapat. Mereka tercengang mendengarkan penjelasan mengenai apa yang terjadi di kota Paela. Gadis kecil, yang dari perawakan nya kelihatan berumur 10 tahun, menjelaskan dengan wajah datar, semua yang terjadi di kota itu. Inti dari penjelasan nya: Pembantaian, dan pemusnahan. Dia menjelaskan, mengenai menggunakan warga kota sebagai umpan untuk memancing pasukan Demon untuk menyerang kota secara sekaligus, setelah itu dia menjelaskan menjebak bangsawan untuk menggunakan Crystal (Teleportation) yang kordinat nya sudah di rubah menuju balai kota, untuk memancing pasukan Demon pergi ke balai kota, setelah semua pasukan Demon sampai di sana, dia menjelaskan kalau pasukan yang ia 'pimpin' meborbardir kota dengan sihir api dan tanah. Dengan begitu, pasukan Demon berhasil di musnahkan hanya dengan pengorbanan satu kota.


Sebenarnya untuk menghabisi pasukan dengan mengorbankan satu kota sudah termasuk rugi besar untuk suatu negara, terlebih lagi kota yang di korbankan posisi nya sangat strategis untuk mendapatkan kekayaan lautan, seperti kota Paela, yang penduduk setempat sebagian besar adalah nelayan dan petani garam. Produksi ikan dan garam, akan berkurang karena menggunakan kota Paela yang posisi nya sangat strategis untuk kedua hal itu, tetapi... Setelah gadis kecil melihat keuntungan yang di bawakan oleh kota Paela dalam hasil laut sangat kecil, dan dia juga mengetahui kalau penduduk kota itu banyak yang korup, dia memutuskan untuk mengorbankan kota itu, dan menyimpulkan tidak ada rugi nya kalau kota Paela menghilang dari peta. Itu memang strategi bagus, yang kenyataan nya membuahkan hasil yang sangat menguntungkan.


Pasukan Aliansi tidak ada yang menjadi korban. Dan kerusakan akibat serangan dari pasukan Demon dapat di minimalisir. Itulah keuntungan dari rencana ini, yang menjadi kerugian hanyalah kehilangan satu kota yang berpotensi menghasilkan kekayaan laut. Tapi, kerugian itu bisa dengan cepat di atasi... Akibat pemusnahan kota Paela, sekarang daerah itu hanyalah tinggal tanah rata tidak ada bangunan satupun, kota dapat di bangun lagi di sana, dan negara dapat memilih wali kota dari orang terpercaya agar tidak ada lagi korupsi dan penggelapan dana lain nya, juga kota lain sudah mulai kelebihan penduduk, jadi sebagian penduduk kota akan di migrasi ke tanah itu untuk membangun kota baru. Itu jauh lebih baik dari pada harus kehilangan nyawa para prajurit yang satu orang nya saja sangat berharga di waktu seperti peperangan ini.


Walaupun rencana itu sangat bagus, mengorbankan satu kota sangat kejam secara moral. Tidak semua penduduk jahat, masih banyak orang tidak bersalah dan tidak tahu tentang kebusukan kota itu. Terlebih lagi, tidak adanya pemberitaan kepada warga kota, mengenai penyerangan Demon Lord. Seakan-akan warga kota itu memang sudah di takdirkan untuk mati secara tragis... Itu memang rencana bagus jika bicara mengenai keuntungan nya ke aliansi tetapi itu rencana buruk jika bicara mengenai perikemanusiaan. Itu sangat kejam dan brutal.... Setidak nya itulah yang di pikirkan para komandan setelah mendengar penjelasan dari gadis kecil, berambut perak, dan berperawakan seperti anak umur 10 tahun itu.


"Itulah yang terjadi di kota Paela..." Kata gadis kecil itu, yang bernama Mira, menutup penjelasan nya. Setelah menjelaskan cukup panjang, ia menghela nafas seakan-akan kelelahan setelah berbicara cukup lama. "Apakah ada pertanyaan?" Dia berkata, setelah menghela nafas panjang, melihat ke para komandan yang wajah mereka tercengang, dengan mata terbelalak, dan mulut terbuka lebar, tidak bisa berkata-kata. "Kalau tidak ada, saya mohon undur diri..." Setelah melihat wajah para komandan, Mira menyimpulkan tidak ada yang ingin di tanyakan. Mira pun berkata mebungkuk sedikit, mengangkat ujung rok nya dengan anggun, berpamitan dengan para komandan. Setelah itu, ia berjalan keluar dari tenda, para komandan hanya menyaksikan nya keluar dalam keheningan.


\*\*\*


Setelah aku keluar dari tenda para komandan, aku di sambut oleh Natasha dan Arisa yang berdiri di samping pintu masuk, yang hanya tertutup dengan kain.


"Bagaimana reaksi para komandan? Mereka tercengang? Mereka tercengang kan? Benar kan!?" Saat aku keluar, Natasha menghujani ku dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyebalkan. Aku hanya mengabaikan nya, dan terus berjalan menuju tenda tempat aku tidur.


"Kak Mira... Aku ingin melaporkan sesuatu!" Arisa yang berjalan di samping kiri ku, membuka mulut nya, mengatakan hal yang layak untuk di dengar.


"... Apa itu?" Tanya ku, setelah melirik sekilas ke arah nya.


"Ini mengenai Putri Catulus."


Itu adalah laporan yang layak untuk di dengar....


Tetapi, membicarakan hal penting saat sedang berjalan di tengah banyak prajurit yang lewat begini sangatlah buruk. Untuk saat ini, kami harus sampai ke tenda tempat ku istirahat, barulah kami membicarakan mengenai Putri Catulus... Dengan begitu, kami bertiga terus berjalan hingga sampai ke tenda tempat ku istirahat.


Saat sampai, kami bertiga memasuki tenda.


Di dalam tenda ada sebuah kasur, sebuah meja kecil yang terletak di ujung ruangan, serta tempat gantungan baju, yang di sana sudah tergantung baju ganti ku. Aku berjalan menuju tempat gantungan baju, menyuruh Natasha berjaga di pintu masuk, setelah itu barulah aku mengganti pakaian ku. Aku memakai piama, karena aku akan langsung tidur setelah mendengar laporan Arisa.


"Baiklah... Apa yang ingin kau laporkan?" Tanya ku kepada Arisa, sambil berjalan ke tempat tidur, duduk di atas nya, aku menatap Arisa menunggu nya untuk menjawab pertanyaan ku. Natasha sudah kembali dari menjaga pintu masuk, ia berdiri di samping Arisa. Sebelum Arisa menjawab, dia menggunakan sihir (Barrier) untuk mencegah penguping mendengar percakapan kami.... Seperti nya ini sangat serius.


"Untuk memulai, Putri Catulus bersikap mencurigakan selama Kak Mira melaporkan kejadian di kota Paela kepada para komandan..."


Arisa menceritakan... Selama aku melapor ke para komandan, Putri Catulus, nampak gelisah, ia pun pergi ke tempat sepi, menjauh sedikit dari markas pusat. Arisa yang curiga, menggunakan sihir pemanggil untuk memanggil sebuah familiar, yang di mana familiar yang di panggil Arisa adalah binatang melata kecil. Dengan binatang itu, Arisa dapat berbagi Visi dan pendengaran nya. Binatang melata yang sudah tersambung visi dan pendengaran nya ke Arisa, mengikuti Putri Catulus....


"Saat aku berhasil menemukan posisi nya, dia sedang menerima surat melalui burung pengantar surat."


"Apa yang mencurigakan nya dari hal itu? Bisa saja kan itu surat dari kerajaan Animalia." Kata Natasha, bertanya pada Arisa.


"Itu sudah sangat mencurigakan Natasha," Aku menjawab pertanyaan Natasha menggantikan Arisa. "Jika itu adalah surat dari kerajaan Animalia, kenapa dia harus menerima surat itu sembunyi-sembunyi."


"Kau benar...."Natasha mengangguk, setelah mendengar jawaban ku... Yah, tapi jawaban ku bisa saja salah. Mungkin saja surat itu memang dari kerajaan Animalia, dia menerima surat itu dengan cara sembunyi-sembunyi karena isi surat itu sangatlah rahasia, atau bisa saja itu surat pribadi yang tidak ada hubungan nya dengan aliansi sehingga Putri Catulus beranggapan lebih baik menerima surat nya dengan cara sembunyi-sembunyi dari pada menerima nya dengan cara terang-terangan... Yah, itu hanya kemungkinan lain.


Saat aku memikirkan itu, Arisa memberitahu ku hal penting lain nya.


"Aku bisa memastikan surat yang di terima nya bukan dari kerajaan Animalia..." Kata Arisa dengan serius. "Kau sangat yakin kalau surat itu bukan dari kerajaan Animalia?" Kata Natasha kepada Arisa. "Tentu saja aku sangat yakin surat itu bukan dari kerajaan Animalia, habis nya burung pengantar surat datang dari arah pasukan Demon yang berada di perbatasan."


"Apa!? Kau yakin akan hal itu Arisa!?" Natasha terkejut, ia pun bertanya kepada Arisa dengan suara tinggi.


"Tapi bisa saja itu berasal dari pasukan aliansi yang saat ini juga berada di perbatasan." Natasha memberikan alasan yang logis, pasukan aliansi memang berada di perbatasan, mereka berhadap-hadapan dengan pasukan Demon, yang memisahkan mereka hanyalah sebuah sungai lebar, pertempuran bisa terjadi kapan saja di sana. Karena alasan itulah masih terlalu cepat menyimpulkan kalau burung pengantar pesan itu berasal dari pasukan Demon, dari arah datang nya. Karena pasukan aliansi juga berada di arah yang sama dengan pasukan Demon.


"Aku awal nya berpikir seperti itu, tetapi setelah aku memastikan nya, dengan cara bertanya pada Jack 'apakah dari pasukan aliansi ada yang mengirim pesan' dan Jack menjawab tidak ada. Aku pun yakin kalau burung pengantar pesan itu berasal dari pasukan Demon."


"Hmm.... Ini masalah yang tidak bisa abaikan. Arisa terus awasi Putri Catulus, aku yakin dia merencakan sesuatu yang dapat merugikan kita dalam peperangan ini."


"Baik!" Jawab Arisa dengan lantang.


"Apakah hanya itu yang ingin kau laporkan?"


"Iya."


"Kalau begitu, istirahat setelah ini, aku juga sudah mengantuk..." Kata ku kepada Arisa, setelah mengatakan itu aku menguap.... Hari ini banyak yang terjadi, sehingga membuat ku lelah secara fisik maupun mental... Dengan begitu, akupun bersiap-siap untuk tidur.


"Eh!? Mira sudah mau tidur?" Natasha bertanya, dengan keheranan. Dia tidak percaya aku akan tidur dengan cepat.


"Yah... Semua hal yang terjadi hari ini membuat ku lelah."


"Kalau begitu, aku tidak melaporkan sesuatu untuk hari ini."


"Hmmm....? Kau memiliki sesuatu untuk di laporkan? Tidak apa-apa laporkan saja."


"Tidak. Aku akan melaporkan nya besok saja, ini hal yang tidak terlalu penting dan kau sudah sangat mengantuk, aku takut kau tertidur setelah mendengar setengah dari laporan ku." Kata Natasha dengan senyum lembut.


"Begitukah...? Yah kalau begitu, aku akan tidur."


Dengan begitu, Natasha dan Arisa pergi keluar tenda. Saat mereka berdua keluar, aku langsung menyelam ke kasur ku, dan segera masuk ke dalam lautan mimpi.


Ke esokan hari nya......


"......Apa kau bilang Natasha?"


"Hm? Sudah ku bilang, selama pembantaian di kota Paela ada sesosok familiar yang mengawasi."


"....Kau yakin?"


"Ya. Aku merasakan energi sihir aneh dari atas langit, dan setelah aku perhatikan itu adalah seekor burung, aku beranggapan burung itu adalah familiar. Karena kau sudah melemah Mira, jadi aku yakin kau tidak menyadari familiar itu, karena itu aku ingin melaporkan nya pada mu."


Tubuh ku bergetar setelah mendengar penjelasan Natasha....


"Mira? Kau kenapa?"


Aku menghirup nafas dalam, mengisi paru-paru ku dengan udara, setelah aku tidak kampu menghirup nafas lagi, aku mengeluarkan semua udara yang ku hirup melalui teriakan....


"KENAPA KAU TIDAK MELAPORKAN ITU DARI TADI MALAM!?"


Di pagi hari itu, semua orang di markas pusat terbangun karena teriakan ku.